Raisa terpaksa tinggal sendirian di rumah tua warisan neneknya di sebuah kampung terpencil. Sejak malam pertama, rumah itu seperti mengenalinya—terlalu mengenalinya. Setiap pukul 02.17, ada langkah berhenti di depan pintu kamarnya. Ada bau tanah basah yang muncul tanpa hujan. Dan ada sandal merah kecil yang selalu kembali, meski sudah dibuang berkali-kali. Orang kampung berbisik bahwa dulu pernah ada anak bernama sama persis dengannya—anak yang hilang tanpa jejak dua puluh tahun lalu. Semakin Raisa mencari kebenaran, semakin rumah itu menunjukkan sisi aslinya: sentuhan dingin di tengah malam, luka yang muncul tanpa sebab, dan suara anak kecil yang memanggil namanya dari balik dinding. Jika masa lalu belum selesai, siapa yang sebenarnya sedang tinggal di rumah itu—Raisa, atau “dia”?
Ketukan dari Dua Arah
Sejak kalimat Bima malam itu—“Besok malam, dua pintu akan mengetuk bersamaan”—waktu berjalan seperti tali yang ditarik terlalu kencang.
Seharian aku hidup dengan rasa menunggu sesuatu yang belum punya bentuk. Jam di dinding terasa lebih lambat, suara motor di jalan seperti lebih keras, bahkan sendok yang menyentuh piring pun membuat jantungku melonjak.
Ayah mencoba bersikap normal. Dia memperbaiki lampu teras, mengganti engsel pintu, seolah pekerjaan rumah bisa menambal retak di dalam kepalanya. Tapi setiap kali ada suara dari arah jalan, tubuhnya menegang seperti siap berkelahi dengan hantu tak terlihat.
Dini datang sejak siang, membawa tas berisi baju ganti tanpa perlu diminta.
“Gue nginep sampai urusan ini kelar,” katanya tegas.
Arga muncul menjelang asar bersama Pak Karso. Mereka membawa beberapa benda lagi: kain putih panjang, segenggam tanah dari makam tua, dan seutas tali rami yang sudah dibacakan doa.
“Ini bukan untuk melawan,” kata Pak Karso, “hanya untuk menjaga batas. Lawan sesungguhnya tetap pilihan Raisa.”
Aku mengangguk, meski tidak sepenuhnya mengerti.
Di kepalaku masih terngiang bayangan diriku sendiri yang berkata bahwa nama kedua tidak cukup, bahwa yang dibutuhkan adalah keputusan. Tapi keputusan tentang apa? Aku belum menemukan jawabannya.
⸻
Sore itu kami mengitari rumah seperti pasukan kecil tanpa seragam.
Arga menggambar ulang denah di buku catatannya, membandingkan titik-titik yang pernah menyala dengan posisi patok besi di depan pagar. Pak Karso memeriksa sudut-sudut ruangan, mengetuk dinding seperti dokter memeriksa dada pasien.
“Jalur di rumah ini seperti nadi,” katanya pelan. “Dan rumah kosong itu jantung kedua. Kalau keduanya berdetak bersamaan, alirannya tak bisa ditahan lagi.”
Dini menatapku khawatir.
“Berarti malam ini benar-benar penentuan ya?”
Aku hanya bisa mengangkat bahu. Kata penentuan terasa terlalu besar untuk anak SMA yang seharusnya memikirkan tugas sekolah, bukan pintu ke dunia lain.
Ayah memanggilku ke teras sebentar.
“Kalau kamu mau pergi dari kampung ini sekarang, Ayah akan antar,” katanya tiba-tiba.
Aku tersenyum pahit.
“Pergi ke mana, Yah? Ke mana pun namaku tetap ikut.”
Ayah tidak membantah. Mungkin itu yang paling menyakitkan: kami berdua tahu tidak ada tempat aman yang benar-benar bersih dari cerita ini.
⸻
Menjelang magrib, suasana kampung mendadak sepi.
Tidak ada anak bermain di jalan, tidak ada suara televisi tetangga, bahkan ayam-ayam seperti masuk kandang lebih cepat. Seolah seluruh kampung sepakat memberi ruang bagi sesuatu yang akan datang.
Aku duduk di kamar memegang kalung bertuliskan Hidup.
Tulisan itu masih ada, tidak pudar, tapi rasanya lebih berat dari biasanya. Seperti benda kecil yang menyimpan janji terlalu besar.
Di cermin lemari, bayanganku menatap balik. Aku teringat kejadian beberapa hari lalu ketika bayanganku tersenyum lebih dulu. Sejak itu aku jarang berani menatap cermin lama-lama.
Tapi sore ini aku memberanikan diri.
“Siapa kamu sebenarnya?” bisikku pada bayangan itu.
Tentu saja ia hanya mengikuti gerakanku.
Namun di detik terakhir sebelum aku berpaling, aku merasa melihat kilatan senyum tipis—senyum yang bukan milikku.
⸻
Malam turun pelan, seperti kain gelap yang disampirkan hati-hati.
Kami berkumpul di ruang tengah setelah isya. Pak Karso duduk bersila di dekat lantai yang pernah menyala, Arga di depan pintu belakang, Ayah di kursi dekat jendela, Dini di sampingku.
Tidak ada televisi dinyalakan. Tidak ada musik. Hanya suara napas kami yang saling menabrak.
Jam menunjukkan 21.30 ketika listrik kampung kembali padam—persis seperti malam-malam sebelumnya. Hanya rumah kami yang tetap terang karena lampu darurat.
“Dia mulai,” gumam Arga.
Dari kejauhan terdengar beduk palsu itu lagi, dipukul tidak beraturan dari arah rumah kosong. Nadanya seperti ejekan.
Pak Karso menabur tanah makam membentuk lingkaran kecil di sekitar tempatku duduk.
“Apapun yang terjadi, jangan menjawab kalau ada yang memanggil namamu,” pesannya.
Aku mengangguk.
Laras, ucapku dalam hati.
⸻
Pukul 22.00, ketukan pertama datang.
Bukan di pintu, tapi di dinding belakang rumah.
Tok… tok… tok…
Irama pelan, teratur, seperti orang yang sangat sabar.
Ayah langsung berdiri, tapi Arga menahannya.
“Jangan dibuka.”
Ketukan itu berpindah ke jendela dapur, lalu ke atap, seperti mengitari rumah mencari celah.
Dini memeluk lenganku.
“Gue nggak suka suara ini,” bisiknya.
Aku pun tidak. Suara itu bukan menakutkan, tapi melelahkan—seperti orang yang tahu kita akan menyerah cepat atau lambat.
Pak Karso mulai melantunkan doa dengan suara rendah. Udara di ruangan terasa lebih hangat sebentar.
Ketukan berhenti.
Kami mengira itu pertanda baik.
Ternyata hanya jeda.
⸻
Sekitar pukul 23.15, ketukan kedua datang—dari arah depan.
Bukan di rumah kami.
Dari rumah kosong.
Suara palu dipukul ke pintu kayu berkali-kali, keras, menggema sampai ke halaman kami.
Bima pasti ada di sana.
Denah di bawah karpet ruang tamu mulai terasa hangat lagi. Aku bisa merasakannya bahkan tanpa menyentuh lantai.
Arga membuka sedikit tirai jendela.
Di kejauhan, cahaya merah menyala dari rumah kosong, seperti ada api kecil menari di dalamnya.
“Dia lagi membuka jalur,” katanya.
Tarikan di dadaku mulai muncul, pelan tapi pasti. Seperti dua tali ditarik dari arah berlawanan.
Aku menutup mata.
Laras… Laras…
⸻
Tepat tengah malam, sesuatu yang lebih aneh terjadi.
Ponsel di meja bergetar sendiri, menampilkan panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Layarnya hanya bertuliskan satu kata:
RAISA
Ayah hendak mengangkat, tapi Pak Karso langsung menahan.
“Jangan.”
Ponsel itu terus berdering tanpa suara, hanya getaran panjang. Lalu mati sendiri, dan menyala lagi menampilkan jam:
02.17.
Padahal waktu masih pukul 00.03.
Aku mulai gemetar.
Dini membacakan ayat-ayat pendek yang dia hafal, suaranya bergetar.
Ketukan dari rumah kosong makin cepat, sementara di dinding belakang rumah kami muncul bunyi seperti kuku menggores papan.
Dua arah benar-benar datang bersamaan.
⸻
Jam bergerak lambat menuju 01.00.
Aku merasa seperti duduk di tengah jembatan yang perlahan retak. Setiap detik adalah langkah di atas kayu rapuh.
Tiba-tiba aku mendengar suara memanggil dari dapur.
“Rai…”
Hanya satu suku kata, tapi cukup membuat darahku beku.
Aku menggigit bibir menahan refleks menjawab.
Laras.
Suara itu memanggil lagi, lebih jelas.
“Raisa…”
Pak Karso menepuk bahuku.
“Ingat namamu yang lain.”
Laras!
Lampu darurat berkedip.
Dari arah rumah kosong terdengar teriakan Bima—bukan marah, tapi seperti memerintah sesuatu yang tidak terlihat.
Denah di lantai mulai memanjang seperti urat hidup, merayap menuju pintu depan dan pintu belakang sekaligus.
Arga berusaha menahan dengan garis garam, tapi cahaya itu melewatinya seperti air melewati pasir.
Ayah memelukku dari samping.
“Kamu kuat, Sa.”
Aku ingin percaya.
⸻
Pukul 01.40.
Udara di ruang tengah berubah sangat dingin. Napasku keluar seperti asap tipis.
Ketukan di dua arah kini berganti menjadi suara langkah.
Dari depan—langkah manusia dewasa, pasti Bima.
Dari belakang—langkah ringan yang dulu milik Ranti, tapi kini terdengar lebih banyak, seolah bukan satu anak.
Aku merasakan tarikan di dadaku makin keras.
Bayangan di dinding mulai memanjang membentuk dua sosok: satu tinggi kurus seperti laki-laki, satu kecil seperti anak.
Mereka saling mendekat melalui bayangan lantai.
“Jangan lihat,” bisik Dini.
Tapi mataku tidak bisa berpaling.
⸻
Pukul 02.00.
Pintu depan digedor keras.
Ayah hendak melangkah, tapi Arga berdiri menghadang.
“Itu bukan Bima sepenuhnya.”
Dari balik pintu terdengar suara Bima, jelas dan tenang.
“Raisa, aku datang menjemputmu.”
Di saat yang sama, pintu belakang berderit terbuka sendiri. Dari sana terdengar suara lain—bukan suara anak, tapi suara seperti banyak mulut berbicara bersamaan.
“Kak… Kak… Kak…”
Aku berada tepat di tengah, di dalam lingkaran tanah makam.
Pak Karso memegang kepalaku pelan.
“Sekarang bagianmu.”
“Apa yang harus kupilih, Pak?” tanyaku hampir menangis.
“Pilih hidupmu, bukan nama yang mereka buat.”
Kalimat itu menggema di kepalaku.
⸻
Pukul 02.10.
Pintu depan retak.
Pintu belakang terbuka lebih lebar.
Denah di lantai menyatu membentuk satu garis lurus melewati tubuhku.
Tarikan itu kini seperti dua tangan menarik bahuku dari kiri dan kanan.
Aku mulai melihat lagi lorong kaca dalam kepalaku. Di satu ujung berdiri Bima dengan wajah meyakinkan. Di ujung lain berdiri sosok tanpa wajah bersama bayangan Ranti.
Mereka memanggil bersamaan:
“Raisa.”
Untuk pertama kalinya, aku tidak langsung menjawab dengan Laras.
Aku diam.
Di dalam diam itu aku mendengar detak jantungku sendiri—satu-satunya suara yang benar-benar milikku.
Aku teringat kalung bertuliskan Hidup, wajah Ayah yang ketakutan, pelukan Dini, doa Arga, dan pohon mangga yang akhirnya tenang.
Aku sadar pilihan yang dimaksud bukan memilih salah satu pintu,
tapi menolak keduanya.
⸻
Pukul 02.16.
Aku berdiri di tengah ruangan.
Pintu depan hampir jebol.
Pintu belakang menganga seperti mulut gelap.
Aku menarik napas panjang.
Lalu untuk pertama kalinya aku berbicara keras bukan pada mereka, tapi pada diriku sendiri.
“Namaku memang Raisa. Tapi hidupku bukan milik namaku.”
Bima berteriak marah dari luar.
“Jawab aku!”
Sosok di belakang rumah mendesis.
“Kak… ikut…”
Aku mengangkat kalung di leherku.
“Aku memilih jalan yang tidak kalian buat.”
Pak Karso ikut berdiri membaca doa lebih keras. Arga menabur sisa garam terakhir. Dini memegang tanganku.
Denah di lantai bergetar hebat, seperti marah karena ditolak.
Aku menutup mata dan menyebut dua nama sekaligus:
“Raisa. Laras.”
Bukan untuk menjawab panggilan mereka,
tapi untuk memanggil diriku sendiri.
⸻
Detik 02.17.
Semuanya pecah bersamaan.
Kaca jendela retak, pintu depan terbuka keras tapi tidak ada siapa-siapa, pintu belakang menutup sendiri dengan bunyi menggelegar.
Tarikan di dadaku putus mendadak, membuatku jatuh terduduk.
Lampu darurat padam sebentar lalu menyala lagi.
Di luar, suara beduk palsu berhenti.
Hening.
Benar-benar hening.
Bima tidak lagi terdengar.
Suara dari belakang rumah lenyap.
Denah di lantai memudar seperti tinta disiram air.
Aku terengah-engah, tapi untuk pertama kalinya aku merasa utuh.
⸻
Beberapa menit kemudian Ayah membuka pintu depan.
Tidak ada siapa pun di luar. Hanya patok besi Bima yang kini patah jadi dua.
Di belakang rumah, tidak ada jejak apa-apa. Pintu dapur tertutup rapi seperti semula.
Arga memeriksa sekeliling dengan wajah tidak percaya.
“Dia… mundur?”
Pak Karso mengangguk pelan.
“Untuk malam ini, iya. Karena Raisa tidak memberi jalan.”
Aku menatap tanganku sendiri.
Bukan kemenangan besar, tapi langkah pertama yang nyata.
Dini memelukku erat.
“Lo gila berani banget.”
Aku tertawa kecil sambil menangis.
“Bukan berani. Cuma capek jadi pintu.”
⸻
Subuh datang membawa udara baru.
Kami duduk di teras memandangi langit yang perlahan terang. Tidak ada euforia, hanya kelelahan panjang seperti selesai ujian hidup.
Pak Karso pamit dengan pesan singkat:
“Ini belum akhir. Tapi sekarang kamu pegang kendali.”
Ayah menatapku dengan mata penuh harapan yang hati-hati.
“Kita bisa lanjut, Sa.”
Aku mengangguk.
Di dalam dadaku masih ada bekas tarikan, tapi tidak lagi menguasai.
⸻
Namun menjelang pagi, ketika aku masuk kamar, aku menemukan sesuatu di atas bantal.
Selembar kertas kecil bertuliskan tangan rapi:
“Kamu memang menutup pintu malam ini.
Tapi aku punya kunci lain.” – B
Aku menatap tulisan itu lama.
Perang belum selesai.
Hanya babak pertama yang dimenangkan.
Di luar jendela, rumah kosong masih berdiri, gelap dan sabar.
Aku tahu Bima tidak akan menyerah semudah itu.
Dan aku pun tidak.