Masuk ke lingkaran istana, Sekar justru disambut teror mental, racun kecubung, hingga fitnah ilmu hitam.
Berbekal teknologi Ruang Spasial, ia membalas telak: mengubah ulat sutra menjadi emas dan membungkam angkuh bangsawan dengan sains.
Namun, musuh tidak tinggal diam. Wabah mematikan menyerang Pangeran Arya, memaksanya bertaruh nyawa. Di saat kritis, hantaman terakhir justru datang dari ayah kandungnya sendiri: Gugatan hukum di Pengadilan Agama demi memeras harta sebagai syarat restu nikah.
Di antara ambisi GKR Dhaning, nyawa kekasih, dan keserakahan keluarga, Gadis desa ini siap mengguncang pilar istana Yogyakarta.
⚠️ PENTING:
🚫 PEMBACA BARU: STOP! Wajib baca SERI 1 dulu agar paham alurnya.
🔥 PEMBACA SETIA: Level musuh naik drastis! Dari nenek dan bibi julid ke politisi keraton. Siapkan hati untuk "Face-Slapping" yang jauh lebih brutal!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Ilalang yang Bisa Kamu Injak
Keheningan di pendopo itu bukan sekadar ketiadaan suara. Itu adalah vakum.
Seperti momen sebelum tabung reaksi meledak karena tekanan gas yang berlebih.
Sekar menarik napas dalam. Oksigen mengisi paru-parunya, membawa serta aroma melati dari teh yang mulai dingin.
Di dalam kepalanya, interface imajiner dari Ruang Spasial masih menyala terang.
Data mengalir deras.
Neural network-nya bekerja dua kali lebih cepat dari manusia normal.
"Lanjutkan," perintah Permaisuri. Suaranya datar, namun ada getaran infleksi 0,5 oktaf yang menandakan ketertarikan.
Atau kecurigaan.
Sekar tidak menunduk. Dia menatap halaman buku kuno itu seolah sedang membaca laporan lab rutin.
"Bait ini mengajarkan tentang cegah dhahar lawan guling," suara Sekar mengalun.
Bukan dengan logat desa yang medok, melainkan dengan intonasi ritmis yang biasa digunakan para abdi dalem senior.
"Secara harfiah, mengurangi makan dan tidur. Namun, jika ditafsirkan dalam konteks neuro-psikologi kepemimpinan modern..."
Mata Dhaning membelalak. "Neuro... apa?"
Sekar mengabaikan interupsi itu. Fokusnya terkunci pada Permaisuri.
"Ini adalah manajemen impulse control, Gusti Ratu. Seorang pemimpin, atau calon Ratu, harus bisa mengendalikan lonjakan dopamin di otaknya. Menahan diri dari gratifikasi instan. Makan dan tidur adalah simbol hawa nafsu dasar. Jika nafsu biologis saja tidak bisa diatur, bagaimana mengatur negara?"
Permaisuri tidak berkedip.
Cangkir teh di tangannya perlahan turun ke tatakan.
Tak.
Suara porselen beradu itu terdengar nyaring.
"Kamu bicara seolah kamu mengerti struktur otak," pancing Permaisuri. Sudut bibirnya terangkat sedikit.
Sinis.
"Hanya logika tani, Gusti," jawab Sekar merendah, tapi matanya tajam.
"Jika benih padi terlalu banyak diberi pupuk dan air, batangnya akan lunak.
Mudah roboh diterpa angin.
Manusia pun sama. Adversity quotient, daya tahan terhadap tekanan, hanya terbentuk dalam kondisi prihatin."
Skakmat logika.
GKR Dhaning tampak gelisah. Dia menggeser duduknya.
"Ibu, dia pasti hanya menghafal ini dari buku bekas di pasar loak," sela Dhaning cepat.
"Anak desa ini pintar bersilat lidah."
Permaisuri mengangkat tangan kanannya sedikit. Gestur mutlak untuk menyuruh diam.
Dhaning langsung terbungkam, wajahnya memerah menahan malu.
"Menarik," gumam Permaisuri. Dia menutup kitab Wulangreh itu.
"Hafalan bisa dicari. Interpretasi bisa dikarang. Tapi sejarah..."
Permaisuri menatap Sekar dengan tatapan setajam silet bedah.
"Sejarah adalah data absolut. Tidak bisa direkayasa."
Wanita agung itu berdiri, berjalan pelan mengelilingi Sekar. Kain batiknya berdesir pelan di lantai marmer.
"Tahun 1812. Geger Sepehi. Inggris menyerang Keraton."
Suara Permaisuri menggema di pendopo.
"Banyak harta jarahan dibawa pergi. Termasuk naskah-naskah kuno.
Tapi ada satu hal yang tidak pernah dicatat di buku sejarah umum. Sesuatu yang hilang dari Taman Sari pada malam penyerangan itu. Benda yang seharusnya diwariskan kepada garis keturunan Ratu."
Permaisuri berhenti tepat di belakang punggung Sekar.
Sekar bisa merasakan hawa dingin dari tubuh wanita itu.
"Apa itu, Sekar? Jika kamu benar-benar 'jenius' yang mengerti filosofi keraton, kamu pasti tahu apa yang paling berharga bagi seorang wanita bangsawan selain kehormatannya."
Sekar terdiam.
Pertanyaan jebakan.
Ini bukan pengetahuan umum. Ini classified information. Rahasia keluarga.
Jantung Sekar berdetak 110 bpm.
Search engine di kepalanya berputar liar.
Keyword: 1812, Inggris, Raffles, Taman Sari, Inventaris Hilang.
Di Ruang Spasial, Pohon Kristal bergetar. Sebuah arsip kuno, bukan buku sejarah, melainkan "Catatan Harian Emban Kunci", terbuka di benaknya. Tulisan tangan cakar ayam. Tinta luntur.
Sekar memindai data itu dalam hitungan mikrosekon.
Bukan emas. Bukan berlian.
Mata Sekar terbuka lebar.
"Benih," bisik Sekar.
Alis Permaisuri menukik tajam. "Apa katamu?"
Sekar memutar tubuhnya perlahan, tetap dalam posisi duduk bersimpuh, menghadap Permaisuri.
"Bukan perhiasan, Gusti Ratu. Yang hilang malam itu adalah kotak kayu jati berisi tujuh varietas benih Pari Wulung, Padi Hitam dan Puspita Raja, Bunga Wijayakusuma Murni.
Itu adalah koleksi botani pribadi mendiang Ratu Ageng Tegalrejo."
Hening lagi.
Kali ini lebih lama. Lebih mencekam.
Wajah GKR Dhaning pucat pasi. Dia bahkan tidak tahu soal itu.
Permaisuri menatap Sekar seolah melihat hantu.
Dada wanita bangsawan itu naik turun. Ritme napasnya tidak teratur.
Sekar tahu dia benar.
Analisis: Tepat sasaran. Probabilitas akurasi 99,9%.
"Darimana..." suara Permaisuri tercekat, kehilangan wibawa dinginnya sesaat.
"Darimana kamu tahu soal koleksi botani Eyang Ratu Ageng? Itu tidak ada di perpustakaan nasional. Itu cerita lisan yang hanya diketahui..."
"...para penjaga kehidupan," potong Sekar halus, tapi berani. Sekar menunduk dalam, menyembunyikan kilatan kemenangan di matanya.
"Saya petani, Gusti. Bagi kami, benih lebih berharga daripada emas. Cerita tentang hilangnya benih pusaka itu beredar di kalangan tetua desa di lereng Merapi. Kami meratapinya, karena itu artinya kami kehilangan genetika tanaman terbaik tanah Jawa."
Kebohongan yang sempurna.
Sekar mencampur fakta data dengan narasi emosional yang relevan dengan latar belakangnya.
Permaisuri mundur selangkah. Dia kembali duduk di kursinya dengan gerakan lemah.
Dia menatap Sekar.
Bukan lagi seperti melihat bakteri, tapi seperti melihat predator asing yang baru saja masuk ke ekosistemnya.
"Dhaning," panggil Permaisuri pelan.
"Dalem, Ibu," jawab Dhaning gugup.
"Antar dia pulang."
"Ta-tapi Ibu, tes etikanya..."
"Cukup!" bentak Permaisuri.
Burung perkutut di dalam sangkar emas di pojok pendopo mengepakkan sayap kaget.
Permaisuri memijat pelipisnya.
"Dia sudah menjawab lebih dari yang diminta. Kehadirannya di sini membuat kepalaku sakit."
Sekar melakukan sembah sujud terakhir. Gerakannya luwes, presisi, tanpa cacat sedikitpun.
"Mohon pamit, Gusti Ratu. Semoga kesehatan dan kebijaksanaan selalu menyertai Panjenengan."
Sekar bangkit, berjalan mundur tiga langkah, lalu berbalik.
Setiap langkahnya mantap. Tidak ada gemetar.
Bu Sasmi yang menunggu di luar pendopo menatapnya dengan mulut ternganga, seolah melihat mayat hidup kembali berjalan.
Saat bayangan Sekar menghilang di balik gerbang Regol, Permaisuri masih terpaku menatap cangkir tehnya.
"Ibu," Dhaning mendekat, mencoba mengompori.
"Lihat betapa kurang ajarnya dia? Dia sok tahu! Pasti dia hanya menebak dan kebetulan dia..."
"Diam kamu, Dhaning!"
Permaisuri menoleh. Matanya menyala.
"Kamu bilang dia gadis desa bodoh? Kamu bilang dia hanya beruntung?"
Permaisuri mengambil buku Serat Wulangreh, lalu membantingnya pelan ke meja.
"Gadis itu... dia bukan sekadar pintar. Dia berbahaya."
"Maksud Ibu?"
Permaisuri menatap pintu gerbang yang kosong.
"Dia tahu detail yang bahkan arsip keraton sudah lupa. Dia menganalisis filosofi leluhur dengan logika ilmuwan Barat, tapi membungkusnya dengan kesopanan Jawa yang manipulatif."
Tangan Permaisuri mengepal.
"Dia bukan ilalang yang bisa kamu injak mati, Dhaning. Dia adalah beringin yang akarnya bisa merusak pondasi bangunan jika dibiarkan membesar."
Permaisuri menatap anak tirinya itu tajam.
"Mulai sekarang, jangan gunakan cara kasar."
"Lalu saya harus bagaimana?" tanya Dhaning bingung.
Mata Permaisuri menyipit, dingin dan penuh perhitungan.
"Kita tidak bisa menyerangnya secara terbuka. Arya akan melindunginya. Kita harus membuatnya melakukan kesalahan fatal."
Permaisuri tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai mata.
"Minggu depan ada acara Royal Innovation Summit di Jakarta. Banyak investor asing. Banyak protokol internasional."
"Buat dia ikut serta, Dhaning. Dan pastikan dia 'tergelincir' di panggung dunia.
Di sana, kepintaran lokalnya tidak akan ada harganya."
Di dalam mobil yang membawanya kembali ke paviliun, Sekar bersandar lemas.
Adrenalinnya surut drastis, meninggalkan rasa lelah yang luar biasa.
Tangannya gemetar.
Bukan karena takut. Tapi efek samping overclocking otak saat mengakses data besar dalam waktu singkat.
"Non Sekar sakit?" tanya Pak Man, sopir setia yang menjemputnya, melihat wajah majikannya pucat pasi.
"Hanya lapar, Pak," jawab Sekar lirih.
Dia menatap tangannya. Jari manis kirinya terasa panas.
Tanda lahir bulir padi itu berpendar samar.
Dia berhasil melewati satu lubang jarum.
Tapi Sekar tahu, dia baru saja membangunkan naga tidur.
Permaisuri sekarang tahu kapasitas otaknya. Dan dalam politik, mengetahui kekuatan musuh adalah langkah pertama untuk menghancurkannya.
"Arya," bisik Sekar pelan. "Kamu punya ibu tiri yang mengerikan."
Sekar memejamkan mata. Dia butuh tidur.
Dan dia butuh masuk ke Ruang Spasial.
Benih Pari Wulung yang disebutkan tadi... Sekar merasa dia pernah melihat varietas itu tumbuh liar di pojok Tanah Hitam di dalam ruang dimensinya.
Jika benar, dia memegang kunci genetika yang dicari Keraton selama dua abad.
Kartu As baru saja didapatkan.
lope lope lope ❤️❤️❤️⚘️⚘️⚘️
borongan
kena banget jebakan sekar buat rangga😄