NovelToon NovelToon
Bukan Suami Biasa

Bukan Suami Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / CEO / Pernikahan Kilat / Identitas Tersembunyi
Popularitas:57.3k
Nilai: 5
Nama Author: lala_syalala

Follow IG @Lala_Syalala13

Adrian Arkadia, seorang CEO jenius dan penguasa bisnis yang dingin, menyamar sebagai pria miskin demi memenuhi wasiat kakeknya untuk mencari cinta sejati.

Ia kemudian menikahi Arumi, gadis sederhana berhati emas yang dijadikan "pelayan" dan pemuas ambisi oleh ibu serta adiknya yang materialistis.

Di tengah hinaan keluarga mertua dan ancaman rentenir, Adrian menjalani kehidupan ganda yaitu menjadi kuli panggul yang direndahkan di malam hari, namun tetap menjadi raja bisnis yang menghancurkan musuh-musuhnya secara rahasia di siang hari.

Perlahan tapi pasti, Adrian menggunakan kekuasaannya untuk membalas setiap tetes air mata Arumi dan mengangkat derajat istrinya hingga para penindasnya berlutut memohon ampun.

Bagaimana kelanjutannya???
Jangan lupa mampir baca yaaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BSB BAB 26_Hari Pertama Menjadi Kuli

Pesawat komersial kelas ekonomi itu mendarat di Bandara Soekarno-Hatta dengan guncangan yang cukup terasa.

Tidak ada lagi penjemputan Rolls-Royce di depan pintu keluar VIP, tidak ada lagi pengawal yang membukakan jalan, dan tidak ada lagi Hendra yang sigap membawakan tas.

Adrian berjalan di samping Arumi sambil menjinjing tas ransel tuanya.

Ia mengenakan kaos oblong hitam yang sudah agak memudar dan celana kargo.

Sementara Arumi, dengan trofi dunianya yang terbungkus kain di dalam tas, melangkah dengan dagu terangkat.

Wajahnya tidak lagi sembab, namun ada ketegasan yang belum pernah Adrian lihat sebelumnya.

"Kita tidak akan kembali ke apartemen itu, kan?" tanya Arumi saat mereka berdiri di antrean taksi reguler yang panjang.

"Tidak, karena sesuai perjanjian kita Arum, semua aset Arkadia sudah aku kunci. Kartu kredit, akses properti, bahkan ponsel satelitku sudah aku serahkan pada Hendra di Changi." jawab Adrian, suaranya terdengar berat namun mantap.

"Aku hanya membawa uang tunai lima ratus ribu rupiah di dompet ini. Itu uang hasil aku menyisihkan gaji kuli palsuku bulan lalu. Hanya itu modal kita."

Arumi menoleh, menatap mata suaminya.

"Bagus, karena mulai detik ini, kita akan membuktikan apakah kau benar-benar Adrian yang mencintaiku, atau hanya Adrian yang sedang menjalankan misi kakeknya."

Mereka menumpang bus kota menuju sebuah kawasan padat penduduk di pinggiran Jakarta Timur.

Di sana, di sebuah gang sempit yang hanya bisa dilalui satu motor, Arumi telah memesan sebuah kontrakan satu petak melalui ponselnya beberapa jam lalu.

Dindingnya hanya dicat putih kusam, lantainya ubin semen, dan kamar mandinya berada di luar, berbagi dengan penghuni lain.

"Ini tempat tinggal kita selama tiga bulan ke depan," ucap Arumi sambil membuka pintu kayu yang berderit.

Adrian masuk dan melihat ruangan sempit itu, panas menyengat langsung menyambut mereka karena tidak ada AC, hanya sebuah kipas angin kecil yang berdebu di sudut ruangan.

Bagi seorang pria yang terbiasa tidur di seprai sutra dengan suhu ruangan yang diatur otomatis, tempat ini adalah neraka kecil. Namun, Adrian hanya mengangguk.

"Aku akan mencari kerja besok pagi," kata Adrian.

Keesokan harinya, pukul lima pagi, Adrian sudah terbangun.

Tidak ada sarapan mewah yang diantarkan pelayan, Arumi hanya menyediakan segelas teh tawar dan sepotong singkong rebus yang ia beli dari warung depan.

"Jangan gunakan koneksimu Adrian, jangan telepon mandor yang pernah kau kenal melalui Arkadia," Arumi memperingatkan saat Adrian hendak berangkat.

Adrian tersenyum tipis. "Aku mengerti."

Ia berjalan kaki sejauh tiga kilometer menuju sebuah proyek pembangunan ruko yang sedang membutuhkan tenaga harian.

Di sana, ia mengantre bersama puluhan pria lainnya yang bertubuh legam dan berwajah keras.

"Wajahmu terlalu bersih untuk jadi kuli." ejek seorang pria bertato di lengannya saat melihat Adrian.

"Pasti pelarian dari kantor, ya? Mau coba-coba kerja kasar?" lanjut pria tersebut.

Adrian tidak membalas, ia hanya melepas kaosnya, menyampirkannya di pundak, dan bergabung dalam barisan.

Ia diterima sebagai tukang angkut semen, tugasnya sederhana namun mematikan yaitu memanggul karung semen seberat 50 kilogram dari truk ke lantai tiga bangunan yang belum memiliki lift.

Pada jam pertama, otot-otot Adrian terasa terbakar, karung semen itu terasa seperti batu besar yang hendak meremukkan tulang belikatnya.

Debu semen mulai menutupi rambut dan kulitnya yang biasanya terawat. Keringat mengucur deras, membuat matanya perih.

Berkali-kali ia hampir jatuh saat menaiki tangga kayu yang licin, namun ia membayangkan wajah Arumi.

'Aku melakukan ini bukan untuk kakek. Aku melakukan ini agar dia percaya bahwa aku adalah suaminya, bukan tuannya.' batin Adrian.

Saat jam istirahat makan siang, Adrian duduk di pinggir jalan bersama kuli-kuli lainnya, ia membeli nasi bungkus seharga sepuluh ribu rupiah.

Tangannya yang gemetar karena kelelahan membuat butiran nasi jatuh berserakan, pria bertato tadi melempar sebotol air mineral padanya.

"Kau lumayan juga, Anak Muda. Kirain bakal pingsan di jam pertama," ucap pria itu.

Adrian meneguk air itu dengan rakus. Rasanya lebih nikmat daripada wine termahal di Singapura.

Sementara itu Arumi tidak tinggal diam, ia membawa laptop tuanya dan trofi kemenangannya ke sebuah kantor firma arsitektur kecil yang sedang membuka lowongan mitra lepas.

Ia berharap penghargaan internasionalnya bisa membuka jalan.

Namun, kenyataan di lapangan tidak semudah di atas panggung Singapura.

"Arumi Arkadia? Pemenang Global Visionary?" Manajer firma itu menatap Arumi dari atas ke bawah.

Arumi mengenakan pakaian sederhana karena ia harus menghemat uang transportasi.

"Maaf, tapi alamat yang Anda cantumkan di formulir ini... ini daerah kumuh, kan?" tanya manajer tersebut.

"Iya, Pak. Tapi apa hubungannya alamat tinggal saya dengan kualitas desain saya?" tanya Arumi tegas.

Pria itu tertawa remeh.

"Klien kami adalah orang-orang kelas atas, bagaimana mereka bisa percaya pada desainer yang bahkan tidak bisa menata hidupnya sendiri di lingkungan yang layak? Desain adalah soal gaya hidup, Nona. Kalau Anda tinggal di sana, selera Anda pasti akan terpengaruh oleh bau sampah dan kesempitan." ejeknya.

Arumi mengepalkan tangan di bawah meja.

"Desain adalah soal solusi ruang, Pak. Justru karena saya tinggal di tempat sempit, saya tahu bagaimana memaksimalkan setiap inci ruangan agar tetap terasa manusiawi."

"Maaf, kami butuh desainer yang punya image mahal. Silakan cari tempat lain." usirnya.

Arumi keluar dari kantor itu dengan kepala tegak, meskipun hatinya perih, ia mencoba ke tiga kantor lainnya, dan hasilnya serupa.

Beberapa bahkan terang-terangan mengatakan bahwa penghargaan internasionalnya mungkin hanya keberuntungan atau "titipan" orang besar, mengingat latar belakangnya yang tidak jelas.

Ia duduk di halte bus, menatap trofinya.

"Dunia ini memang aneh, Mas. Saat kau kaya, semua pintumu terbuka tanpa kau ketuk. Saat kau miskin, meskipun kau membawa emas di tangan, orang tetap melihatmu sebagai debu."

Sore hari, Adrian pulang dengan tubuh yang benar-benar hancur.

Kulit bahunya lecet dan memerah karena gesekan karung semen.

Wajahnya legam karena debu dan panas matahari, ia berjalan terpincang-pincang memasuki gang sempit menuju kontrakan mereka.

Arumi sedang duduk di teras, baru saja pulang dari kegagalannya mencari klien.

Saat melihat sosok Adrian, air matanya hampir jatuh, pria di depannya ini benar-benar tidak lagi menyerupai CEO Arkadia.

Ia terlihat seperti rakyat jelata yang habis diperas oleh kerasnya Jakarta.

"Mas..." Arumi berdiri, menghampiri Adrian.

Adrian memberikan upah hariannya, uang tunai seratus lima puluh ribu rupiah yang kumal dan basah oleh keringat.

"Ini hasil hari pertamaku Arumi, maaf tidak sebanyak gaji Ian yang dulu aku bohongkan padamu." ucap Adrian.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...

...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...

...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...

...VOTE 💌...

...LIKE 👍🏻...

...KOMENTAR 🗣️...

...HADIAHNYA 🎁🌹☕...

1
Asyatun 1
lanjut
Supryatin 123
lnjut thor 💪💪
Asyatun 1
lanjut
Nasiati
😄😄😄😄 bahagia nya sikakek
Nasiati
Alhamdulillah
Nasiati
Alur ceritanya bangus
Supryatin 123
lnjut thor 💪💪
Asyatun 1
lanjut
Rahma Inayah
lahir baby satu SDH SPT lahir sekomplej 🤭🤭 persiapan yg amazing
Rahma Inayah
lnjut thor
Nasiati
skenario begitu apik dirancang Adria 👍
Asyatun 1
lanjut
Isabela Devi
anakmu masih bayi pasti butuh perhatian andian, anaknya sendiri di cemburui🤦
Isabela Devi
ayah siaga itu bagus tp ayah juga harus istirahat cukup juga
Isabela Devi
Arumi sante aja,, suami jaga 24 jam
Asyatun 1
lanjut
Supryatin 123
lnjut thor 💪💪
Sastri Dalila
👍👍👍
Lala_Syalala: terima kasih kak untuk bintang 🌟 5 nya, semoga selalu suka ya sama ceritanya dan cerita aku lainnya 🙏🏻🙏🏻😁😁🤗
total 1 replies
Isabela Devi
semoga setelah anaknya lahir lebih bahagia Laginya
Ariany Sudjana
puji Tuhan, pewaris Adrian sudah lahir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!