___
"Vanya Gabriella" memiliki kelainan saat menginjak usia 18 tahun,dimana dia sudah mengeluarkan as* padahal dia tidak hamil.
dan disekolah barunya dia bertemu dengan ketua OSIS, "Aiden Raditya", dan mereka adalah jodoh.
"lo ngelawan sama gua? "
bentak Aiden marah
"nggak kak...maaf"
jawab vanya sambil menunduk ketakutan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malamfeaver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2
Vanya berjalan menyusuri koridor kelas XI dengan langkah yang sedikit canggung. Hoodie hitam milik Aiden yang ia kenakan terasa sangat besar, menutupi hingga setengah pahanya dan menenggelamkan tubuh mungilnya.
Aroma maskulin yang tajam, dingin, namun entah kenapa terasa menenangkan khas Aiden terus menusuk indra penciumannya. Hal itu membuat jantung Vanya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya.
"Anak-anak, kita kedatangan siswi pindahan baru hari ini. Vanya, silakan perkenalkan diri kamu," ucap Bu Lastri, guru Bahasa Inggris yang menyambutnya dengan ramah.
Vanya berdiri di depan kelas, meremas ujung lengan hoodie yang kepanjangan dengan gugup. "Halo semua... nama aku Vanya Gabriella. Pindahan dari sekolah internasional di Jakarta Selatan.
Salam kenal ya," ucap Vanya dengan nada manja yang natural, membuat seisi kelas langsung riuh.
Para siswa laki-laki bersiul melihat kecantikan Vanya yang nampak seperti boneka porselen, sementara para siswi sibuk berbisik-bisik, terutama saat mereka menyadari logo OSIS di dada hoodie yang dipakai Vanya. Itu adalah barang milik sang penguasa sekolah.
"Vanya? Lo... Vanya yang dulu sering nangis kalau es krimnya jatuh?!" teriak seorang gadis dari bangku tengah dengan heboh.
Vanya membelalakkan matanya.
"Elsa?!"
Elsa, sahabat lama Vanya sejak zaman SD yang terkenal ceplas-ceplos, langsung berdiri dan memeluk Vanya erat.
"Gila! Lo makin cantik banget! Tapi bentar... ini kan hoodie si ketos? Kok bisa ada di lo?!"
Vanya refleks membekap mulut Elsa dengan panik.
"Ssshhh! Nanti gue ceritain, jangan berisik!"
Bel istirahat pertama berbunyi dengan nyaring.
Elsa langsung menyeret Vanya menuju kantin yang sudah seperti lautan manusia. Bau gorengan, aroma soto, dan riuh rendah suara siswa bercampur jadi satu.
"Pokoknya lo harus makan Bakso Bang Jago. Ini kuliner paling legendaris seantero Garuda Bangsa," cerocos Elsa sambil memesan dua porsi besar.
Vanya duduk dengan gelisah. Area dadanya terasa semakin sesak dan berat. Hoodie Aiden memang menutupi noda lembap di seragamnya, tapi rasa kencang di dadanya benar-benar menyiksa akibat kondisi medis uniknya.
"Sa, ada toilet yang sepi nggak ya? Gue butuh ke sana sebentar."
"Nggak ada! Semua toilet antre kayak mau dapet bansos. Udah, makan dulu nih!" Elsa menyodorkan semangkok bakso dengan kuah merah pekat yang terlihat seperti lava gunung berapi.
Vanya, yang dasarnya memang memiliki sisi barbar di balik tampang manjanya, langsung menuangkan lima sendok sambal tambahan.
"Kurang nendang kalau nggak bikin bibir dower!"
"Gila lo ya, Vanya! Itu sambal apa cat merah!" Elsa bergidik ngeri melihat aksi sahabatnya.
Vanya mulai melahap baksonya dengan brutal. Kepedasan yang luar biasa mulai membakar lidahnya, membuat wajahnya memerah dan keringat mulai bercucuran.
Namun, di tengah aksi makan itu, rasa pedas yang ekstrem memicu reaksi aneh di tubuhnya. Kelenjar di dadanya merespons rasa panas itu, membuatnya merasa semakin sesak.
"Uhuk! Uhuk!" Vanya tersedak, matanya mulai berair bukan hanya karena sambal, tapi karena rasa sakit yang menekan.
"Eh, minum nih!" Elsa panik menyodorkan es teh manis.
Tanpa mereka sadari, di meja pojok kantin, Aiden Raditya sedang duduk bersama Bagas dan anggota OSIS lainnya.
Tatapan Aiden tidak pernah lepas dari sosok Vanya yang sedang kepayahan itu. Ada ketertarikan misterius di matanya yang dingin saat melihat wajah Vanya yang memerah.
"Aiden, lo liat apaan sih?" tanya Bagas heran.
Aiden tidak menjawab. Ia bangkit dan berjalan mendekati meja Vanya dengan langkah tegap yang membuat suasana kantin mendadak senyap.
Penguasa sekolah itu berdiri tepat di depan Vanya yang sedang sibuk mengipasi mulutnya.
"Ikut gue sekarang," ucap Aiden dingin.
Vanya mendongak dengan bibir yang sudah merah merekah. "Akhh... Kak... pedassss banget, bentar dulu,"
rengek Vanya dengan nada manja yang membuat beberapa siswa di sana menahan napas.
Aiden tidak sabar. Ia menarik tangan Vanya, memaksa gadis itu berdiri.
"Gue bilang ikut, ya ikut!"
"Eh, Kak Aiden! Mau dibawa ke mana temen saya?!" Elsa mencoba protes, tapi satu tatapan tajam dari Aiden langsung membuatnya terdiam seribu bahasa.
Aiden menarik Vanya menjauh dari kantin menuju area belakang perpustakaan yang sangat sepi. Vanya terus mengeluh sepanjang jalan.
"Kak, air... minta air... panas banget bibir aku," keluh Vanya manja sambil mencoba menarik-narik ujung baju Aiden karena kegerahan.
Aiden berhenti mendadak, membuat Vanya menabrak punggung kokohnya. Aiden berbalik, memojokkan Vanya ke dinding beton yang tertutup tanaman rambat.
"Lo tahu apa yang paling gue benci?" bisik Aiden dengan suara sangat rendah. Ia mendekatkan wajahnya ke leher Vanya, menghirup aroma manis yang kini tercium semakin kuat karena suhu tubuh Vanya meningkat akibat sambal.
"Apa, Kak?" tanya Vanya polos dengan mata berkaca-kaca.
"Gue benci merasa tergantung... tapi aroma tubuh lo adalah satu-satunya yang bisa meredakan sakit di kepala gue," gumam Aiden penuh teka-teki.
Ia menyentuh leher Vanya, merasakan denyut nadi gadis itu yang tidak beraturan.
"Lo nggak ngerasa sesuatu di balik hoodie ini, Vanya?"
Vanya tersentak.
Ia sadar, hoodie itu sekarang sudah terasa lembap karena kondisi dadanya yang tidak bisa dikompromi. Vanya menunduk malu, wajahnya semakin panas.
"Maaf, Kak... aku... aku punya kelainan medis."
Aiden menyeringai miring.
Tatapan dinginnya berganti dengan sorot mata yang posesif.
"Kelainan lo itu... akan menjadi alasan kenapa lo nggak akan pernah bisa lepas dari gue. Karena hanya gue yang..."
Tiba-tiba, Aiden merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan bersih yang sudah dibasahi air dingin.
Ia mengusap bibir Vanya yang kepedasan dengan sangat lembut, sangat kontras dengan sikap pemarahnya tadi.
"Jangan makan pedas lagi kalau lo nggak mau rahasia ini terbongkar di depan semua orang," bisik Aiden sambil menatap tajam ke arah Vanya. "Mulai sekarang, lo adalah tanggung jawab gue."