NovelToon NovelToon
Gelang Giok Pembawa Rezeki

Gelang Giok Pembawa Rezeki

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Romantis / Budidaya dan Peningkatan / Mengubah Takdir / CEO / Ruang Ajaib
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

"Lin Suyin mewarisi gelang giok dari neneknya—sebuah portal menuju dimensi ajaib tempat waktu berjalan 10x lebih cepat dan semua tanaman tumbuh sempurna. Tapi keajaiban ini membawa bahaya: ada yang memburu gelang tersebut. Bersama Xiao Zhen, CEO misterius dengan rahasia masa lalu, Suyin harus melindungi ruang ajaibnya sambil mengungkap konspirasi kuno yang menghubungkan keluarganya dengan dunia kultivator."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Panen Perdana Sayuran

Selasa pagi, Suyin bangun dengan semangat berbeda. Mimpi semalam tentang taman yang makin luas, pohon-pohon buah bermekaran, dan ladang sayuran hijau membentang tanpa batas.

"Level 2..." gumamnya sambil menyentuh gelang giok. "100 jenis tanaman dan 1000 kg panen. Harus mulai serius nih."

Sebelum mandi, ia sempatkan masuk ke ruang dimensi untuk cek perkembangan tanaman. Waktu di luar baru jam enam pagi, tapi di dalam ruang sudah berlalu puluhan jam sejak kemarin malam.

WUSH!

Begitu mendarat, Suyin langsung terpana.

Bedengan sayuran yang kemarin masih kecil—sekarang SIAP PANEN!

Sawi hijau tumbuh subur dengan daun-daun lebar berwarna hijau segar. Kangkung berdiri tegak dengan batang gemuk berair. Bayam lebat dengan daun-daun lembut. Selada keriting membentuk kepala sempurna seperti di majalah berkebun.

"Oh my God..." Suyin berlutut di samping bedengan sawi, menyentuh daun-daunnya dengan hati-hati. Lembut, segar, tidak ada bekas gigitan hama. Sempurna.

Tanpa buang waktu, ia mulai memanen. Satu per satu sawi dicabut dari akarnya—bersih, utuh, akarnya putih sehat. Kangkung dipotong batangnya dengan gunting kebun. Bayam dan selada dipetik dengan hati-hati.

Keranjang panen yang dibawa dari apartemen cepat penuh. Suyin harus keluar, menuang sayuran ke kardus di apartemen, lalu masuk lagi untuk lanjut panen.

Total hasil panen pertama sayuran:

Sawi hijau: 15 ikat (sekitar 12 kg)

Kangkung: 20 ikat (sekitar 10 kg)

Bayam: 18 ikat (sekitar 9 kg)

Selada keriting: 25 kepala (sekitar 8 kg)

Hampir 40 kilogram sayuran dari satu kali tanam! Dan kualitasnya... Suyin yakin ini level premium.

Setelah panen selesai, ia langsung tanam benih lagi di bedengan yang sama—kali ini variasi berbeda: sawi putih, kangkung bangkok, bayam merah, dan lettuce romaine. Harus cepat-cepat kumpulin 100 jenis tanaman buat upgrade level!

Saat keluar dari ruang dimensi, Suyin lihat jam—baru jam setengah tujuh. Cukup waktu buat mandi dan sarapan sebelum berangkat kerja.

Tapi melihat kardus-kardus penuh sayuran di ruang tamu, ia tersenyum. "Sekarang tinggal... gimana jualnya."

Di kantor, Suyin sengaja bawa satu ikat sawi, satu ikat kangkung, dan lima kepala selada dalam totebag terpisah.

Saat istirahat siang, ia ajak Mira, Dina, dan Rika ke pantry lagi.

"Jeng-jeng! Hari ini gue bawa sayuran organik hasil panen sendiri!" Suyin mengeluarkan sayuran dari tas dengan gaya dramatis.

Mira langsung tertarik. "Lho, sekarang nanem sayuran juga? Balkonmu emang seluas apa sih?"

"Lumayan lah," Suyin menghindar. "Ini sawi, kangkung, sama selada. Mau coba?"

Dina mengambil daun sawi, memeriksanya. "Wah, bersih banget! Nggak ada ulat atau lubang. Ini organik beneran?"

"Beneran. Nggak pakai pestisida sama sekali. Gue jamin."

Rika, yang kebetulan doyan masak, langsung excited. "Boleh aku bawa pulang satu ikat kangkung nggak? Mau aku tumis buat dicoba. Kalau enak, aku mau langganan!"

"Boleh! Rp 8.000 per ikat aja."

"Murah banget! Di supermarket organik bisa 15 ribu!" Rika langsung transfer.

Mira ambil selada. "Aku mau ini. Buat salad malam ini. Berapa?"

"Selada Rp 10.000 per kepala."

"Oke, aku ambil tiga kepala!"

Dalam hitungan menit, sayuran yang dibawa Suyin habis. Bahkan Pak Hendra—bos mereka—yang kebetulan lewat ikut beli dua ikat sawi untuk istrinya yang lagi diet.

"Suyin, kayaknya kamu lebih cocok jadi petani daripada desainer," goda Pak Hendra sambil tertawa.

"Ini cuma hobi, Pak. Kerjaan tetap nomor satu!" Suyin tersenyum—walau dalam hati dia mikir, siapa tahu nanti bisa resign dan full time berkebun...

Sore hari, Suyin langsung meluncur ke apartemen Bibi Wang dengan kardus besar penuh sayuran.

"BI WANG!" teriaknya sambil ngetok pintu.

Bibi Wang buka pintu, mata langsung melotot lihat kardus gede. "Astaga, Suyin! Itu apa?"

"Sayuran organik! Baru panen pagi ini. Sawi, kangkung, bayam, selada. Mau bantu jualin lagi nggak?"

"Mau lah! Ayo masuk!"

Mereka berdua duduk di ruang tamu, membuka kardus dan menyortir sayuran. Bibi Wang tercengang melihat kualitasnya.

"Ini... bener kamu nanem sendiri? Di balkon?" Bibi Wang mengangkat satu ikat sawi, membalik-balik. "Kok bisa sebagus ini? Daun-daunnya gede, seger, nggak ada cacatnya sama sekali."

Suyin tersenyum. "Rahasianya: kasih sayang dan air yang baik, Bi."

"Air dari mana emangnya?"

"Eh... air... filter khusus." Suyin ngeles. Nggak mungkin dia bilang air ajaib dari dimensi lain.

Bibi Wang manggut-manggut, percaya aja. "Oke, aku foto dulu buat kirim ke grup arisan."

Tidak sampai satu jam, grup WhatsApp arisan meledak.

Ibu Rita: "Wah sayuran! Aku mau sawi 3 ikat, kangkung 2 ikat!"

Ibu Santi: "Selada-nya masih ada? Aku mau 5 kepala!"

Ibu Dina: "Bayam dong! Anak-anak lagi butuh sayuran hijau. Mau 4 ikat!"

Permintaan terus berdatangan. Bibi Wang sampai kewalahan catat pesanan.

"Suyin, ini banyak banget! Total ada yang pesen 35 ikat sayuran campur dan 20 kepala selada. Kamu ada segitu?"

Suyin cek kardusnya. Masih cukup—malah masih sisa.

"Ada, Bi. Tenang aja."

"Harga-nya gimana?"

"Sawi, kangkung, bayam: Rp 10.000 per ikat. Selada: Rp 12.000 per kepala. Gimana?"

"Oke, deal!"

Malam itu, ibu-ibu arisan berdatangan ke apartemen Bibi Wang buat ambil pesanan. Suyin sengaja stay untuk kenalan langsung sama calon pelanggan tetapnya.

Ibu Rita yang pertama datang. "Mbak Suyin! Tomat kemarin enak banget! Suami sama anak-anak sampai ketagihan. Sekarang ada sayuran pula. Alhamdulillah!"

"Terima kasih, Bu. Semoga sayuran-nya juga cocok."

"Oh pasti! Aku lihat aja udah yakin ini bagus." Ibu Rita bayar tunai, ambil pesanannya, lalu nanya, "Mbak, kalau mau langganan tetap bisa nggak? Aku mau pesen rutin setiap minggu."

Suyin nggak nyangka pertanyaan ini datang secepat ini. Tapi peluang bagus!

"Bisa, Bu. Nanti kita bikin sistem pre-order aja. Ibu pesen apa, berapa banyak, nanti aku siapkan."

"Mantap! Aku WhatsApp kamu ya."

Satu per satu ibu-ibu datang, ambil pesanan, dan semuanya kasih feedback positif. Bahkan ada yang langsung pesen lagi buat minggu depan.

Malam itu, Suyin pulang ke apartemennya dengan kantong penuh uang tunai.

Setelah dihitung:

Penjualan sayuran lewat Bibi Wang: Rp 590.000

Penjualan di kantor: Rp 94.000

Total pemasukan hari ini: Rp 684.000!

Belum termasuk pre-order untuk minggu depan yang totalnya hampir satu juta!

Suyin duduk di kasur, menatap tumpukan uang di depannya. Ini gila. Benar-benar gila.

Dalam waktu kurang dari dua minggu, ia sudah dapat lebih dari satu setengah juta rupiah dari bisnis sampingan. Dan ini baru awal!

Tapi... ada yang mengganggu pikirannya.

Bibi Wang tadi sempat tanya, "Suyin, kamu nanem di mana sih sebenarnya? Balkon apartemen kamu kan kecil. Nggak mungkin bisa produksi sebanyak ini."

Suyin cuma tersenyum dan bilang, "Aku punya trik khusus, Bi."

Tapi ia tahu—cepat atau lambat, orang-orang akan makin curiga. Terutama kalau produksinya terus meningkat.

"Harus bikin cover story yang lebih meyakinkan," gumam Suyin.

Ia buka laptop, mulai riset. Googling tentang "sewa lahan pertanian", "kemitraan petani urban", "supplier sayuran organik Jakarta".

Setelah sejam riset, Suyin dapat ide.

Bagaimana kalau... ia bilang punya kerjasama dengan petani di desa? Petani yang menanam sayuran organik sesuai standar dia, lalu dia yang pasarin ke kota?

"Itu masuk akal," ucapnya sambil menulis di notes. "Nanti kalau ada yang tanya, tinggal bilang supplier-nya minta privasi. Atau bilang ini rahasia dagang."

Suyin merasa lebih tenang dengan rencana ini.

Tapi gelang giok di tangannya tiba-tiba terasa hangat—lebih hangat dari biasanya.

Ia tutup laptop, fokus ke gelang. "Ada apa?"

Tanpa mikir panjang, Suyin masuk ke ruang dimensi.

WUSH!

Begitu mendarat, ia langsung tahu ada yang berbeda lagi.

Area di pojok ruang dimensi—yang tadinya cuma tanah kosong—sekarang ada... rumah kecil?!

Bukan, bukan rumah. Lebih seperti gudang kayu sederhana. Ukurannya sekitar 3x4 meter, dengan pintu dan jendela.

"Apa ini...?" Suyin berjalan mendekat dengan hati berhati.

Ia dorong pintu gudang—terbuka dengan mudah. Di dalam ada rak-rak kayu kosong, beberapa keranjang anyaman, dan... meja kerja dengan pisau, gunting, timbangan kecil?

"Gudang penyortiran?" gumam Suyin takjub.

Di dinding gudang ada tulisan yang muncul dengan sendirinya—cahaya hijau yang membentuk huruf:

"Fasilitas Level 1: Gudang Penyimpanan & Penyortiran. Hasil panen dapat disimpan hingga 7 hari tanpa layu. Suhu otomatis terjaga."

Suyin tertawa senang. Ini... ini perfect timing!

Ia nggak perlu lagi khawatir sayuran cepat layu. Bisa panen dalam jumlah besar, simpan di sini, jual bertahap!

"Ruang dimensi ini... beneran hidup ya," bisiknya sambil menyentuh dinding gudang. Kayunya terasa solid, bukan ilusi.

Suyin menghabiskan beberapa saat mengeksplorasi gudang. Ia coba masukkan beberapa ikat sayuran sisa ke dalam keranjang—dan benar, sayuran itu langsung terasa lebih segar, seperti baru dipetik.

"Nenek, kamu bener-bener kasih aku harta karun," ucap Suyin dengan mata berkaca-kaca.

Sebelum keluar, ia menyiram semua tanaman yang baru ditanam tadi pagi. Tunas-tunas kecil sudah mulai muncul—siklus pertumbuhan berjalan terus.

Suyin duduk sebentar di kursi lipat dekat mata air, minum air ajaib, dan merenung.

Hidupnya berubah total dalam dua minggu. Dari cewek kantoran biasa yang hidup monoton, sekarang jadi... entrepreneur sayuran organik? Pemilik dimensi ajaib?

Tapi lebih dari itu—ia merasa hidup lagi. Punya tujuan. Punya semangat bangun pagi. Punya alasan tersenyum.

"Apapun yang terjadi ke depannya," tekad Suyin sambil menggenggam gelang giok, "aku nggak akan sia-siakan kesempatan ini. Aku akan buktikan bahwa aku layak dapat hadiah dari Nenek."

Gelang itu bersinar lembut—seperti memeluknya dari jauh.

Dan Suyin keluar dari ruang dimensi dengan senyum di wajah—siap menghadapi tantangan baru besok.

Bisnis baru saja dimulai.

Dan ini baru babak pertama dari perjalanan panjangnya.

1
Andira Rahmawati
nemu cerita bagus nihhh paling suka baca novel yg fantasi apalagi yg ada ruang ajaibnya👍👍👍
Diah Susanti
diatas dibilang 'putri adik nenek' yang menurutku maknanya 'bibinya suyin'. tapi disini dia menyebutkan dirinya 'cucunya juga'🤔🤔🤔🤔
Wahyu🐊: Anda Terlalu Teliti😅🙏 Nanti Aku Revisi Kalau Udah Tamat Masih Panjang Perjalanan nya
total 1 replies
Wahyu🐊
Nanti aku Revisi Oke
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!