NovelToon NovelToon
Boba

Boba

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Keluarga / Balas Dendam
Popularitas:608
Nilai: 5
Nama Author: Reza Ashari

Novel ini bercerita tentang intrik bisnis toko manisan dari keluarga Wijaya dengan toko manisan lainnya yang ada di kota Sagara. Toko keluarga Wijaya ini hancur karena fitnah dan anaknya mencari informasi yang dibantu oleh wartawan, polisi dan hakim umtuk memcari sumber fitnah tersebut

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Ashari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 Nama besar di balik layar

Hujan turun rintik-rintik di halaman gedung laboratorium forensik Kota Sagara. Udara dingin menusuk, menyatu dengan perasaan cemas yang menggantung di dada Bima. Di dalam gedung itu, potongan kebenaran sedang diuji, bukan lewat opini, bukan lewat asumsi, melainkan melalui fakta yang tak bisa dibantah yaitu sidik jari.

Bima duduk gelisah di ruang tunggu, sesekali melirik jam di pergelangan tangannya. Di sampingnya, Naya menatap lurus ke depan, berusaha menyembunyikan ketegangan. Raka berdiri dekat jendela, memantau kondisi luar dengan waspada.

Sinta keluar dari ruang laboratorium dengan wajah serius.

“Sudah ada hasil awal,” katanya.

Semua segera berdiri.

Di ruang kecil berlampu putih, seorang ahli forensik menunjukkan beberapa lembar laporan. Di atas meja, tergeletak amplop cokelat yang dulu berisi surat fitnah pertama terhadap toko keluarga Wijaya, surat yang memicu badai kehancuran.

“Kami menemukan beberapa sidik jari di permukaan kertas dan perekat,” jelas sang ahli. “Satu di antaranya cocok dengan data yang ada di sistem.”

Bima menahan napas. “Milik siapa?”

Ahli itu menatap mereka satu per satu sebelum menjawab, “Milik Reza Kurniawan.”

Nama itu seketika menggema di ruangan.

“Reza… mantan karyawan ayah,” bisik Bima.

Naya menatap Bima dengan sorot terkejut. “Orang yang dulu keluar secara tiba-tiba?”

Bima mengangguk pelan. Kenangan lama menyeruak dimana Reza yang pendiam, rajin, dan tampak setia. Ia keluar dengan alasan keluarga, tanpa konflik. Tak pernah ada kecurigaan.

“Sidik jarinya ada di hampir semua dokumen fitnah,” lanjut ahli forensik. “Termasuk laporan palsu ke dinas kesehatan dan surat anonim ke media.”

Raka mengepalkan tangan. “Berarti dia pion pertama.”

Sinta menghela napas berat. “Dan pion itu pasti dikendalikan.”

Mereka meninggalkan gedung forensik dengan pikiran berkecamuk. Di dalam mobil, keheningan panjang membentang.

“Kenapa Reza?” gumam Bima. “Ayah selalu memperlakukannya dengan baik.”

“Uang dan tekanan bisa mengubah siapa pun,” jawab Naya lirih.

Melalui jaringan lama Amran, mereka melacak keberadaan Reza. Informasi mengarah ke sebuah rumah kontrakan kecil di pinggiran kota.

Sore itu, dengan pengawalan aparat independen, mereka mendatangi tempat tersebut. Pintu rumah terbuka sedikit, seolah ditinggal tergesa.

Di dalam, ruangan sempit itu berantakan. Pakaian berserakan, koper terbuka, dan di atas meja, tergeletak sebuah ponsel rusak.

“Dia kabur,” kata Raka.

Namun Sinta menemukan sesuatu di bawah kasur yaitu sebuah buku catatan kecil.

Di halaman-halamannya, tertulis jadwal pertemuan, nomor rekening, dan satu nama yang terus berulang yaitu Darma.

“Jejaknya semakin jelas,” gumam Amran.

Bima menatap catatan itu dengan perasaan campur aduk. Pengkhianatan terasa lebih menyakitkan ketika datang dari orang yang pernah dipercaya.

Malam itu, sebuah terobosan terjadi.

Melalui perantara pengacara, Reza menghubungi mereka. Ia ingin menyerahkan diri, tapi meminta jaminan keselamatan.

Pertemuan diatur di sebuah rumah aman.

Reza datang dengan wajah pucat dan mata penuh ketakutan. Tubuhnya gemetar, keringat dingin membasahi keningnya.

“Aku tidak berniat menghancurkan kalian,” katanya terbata. “Aku terjebak.”

Bima menatapnya tajam. “Ceritakan semuanya.”

Dengan suara bergetar, Reza mengaku direkrut oleh perantara Darma. Ia dijanjikan uang besar untuk menanam fitnah dan menyebarkan dokumen palsu.

“Mereka punya data keluargaku. Ibu sakit. Adikku kuliah. Aku tidak punya pilihan,” katanya sambil menangis.

Naya terdiam, menahan emosi.

“Mereka menyuruhku menempelkan surat fitnah, mengirim laporan palsu, dan memberikan informasi internal toko. Semua sudah diatur.”

“Siapa yang mengendalikan semuanya?” tanya Raka.

Reza menggeleng putus asa. “Aku hanya bertemu satu orang yaitu utusan Darma. Tapi mereka selalu menyebut satu nama… Pak Surya.”

Ruangan seketika sunyi.

“Surya?” bisik Sinta.

Reza mengangguk. “Katanya, ini bagian dari operasi besar. Bukan hanya satu toko. Bukan hanya satu kota.”

Bima merasakan dunia seolah bergeser. Jika pengakuan ini benar, maka kehancuran keluarganya hanyalah satu bidak kecil dalam permainan raksasa.

Malam semakin larut saat mereka menyusun laporan lengkap yaitu sidik jari, pengakuan Reza, bukti transaksi, dan jalur perintah. Semua disatukan menjadi satu berkas besar.

“Kita sudah menemukan sidik jari di balik fitnah,” ujar Amran. “Sekarang saatnya menyingkap wajah di balik sidik jari itu.”

Bima menatap berkas di tangannya. Di sanalah tercetak jejak awal kehancuran keluarganya dan sekaligus, jejak menuju kebenaran yang lebih besar.

Ia mengepalkan tangan.

“Fitnah ini menghancurkan hidup kami,” katanya pelan. “Tapi dari reruntuhan ini, kita akan membangun keadilan.”

Di luar, hujan mulai reda. Lampu-lampu kota memantulkan kilau samar di jalanan basah.

Dan di tengah sunyi yang rapuh itu, satu hal menjadi semakin jelas yaitu Setiap kebohongan selalu meninggalkan sidik jari.

Dan cepat atau lambat, sidik jari itu akan mengantar pada kebenaran.

Kalimat itu terucap lirih dari bibir Bima saat mereka menatap papan tulis yang kini penuh dengan benang merah, foto, dan potongan dokumen. Di tengah jalinan rumit itu, satu nama berdiri paling menonjol, nama yang selama ini hanya beredar sebagai bisik-bisik di lorong kekuasaan. Sosok yang tak pernah muncul di panggung utama, tetapi mengendalikan hampir seluruh lakon dari balik tirai.

Nama itu bukan sekadar pejabat. Ia adalah simbol yaitu Simbol kekuatan, ketakutan, dan kekebalan hukum.

“Kita sedang berhadapan dengan seseorang yang tak pernah kalah,” kata Arga pelan. “Bukan karena dia selalu benar, tapi karena dia selalu lebih dulu mematikan lawannya.”

Sinta menarik napas panjang. “Dan sekarang, giliran kita yang berdiri di hadapannya.”

Mereka tahu risikonya tak lagi sebatas ancaman, pengintaian, atau pencemaran nama baik. Ini sudah memasuki wilayah yang lebih gelap yaitu penghilangan, jebakan hukum, bahkan kematian yang disamarkan sebagai kecelakaan. Namun anehnya, kesadaran itu justru membuat langkah mereka semakin mantap. Ketakutan tak lagi membungkam, melainkan mengasah kewaspadaan.

Langkah pertama adalah memastikan seluruh bukti tersimpan aman. Mereka membagi salinan ke beberapa lokasi rahasia, memercayakannya pada orang-orang yang tak saling mengenal. Jika salah satu dari mereka lenyap, kebenaran tetap punya peluang hidup.

Langkah kedua jauh lebih berbahaya yaitu membuka jalur ke dalam lingkaran terdekat sang dalang.

Sinta menghubungi seorang kenalan lama, mantan konsultan politik yang kini hidup menyendiri. Pria itu pernah bekerja langsung di bawah perintah tokoh besar tersebut, sebelum akhirnya disingkirkan karena dianggap terlalu tahu. Pertemuan diatur di sebuah rumah tua di pinggiran kota, jauh dari kamera dan lalu lintas.

Suasana di dalam rumah itu terasa tegang. Bau kayu lapuk bercampur kopi pahit mengisi udara. Sang mantan konsultan menatap mereka dengan sorot mata lelah, seolah masa lalu masih menghantuinya.

“Kalian sadar apa yang kalian minta?” katanya. “Orang itu bukan sekadar berkuasa. Dia membangun sistem di mana semua orang saling mengunci. Jika satu jatuh, yang lain ikut tenggelam. Karena itu, tak ada yang berani bicara.”

“Justru karena itulah kami datang,” jawab Bima tenang. “Kami tidak ingin satu orang jatuh. Kami ingin sistem itu runtuh.”

Pria itu terdiam lama. Akhirnya, ia bangkit, membuka sebuah laci, dan mengeluarkan map lusuh. Di dalamnya tersimpan catatan, skema aliran dana, dan daftar nama, jaringan yang selama ini tersembunyi rapi di balik proyek pembangunan, program sosial, dan kampanye publik.

“Inilah peta kekuasaan sebenarnya,” katanya. “Dan pusatnya satu yaitu dia.”

Malam itu, mereka pulang dengan beban baru. Bukti bertambah, tetapi ancaman juga membesar. Kini, tak ada lagi ruang aman. Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas ranjau.

Beberapa hari kemudian, tekanan datang bertubi-tubi. Media yang dulu netral mulai menyerang. Opini publik digiring untuk meragukan integritas mereka. Isu lama diangkat kembali, dibesar-besarkan, dipelintir. Rekan-rekan mereka dipanggil aparat dengan dalih pemeriksaan rutin. Bahkan keluarga Bima mulai merasakan intimidasi halus.

Namun di tengah badai itu, muncul secercah cahaya. Seorang jaksa muda menghubungi mereka secara diam-diam. Ia telah mengikuti jejak kasus ini dari jauh, menunggu momen yang tepat.

“Aku tidak punya banyak kuasa,” katanya melalui sambungan singkat. “Tapi aku punya satu celah. Jika bukti kalian cukup kuat, kita bisa membuka pintu yang selama ini terkunci.”

Mereka bergerak cepat. Bukti dikompilasi, disusun dalam alur yang tak terbantahkan. Setiap detail diperiksa ulang, setiap kronologi diperjelas. Mereka tak boleh memberi sedikit pun celah untuk diserang balik.

Malam demi malam berlalu tanpa tidur. Ketegangan menggerogoti tubuh, tetapi tekad menjaga mereka tetap berdiri. Bima sering teringat wajah-wajah korban yang pernah mereka temui yaitu orang-orang kecil yang hidupnya hancur oleh fitnah, ketidakadilan, dan keserakahan. Dari sanalah ia menarik kekuatan.

Akhirnya, hari yang ditunggu tiba. Berkas diserahkan melalui jalur yang paling aman. Tak ada sorak, tak ada perayaan. Hanya kesunyian penuh harap.

Namun mereka sadar, ini baru permulaan. Menyentuh nama besar berarti membangunkan raksasa yang tertidur. Dan raksasa yang terbangun jarang bersikap ramah.

Malam itu, mereka duduk di ruang markas, menatap satu sama lain dalam diam. Tak ada yang tahu bagaimana esok akan berjalan. Apakah mereka akan bangun dengan kebebasan, atau justru dalam belenggu.

“Apa pun yang terjadi,” kata Sinta akhirnya, “kita sudah memilih jalan ini. Dan aku tak menyesal.”

Arga tersenyum tipis. “Setidaknya, untuk pertama kalinya, mereka di atas sana tahu, ada yang berani melawan.”

Bima memandang keluar jendela. Lampu-lampu kota berpendar, seolah menyimpan ribuan kisah yang tak pernah terdengar. Di antara gemerlap itu, ia merasakan denyut harapan yang pelan namun nyata.

Menjatuhkan nama besar di balik layar memang membutuhkan keberanian yang luar biasa. Tetapi lebih dari itu, dibutuhkan keyakinan bahwa kebenaran layak diperjuangkan, apa pun risikonya.

Dan di titik ini, mereka telah melangkah terlalu jauh untuk berhenti.

1
jstmne.
hadir Thor. kayaknya seru ni cerita
Reza Ashari: mkasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!