Sinopsis: Penyesalan Sang Penguasa
Aku terbangun di masa mudaku yang miskin tepat setelah Seeula pergi selamanya dalam penyesalan. Berbekal memori masa depan, aku bertekad membangun kembali kekaisaran bisnisku dari titik nol. Bukan sekadar harta, tujuanku adalah menjadi pria paling layak untuk melindungi istri yang dulu kusia-siakan. Sebelum menjemput cintaku, aku harus memenangkan perang bisnis yang kejam dan menghancurkan para musuh lama. Perjalanan penebusan dosaku dimulai sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Dansa di Antara Serigala Berjas
Jas hitam ini terasa jauh lebih berat setelah kejadian penembakan semalam. Aku berdiri di depan cermin, merapikan dasi dengan gerakan tangan yang sangat stabil, meskipun ingatanku masih merekam jelas bagaimana pecahan kaca apartemenku berserakan hanya beberapa jam yang lalu. Kalian mungkin mengira aku akan gemetar, tapi bagiku, peluru semalam hanyalah tanda bahwa aku sudah sangat dekat dengan jantung pertahanan musuh.
"Tuan Yansya, mobil sudah siap di lobi dan tim pengamanan sudah menyebar di sekitar gedung pertemuan," lapor kepala pengawalku melalui pintu yang sedikit terbuka.
"Bagus. Pastikan tidak ada satu pun orang asing yang bisa mendekat dalam radius tiga meter saat aku bersama Seeula nanti," sahutku tanpa menoleh.
Aku mengambil jam tangan modifikasi dari meja dan melingkarkannya di pergelangan tangan. Benda ini adalah nyawaku malam ini. Aku melangkah keluar, meninggalkan apartemen yang sudah terlihat sempurna kembali berkat kerja cepat tim Rian. Di kepalaku, aku sudah menyusun rencana untuk membuat perjamuan malam ini menjadi panggung pengumuman bagi siapa sebenarnya penguasa baru di kota ini.
Mobil meluncur tenang menuju hotel tempat Seeula menginap. Aku melihatnya sudah berdiri di lobi, mengenakan gaun malam berwarna merah marun yang membuatnya terlihat sangat berwibawa sekaligus elegan. Dia bukan lagi gadis kampus yang kebingungan; dia adalah wanita yang baru saja memegang kendali atas Widowati Group.
"Kau terlihat sangat siap untuk menaklukkan dunia malam ini, Seeula," puji aku sambil membukakan pintu mobil untuknya.
Seeula tersenyum, lalu dia masuk ke kursi belakang dengan gerakan yang sangat anggun. "Aku hanya tidak ingin memalukanmu di depan rekan-rekan bisnismu, Yansya. Tapi jujur, jantungku berdebar sangat kencang sekarang."
"Tenang saja. Kau hanya perlu berdiri di sampingku dan tersenyum. Biar aku yang menghadapi para serigala itu," bisikku sambil menggenggam tangannya sejenak sebelum mobil melaju.
Gedung pertemuan asosiasi pengusaha itu tampak sangat megah dengan jajaran mobil mewah yang harganya sanggup menghidupi satu kelurahan. Aku turun dari mobil, memberikan kunci pada petugas valet, dan langsung menawarkan lenganku untuk digandeng oleh Seeula. Kami melangkah masuk, membiarkan kilatan lampu kamera para pemburu berita mengabadikan kehadiran kami.
"Siapa pemuda itu? Dia yang mengambil alih perusahaan Widowati?" bisik seorang pria berjas abu-abu saat kami melewati lorong utama.
"Kabarnya dia didukung oleh kekuatan besar di balik layar. Lihat saja pembawaannya," timpal rekan di sebelahnya dengan nada suara yang penuh rasa penasaran.
Aku tidak memedulikan bisik-bisik mereka. Fokusku hanya tertuju pada satu meja besar di tengah aula yang masih kosong. Meja itu adalah tempat bagi Tuan Gautama dan para petinggi kota ini. Aku mengajak Seeula menuju meja tersebut, mengabaikan tatapan heran dari para tamu lain yang merasa aku tidak punya hak untuk berada di sana.
"Yansya, apakah kita tidak salah meja? Ini adalah area khusus pengusaha senior," tanya Seeula dengan suara yang sedikit cemas.
"Tidak ada yang salah, Seeula. Di duniaku, tempat duduk ditentukan oleh kekuatan, bukan usia," jawabku dengan nada yang sangat mutlak.
Tepat saat kami hendak duduk, suara langkah kaki yang berat terdengar dari arah pintu masuk. Aula yang tadinya bising mendadak menjadi hening. Tuan Gautama berjalan masuk dengan jubah hitam yang disampirkan di bahunya, dikelilingi oleh barisan pengawal yang auranya sangat menekan. Dia berhenti tepat di depan mejaku, menatapku dengan sorot mata yang sulit dibaca.
"Kau punya nyali yang cukup besar untuk duduk di kursiku, anak muda," sapa Gautama dengan suara berat yang menggetarkan udara.
Aku berdiri perlahan, namun tetap mempertahankan ekspresi wajah yang tenang. "Kursi ini tidak ada namanya, Tuan Gautama. Dan aku merasa kursi ini sangat cocok dengan profil bisnisku malam ini."
Gautama menarik napas panjang, lalu dia tertawa kecil yang terdengar sangat dingin di telingaku. Dia duduk di hadapanku, dipisahkan oleh meja jati yang penuh dengan hidangan mewah. Seeula tampak sedikit gemetar di sampingku, namun aku memberikan usapan lembut di punggung tangannya untuk memberikan dukungan moral.
"Bagaimana tidurmu semalam? Kudengar ada sedikit gangguan teknis di apartemenmu," celetuk Gautama sambil menuangkan anggur ke gelasnya.
Aku menyunggingkan senyum yang paling sinis. "Hanya gangguan kecil dari serangga yang tersesat, Tuan. Tapi aku sudah membersihkannya. Terima kasih atas perhatiannya yang sangat... personal."
Seeula menatapku dan Gautama secara bergantian, dia mulai menyadari bahwa ada ketegangan yang sangat berbahaya di antara kami. Gautama kemudian melirik ke arah Seeula, memberikan tatapan yang membuat bulu kuduk gadis itu berdiri.
"Putrimu ini sangat mirip dengan ibunya, Yansya. Cantik, tapi berada di tangan pria yang terlalu ambisius," komentar Gautama dengan nada yang terdengar seperti sebuah hinaan tersembunyi.
"Seeula tidak berada di tangan siapa pun. Dia adalah pemilik perusahaannya sendiri sekarang. Dan aku di sini untuk memastikan tidak ada tangan kotor yang mencoba menyentuh asetnya lagi," tukasku dengan nada suara yang sangat tajam.
Gautama meletakkan gelas anggurnya dengan hentakan yang cukup keras. Dia memajukan tubuhnya, menatapku lurus ke dalam bola mata. "Kau tahu, Yansya? Terkadang rahasia masa lalu bisa menghancurkan masa depan secerah apa pun."
"Rahasia masa lalu hanya menjadi beban bagi mereka yang takut pada kenyataan. Bagiku, itu hanyalah motivasi untuk menghancurkan siapa pun yang berani mengusik keluargaku," balasku tanpa berkedip sedikit pun.
Percakapan kami terhenti saat pembawa acara mulai memberikan sambutan. Namun, suasana di meja kami tetap terasa seperti medan perang yang sedang menunggu ledakan pertama. Aku bisa merasakan tatapan Gautama yang terus mencoba mencari celah kelemahanku, namun aku sudah mengunci semua informasi tentang diriku dengan sangat rapat.
"Yansya, aku ingin ke kamar kecil sebentar," bisik Seeula yang tampaknya sudah tidak tahan dengan tekanan udara di meja tersebut.
"Pergilah. Pengawalku akan menunggumu di depan pintu," sahutku sambil memberikan anggukan kecil.
Setelah Seeula pergi, Gautama menyandarkan punggungnya dan mengeluarkan sebuah amplop kecil dari saku jasnya. Dia menggeser amplop itu di atas meja ke arahku.
"Apa lagi ini? Foto keluarga lainnya?" tanyaku sambil mengangkat satu alis.
"Ini adalah data tentang proyek pelabuhan baru yang akan dikerjakan pemerintah bulan depan. Aku ingin kau menarik diri dari tender itu jika kau masih ingin Seeula pulang dengan selamat malam ini," ancam Gautama dengan nada bicara yang sangat rendah namun sangat mematikan.
Aku mengambil amplop itu, namun bukan untuk membacanya. Aku justru merobeknya menjadi dua bagian tepat di depan wajahnya. Aku tidak butuh data dari pria yang baru saja mencoba membunuhku.
"Kau salah orang jika ingin mengancamku dengan keselamatan Seeula. Karena mulai detik ini, aku sudah menempatkan orang-orang terbaikku di setiap sudut rumahmu juga, Gautama," gertakku balik dengan senyuman yang penuh kemenangan.
Wajah Gautama mendadak kaku. Dia segera merogoh ponselnya, mencoba menghubungi seseorang untuk memastikan keamanan tempat tinggalnya. Aku hanya memperhatikan gerak-geriknya dengan rasa puas yang luar biasa. Dia baru saja menyadari bahwa aku tidak bermain dengan aturan yang dia kenal.
"Kau benar-benar anak ibumu yang keras kepala," desis Gautama dengan rahang yang mengeras.
"Aku adalah pria yang akan membuatmu kehilangan segalanya jika kau menyentuh Seeula. Ingat itu baik-baik," jawabku sambil berdiri karena melihat Seeula sudah kembali dari arah lorong.
Aku menyambut Seeula dan mengajaknya untuk segera meninggalkan acara tersebut. Kami tidak butuh makan malam formal untuk membuktikan siapa yang lebih kuat. Kehadiran kami di sini sudah cukup untuk mengguncang kepercayaan diri para pengusaha lain yang selama ini tunduk pada Gautama.
"Kita pulang sekarang, Seeula. Tempat ini sudah mulai terasa menyesakkan," ajakku sambil merangkul pundaknya.
Kami berjalan keluar dari aula dengan kepala tegak, melewati barisan orang-orang yang kini menatap kami dengan rasa hormat yang baru. Saat kami sampai di depan mobil, aku melihat Rian sudah berdiri di sana dengan tablet di tangannya, memberikan kode bahwa operasi pengalihan aset sudah berjalan sesuai rencana.
"Semuanya aman, Yansya?" tanya Seeula saat kami sudah berada di dalam mobil.
"Sangat aman. Besok pagi, kau akan melihat berita yang sangat menarik tentang penurunan saham perusahaan milik rekan makan malam kita tadi," jawabku sambil memberikan senyum paling tulus padanya.
Aku menyandarkan kepala di jok mobil, merasakan kemenangan kecil ini merayap di seluruh tubuhku. Namun, saat aku melihat ke arah jendela luar, aku melihat sosok pria misterius yang tadi menembakku sedang berdiri di trotoar, menatap tajam ke arah mobil kami yang mulai melaju.
"Ada apa, Yansya? Kau melihat sesuatu?" tanya Seeula yang menyadari aku mendadak tegang.
Aku segera menutup tirai jendela mobil, tidak ingin dia melihat bahaya yang masih mengintai di kegelapan malam. "Bukan apa-apa. Hanya bayangan orang yang kalah."
Aku mengepalkan tangan di bawah kursi, menyadari bahwa Gautama tidak akan menyerah begitu saja. Dia masih memiliki kartu as yang belum dia keluarkan, dan aku harus bersiap untuk serangan yang jauh lebih besar dari sekadar peluru penembak runduk. Tapi satu hal yang pasti, aku tidak akan pernah membiarkan sejarah yang berdarah itu terulang kembali pada Seeula.
"Yansya, terima kasih sudah menjagaku malam ini," bisik Seeula sambil menyandarkan kepalanya di bahuku.
Aku mengelus rambutnya, merasakan tanggung jawab yang semakin berat namun juga semakin membahagiakan. "Apa pun untukmu, Seeula. Apa pun."
Mobil terus membelah malam, membawa kami menuju rumah baru yang jauh lebih aman. Aku menatap layar ponselku, melihat pesan masuk dari Rian yang memberitahukan bahwa ada seseorang yang mencoba masuk ke server cadanganku dari lokasi yang sangat asing.
"Sepertinya permainan baru saja dimulai ke level yang lebih tinggi," gumamku dalam hati sambil menajamkan pandangan ke arah jalanan di depan yang tampak tidak berujung.