Tiara seorang anak pembantu yang menyamar sebagai gadis buruk rupa tak menyangka akan berakhir di satu ranjang dengan majikan nya yang di kenal impoten dan benci dengan wanita
Kelvin seorang CEO tampan sekaligus Majikan Tiara di kenal suka tidur dengan wanita untuk menyembuhkan penyakitnya namun salah satu wanita yang pernah tidur dengan nya tak ada satupun yang membuat nya sembuh dari penyakitnya.
Namun pada saat ia mabuk dan tak sadarkan diri tanpa sengaja ia berpasangan dengan Tiara yang hanya memakai handuk saja entah kenapa membuat gairah di tubuhnya bangkit kembali dan membuat nya gelap mata lalu memperkosa Tiara dan membuat gadis itu hamil di luar nikah tanpa sepengetahuannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elzaluza2549, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata Dia CEO
Tiara berdiri tepat di depan perusahaan Pandora grup. ia telah rapi memakai seragam hitam putih nya dan bersiap-siap melakukan wawancara sebagai seorang marketing di perusahaan impiannya.Dia menghela napas dalam-dalam sambil sedikit menepuk dada, mencoba menenangkan diri yang sedikit berdebar. Seragamnya memang sudah rapi hingga ujung kancing, dan berkas lamaran serta portofolio yang ada di tasnya sudah dipersiapkan matang-matang.
"Semoga saja berjalan lancar ya..." gumamnya sambil mengangkat dagu dengan wajah yang penuh semangat. Ia melihat gedung pencakar langit yang megah itu, tempat yang selama ini hanya bisa dia bayangkan dari jauh. Setelah beberapa saat menenangkan diri, Tiara melangkah dengan langkah yang mantap menuju pintu masuk perusahaan, menyapa petugas resepsionis dengan senyum ramah sebelum diberitahu arah ruangan wawancara.
Petugas resepsionis dengan senyum ramah mengarahkan Tiara ke arah lantai tiga, menuju ruangan W-304. Saat naik lift, Tiara sedikit menyisir ulang seragamnya dan memeriksa portofolio satu kali lagi, memastikan tidak ada yang keliru.
Kelvin berjalan tegas di ikuti Dito yang berada di belakangnya masuk ke sebuah lift tapi bukan lift yang di pakai Tiara melainkan Kelvin menggunakan lift yang berada tidak jauh dari Tiara.
Lift Tiara mulai perlahan naik ke lantai tiga, sementara lift Kelvin dan Dito bergerak ke arah lantai atas yang lebih tinggi. Saat pintu lift masing-masing hampir menutup sempurna, Kelvin mengerutkan dahi dan sedikit memalingkan wajahnya ke arah lift Tiara.
"Pak Kelvin, ada masalah?" tanya Dito yang melihat tatapan bosnya sedikit berbeda dari biasanya.
Kelvin menggeleng kepala perlahan, masih sedikit merenung, Rasanya wanita di lift itu sangat akrab... tapi Kelvin tidak ingat pernah bertemu.
Lift mereka terus naik, dan Kelvin menghela napas sebelum menoleh ke Dito, "Baiklah, kita fokus saja pada wawancara nanti."
...----------------...
Ruangan W-304 yang biasanya digunakan untuk wawancara individu kini dipenuhi oleh 38 orang, termasuk Tiara. Semua calon kandidat untuk berbagai posisi di Pandora Grup berkumpul di sana, duduk rapi dalam barisan yang teratur. Beberapa orang sedang berbincang ringan, sebagian lagi sibuk memeriksa berkas mereka atau mengingat kembali materi persiapan.
Tiara duduk di barisan tengah, masih merasa sedikit terkejut karena sebelumnya dia kira akan menjalani wawancara pribadi. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka lebar, menampilkan orang-orang pejabat perusahaan untuk memimpin wawancara. Semua calon kandidat langsung berdiri dengan hormat.
"Selamat pagi, calon karyawan masa depan Pandora Grup," ucap salah satu stap dari mereka dengan suara yang kuat dan jelas, "Hari ini kita akan melakukan sesi wawancara secara acak.Suara wanita itu terdengar jelas di seluruh ruangan, membuat semua calon kandidat termasuk Tiara semakin fokus.
Setiap kandidat akan dipanggil satu per satu untuk menjalani wawancara dengan tim seleksi yang berbeda. Kami telah menyiapkan undian untuk menentukan urutan serta pewawancara yang akan menangani masing-masing dari Anda," sambungnya.
Seorang staf kemudian datang membawa sebuah kotak kecil berisi kertas undian. Calon kandidat mulai maju satu per satu untuk mengambilnya.
Saat urutan mulai berjalan,serta beberapa kandidat sudah wawancara di hadapan mereka. Tiara menggunakan waktu itu untuk sedikit menyusun kembali pikiran dan memeriksa portofolionya sekali lagi. Tidak lama kemudian, terdengar suara pemanggilannya, "Nomor 19 - Tiara frisila Putri, silakan maju ke depan”
Tiara langsung berdiri dengan hati yang berdebar kencang, menyesuaikan seragamnya sebentar sebelum melangkah ke depan dengan langkah yang mantap. Saat ia berdiri di tengah ruangan, tiga pewawancara yang sedang duduk di meja panjang menatapnya dengan perhatian.
Salah satu pewawancara pria yang mengenakan jas biru membuka berkasnya, "Salam kenal, Tiara Frisila Putri. Kami telah melihat data dan portofolio Anda untuk posisi Marketing Executive. Mari kita mulai dengan pertanyaan pertama – apa yang membuat Anda tertarik untuk bergabung dengan Pandora Grup dan mengapa Anda merasa cocok untuk posisi ini?"
Tiara menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab dengan suara jelas, "Salam kenal juga Pak. Saya tertarik dengan Pandora Grup karena reputasinya sebagai perusahaan yang selalu berinovasi dan peduli dengan dampak positif bagi masyarakat. Dari pengalaman saya sebelumnya dalam mengelola kampanye pemasaran untuk produk lokal, saya percaya saya bisa menyumbangkan ide-ide baru untuk memperkuat kehadiran merk perusahaan di pasar Indonesia..."
Saat Tiara menjelaskan dengan penuh semangat, pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Kelvin memasuki ruangan bersama Dito, dan matanya langsung tertuju pada Tiara. Semua orang di ruangan langsung berdiri hormat, kecuali Tiara yang sedikit terkejut dan berhenti bicara sejenak.
"Maafkan saya masuk terlambat. Saya ingin melihat proses seleksi untuk posisi Marketing Executive secara langsung," ujar Kelvin dengan nada tegas. Saat dia berjalan ke arah meja pewawancara, matanya tidak pernah lepas dari Tiara. Dia semakin yakin bahwa wajah Tiara itu sangat akrab, seolah-olah mereka pernah bersama di masa lalu.
“Oh iya perkenalkan ini pak Kelvin CEO di perusahaan Pandora Grup dan ini asisten nya Pak Dito"
Semua calon kandidat di ruangan langsung berdiri kembali dengan hormat saat nama Kelvin sebagai CEO diumumkan. Tiara merasa dada nya sedikit sesak, tapi tetap mencoba berdiri tegak sambil menyembunyikan kegelisahan di wajahnya.
Kelvin mengangguk perlahan sebagai bentuk sapaan, kemudian menempati kursi yang disiapkan di sisi meja pewawancara. Dia segera mengambil berkas berisi data kandidat Marketing Executive, dan saat menemukan nama Tiara, jempolnya secara tidak sengaja menyentuh nama tersebut.
"Silakan semua duduk kembali," ujar Kelvin dengan suara yang tetap tegas namun tidak terlalu keras. Setelah semua orang duduk, dia menoleh ke arah pewawancara yang baru saja memperkenalkannya, "Silakan lanjutkan prosesnya, saya hanya ingin mengamati saja."
Pewawancara wanita tersebut mengangguk dan kembali menghadap Tiara, "Baiklah Tiara, silakan lanjutkan penjelasan Anda tentang strategi pemasaran yang telah Anda rancang."
Tiara menarik napas dalam-dalam dan mulai melanjutkan penjelasannya. Namun kali ini, dia tidak bisa menghindari kontak mata dengan Kelvin yang terus memperhatikannya. Setiap kali pandangan mereka bertemu, Tiara langsung memalingkan wajahnya, takut kalau Kelvin akan segera mengenalnya dan mengingat semua hal dari masa lalu yang belum lama terjadi.
“Pertanda apa ini kenapa tuan Kelvin ada di perusahaan ini! ya tuhan semoga saja dia tidak mengenali aku sebagai Tiara yang buruk rupa, bahkan bersusah payah aku melupakan nya, tapi kenapa harus di pertemukan kembali dalam keadaan seperti”Ujar Tiara di dalam hatinya.
"Silakan lanjutkan penjelasan Anda, Tiara," Salah satu pewawancara tadi dengan suara yang lebih lembut dari biasanya.
Tiara menghela napas pelan sambil mencoba menenangkan diri yang mulai sedikit goyah. Dia menutup mulut sebentar seolah tidak percaya, sebelum akhirnya melanjutkan penjelasannya dengan suara yang masih jelas meskipun sedikit menggigil.
"Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, Pak... dengan memanfaatkan konten lokal yang relevan dan kolaborasi dengan influencer daerah, kita bisa menjangkau target pasar yang lebih luas," ucap Tiara sambil sering mengangkat pandangan ke arah Kelvin yang kini duduk di sisi pewawancara sambil terus memperhatikan dirinya yang sedang fokus wawancara.
Kelvin mengerutkan dahi dan berbisik pelan ke telinga Dito yang berdiri di belakangnya
"Wanita bernama Tiara itu... kenapa selalu menghindari pandangan saya? Seolah-olah dia benar-benar mengenal saya!?
Dito sedikit membungkuk dan melihat ke arah Tiara, "Mungkin karena Anda adalah CEO perusahaan ini, Pak. Banyak kandidat merasa gugup dan tidak berani menatap bapak langsung.
"Tapi rasanya tidak hanya itu Dito," jawab Kelvin dengan tatapan yang semakin mendalam, "Ada sesuatu di wajahnya yang sangat akrab. Seperti nya saya pernah bertemu dengan nya tapi saya lupa itu di mana?”
“Kalau pak Kelvin penasaran, bapak tanya saja secara langsung dengannya?"Saran Dito.
Kelvin terdiam sejenak, masih memperhatikan Tiara yang kini tengah menjelaskan tentang rencana evaluasi kampanye dengan lancar. Dia mengangguk perlahan menyambut saran Dito.
Tak lama kemudian, pewawancara wanita tersebut menoleh ke arah Kelvin, "Pak Kelvin, apakah Bapak ingin mengajukan pertanyaan tambahan untuk Tiara?"
"Baiklah" jawab Kelvin sambil berdiri perlahan dan menghadap Tiara yang langsung berdiri dengan tegap. Matanya kini fokus penuh pada wajah Tiara, membuatnya semakin terlihat gugup.
"Tiara, saya punya satu pertanyaan yang mungkin sedikit berbeda dari yang lain,"Siapa nama ibu kamu? Dan berapa usiamu sekarang!?”
”Ha jenis pertanyaan seperti apa itu!"Kata Tiara membatin.“Aku tidak mungkin menjawab siapa nama ibu ku yang sebenarnya,dan kalau sampai aku jujur maka penyamaran ku sebagai wanita buruk rupa akan ketahuan"
Tiara merasa jantungnya berdebar sangat kencang. Dia menunduk sejenak sebelum menatap Kelvin dengan wajah yang penuh dengan keraguan dan sedikit rasa takut.