NovelToon NovelToon
Hidup Kedua Sang Istri Teraniaya

Hidup Kedua Sang Istri Teraniaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Time Travel / Sci-Fi
Popularitas:15.7k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

"Kau pikir aku masih wanita lemah yang dulu?"

Dara Alvarino, dokter bedah kelompok mafia paling ditakuti mati ditikam dari belakang oleh sahabatnya sendiri. Saat membuka mata, ia terbangun dalam tubuh Kiara Adisaputra, istri lemah yang sedang hamil tiga bulan, dipukuli suaminya sendiri karena dituduh selingkuh.

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipinya. "Pelacur! Ngaku saja kalau anak itu bukan anakku!"

Arkan Adisaputra, suaminya berdiri dengan mata penuh kebencian. Di belakangnya, Lenna si adik angkat tersenyum tipis, pura-pura cemas. "Kak Arkan, jangan kasar... Kak Kiara kan sedang hamil..."

Dara yang sekarang Kiara menatap tajam. Tubuh ini lemah, tapi jiwanya adalah predator yang pernah membedah tubuh manusia tanpa berkedip.

"Kau mau bukti?" Kiara berdiri, mengusap darah di sudut bibirnya. "Aku akan tunjukkan siapa yang sebenarnya berbohong di rumah ini."

Pembalasan dimulai. Kali ini, ia tidak akan mati sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 - DOKTER KELUARGA

Hari Kamis sore, Arkan mengajaknya bertemu dokter keluarga Adisaputra atas desakan ibunya yang tetap ngotot menuduh Kiara hamil anak orang lain.

"Dr. Wijaya sudah menangani keluarga kami selama dua puluh tahun," kata Arkan di mobil. Nada suaranya kaku, canggung. "Ibu minta kita konsultasi dengannya tentang... kehamilan ini."

"Maksudnya, Ibu masih tidak percaya?" Dara menatapnya tajam.

"Bukan begitu..."

"Lalu apa? Kita sudah setuju akan tes DNA, kenapa harus konsultasi lagi?"

Arkan menghela napas panjang. "Ibu bilang, dia mau dengar dari dokter kepercayaan keluarga. Tentang... kemungkinan-kemungkinan."

Dara hampir tertawa, kemungkinan-kemungkinan. Kode halus untuk "mencari celah untuk tetap menuduh Kiara selingkuh".

"Baiklah, aku tidak masalah. Malah bagus biar semua pihak dengar langsung dari dokter profesional."

Arkan meliriknya, terlihat sedikit lega tapi juga bingung dengan sikap tenang Kiara.

Klinik Dr. Wijaya terletak di kawasan elite Jakarta Selatan. Bangunan mewah dengan interior minimalis modern. Nyonya Devi sudah menunggu di ruang tunggu VIP, duduk dengan punggung kaku, wajah keras.

"Kiara," sapanya dingin bahkan tidak menyebut "anak" atau sebutan hangat apapun.

"Bu," Dara membalas sama dinginnya.

Mereka dipanggil masuk. Dr. Wijaya adalah pria paruh baya, rambut mulai memutih, kacamata tebal, senyum profesional tapi matanya tajam, mata dokter yang terbiasa menganalisis.

"Silakan duduk, Nyonya Kiara, Tuan Arkan, Nyonya Devi."

Mereka duduk. Dara di tengah, Arkan di kanannya, Nyonya Devi di kiri seperti terdakwa yang diapit.

"Jadi, saya sudah baca hasil pemeriksaan Nyonya Kiara dari rumah sakit. Kehamilan tiga bulan, sempat mengalami ancaman keguguran akut karena ada zat asing dalam tubuh." Dr. Wijaya menatap Kiara. "Kondisi sudah membaik?"

"Sudah, Dokter."

"Bagus." Dr. Wijaya membuka file. "Nyonya Devi menghubungi saya, meminta saya melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan... paternitas kandungan."

"Paternitas?" Dara pura-pura tidak paham.

"Siapa ayah biologis dari bayi yang Nyonya kandung."

"Oh." Dara menatap Nyonya Devi. "Jadi Ibu masih curiga."

"Ini bukan curiga, ini kehati-hatian," sahut Nyonya Devi kaku.

"Baiklah." Dara menatap Dr. Wijaya. "Dokter, apa yang perlu saya lakukan?"

"Kami akan ambil sampel darah Nyonya dan Tuan Arkan untuk tes DNA. Prosesnya sederhana, hasil keluar dalam lima hari kerja."

"Lima hari?" Nyonya Devi terlihat tidak sabar.

"Tes DNA yang akurat memang butuh waktu, Nyonya Devi. Kecuali Nyonya mau hasil yang tidak reliable."

Nyonya Devi terdiam.

"Tapi saya ingin tanya..." Dr. Wijaya menatap Kiara dengan tatapan menyelidik. "...Nyonya pernah belajar medis?"

Dara tersentak dalam hati. Sial.

"Kenapa Dokter tanya?"

"Karena di catatan medis dari rumah sakit, ada yang menarik. Nyonya meminta injeksi magnesium sulfat secara spesifik saat mengalami kontraksi prematur, itu bukan pengetahuan umum. Bahkan banyak pasien tidak tahu obat itu."

Semua mata menatap Kiara.

Dara berpikir cepat. "Saya... saya baca-baca artikel online tentang kehamilan. Kebetulan ada yang membahas kontraksi prematur dan cara mengatasinya."

"Artikel online?" Dr. Wijaya terlihat skeptis. "Artikel medis biasanya tidak menyebutkan nama obat spesifik dengan dosis, itu ranah dokter."

"Mungkin artikelnya memang ditulis oleh seorang dokter kandungan. Saya tidak ingat detailnya, Dok. Saat itu saya panik dan kesakitan."

Dr. Wijaya menatapnya lama, lalu mengangguk perlahan. "Baiklah, Nyonya beruntung punya pengetahuan itu. Bisa jadi menyelamatkan nyawa Nyonya dan bayi."

Arkan menatap Kiara dengan tatapan baru, ada keheranan di sana.

"Dokter Wijaya," Nyonya Devi memotong. "Bisakah tes DNA dilakukan lebih cepat?"

"Saya bisa minta jalur prioritas, hasil bisa keluar tiga hari."

"Lakukan itu."

"Tapi biayanya..."

"Tidak masalah, keluarga Adisaputra bayar berapa pun."

Dr. Wijaya mengangguk. "Baiklah, saya akan ambil sampel sekarang."

Proses pengambilan darah cepat. Jarum menancap di lengan Dara, dia tidak berkedip. Terbiasa dengan jarum, dengan darah, dengan prosedur medis.

Tapi Arkan yang duduk di sebelahnya terlihat pucat. Saat gilirannya diambil darah, dia mengalihkan wajah.

"Tuan Arkan tidak suka jarum?" tanya perawat.

"Sejak kecil," jawab Arkan pelan, terlihat malu.

Dara hampir tersenyum, pria besar yang berani mukul istri tapi takut jarum.

Setelah selesai, Dr. Wijaya memberi mereka jadwal untuk kembali.

"Tiga hari lagi, Jumat sore. Hasilnya sudah siap."

"Terima kasih, Dokter," kata Dara.

Saat akan keluar, Dr. Wijaya menahan Kiara sebentar.

"Nyonya Kiara, boleh bicara sebentar? Sendiri?"

Arkan dan Nyonya Devi menatap curiga, tapi Dr. Wijaya tersenyum profesional. "Hanya masalah medis rutin, sebentar saja."

Mereka akhirnya keluar, meninggalkan Kiara dan Dr. Wijaya.

Begitu pintu tertutup, ekspresi Dr. Wijaya berubah lebih serius.

"Nyonya, saya akan bertanya sekali lagi. Dan saya harap Nyonya jujur."

"Tentang apa, Dok?"

"Nyonya pernah bekerja di bidang medis, kan?"

Dara terdiam. Mata Dr. Wijaya terlalu tajam, mata yang terlatih membaca pasien.

"Kenapa Dokter berpikir begitu?"

"Cara Nyonya bereaksi saat jarum menusuk tidak ada refleks menghindar, tidak ada ketegangan. Itu reaksi orang yang terbiasa dengan prosedur medis, bukan pasien biasa."

Dara menimbang-nimbang, berbohong pada dokter berpengalaman seperti ini akan percuma.

"Iya," akhirnya dia mengaku. Sebagian. "Saya pernah... kerja di rumah sakit. Sebagai asisten medis, beberapa tahun lalu."

"Asisten medis?" Dr. Wijaya mengerutkan kening. "Di mana?"

"Di luar kota. Tapi saya berhenti setelah menikah dengan Arkan, keluarganya tidak suka istri mereka bekerja."

"Kenapa Nyonya tidak pernah cerita ini pada keluarga Adisaputra?"

"Karena mereka tidak pernah tanya. Dan sejujurnya..." Dara menatapnya, "...mereka tidak peduli dengan masa lalu saya. Yang mereka pedulikan hanya apakah saya istri yang 'patut' atau tidak."

Dr. Wijaya terdiam, lalu mengangguk perlahan. "Saya mengerti, keluarga Adisaputra memang... tradisional."

"Dokter akan bilang ke mereka?"

"Tentang latar belakang medis Nyonya? Tidak, kalau Nyonya tidak mau. Itu privasi Nyonya." Dr. Wijaya bersandar di kursinya. "Tapi saya ingin memberi satu nasihat."

"Apa, Dok?"

"Hati-hati, keluarga ini... complicated. Saya sudah melihat banyak hal dalam dua puluh tahun jadi dokter mereka. Dan satu hal yang saya pelajari, orang yang terlalu baik di permukaan sering menyimpan racun di dalam."

Dara menatapnya tajam. "Dokter bicara tentang Lenna?"

Dr. Wijaya tidak menjawab langsung, tapi tatapannya sudah cukup bicara.

"Saya tidak bisa komentar tentang anggota keluarga pasien saya. Tapi..." dia menurunkan suaranya, "...saya tahu tentang zat asing dalam darah Nyonya. Dan saya tahu itu bukan kecelakaan."

"Dokter percaya saya?"

"Saya percaya bukti medis, dan buktinya mengatakan seseorang mencoba menyakiti Nyonya dan bayi Nyonya." Dr. Wijaya menatapnya serius. "Jaga diri baik-baik."

Dara merasa lega, setidaknya ada satu orang dalam lingkaran keluarga Adisaputra yang tidak memihak Lenna secara buta.

"Terima kasih, Dokter atas segalanya."

"Sama-sama. Dan Nyonya Kiara..." Dr. Wijaya berdiri, "...hasil tes DNA akan keluar Jumat. Saya sudah tahu hasilnya akan bagaimana. Tapi saya harap setelah itu, keluarga Adisaputra akan lebih respect pada Nyonya."

"Saya juga berharap begitu, Dok."

Tapi dalam hati, Dara tahu bahkan setelah tes DNA membuktikan dia benar, pertempuran belum selesai. Karena ini bukan hanya soal siapa ayah bayi ini.

Ini soal kekuasaan, manipulasi. Dan siapa yang akan menang dalam permainan berbahaya ini.

Di mobil pulang, Arkan bertanya, "Dr. Wijaya bilang apa?"

"Hanya mengingatkan untuk jaga kesehatan kandungan, tidak ada yang istimewa."

"Oh."

Hening.

"Kiara..."

"Apa?"

Arkan terlihat kesulitan memilih kata. "Aku... aku minta maaf soal semuanya. Aku terlalu..."

"Terlalu percaya Lenna? Terlalu cepat menghakimi aku? Terlalu kasar tanpa konfirmasi dulu?"

Arkan terdiam.

"Maafmu tidak mengubah apa-apa, Arkan. Maafmu tidak menghilangkan luka di tubuhku, tidak menghilangkan trauma yang aku alami."

"Aku tahu, tapi aku tetap harus minta maaf..."

"Simpan maafmu sampai kamu benar-benar berubah. Sampai kamu tahu siapa yang benar-benar berbohong di rumah ini."

Arkan menatapnya... terlihat terluka, tapi tidak bisa membantah. Karena jauh di dalam lubuk hatinya, dia mulai ragu. Mulai mempertanyakan semua yang dia yakini selama ini. Dan keraguan itu adalah celah yang Dara butuhkan untuk melawan.

1
asih
saya ikut tegang bacanya
Dewi Sri
ceritanya bagus tp masih sepi koment, semangat kak author
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
pilihan yang sulit tapi aq yakin dara pintar dan cerdas pasti ada jalan keluar nya tanpa harus membunuh keduanya
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
wow
Dew666
👍👍👍👍
asih
pilihan yg sangat sulit,harus pintar bermain licik Dara
Ma Em
Dara kamu wanita cerdas mantan dokter mafia , kalahkan Viktor juga Rendra dgn siasat licikmu Dara jgn sampai mau di perbudak lagi sama Rendra juga Viktor mereka pasti punya titik lemahnya .
Dew666
🌹🌹🌹🌹
Wulan Sari
ceritanya dari bab perbab semakin menarik dan selalu buat penasaran semoga cerita di akhir akan bahagia, trimakasih Thor semangat buat karya lain salam sukses selalu ya cip 👍❤️🙂🙏
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
🏡s⃝ᴿ . Incha
kira ada cakaran rambut atau apa kek
Erchapram: Puasa Kak, mode kalem. Pembalasam intelektual bukan kek preman 🤣🤣🤣
total 1 replies
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
vj'z tri
Lo , w end 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 penipu yg tertipu
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
coba km hidup baik-baik len nasib km g bakalan sprti ini
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
lenna bilang cinta sama arka sekarang bilang cinta sama rio, jd sebenarnya yg mn nih lenna, wah pemain juga si lenna
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
lenna trlalu jahat sampe sampe nggak sadar kl dya di jahatin🤣🤭
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
author kapan penyelidikan calon istri regan di mulai? hehehe...
lupita namanya siapa ya
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉: lupita itu lupa thor aq plesetin🤭🤣
total 2 replies
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
tarik satu nafas... dan cuma satu kata wow 🤭
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
semoga lancar ya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!