"Meiji....!" Teriaknya memeluk jenazah putranya.
Pada akhir hidupnya Lily menyadari, semua orang yang ada di sekitarnya adalah pengkhianat. Cinta mereka palsu!
Berakhir dengan kematian tragis.
Karena itu kala mengulangi waktu, dendam seorang ibu yang kehilangan putranya, membuatnya tertawa arogan dan berucap...
"Bukan kamu, tapi aku yang membuangmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Palsu
Kepribadiannya begitu berubah-ubah, sebenarnya Lily juga tidak tahu bagaimana harus menghadapi para pengkhianat ini. Ingat! Dirinya hanya penonton tidak boleh campur tangan secara langsung dalam pertempuran. Karena ibu dan anak ini hanya ingin menatap kehancuran mereka.
"Dengar! Aku sudah tidak tertarik lagi dengan Dilan. Dulu aku sangat mencintainya, tapi aku benar-benar sadar cintanya hanya untuk orang lain. Karena aku sadar diri, tidak dapat bersama dengannya. Untuk mempertahankan perjodohan keluarga. Aku mengandalkanmu, jadi tidak mungkin aku mencampur bahan-bahan berbahaya dalam kosmetikmu." Kalimat pelan dari Lily, kepada Rini.
Memang dasar wanita munafik menyebalkan. Sudah diberi hati masih minta jantung. Ibarat dirinya sudah memberikan Dilan, tapi masih ingin menjadi sok tersakiti.
Sedangkan Rini mengepalkan tangannya berusaha untuk tersenyum. Menahan rasa kebas di pipinya akibat tamparan dari Lily.
"Apa maksudmu mengandalkan Rini untuk perjodohan keluarga!?" bentak Feno pada adiknya.
"Bukankah ini peluang yang bagus untuk keluarga?" Lily menghela napas kasar.
"Tapi kamu bilang kamu mendukung hubungan kami!?" Kalimat aneh dari Feno membuat Sari membulatkan matanya. menatap nyalang ke arah putranya.
"Hubungan kami!? Apa maksudmu!? Kamu memiliki hubungan dengan Rini!?" Kemarahan jelas terlihat di raut wajah Sari.
Sementara, perlahan Lily duduk di sofa. Pada awalnya ini adalah perangkap untuk menjebaknya bukan?
Tapi lihat saja Feno tidak dapat menahan perasaannya kepada Rini. Sedangkan Rini lebih menginginkan Dilan yang memiliki segalanya.
"Ibu Sebenarnya aku dan Rini---" kalimat Feno disela dengan cepat.
"Bukan apa-apa, kak Feno menyukaiku sebagai saudaranya. Mungkin kakak tidak rela untuk melepaskanku. Iya kan kakak..." kalimat yang diucapkan oleh Rini gelagapan, menelan ludahnya berharap Feno mengikuti kata-katanya.
Sementara Lily menipiskan bibir menahan tawanya. Pertunjukan baru dimulai tipis-tipis, Bagaimana membuat hubungan ini menjadi cinta segitiga yang rumit. Ditambah dengan Silvia maka akan menjadi cinta segi empat, yang akan saling menghancurkan.
Wajah Feno terlihat muram, seperti langit hari ini. Menahan semua amarahnya bagaikan jerawat yang akan meletus. Menghela nafas berusaha untuk bersabar. Dirinya harus memiliki kesabaran seperti biksu Tong Zang Cong. Untuk mendapatkan hati Rini yang paling cantik di dunia.
"iya!" Jawabnya berusaha keras untuk tersenyum.
"Jadi kamu benar-benar bersedia melepaskan perjodohanmu dengan Dilan, kemudian diberikan kepada Rini?" Tanya Sari kembali kepada Lily.
"Benar! Rini begitu cantik, tidak memiliki pacar. Sedangkan aku dengan wajahku yang seperti ini, bagaimana aku bisa mempertahankan Dilan saat pernikahan nanti. Mungkin dia akan mencari satu atau dua istri tambahan, itu tidak menguntungkan bagi perusahaan bukan?" Tanyanya pada sang ibu dengan raut wajah bagaikan begitu mengundang rasa iba.
Padahal aslinya, dirinya ingin tertawa dan berguling di atas tempat tidur saat ini. Raut wajah Feno dan Rini begitu terlihat berbeda. Satunya memendam rasa cemburu. Satunya lagi terlihat bahagia.
"Omong-ngomong tadi aku menampar ibu, itu karena kalian sembarangan menuduhku. Lain kali jangan mencoba menuduhku sembarangan. Ingat Siapa pemilik rumah ini dan siapa yang menumpang." Kalimat darinya penuh senyuman.
"Sudah aku bilang nenekmu hanya menitipkan harta itu sementara untukmu. Jadi sebaiknya cepat alihkan aset atas nama ayahmu." Tegas Sari.
"Sudah aku bilang, setelah aku menikah, aku akan memberikan semuanya pada kalian." Dustanya melangkah pergi, wajahnya tersenyum ceria. Tapi hanya sejenak, perlahan senyuman itu memudar.
Ikan sudah memakan umpannya...
***
Keserakahan akan selalu ada dalam diri manusia. Itulah yang harus digarisbawahi. Rini menatap ke arah kalung berlian di tangannya.
Matanya melirik ke arah sekitar. Baik Feno maupun Sari tidak ada satupun diantara mereka yang menyukai Lily. Ini lumayan aneh sejatinya baginya. Dirinya dengan mudah dapat dicintai karena kecantikannya.
Sedangkan Lily seharusnya memiliki modal hubungan darah. Tapi kenapa?
"Feno...geledah kamar Lily saat dia pergi bekerja. Cari tukang kunci sekalian." Tegas Sari pada putranya.
"Baik ibu..." Ucap Feno menurut, melangkah pergi melakukan apa yang diminta oleh ibunya.
"Tunggu! Jadi ibu mau mengambil surat-surat berharga dari dalam kamar Lily?" Tanyanya tidak mengerti.
"Benar! Hanya kamu putri ibu..." Gumamnya memeluk Rini.
"A...apa maksudnya?" Tanya Rini tidak mengerti sama sekali.
"Lily bersedia memberikan perjanjian pernikahannya dengan Dilan, itu artinya dia sudah tidak berguna lagi." Jawab Sari penuh senyuman."Perjanjian pernikahan adalah cangkang terakhirnya untuk melindungi diri."
"A...apa maksud ibu?" Kembali Rini bertanya.
Tapi Sari hanya tersenyum sembari menjawab."Ingat! Rayu dan goda Dilan hanya untuk selalu mencintaimu. Karena dengan itu kamu akan selalu menjadi putri Ibu."
Rini tidak mengerti, hanya mengangguk. Tapi memang, sejak kematian Wanda (nenek Lily), perlakuan mereka pada Lily berubah drastis. Dulu tidak terang-terangan menunjukkan ketidak peduliannya pada Lily, tapi sekarang...
Karena itu dirinya mencoba untuk lebih berani.
"Ibu...saat menggeledah kamar Lily boleh aku minta perhiasannya? Satu kalung ini saja aku yakin harganya mencapai ratusan juta. Perhiasan lainnya banyak yang lebih cantik, jadi..." Dengan sengaja wanita ini menggantung kalimatnya.
"Boleh! Perhiasannya untukmu saja, ambil semuanya sesukamu." Sari tersenyum mengusap pucuk kepala putri angkatnya. Seseorang yang pernah menyelamatkan nyawanya.
"Terimakasih ibu! Aku menyayangimu!" Rini memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut sementara waktu. Dirinya tidak boleh terlibat kecuali Sari menceritakan segalanya padanya.
Wanita yang tidak menyadari Feno belum pergi sepenuhnya. Melirik ke arahnya dengan tatapan terobsesi untuk memilikinya.
***
Lily menghela napas kasar, menyetir mobil miliknya sembari menikmati angin. Kapan tepatnya sifat mereka berubah? Mungkin setelah kematian neneknya? Entahlah, dari dulu tatapan ibunya memang selalu terasa dingin. Begitu juga dengan ayahnya. Kakaknya apalagi...
Beberapa pesan masuk dari sang kakak.
'Ba*ngsat!'
'Kenapa kamu mengalihkan perjodohan pada Dilan!!'
'Adik kurang ajar! Anak yatim!'
'Tarik kembali kata-katamu tentang pengalihan perjodohan!'
Dirinya hanya membaca singkat belasan pesan yang masuk. Memutar bola matanya malas.
Hingga pada akhirnya mobil miliknya berhenti di area parkir sebuah cafe. Ini belum jam kerja, lebih tepatnya 30 menit lagi.
Neiji jika diamati olehnya tidak buruk juga. Sama sekali tidak buruk. Kala melangkah memasuki area cafe, pria itu masih terlihat sibuk dengan laptopnya.
"Bagaimana? Apa kamu sudah berhasil memalsukan surat-suratnya?" Tanya Lily duduk di hadapan pemuda ini antusias.
"Kantung mataku memiliki kantung..." Gumamnya menghela napas. Pemuda yang terlihat kekurangan tidur.
"Maaf, tapi apa bisa?" Tanyanya penasaran.
"Ini...identik. Hanya nomor registrasi surat-suratnya yang aku ganti. Simpan yang asli baik-baik, jangan sampai tertukar dengan yang palsu." Komat-kamit Neiji memberikan nasehat.
Tapi.
Satu kecupan tiba-tiba mendarat di pipinya. Membuat wajahnya yang pada awalnya layu kembali segar. Dirinya tersenyum gelagapan.
"Neiji memang yang paling tampan dan baik..."
Astaga! Kalimat sederhana tapi menancap langsung di hatinya.
masa baktinya udah selesai saat kau melukai Lily
selamat menikmati hari hari sedih mu yaa
jadi bayangin lagi muka nelangsa nya
kasiaaan 😜🤣🤣
lepaskan lah...yg harus dilepaskan 😜🤣🤣