Javi, center dari grup LUMINOUS, jatuh dari balkon kosan Aruna saat mencoba kabur dari kejaran fans. Bukannya kabur lagi, Javi malah bangun dengan ingatan yang kosong melompong kecuali satu hal yaitu dia merasa dirinya adalah orang penting yang harus dilayani.
Aruna yang panik dan tidak mau urusan dengan polisi, akhirnya berbohong. Ia mengatakan bahwa Javi adalah sepupunya dari desa yang sedang menumpang hidup untuk jadi asisten pribadinya. Amnesia bagi Javi mungkin membingungkan, tapi bagi Aruna, ini adalah kesempatan emas punya asisten gratis untuk mengerjakan tugas kuliahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tetangga Baru
Pagi itu, ketenangan kamar kos Aruna hancur berkeping-keping. Bukan karena suara megafon Mbak Widya yang mencari maling daster, melainkan karena sebuah suara dentuman bass yang begitu kencang dari kamar sebelah, kamar nomor 12 yang sudah kosong selama dua tahun karena konon ada hantu penunggu lemari yang hobi nyolong kaos kaki sebelah.
DUM-TAK-DUM-DUM-TAK!
Alunan musik dance-pop yang sangat familiar meledak, mengguncang dinding triplek kosan Aruna. Lagu itu adalah "Supernova", lagu hits nomor satu milik LUMINOUS yang sudah diputar sebanyak tiga miliar kali di seluruh jagat raya.
Javi, yang sedang khusyuk menyikat lantai kamar mandi menggunakan sikat gigi bekas Aruna atas perintah Majikan, tiba-tiba membeku. Tubuhnya mendadak bergetar secara ritmis. Tangannya yang memegang sikat gigi mulai melakukan gerakan locking dan popping mengikuti tempo musik.
"Aruna... Aruna!" seru Javi dari dalam kamar mandi.
"Dinding ini... dinding ini sedang menyanyi! Dan kaki saya... kaki saya merasa ingin melakukan salto ke arah dispenser!"
Aruna, yang sedang berusaha fokus menggambar sketsa anatomi manusia, membanting pensilnya.
"Siapa sih yang berisik banget pagi-pagi begini?! Mbak Widya bilang kamar sebelah itu angker, bukan tempat dugem!"
Aruna melangkah keluar dengan daster perang miliknya, siap untuk mengamuk. Namun, begitu dia membuka pintu kamar, matanya nyaris keluar dari rongganya.
Di depan kamar nomor 12, berdiri tiga pria yang dandanannya sangat mencurigakan. Mereka memakai topi beanie yang ditarik sampai menutupi alis, masker hitam, dan kacamata hitam, meski mereka berada di dalam lorong yang redup.
"Permisi, Kak," ucap salah satu pria yang bertubuh paling kecil (Rian).
"Kami penghuni baru. Nama saya... Bambang Dua. Ini sepupu saya, Bambang Tiga dan Bambang Empat."
Aruna mengerutkan kening.
"Keluarga kalian kurang kreatif ya soal nama? Dan kenapa kalian dandan kayak agen rahasia yang lagi menyamar jadi tukang bakso?"
"Kami... kami punya alergi terhadap cahaya lampu neon, Kak," sahut Satya (Bambang Tiga) dengan suara yang dibuat-buat berat.
"Dan kami sedang latihan meditasi melalui suara musik yang sangat kencang. Apakah Kakak keberatan?"
"Ya keberatanlah! Ini kosan, bukan stadion konser!" bentak Aruna.
Tiba-tiba, Javi muncul dari balik pintu kamar Aruna. Dia masih memakai kacamata renang birunya yang terbalik, sarung kakek yang disampirkan di pundak seperti jubah, dan memegang sikat gigi.
"Majikan Aruna, siapa para Bambang ini? Dan kenapa lagu dari dinding itu membuat jantung saya terasa ingin melakukan moonwalk?" tanya Javi dengan suara baritonnya yang karismatik.
Ketiga member LUMINOUS di depan pintu langsung mematung. Mata mereka melotot di balik kacamata hitam masing-masing.
Itu Javi-hyung!
batin Rian berteriak.
Tapi kenapa dia pake kacamata renang?! Dan kenapa dia manggil cewek galak ini 'Majikan'?!
Member LUMINOUS masuk ke kamar mereka yang hanya dibatasi triplek tipis dengan kamar Aruna dan segera memulai rencana Operasi Pemanggil Memori. Strategi mereka sederhana yaitu memutar lagu-lagu Javi sekencang mungkin sampai ingatannya kembali.
Di kamar Aruna, Javi mulai bertingkah aneh. Begitu lagu "Luminous Dream" diputar, Javi yang sedang mencoba melipat jemuran tiba-tiba melempar daster pink Mbak Widya ke udara, menangkapnya dengan satu tangan, lalu melakukan gerakan high kick yang sempurna.
"Ujang! Berhenti nendang-nendang udara! Nanti jemurannya kena lampu!" teriak Aruna.
"Saya tidak bisa menahannya, Aruna!" Javi berteriak frustrasi.
"Lagu di sebelah... lagu itu seperti instruksi dari pusat kendali kloningan saya! Tubuh saya merasa harus berdiri di tengah ruangan dan memberikan kedipan maut ke arah lemari!"
Javi kemudian berdiri di depan cermin, menyisir rambut peraknya ke belakang, lalu menatap bayangannya sendiri dengan tatapan yang begitu dalam.
"Aruna... apakah saya dulu seorang pemimpin pasukan penari? Kenapa saya merasa harus meneriakkan 'Are you ready, Jakarta?!' ke arah kamar mandi?"
Aruna panik.
"Bukan! Itu... itu dulu kamu kerja di pasar malam, bagian manggil-manggil orang buat naik komidi putar! Makanya kamu terbiasa teriak begitu!"
"Pasar malam?"
Javi tampak ragu.
"Tapi kenapa suara penyanyi di lagu itu... sangat mirip dengan suara saya saat sedang kepedasan ayam geprek?"
"Itu namanya kembaran suara! Udah, jangan dengerin! Sini, pake earmuff ini!"
Aruna memakaikan penutup telinga musim dingin yang berbulu ke kepala Javi.
Kini penampilan Javi semakin absurd, kacamata renang terbalik, penutup telinga bulu pink, dan sarung kakek. Dia terlihat seperti alien yang sedang bersiap menghadapi musim salju di gurun pasir.
Aksi Mata-Mata Kamar Sebelah
Di kamar nomor 12, Rian sedang menempelkan telinganya ke dinding kayu.
"Hyung, Javi-hyung lagi dipakein penutup telinga pink sama cewek itu!" lapor Rian bisik-bisik.
"Dan dia barusan nyikat lantai pake sikat gigi! Javi-hyung kita yang biasanya nggak mau nyentuh air keran kalau nggak difilter tiga kali... sekarang jadi tukang sikat!"
Kenji (Bambang Empat) mengepalkan tangan.
"Ini penghinaan bagi martabat idol! Kita harus menyelamatkannya. Satya, keluarin senjata rahasia."
Satya mengeluarkan sebuah kotak makanan. Isinya adalah durian.
"Javi-hyung paling benci bau durian. Kalau dia mencium ini, insting Ice Prince-nya yang perfeksionis pasti bakal bereaksi dan dia bakal keluar buat marah-marah," ucap Satya cerdik.
Mereka pun membuka kotak durian itu dan mengipasi aromanya ke arah ventilasi kamar Aruna.
Di kamar Aruna, Javi tiba-tiba berhenti menari. Hidungnya yang mancung kembang-kempis.
"Aruna... apakah ada kebocoran gas yang sangat estetik di sini?" tanya Javi.
"Baunya... baunya seperti campuran antara mentega dan kaki raksasa yang belum dicuci selama seribu tahun."
Aruna menutup hidungnya.
"Duh, itu bau durian! Pasti tetangga baru itu lagi makan duren!"
Javi tiba-tiba merasa mual, tapi di saat yang sama, sebuah memori samar muncul di kepalanya. Dia teringat sebuah ruangan putih bersih, di mana seseorang memberinya buah yang sama, dan dia langsung pingsan di depan kamera.
"Saya... saya kenal bau ini," ucap Javi dengan nada dramatis.
Dia berjalan menuju pintu dengan langkah gontai.
"Saya harus menghentikan sumber radiasi ini sebelum kloningan saya mengalami kegagalan sistem!"
Javi membuka pintu kamar tepat saat ketiga Bambang sedang berdiri di depan pintu kamar mereka sambil mengibas-ngibaskan kotak durian.
"Heh, para Bambang!" teriak Javi.
"Hentikan serangan kimia ini! Majikan saya sedang mencoba menggambar anatomi, dan bau ini membuat gambar manusianya terlihat seperti sedang menderita!"
Member LUMINOUS terpaku. Mereka melihat Javi dalam jarak dekat. Rian hampir saja berteriak memanggil Javi dengan hyung tapi Satya segera membekap mulutnya.
"Maaf, Mas Ujang," ucap Satya sambil menahan tawa melihat penutup telinga pink Javi.
"Kami pikir Mas suka. Ini durian kualitas super, loh."
"Saya lebih suka es mambo stroberi!" sahut Javi ketus.
"Sekarang, tutup kotak itu atau saya akan melakukan tarian pemanggil hujan di lorong ini!"
Kenji maju selangkah.
"Mas Ujang... kenapa Mas pake kacamata renang?"
Javi membetulkan kacamata renangnya dengan bangga.
"Ini adalah alat untuk memfilter partikel kepalsuan di dunia ini. Ada masalah?"
Aruna muncul di belakang Javi, memegang penggaris besi.
"Udah, masuk Ujang! Jangan ladenin tetangga aneh ini. Ayo lanjut sikat kamar mandi!"