NovelToon NovelToon
Cinta Aluna

Cinta Aluna

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wiji Yani

Aluna adalah gadis yang nyaris sempurna, pintar, cantik, dan menjadi pusat perhatian di SMA Bina Cendekia . Namun, hatinya hanya terkunci pada satu nama: Bara. Sahabat masa kecilnya yang pendiam, misterius, tapi selalu ada untuknya.
Sayangnya, cinta Aluna tak pernah sampai. Bukan karena Bara tak memiliki rasa yang sama, melainkan karena kehadiran Brian. Brian, cowok populer yang ceria sekaligus sahabat karib Bara, jatuh cinta setengah mati pada Aluna.
Bagi Bara, persahabatan adalah segalanya. Saat Brian meminta bantuannya untuk mendekati Aluna, Bara memilih untuk membunuh perasaannya sendiri. Ia menjauh, bersikap dingin, bahkan menjadi "kurir cinta" demi kebahagiaan Brian. Ia rela menuliskan puisi paling puitis untuk Aluna, meski setiap kata yang ia goreskan adalah luka bagi hatinya sendiri.
Aluna hancur melihat Bara yang terus mendorongnya ke pelukan orang lain. Ia merasa seperti barang yang sedang dioper, tanpa Bara tahu bahwa hanya dialah alasan Aluna tetap bertahan di sekolah itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Payung yang sama rasa yang berbeda

Aluna berlari meninggalkan kerumunan yang masih riuh di koridor. Langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok yang duduk sendirian di bangku taman sekolah yang sepi. Bara di sana, menunduk, seolah sedang mencoba menghilang dari dunia.

​"Bara!" seru Aluna.

​Bara menoleh perlahan. Wajahnya tampak pucat, lebih pucat dari saat ia sakit kemarin. "Luna? Kenapa kamu di sini? Bukannya kamu... harusnya sama Brian?"

​Aluna tidak menjawab. Ia langsung duduk di samping Bara, jarak mereka begitu dekat hingga Bara bisa mencium aroma keputusasaan dari napas Aluna yang memburu.

​"Bara, apa di hati kamu sudah benar-benar tidak ada aku lagi?" tanya Aluna, matanya menghujam langsung ke manik mata Bara.

​Bara membeku. Ia ingin berpaling, namun tatapan Aluna mengunci seluruh keberaniannya. "Aku..."

​"Kenapa kamu tidak bisa jawab?" desak Aluna lagi. Suaranya mulai bergetar karena emosi yang tertahan. "Bara, aku tahu kamu cinta sama aku. Tapi kenapa kamu tega mempermainkan perasaanku? Kenapa kamu kasih puisi itu ke Brian?"

​"Aluna... aku gak bermaksud mempermainkan kamu. Aku cuma...."

​"Cuma apa, Bara? Cuma apa?!" suara Aluna menggebu-gebu, memecah keheningan taman.

​"Luna, aku cuma gak mau nyakitin Brian! Aku mau dia bahagia sama kamu!" teriak Bara akhirnya. Nafasnya memburu, dadanya naik turun menahan sesak. "Dia sahabat aku, Lun. Dia orang baik."

​"Tapi aku gak bahagia, Bara! Aku cuma cinta..."

​Aluna mendadak bungkam. Kalimat itu menggantung di udara, menciptakan keheningan yang menyakitkan. Ia menelan kembali kata-kata itu. Ia tidak ingin Bara tahu bahwa hatinya juga hancur berkeping-keping untuk orang yang justru mencoba membuangnya.

​"Kamu cinta sama siapa, Aluna?" tanya Bara lirih, ada harapan sekaligus ketakutan dalam suaranya.

​Aluna menyeka pipinya yang basah dengan kasar. Ia berdiri, tidak ingin berlama-lama tenggelam dalam tatapan Bara. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah gelang yang sudah ia simpan erat-erat sejak lama. Ia meletakkannya dengan paksa di tangan Bara.

​"Ini. Pakai," ucap Aluna ketus.

​Bara menatap benda di telapak tangannya dengan bingung. "Ini apa, Luna?"

​"Itu gelang yang aku beli dua hari lalu. Gelang yang mau aku kasih malam itu," ucap Aluna tanpa menatap Bara. "Itu tanda kalau aku sudah maafin kamu soal malam itu. Tapi untuk hari ini... aku gak tahu harus gimana sama kamu."

​Setelah memberikan gelang itu, Aluna berbalik dan pergi dengan langkah cepat, meninggalkan Bara yang masih mematung menatap gelang di tangannya.

*********

Bel pulang sekolah berdentang panjang, namun langit mendadak berubah gelap pekat. Seolah diperintah, hujan tumpah dengan sangat deras, menciptakan tirai air yang mengunci siapa pun yang masih berada di dalam gedung sekolah.

Aluna berdiri di depan teras kelas, memeluk tubuhnya sendiri. Angin dingin menusuk hingga ke tulang. Di belakangnya, ia mendengar langkah kaki yang sangat ia kenali.

Bara muncul, tangannya menggenggam sebuah payung hitam. Ia berdiri di samping Aluna, menatap lurus ke arah hujan. "Aluna, ayo pulang bareng aku," ucap Bara sambil membuka payungnya. Suara kepakan payung itu terdengar jelas di tengah riuh air hujan.

"Nggak usah. Aku tunggu hujan reda aja," tolak Aluna dingin, meski hatinya merasa gelisah.

Tanpa banyak bicara, Bara membuka jaketnya. Ia memakaikannya ke bahu Aluna. "Aluna, ini sudah sore. Kalau kamu tunggu, hujan ini nggak akan reda sampai malam. Ayok pulang, atau aku tinggalin kamu di sini sendirian?"

Aluna menoleh. sekitar kelas, sudah sepi. Hanya ada dia dan Bara di sana, terjebak dalam ruang sempit antara dinding kelas dan hujan yang menderu. Tiba-tiba, suara petir menggelegar dahsyat, membelah langit.

Sontak, Aluna yang ketakutan langsung merapat dan memeluk Bara dengan erat.

Tubuh Bara menegang. Waktu seolah berhenti. Dalam pelukan yang tidak sengaja itu, mata mereka bertemu. Ada banyak kata yang tidak terucap, banyak luka yang saling beradu di dalam tatapan itu.

Bara, kenapa mencintaimu harus sesakit ini? batin Aluna perih.

Sadar akan posisinya, Aluna segera melepaskan pelukan itu dengan canggung. Ia membuang muka, mencoba mengatur napasnya yang kacau.

"Luna... gimana? Mau ikut pulang bareng aku nggak?" tanya Bara lagi, suaranya kini lebih lembut, hampir menyerupai bisikan.

Aluna hanya bisa mengangguk pelan.

Mereka akhirnya berjalan menembus hujan di bawah satu payung yang sama. Jarak mereka begitu dekat, bahu mereka sesekali bersentuhan, namun tembok di antara hati mereka terasa begitu tinggi.

Di sepanjang jalan, suasana mendadak mati. Tidak ada candaan seperti dulu, tidak ada tawa yang biasanya pecah saat mereka kehujanan. Hanya ada suara sepatu yang menginjak genangan air dan deru hujan yang seolah sedang menertawakan kecanggungan mereka. Di bawah payung yang dulu menjadi tempat paling aman, kini mereka merasa seperti dua orang asing yang dipaksa berbagi nafas.

​Langkah kaki mereka akhirnya berhenti di depan pagar rumah Aluna. Hujan masih menyisakan rintik-rintik kecil. Bara sedikit memiringkan payungnya ke arah Aluna, membiarkan pundak kirinya sendiri basah kuyup demi memastikan Aluna tidak terkena air hujan.

​"Bara, makasih ya sudah anterin aku pulang," ucap Aluna memecah keheningan. Ia bergerak hendak melepas jaket yang tersampir di bahunya. "Oiya, ini jaket kamu."

​Bara menahan tangan Aluna sebentar. "Udah, nggak usah dibalikin sekarang. Pakai dulu saja, kamu masih kelihatan kedinginan."

​Aluna terdiam, lalu perlahan mengangguk. Ada rasa nyaman yang aneh saat ia kembali merapatkan jaket besar itu ke tubuhnya.

​"Ya sudah, kalau gitu aku pulang dulu ya," pamit Bara. Ia memberikan senyum tipis, senyum yang sudah lama tidak Aluna lihat.

​"Iya, hati-hati Bara."

​Aluna berdiri di teras, matanya terus mengikuti punggung Bara yang berjalan menjauh di bawah payung hitamnya. Ada sedikit rasa hangat yang menjalar di dadanya. Setelah berhari-hari Bara bersikap dingin dan menghindar, perhatian kecil barusan terasa sangat berarti.

​Begitu sampai di dalam kamar, Aluna segera mengunci pintu. Ia menyandarkan punggungnya di balik pintu, napasnya masih terasa berat. Perlahan, ia membuka jaket Bara dari bahunya, namun bukannya diletakkan, ia justru memeluk jaket itu dengan erat.

​Aluna membenamkan wajahnya di kerah jaket yang masih menyisakan aroma parfum Bara yang bercampur dengan aroma hujan. Ia menghirupnya dalam-dalam, mencoba menyimpan kenangan hangat itu di kepalanya.

​“Ah, hangatnya...” gumamnya lirih.

​Ia naik ke tempat tidur, masih dengan jaket yang melingkari tubuhnya. Ada rasa aman yang seketika menyelimuti hatinya, sesuatu yang tidak ia rasakan saat bersama Brian. Namun, sedetik kemudian, bayangan saat Bara memberikan puisi itu kepada Brian kembali muncul, seperti duri yang menusuk kebahagiaannya.

​Aluna menatap langit-langit kamarnya dengan mata berkaca-kaca. “Andai saja aku bisa jujur sama Bara... kalau aku juga sangat, sangat mencintainya,” batinnya pilu. “Tapi aku takut. Aku takut kalau aku jujur, Bara justru bakal mainin perasaanku lagi ".

​Aluna merapatkan pelukannya pada jaket itu, seolah-olah dengan begitu ia sedang memeluk pemiliknya. Ia terjebak dalam dilema yang menyakitkan. Ia mencintai seseorang yang justru mencoba memberikannya kepada orang lain.

Bersambung.......

jangan lupa like dan vote ya kakak ♥️ terimakasih semoga rezekinya lancar dan sehat selalu amin 🤲 🤲 🙏 😁

1
Dian Fitriana
update
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!