Nala Aristha hanyalah "putri yang tidak diinginkan" di keluarga Aristha. Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang sempurna, Bella.
Ketika keluarga Aristha terancam bangkrut, satu-satunya jalan keluar adalah memenuhi janji pernikahan tua dengan keluarga Adhitama. Namun, calon mempelai prianya, Raga Adhitama, dirumorkan sebagai pria cacat yang kejam, memiliki wajah hancur akibat kecelakaan, dan temperamen yang mengerikan.
Bella menolak keras dan mengancam bunuh diri. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, Nala dipaksa menjadi "mempelai pengganti". Ia melangkah ke altar dengan hati mati, bersiap menghadapi neraka.
Namun, di balik pintu kamar pengantin yang tertutup rapat, Nala menemukan kebenaran yang mengejutkan. Raga Adhitama bukanlah monster seperti rumor yang beredar. Dia adalah pria dengan sejuta rahasia gelap, yang membutuhkan seorang istri hanya sebagai tameng.
"Jadilah istriku yang patuh di depan dunia, Nala. Dan aku akan memberikan seluruh dunia in
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Wajah di Balik Cermin Pecah
Hari Minggu di Adhitama Estate biasanya diisi dengan kesunyian yang lebih pekat daripada hari kerja. Tidak ada suara telepon berdering dari ruang kerja Raga, tidak ada langkah kaki terburu-buru para staf yang mengurus dokumen bisnis. Namun hari ini, kesunyian itu digantikan oleh ketegangan yang mendebarkan di dalam studio lukis sayap timur.
Nala sedang mempersiapkan "altar" seninya. Ia mengatur posisi easel agar mendapatkan pencahayaan terbaik dari jendela besar yang menghadap ke danau. Ia memilih kanvas berukuran sedang dengan tekstur kain yang halus, lalu menata deretan cat minyak di atas meja palet kayu. Warna-warna kulit, merah bata, cokelat tua, dan abu-abu mendominasi pilihannya hari ini.
Di tengah ruangan, sebuah kursi kayu dengan sandaran tinggi telah disiapkan. Bukan kursi roda Raga yang biasa, melainkan kursi biasa yang Nala lapisi dengan bantal beludru agar Raga nyaman duduk berlama-lama.
Pintu studio terbuka pelan.
Raga masuk dengan kursi rodanya. Ia mengenakan kemeja putih polos yang lengannya digulung santai hingga siku, dan celana bahan yang nyaman. Wajahnya tertutup topeng perak, namun postur tubuhnya terlihat kaku. Ada keraguan yang tersirat dari cara tangannya mencengkeram roda kursi.
"Apakah kau sudah siap, Tuan?" tanya Nala lembut, menyeka tangannya yang sedikit berkeringat ke apron lukisnya.
Raga berhenti di tengah ruangan. Ia menatap kanvas kosong itu seolah-olah benda itu adalah monster yang siap menelannya.
"Aku tidak pernah siap untuk ini," jawab Raga jujur. "Tapi aku sudah berjanji."
Nala tersenyum menenangkan. Ia berjalan mendekati Raga, lalu berjongkok di depan kursi rodanya agar sejajar dengan mata suaminya.
"Kita bisa berhenti kapan saja jika Tuan merasa tidak nyaman," janji Nala. "Ini bukan interogasi. Ini hanya... memandang."
Raga menghela napas panjang. Ia mengangguk kaku.
"Bantu aku pindah ke kursi itu," pinta Raga.
Nala bangkit dan membantu Raga berpindah. Ia menjadi tumpuan bagi tubuh berat suaminya. Nala bisa merasakan otot lengan Raga menegang saat menahan beban tubuhnya. Setelah Raga duduk nyaman di kursi kayu, Nala memindahkan kursi roda itu ke sudut ruangan, menjauhkannya dari pandangan. Ia ingin Raga merasa sebagai manusia utuh hari ini, bukan pasien.
"Sekarang," ucap Nala, berdiri di samping kanvasnya. "Bolehkah saya meminta Tuan melepas topengnya?"
Ini adalah momen penentuannya.
Tangan Raga bergerak lambat menuju belakang kepalanya. Terdengar bunyi klik kecil kunci pengait yang terbuka. Dengan gerakan ragu-ragu, ia menarik topeng perak itu lepas dari wajahnya.
Wajah asli Raga Adhitama terungkap sepenuhnya di bawah sinar matahari pagi.
Sisi kanan wajahnya tampan seperti pahatan patung Yunani kuno. Hidung mancung, rahang tegas, kulit bersih. Namun sisi kirinya adalah cerita yang berbeda. Luka bakar itu menjalar dari pelipis, melewati mata, hingga ke pipi dan sedikit leher. Kulit di sana berwarna kemerahan, tidak rata, dan bergelombang. Jaringan parut menarik ujung mata kirinya sedikit ke bawah, memberikan kesan sedih yang permanen.
Raga refleks memalingkan wajahnya ke arah jendela, menghindari tatapan Nala. Ia benci dilihat. Ia benci merasa telanjang.
"Tolong lihat saya, Tuan," pinta Nala lembut.
"Aku tidak bisa," gumam Raga. "Kau akan bosan melihat monster ini berjam-jam."
"Saya tidak melihat monster," bantah Nala. Ia mengambil kuasnya. "Saya melihat subjek lukisan yang paling menarik yang pernah saya temui. Tolong, Tuan. Lihat saya. Percayalah pada mata saya."
Perlahan, sangat perlahan, Raga memutar kepalanya kembali. Ia menatap Nala. Mata hitamnya bertemu dengan mata cokelat Nala yang hangat. Tidak ada rasa jijik di sana. Tidak ada rasa kasihan yang merendahkan. Hanya ada fokus, kekaguman, dan konsentrasi seorang seniman.
Nala mulai menggoreskan kuasnya.
Suara gesekan kuas pada kanvas menjadi satu-satunya suara di ruangan itu. Sret... sret... irama yang menenangkan.
Menit demi menit berlalu. Nala bekerja dengan cepat namun teliti. Ia tidak hanya melukis bentuk fisik. Ia berusaha menangkap apa yang ada di balik mata Raga. Kesedihan yang mendalam, kemarahan yang tertahan, namun juga harapan yang rapuh.
"Kau tahu," Raga tiba-tiba bersuara, memecah keheningan setelah hampir satu jam berlalu. "Dulu aku sering dilukis."
Nala tidak menghentikan tangannya, tapi ia mendengarkan dengan seksama. "Benarkah?"
"Ibuku suka melukis. Dia bukan pelukis hebat sepertimu, hanya hobi. Tapi dia suka memaksaku jadi modelnya saat aku kecil," kenang Raga, pandangannya menerawang jauh ke masa lalu. Ada senyum tipis yang pahit di bibirnya. "Dia selalu melukisku sebagai pangeran kecil yang sempurna. Pakaian rapi, rambut disisir, senyum lebar. Lukisan-lukisan itu masih ada di gudang bawah tanah."
"Kenapa di gudang?" tanya Nala pelan.
"Karena setelah kecelakaan itu, aku menyuruh pelayan membakar semua foto dan lukisan diriku yang lama," jawab Raga datar. "Aku tidak sanggup melihatnya. Melihat betapa sempurnanya aku dulu hanya membuatku semakin benci pada diriku yang sekarang. Rasanya seperti melihat orang asing yang sudah mati."
Tangan Nala berhenti sejenak. Hatinya nyeri mendengar pengakuan itu. Raga tidak hanya kehilangan wajahnya, ia kehilangan identitasnya. Ia membunuh masa lalunya sendiri karena terlalu menyakitkan untuk diingat.
"Tapi Pak Hadi menyelamatkan beberapa," lanjut Raga. "Dia menyembunyikannya di gudang tanpa sepengetahuanku. Orang tua itu keras kepala."
"Pak Hadi sayang pada Tuan," ucap Nala. "Dia menyimpan kenangan itu karena dia tahu suatu hari nanti Tuan akan membutuhkannya. Untuk berdamai."
Raga mendengus pelan. "Berdamai... kata yang mudah diucapkan."
Nala kembali melukis. Kali ini ia mencampurkan warna merah crimson dengan sedikit cokelat tanah untuk melukis bagian luka di wajah Raga. Ia tidak berusaha menghaluskannya atau membuatnya terlihat samar. Ia melukisnya apa adanya, dengan detail tekstur yang jujur.
"Tuan," panggil Nala.
"Ya?"
"Luka ini... apakah sakit saat saya melukisnya?" tanya Nala aneh.
Raga mengernyit bingung. "Tentu saja tidak. Kau melukis kanvas, bukan wajahku."
"Bukan itu maksud saya," Nala menggeleng. "Maksud saya... apakah Tuan merasa sakit hati saat saya menatap luka ini terus-menerus? Apakah Tuan merasa dihakimi?"
Raga terdiam. Ia meresapi perasaannya sendiri. Awalnya, ya. Ia merasa sangat tidak nyaman. Ia ingin lari dan sembunyi. Tapi seiring berjalannya waktu, melihat Nala menatapnya dengan intensitas yang begitu murni, perasaan itu berubah.
Ia merasa... diterima.
"Tidak," jawab Raga akhirnya, suaranya terdengar lebih ringan. "Anehnya, aku merasa... lega. Seperti ada beban berat yang diangkat dari pundakku. Selama lima tahun aku menyembunyikan wajah ini di balik topeng karena takut orang lain terluka melihatnya. Tapi kau menatapnya seolah itu adalah pemandangan matahari terbit."
Nala tersenyum lebar. Senyum yang membuat mata Raga terpaku.
"Karena memang begitu, Tuan. Matahari terbit selalu indah, bahkan jika langitnya berawan atau badai," ucap Nala puitis.
Waktu makan siang tiba. Pak Hadi mengetuk pintu, membawakan nampan berisi sandwich dan jus jeruk. Pelayan tua itu sempat tertegun sejenak saat melihat Raga duduk tanpa topeng di kursi biasa, sedang dilukis oleh Nala. Namun profesionalitasnya mengambil alih. Ia hanya tersenyum tipis, meletakkan makanan, lalu mundur tanpa banyak bicara, seolah tidak ingin mengganggu momen sakral itu.
Mereka makan siang di dalam studio, duduk berhadapan di lantai beralaskan karpet bulu. Raga makan dengan santai, tanpa topeng, tanpa beban. Ini adalah makan siang paling "normal" yang pernah ia rasakan selama bertahun-tahun.
"Sudah hampir selesai," kata Nala setelah makan siang, kembali berdiri di depan kanvas. "Tinggal bagian mata."
Bagian mata adalah yang tersulit. Mata adalah jendela jiwa. Jika Nala gagal menangkap sorot mata Raga, maka lukisan ini akan gagal total.
Nala menatap mata Raga dalam-dalam. Ia melihat warna hitam pekat itu. Di sana ada kegelapan, ya. Tapi di tengah kegelapan itu, ada setitik cahaya kecil. Cahaya yang baru muncul belakangan ini. Cahaya yang bernama Nala.
Dengan napas tertahan, Nala menggoreskan kuas kecilnya, memberikan pantulan cahaya putih di pupil mata dalam lukisan itu.
"Selesai," bisik Nala, mundur dua langkah.
Raga menegakkan tubuhnya. "Boleh aku melihatnya?"
"Silakan, Tuan."
Nala membalikkan easel itu menghadap Raga.
Raga terdiam. Mulutnya sedikit terbuka, namun tidak ada suara yang keluar.
Lukisan itu... luar biasa.
Di atas kanvas itu, tergambar wajahnya. Wajah Raga Adhitama yang sekarang. Setengah sempurna, setengah hancur. Namun Nala melukisnya dengan pencahayaan yang dramatis. Cahaya datang dari sisi kiri, sisi yang terluka, membuat luka itu bersinar keemasan seolah-olah kulitnya terbuat dari emas yang retak, bukan daging yang terbakar.
Teknik itu disebut Kintsugi dalam budaya Jepang, seni memperbaiki keramik pecah dengan emas, sehingga retakan itu menjadi bagian dari keindahan sejarah objek tersebut, bukan sesuatu yang harus disembunyikan.
Ekspresi wajah dalam lukisan itu bukanlah ekspresi monster yang marah atau korban yang menyedihkan. Itu adalah wajah seorang raja yang lelah setelah memenangkan perang besar. Wajah yang tenang, berwibawa, dan penuh kedalaman.
Dan matanya... mata itu menatap Raga balik dengan sorot yang hidup. Mata yang seolah berkata, Aku masih di sini. Aku masih Raga.
Tangan Raga gemetar saat ia menyentuh permukaan kanvas itu, tepat di bagian pipinya yang terluka.
"Ini..." suara Raga pecah. "Ini aku?"
"Itu Tuan di mata saya," jawab Nala lembut. "Seorang pria yang retak, tapi disatukan kembali oleh emas."
Air mata menetes dari sudut mata Raga. Satu tetes, jatuh membasahi pipinya yang kasar. Ia tidak berusaha menghapusnya. Pertahanannya runtuh seketika. Selama ini ia melihat dirinya sebagai sampah, sebagai barang rusak. Tapi Nala... Nala melihatnya sebagai karya seni.
"Terima kasih, Nala," ucap Raga dengan suara serak. "Terima kasih sudah mengembalikan wajahku."
Nala berjalan mendekat, lalu memeluk leher Raga dari samping. Ia membenamkan wajahnya di bahu Raga.
"Sama-sama, Tuan. Terima kasih sudah mengizinkan saya melihatnya."
Raga memejamkan mata, menikmati pelukan itu. Ia mengangkat tangannya, merengkuh pinggang Nala.
"Nala," panggil Raga pelan.
"Ya, Tuan?"
"Berhenti memanggilku Tuan."
Nala melepaskan pelukannya, menatap Raga bingung. "Lalu saya harus panggil apa?"
"Raga," jawab Raga tegas. "Panggil namaku. Aku suamimu, bukan majikanmu. Setelah semua yang kita lalui hari ini, rasanya aneh kau masih memanggilku dengan sebutan kaku itu."
Pipi Nala bersemu merah. Memanggil nama langsung terasa sangat intim dan kurang sopan baginya yang terbiasa merendah.
"Tapi... rasanya tidak sopan," bantah Nala.
"Aku memberimu izin," kata Raga. "Atau kalau kau mau lebih akrab... kau bisa panggil aku Mas. Atau Sayang. Aku tidak keberatan."
Nala tertawa kecil, memukul pelan bahu Raga. "Mas Raga saja. Itu terdengar lebih wajar."
Raga tersenyum. Senyum yang lebar, menampilkan deretan gigi putihnya, senyum yang mencapai matanya. Senyum tanpa beban yang pertama kali Nala lihat.
"Baiklah, Mas Raga," ucap Nala, mencoba rasa nama itu di lidahnya. Manis.
"Nah, begitu lebih baik," kata Raga puas.
Tiba-tiba, suara dering ponsel Raga memecah momen indah itu. Raga berdecak kesal, meraih ponselnya dari saku celana.
Ia melihat layar. Nomor tidak dikenal.
"Halo," jawab Raga, nadanya kembali dingin dan waspada.
Suara di seberang sana terdengar panik dan terengah-engah.
"Tuan Raga! Ini saya, kepala keamanan pabrik tekstil di Tangerang. Gawat, Tuan! Ada kebakaran besar di gudang utama! Api menyebar cepat. Pemadam kebakaran sedang berusaha, tapi... tapi ada dugaan sabotase. Satpam menemukan jerigen bensin di belakang gedung!"
Wajah Raga berubah drastis. Senyumnya lenyap, digantikan oleh topeng kemarahan yang keras.
"Apa?! Bagaimana bisa?! Bukankah sistem keamanan sudah diperketat?!" bentak Raga.
Nala mundur selangkah, kaget melihat perubahan suaminya yang begitu cepat.
"Maaf, Tuan. Pelakunya sepertinya orang dalam yang punya akses kunci. Kami sedang mengecek CCTV, tapi..."
"Tutup semua akses keluar! Jangan biarkan siapa pun meninggalkan lokasi pabrik! Aku akan segera ke sana!" perintah Raga, lalu memutus sambungan.
Raga menoleh pada Nala. Tatapannya penuh penyesalan.
"Nala, maafkan aku. Ada keadaan darurat di pabrik. Aku harus pergi sekarang."
"Kebakaran?" tanya Nala cemas.
"Sabotase lagi," geram Raga sambil meraih topeng peraknya dari meja dan memasangnya kembali dengan kasar. Dalam sekejap, Raga yang rapuh dan lembut tadi menghilang, digantikan kembali oleh Tuan Muda Adhitama yang dingin dan berbahaya. "Musuh mulai bergerak agresif karena kita memutus kontrak dengan keluarga Aristha. Ini peringatan dari mereka."
Raga memindahkan dirinya sendiri kembali ke kursi roda dengan gerakan cepat dan efisien.
"Tetaplah di rumah. Jangan keluar pagar selangkah pun. Sera akan menjagamu. Aku akan menyuruh Pak Hadi mengunci semua gerbang."
"Hati-hati, Mas..." ucap Nala, hampir keceplosan memanggil Tuan lagi.
Raga berhenti sejenak di ambang pintu. Ia menoleh, menatap Nala dan lukisan potret dirinya bergantian.
"Jaga lukisan itu," pesan Raga. "Itu harta baruku."
Setelah itu, Raga menghilang di balik pintu, meninggalkan Nala sendirian di studio yang mulai temaram karena matahari sore.
Nala menatap lukisan wajah Raga. Perasaan tidak enak mulai merayapi hatinya. Kebakaran pabrik, sabotase, teror foto... semuanya terjadi berturutan. Badai yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Nala mengepalkan tangannya. Ia tidak bisa hanya diam menunggu di rumah sementara suaminya berperang. Ia harus melakukan sesuatu. Ia harus mencari tahu siapa dalang di balik semua ini. Dan ia punya satu petunjuk: Bella.
Bella adalah kunci masa lalunya, dan mungkin kunci dari serangan-serangan ini.
Nala mengambil ponsel barunya. Ia mencari kontak yang sudah lama ingin ia hapus tapi ia tahan.
Nomor Bella.
Dengan jari gemetar namun mantap, Nala mengetik sebuah pesan.
Temui aku besok siang di kafe biasa. Datang sendiri. Aku punya penawaran yang tidak bisa kau tolak.
Nala menekan tombol kirim.
Sudah saatnya Luna berhenti bersembunyi di balik kanvas dan mulai memainkan permainannya sendiri.
(Pesan Author, mungkin banyak yang bertanya kenapa keluarga Bella berani ke Arga, padahal dulu mereka takut ya soalnya udah ngak punya utang, meskipun keluarga mereka kalah, sifat manusia kadang iq rendah kadang juga iq tinggi)
ceritanya bagu😍