seorang yang miskin dan berubah rekrut menjadi mafia dan dipercaya menjadi CEO perusahaan besar
perebutan takhta dan warisan.
Aryo adalah karakter underdog yang kuat—seorang anak yatim piatu yang bukan sekadar beruntung, tapi memang memiliki kualitas "Dewa" yang diakui oleh sang kakek. Ini menciptakan dinamika yang berbahaya dengan Paman Budiono yang merasa memiliki "hak lahir" sebagai anak tertua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 32
Pria itu—Jenderal Wirya—tertawa kering, suaranya parau tertiup angin Merapi yang membawa aroma belerang dan bunga hutan yang baru tumbuh. "Berlutut? Kami membangun bangsa ini dengan keringat dan energi Arca, Laras. Kami tidak membangunnya untuk menjadi budak entitas dari ruang hampa."
"Kalian tidak membangunnya," balas Laras, langkahnya mantap di atas tanah yang masih bergetar. "Kalian memerasnya. Kalian mencuri napas dari planet ini sampai ia hampir berhenti berdetak."
Wirya memberi isyarat pada pasukan pengawalnya. Belasan moncong senjata kini terarah tepat ke jantung Laras. "Cukup omong kosong mistismu. Ambil gadis itu. Ambil kapal rongsokannya. Kita masih bisa membalikkan keadaan jika kita membedah otaknya."
"Jangan bergerak," Pandu melangkah keluar dari palka "Mawar Hitam", senjatanya terangkat, namun tangannya sedikit gemetar. Di belakangnya, Dio masih sibuk dengan tabletnya, wajahnya pucat pasi.
"Lar! Mereka di sini!" teriak Dio.
Langit Jakarta yang tadinya jingga karena senja mendadak berubah menjadi putih perak. Awan-awan di atas Merapi tersibak secara mekanis, bukan oleh angin, melainkan oleh tekanan gravitasi yang luar biasa. Sebuah objek raksasa—berbentuk seperti kelopak bunga mawar yang terbuat dari berlian putih—muncul dari balik atmosfer. Kapal itu tidak mengeluarkan suara mesin; ia mengeluarkan nada harmonik yang membuat senjata di tangan para pengawal Wirya mendadak terasa panas dan bergetar hebat hingga jatuh ke tanah.
Wirya mendongak, wajah sombongnya kini digantikan oleh ketakutan yang murni. "Itu... itu bukan kapal The Hollow."
"Itu adalah mereka," bisik Laras. "Para Pencipta."
Satu berkas cahaya putih turun dari pusat kapal kelopak itu, menyentuh puncak Menara Kedaulatan yang kini telah menjadi pohon cahaya. Seketika, pohon itu berpendar lebih terang, dan akar-akarnya merambat lebih dalam ke perut Merapi, menyatu dengan jalur energi bumi.
Sesosok bayangan turun dari cahaya itu. Ia tidak memiliki wajah yang tetap, hanya siluet cahaya yang memancarkan aura otoritas yang kuno. Sosok itu tidak memandang Wirya atau pasukannya. Ia berjalan lurus ke arah Laras.
"Penjaga Kecil," suara itu bergema di udara, bisa didengar oleh semua orang namun terasa seperti bisikan di telinga masing-masing. "Kau telah memberikan persembahan yang tidak terduga. Tanah yang kau bawa mengandung memori dari saat kami pertama kali menanam benih di sini."
Wirya mencoba berbicara, suaranya gemetar. "Kami... kami adalah penguasa kedaulatan tempat ini. Kami menuntut negosiasi!"
Sosok cahaya itu menoleh sedikit. Wirya mendadak terdiam, mulutnya seolah terkunci oleh tekanan yang tak terlihat. "Kau berbicara tentang kedaulatan di atas tanah yang kau racuni? Kau adalah parasit yang mengira dirinya adalah tuan rumah."
Sosok itu kembali menatap Laras. "Dunia ini seharusnya sudah dibersihkan. Namun, karena kau telah menyatukan frekuensi bulan es dengan jantung bumi, kami akan memberikan satu kesempatan. Bukan sebagai penguasa, tapi sebagai bagian dari ekosistem."
"Apa syaratnya?" tanya Laras.
"Kalian harus melepaskan semua teknologi yang memisahkan kalian dari bumi. Arca tidak akan lagi menjadi bahan bakar. Ia akan menjadi pendamping. Jika dalam satu siklus kalian kembali ke cara lama... maka pembersihan akan diselesaikan."
Sosok cahaya itu mengulurkan tangan yang transparan. Di telapak tangannya, sebuah benih Arca murni yang berwarna emas berdenyut. "Tanam ini di pusat Jakarta. Biarkan ia menjadi jantung baru yang menghubungkan pikiran kalian dengan pikiran kami."
Laras menatap benih itu, lalu menatap Wirya yang kini jatuh terduduk, dan akhirnya menatap Pandu serta Dio yang berdiri di belakangnya. Dunia yang mereka kenal telah berakhir hari ini. Tidak akan ada lagi gedung pencakar langit yang ditenagai mesin bising, tidak ada lagi perang untuk memperebutkan sisa energi.
"Aku akan melakukannya," kata Laras tegas.
Saat ia mengambil benih emas itu, kapal-kapal kelopak lainnya mulai muncul di seluruh penjuru langit Bumi—di atas Amazon, di atas Palung Jawa, di atas pegunungan Himalaya. Pembersihan telah dibatalkan, namun transformasi baru saja dimulai.
"Lar," Dio mendekat, menatap benih di tangan Laras. "Setelah ini... kita bukan lagi manusia yang sama, kan?"
Laras tersenyum tipis, matanya kini perlahan kembali ke warna aslinya, namun dengan binar yang takkan pernah hilang. "Kita akan menjadi sesuatu yang lebih baik, Dio. Kita akan menjadi penjaga."
Di kejauhan, matahari terbenam di balik pohon cahaya Merapi, menandai berakhirnya era mesin dan dimulainya era simbiosis yang tak pernah dibayangkan oleh buku teks fisika mana pun.
Jakarta tidak lagi berisik. Suara deru mesin pembakaran dan dengungan trafo listrik yang biasanya memenuhi udara kini digantikan oleh nyanyian frekuensi rendah yang menenangkan, mirip dengan suara hutan setelah hujan.
Di pusat Monas, benih emas yang ditanam Laras telah tumbuh menjadi struktur organik raksasa setinggi Monumen Nasional itu sendiri. Batangnya transparan seperti kaca, namun di dalamnya mengalir cairan bercahaya yang menghubungkan setiap sudut kota melalui akar-akar energi di bawah tanah. Gedung-gedung pencakar langit kini diselimuti oleh tanaman merambat biotik yang memberikan cahaya alami di malam hari dan mengatur suhu ruangan tanpa perlu pendingin udara.
"Masih terasa aneh melihat orang-orang pergi bekerja dengan berjalan kaki di atas jalur akar ini," ujar Dio, sambil menyesuaikan kacamata sensornya yang kini telah dimodifikasi menjadi alat pemantau kesehatan ekosistem.
Laras berdiri di balkon salah satu gedung tinggi, menatap kota yang kini lebih hijau daripada beton. "Mereka tidak punya pilihan, Dio. Tapi lihat wajah mereka. Ketegangan yang dulu selalu ada di dahi setiap orang Jakarta... perlahan memudar."
Pandu datang membawa dua cangkir teh yang aromanya sangat tajam. "Teh hasil panen dari lantai 50. Rasanya jauh lebih baik sejak tanahnya diberi nutrisi Arca murni. Oh, dan Paman Aan baru saja mengirim pesan dari Astra Mawar. Stasiun ruang angkasa itu kini resmi menjadi pos pengamatan diplomatik antara Bumi dan Europa."
"Bagaimana dengan Jenderal Wirya?" tanya Laras tanpa mengalihkan pandangan dari cakrawala.
"Dia dan kelompoknya masih mencoba 'beradaptasi'," Pandu terkekeh. "Sulit bagi mereka untuk berkuasa ketika energi tidak bisa lagi dimonopoli. Sekarang, setiap orang punya akses yang sama ke energi selama mereka menjaga resonansi batin mereka tetap stabil. Wirya tidak bisa lagi mematikan listrik siapa pun hanya karena mereka tidak setuju dengannya."
Tiba-tiba, udara di sekitar mereka bergetar pelan. Pendar biru di pergelangan tangan Laras—bekas kontak langsung dengan Para Pencipta—berdenyut.
"Mereka memanggilmu lagi?" tanya Dio dengan nada khawatir.
"Bukan memanggil," jawab Laras pelan. "Mereka hanya menyapa. Mereka sedang mengamati bagaimana kita merawat benih ini. Sejauh ini, Bumi dianggap sebagai kebun yang mulai pulih."
Laras memejamkan mata, merasakan aliran energi dari benih emas di Monas yang merambat melalui lantai gedung hingga ke ujung jari kakinya. Ia bisa merasakan setiap detak jantung penduduk kota, setiap pertumbuhan tunas baru di Merapi, dan kesunyian yang dalam di dasar Palung Jawa.
"Kita belum benar-benar aman, kan?" Pandu bertanya, wajahnya serius. "Para Pencipta itu... mereka tetaplah entitas yang bisa mencabut semua ini jika kita melakukan satu kesalahan saja."
Laras membuka matanya, menatap titik biru Jupiter yang kini tampak lebih terang di langit siang hari.
"Keamanan adalah ilusi yang dulu kita beli dengan merusak planet ini, Pan," kata Laras. "Sekarang, kita tidak punya keamanan. Kita punya tanggung jawab. Dan kurasa, itu adalah harga yang pantas untuk sebuah masa depan."
Sebuah pesawat organik kecil, berbentuk seperti daun raksasa yang melayang, meluncur pelan di depan mereka—membawa bantuan medis menuju daerah pinggiran. Kehidupan terus berjalan, namun dengan irama yang baru.
"Ayo," ajak Laras, berbalik menuju pintu palka. "Paman Aan menunggu laporan tentang stabilisasi frekuensi di wilayah timur. Pekerjaan kita baru saja dimulai."
"Mawar Hitam" yang kini terparkir di atap gedung, berdenyut menyambut kedatangan mereka, siap untuk terbang kembali sebagai perantara antara dua dunia yang kini telah menyatu.