Rian telah menunggu jawaban atas cintanya selama dua bulan, hanya untuk disambut kabar bahwa Sari, teman masa kecil yang sangat ia cintai, telah resmi berpacaran dengan orang lain.
Alih-alih merasa bersalah,
Sari justru meminta jawaban cinta Rian "ditunda" agar hubungan mereka tetap nyaman.
Di saat itulah, Rian menyadari bahwa selama ini ia bukan orang spesial, melainkan hanya alat kenyamanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awanbulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Pikiran bisa diamati dan diketahui. Tapi kamu cuma bisa tahu pikiranmu sendiri secara langsung, bukan pikiran orang lain. Kamu bisa melihat wajahku dan menebak arti senyum atau cemberutku, lalu mencoba membaca apa yang ada di kepalaku. Tapi itu tidak selalu benar—yah, sebenarnya mudah sekali untuk salah sangka!”
Selama pelajaran Bahasa Inggris, aku memikirkan kalimat itu dengan serius. Beberapa hari terakhir, aku mulai menyadari gejala aneh dalam diriku terkait lawan jenis.
Sederhananya: bicara dengan cewek yang tidak kukenal sekarang terasa sangat berat.
Setiap kali harus berhadapan dengan cewek asing, rasa curiga yang luar biasa muncul—sama seperti yang kurasakan pada nenekku tempo hari. Bahkan meski mereka teman sekelas, perasaanku tetap sama: waspada dan tidak nyaman. Aku mulai terganggu dengan suara berisik cewek-cewek di kelas; dalam beberapa situasi, rasa curigaku berubah menjadi rasa jijik yang mendarah daging.
Bahkan saat bicara dengan cewek yang sudah biasa mengobrol denganku pun, satu kalimat santai dari mereka bisa otomatis menyalakan alarm di otakku. Aku jadi sangat waspada, persis seperti gejala yang dialami Tina, si Ketua OSIS. Aku tidak bisa menjauh begitu saja karena aku mengenal mereka, tapi batin ini rasanya ingin cepat-cepat kabur.
Aku tidak bisa membiarkan cewek lain mendekatiku selain Kak Rina. Aku bahkan tidak bisa mengobrol dengan layak kecuali mereka menjaga jarak tertentu dariku.
“...Apa yang sebenarnya terjadi padaku?”
Aku tidak bisa menceritakan gejala ini pada siapa pun. Jika aku tidak hati-hati, aku bisa dianggap tidak menghormati wanita, dan kemanusiaanku bisa dipertanyakan. Aku harus mencari solusinya sendiri.
Tentu ada beberapa pengecualian.
Contohnya, Kak Rina. Aku percaya padanya tanpa syarat. Aku bisa bicara normal dengannya seperti dulu. Belakangan ini dia juga memperlakukanku dengan lebih lembut. Meski aku belum sepenuhnya memaafkan soal "insiden puding" itu, dia adalah satu-satunya cewek yang benar-benar kupercaya. Itulah kenapa aku yakin, jika Kak Rina sampai mengkhianatiku, itu akan menjadi akhir segalanya bagiku.
Lalu ada Naya, pengecualian dari "pihak yang bersalah". Setiap kali berhadapan langsung dengannya, trauma itu muncul kembali secara otomatis. Namun, aku merasa memikul tanggung jawab atasnya. Apa yang dia lakukan pada Andi memang tidak bisa dimaafkan, tapi itu urusan mereka. Naya bukan keluargaku, dan kami sudah tidak pacaran, jadi secara logika aku tidak berhak berkomentar.
Tapi hatiku tidak bisa selogis itu. Batinku menuntut agar aku tidak memaafkannya. Beruntung ada Kak Rina; selama aku tidak bertemu langsung atau mendengar suara Naya, aku masih bisa berkomunikasi dengannya lewat tulisan. Aku masih cukup menyayanginya untuk berharap bahwa suatu saat semuanya akan kembali normal.
Lalu, ada satu orang yang benar-benar tidak kupahami: Laras. Dia orang asing bagiku, tapi anehnya aku bisa bicara cukup normal dengannya. Laras adalah sosok yang sangat tidak lazim di mataku.
Terakhir... Ibuku. Aku belum menemuinya lagi sejak kejadian ini menimpaku. Aku punya firasat buruk. Aku sangat takut bertemu dengannya.
“...Apa semua ini akan membaik?” aku menghela napas panjang, merasa sesak oleh ketidakpastian ini.
“--Hhii...”
Aku menyadari Sari, yang duduk di sebelahku, sedang menatapku dengan saksama. Sangat menyebalkan. Rasanya aku ingin menghancurkan tatapan itu. Tapi aku memilih untuk mengabaikannya. Dia bukan lagi bagian penting dalam hidupku. Andi, tolong jaga dia baik-baik, ya? Kamu orang yang bisa diandalkan, tidak sepertiku.
Tanpa sadar, kelas hampir usai. Aku mencoba memaksakan diri fokus pada pelajaran di menit-menit terakhir.
Sampai bel pulang berbunyi, aku tidak mengucapkan sepatah kata pun pada Sari. Dia tampaknya masih kesal karena kejadian pagi tadi dan tidak mengajakku bicara. Aku harap hubungan seperti ini bisa bertahan selamanya. Tapi mengingat otaknya yang agak "unik", mungkin besok dia sudah lupa kalau kami sedang perang dingin.
Aku membereskan buku ke dalam tas, berniat pulang untuk main game. Namun saat di koridor, sebuah suara memanggilku.
“Ah! Untung aku datang tepat waktu! Aku baru saja mau menemui adik kelas kesayanganku!”
Itu Tina. Saat ini aku sedang tidak percaya pada cewek, tapi di antara semuanya, gejala penolakanku terhadap Tina tergolong ringan.
“Rian, bisa ikut ke ruang OSIS sebentar? Ada yang perlu kita bicarakan!”
Ugh... aku malas. Aku mau pulang. “Maaf, Kak. Aku harus menjemput adikku yang sedang berada di luar kota...”
“Apa?! Rian dipenjara?!” Tina membalas dengan wajah kaget yang dibuat-buat.
“Iya... karena makanan yang aku masak rasanya tidak enak, makanya aku ditangkap...” jawabku asal-asalan dengan muka serius.
“Hah... apa seburuk itu sampai dipenjara?”
“Iya... aku bingung harus bagaimana sekarang...”
“Hmm... Tapi Rian yang asli ada di depanku hari ini, kan?”
“Iya, benar.”
Kami terdiam beberapa detik, saling menatap datar.
“Kenapa kamu bohong dengan muka seserius itu, hah?” tanya Tina akhirnya.
“Maaf.”
“Uhuhu, karena kamu minta maaf dengan tulus, aku maafkan!”
Cewek ini aneh sekali. Dia memaafkanku begitu saja padahal aku minta maaf dengan sangat tidak niat. Tapi ya sudahlah, sepertinya aku tidak bisa kabur. Sebagai bentuk tanggung jawab karena sudah berbohong, aku memutuskan mengikuti permintaannya.
Aku mengekor di belakang Ketua OSIS bertubuh mungil itu menuju ruangannya. Begitu pintu terbuka—
“...Kamu kelihatan sedang dalam suasana hati yang bagus ya, Rian!”
Laras menyapaku dengan senyum anggunnya yang misterius.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰