Kirana Yudhoyono, aktris kelas bawah yang hampir kehilangan segalanya, tak sengaja menyelamatkan seorang anak trauma bernama Kael dari insiden berbahaya di sebuah gudang bar. Tindakannya menarik perhatian ayah Kael—Bryan Santoso, CEO SantoPrime yang dingin dan berkuasa. Terpesona oleh kedekatan Kirana dengan putranya, Bryan menawarkan balas budi yang tak masuk akal: pernikahan kontrak.
"Aku menyelamatkan putramu bukan untuk menikahimu, Tuan Bryan!"
"Tapi Kael membutuhkanmu, dan aku... hanya menerima hubungan dengan pernikahan sebagai syaratnya."
*saya baru mencoba untuk menulis genre seperti ini, semoga anda sekalian menyukainya ☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demene156, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 TAWARAN YANG MENGGODA
Bryan Santoso sepertinya sedang berada di bawah naungan keberuntungan malam ini.
Karena waktu sudah larut, toilet wanita itu tampak sepi. Tidak ada seorang pun selain dirinya di dalam.
Begitu ia melangkah masuk, pandangannya langsung tertuju pada Kirana Yudhoyono, yang tampak mabuk berat.
Wanita itu duduk di lantai dingin, menyandarkan punggungnya ke pintu salah satu bilik dengan lemas.
Kondisi Kirana benar-benar berantakan. Sepatunya sudah terlepas dan berserakan, begitu pula seluruh isi tas tangannya. Rambut panjangnya yang sebelumnya tertata rapi kini terurai, menutupi sebagian wajahnya yang memerah karena alkohol.
Penampilan Kirana kini jauh berbeda dari kesan sempurna saat ia meninggalkan rumah tadi.
Bryan menatapnya dengan pancaran kasih sayang yang tulus. Perlahan, dengan tenang, ia mengambil tas Kirana dan mulai mengumpulkan barang-barang yang berserakan. Setelah tas rapi, ia mengambil sepatunya dan merangkul pinggang Kirana untuk membantunya berdiri.
Namun tepat saat Bryan hendak menggendongnya, Kirana bereaksi cepat. Tangannya mencengkeram pintu bilik dengan kuat, menolak lepas.
Wajahnya dipenuhi ekspresi panik, seolah kehilangan kesadaran normalnya.
"Kau… siapa kau sebenarnya?" suaranya serak.
"Bryan. Bryan Santoso," jawab Bryan tenang.
"Bryan… Santoso…" Kirana terpesona sebentar, lalu tiba-tiba berteriak, "Kau pembohong! Apa kau pikir aku ini bodoh, hah?! Ini toilet wanita! Mana mungkin Bryan Santoso ada di sini!"
Bryan tertegun sejenak.
'Apakah gadis ini benar-benar mabuk berat, atau pura-pura saja?' pikirnya.
Ternyata Kirana masih memiliki sisa akal sehat untuk menyadari lingkungannya.
"Aku sama sekali tidak berbohong padamu, Kirana," ujar Bryan sabar.
"Pembohong… Aku tidak akan pergi… Aku tidak mau pergi bersamamu…" Kirana tampak seperti landak kecil yang ketakutan, sangat defensif terhadap Bryan.
Karena Kirana menolak beranjak, Bryan meletakkan kembali barang-barangnya di lantai dan mencoba membujuknya lebih lembut.
"Lalu, apa yang harus kulakukan agar kau mau percaya padaku?" tanya Bryan.
"Tunjukkan kartu identitasmu sekarang!" perintah Kirana, nada bicaranya tegas seperti polisi memeriksa pengemudi mabuk.
Bibir Bryan melengkung membentuk senyum tipis. Ia mengeluarkan dompet kulitnya dan menyerahkan kartu identitas resmi kepada Kirana.
Kirana memegang kartu itu dengan tangan gemetar, matanya hampir menempel di permukaannya, membaca tulisan dengan teliti.
"Br… yan… San… to… so… jadi kau benar-benar Bryan Santoso…"
Bryan mengangguk pelan.
"Sekarang, bisakah kita pergi dari sini?" tanyanya sekali lagi.
"Tidak! Aku tidak akan pergi! Aku tetap tidak mau ikut! Kau Bos Besar Iblis Agung… aku tidak akan pergi, tidak akan pergi, tidak akan pergi bersamamu…" Kirana semakin gelisah, terus meracau tanpa henti.
Wajah Bryan memerah, campur malu dan heran. Jadi begitulah cara Kirana memandang dirinya selama ini. Selama ini Bryan menilai dirinya telah memperlakukan Kirana dengan hangat dan penuh perhatian.
Tepat saat keduanya terjebak dalam kebuntuan itu, terdengar suara langkah kaki dari arah luar toilet, mendekat ke arah mereka.
"Kirana… Kirana, apakah kau ada di dalam sana?" suara perempuan terdengar sangat familiar.
Tubuh Bryan seketika membeku. Risiko besar langsung terlintas di pikirannya—jika ada yang melihatnya berada di dalam toilet wanita, apalagi dalam kondisi seperti ini, reputasinya bisa hancur seketika.
Langkah kaki itu terdengar makin dekat, bayangan orang mulai terlihat dari celah bawah pintu.
Bryan mengumpat pelan di hatinya. Dengan sigap, ia meraih tas dan sepatu Kirana, lalu menarik tubuh wanita itu masuk ke dalam bilik yang sebelumnya ditahan Kirana.
Orang di luar ternyata adalah Larasati, penulis skenario film. Kirana sebagai pendatang baru belum mengenal banyak orang, dan Larasati satu-satunya yang sadar Kirana tak kembali ke aula.
Terkejut diseret masuk ke bilik sempit, Kirana meronta keras, suara gaduhnya terdengar Larasati dari luar.
"Kirana, itu kamu yang di dalam?" tanya Larasati curiga.
Mendengar langkah makin dekat, wajah Bryan langsung menggelap. Tepat saat kritis itu, Kirana menggigit tangan Bryan. Nyeri tajam membuat alis Bryan mengerut.
Ekspresinya seolah kesabarannya hanya tinggal sehelai benang. Pernahkah ia mengalami situasi sesulit ini sebelumnya?
Setelah menarik napas, Bryan menenangkan dirinya dan berkata dengan suara rendah dan serak, "Jangan buru-buru… akan kuberikan semuanya padamu sekarang juga…"
Larasati yang hendak mengetuk pintu tiba-tiba terdiam. Otaknya mulai menyadari kemungkinan situasi "panas" di dalam. Wajahnya memerah, lalu ia cepat-cepat pergi menjauh.
Siapa yang menyangka bahwa dia justru akan bertemu dengan sepasang kekasih yang sedang asyik 'berbisnis' di dalam toilet wanita seperti itu?
"Ini adalah sebuah hotel mewah, mengapa mereka tidak memesan kamar saja jika mereka memang ingin melakukannya? Sungguh sangat sulit untuk bisa memahami preferensi aneh dari beberapa orang kaya zaman sekarang!" gerutu Larasati di dalam hatinya saat ia berjalan menjauh.
Mendengar Larasati menjauh, Bryan menghela napas lega. Ia duduk di penutup toilet, mulai melonggarkan dasi yang terasa mencekik. Kirana, yang masih mengamuk, kini duduk di pangkuannya.
"Berhentilah berisik seperti itu!" suara Bryan terdengar dingin dan tegas.
Kirana tersentak, mulai cegukan, wajah memerah—merasa diperlakukan tidak adil.
Bryan menepuk punggung Kirana lembut sambil menenangkan, "Maafkan aku, aku sama sekali tidak bermaksud menakutimu tadi."
Namun Kirana semakin sedih, air mata mengalir deras. Bryan merasa tak berdaya menghadapi tangisannya.
'Mengapa gadis ini lebih sulit diurus daripada Kael?' pikirnya.
Tiba-tiba Kirana meninju udara ke arah Bryan.
"Bangsat! Mereka semua pikir mereka itu sebenarnya siapa, hah?!"
Beruntung ia cepat menghindar.
"Seorang perempuan terhormat tidak seharusnya mengucapkan hal vulgar seperti itu," ujar Bryan sambil mengerutkan kening.
'Meski begitu, dia tetap terlihat imut saat mengumpat,' batinnya geli.
Kirana, meski mabuk, mulai menyadari Bryan tidak bermaksud jahat. Ia menurunkan kewaspadaannya, tetap di pangkuan Bryan, hanya meracau mabuk.
"Wanita tua ini… kalau bukan karena aku peduli wajahku… aku bisa cari orang lebih kuat sebagai sandaran… kalian pikir bisa menekanku sesuka hati…" ucap Kirana.
Bryan mengangkat alis, menantang. Ia meraih tangan Kirana, menempelkannya di dadanya.
"Orang terkuat di ibu kota sudah ada di sini, tepat di depan matamu. Masih ingin cari sandaran lain?"
Kirana menepuk dadanya asal-asalan, berseru, "Nggak kuat! Sama sekali nggak terasa kuat! Ini payah!"
Bagi Bryan, tidak mungkin ada seorang pria sejati mana pun yang akan bisa menerima penghinaan seperti ini dengan tenang.
Dan yang membuat situasinya menjadi jauh lebih buruk lagi adalah tangan Kirana saat ini sedang menyentuh sebuah bagian sensitif di tubuhnya yang seharusnya tidak boleh disentuh sembarang orang, apalagi wanita.
Kirana bahkan dengan polosnya menepuk-nepuk bagian itu di sana.
"Hm, benda apa sih ini… benar-benar sangat menyebalkan sekali… benda ini terus-menerus menusukku…," ujar Kirana dengan nada suara yang dipenuhi dengan rasa jijik dan tidak nyaman.
Ekspresi wajah Bryan seketika berubah menjadi sangat buruk. Ia menyadari jika membiarkan ini terus, situasi bisa lepas kendali.
Merasa tidak mendengarkan suara langkah kaki dan keberadaan orang lain selain mereka berdua di toilet itu, Bryan membuka pintu bilik dan membawa Kirana keluar secepat mungkin.
Bryan sudah membawa Kirana keluar dari toilet, berjalan menyusuri lorong hotel. Masalah baru muncul karena Kirana masih terpengaruh alkohol. Gerakannya tak normal; melangkah satu kali, oleng lagi.
"Lantainya… goyah… langitnya ikut goyah… siapa yang nyalain efek gempa, hah…" gumamnya serak, diakhiri tawa kecil yang terdengar hampa.
"Kamu yang goyah," balas Bryan datar, menahan tubuhnya yang oleng.
Kirana menatapnya lama. Senyumannya muncul tiba-tiba, tapi tetap terasa kosong.
"Kamu tahu nggak… pria tua itu… bilang aku harus berhenti… Katanya aku bawa malu padanya… emang dia siapa? Dia… nggak punya hak… ngatur hidupku… Aku berjuang sendiri… capek… tahu…" Suaranya naik turun, dari marah ke sedih, sesaat terdengar geli sendiri.
Langkahnya terseret lagi. Nyaris jatuh kalau Bryan tak segera menahan pinggangnya.
Bryan menghela napas pelan. "Kirana, jalan yang benar."
"Heh… aku bisa jalan…" jawab Kirana lirih, mencoba melangkah sendiri, tapi kakinya tersandung. Tangannya refleks mencengkeram kerah jas Bryan.
"Hmm…" Kirana menatap wajahnya lama. Ekspresinya berubah dari bingung… menjadi sendu… lalu tiba-tiba menatapnya dengan mata berbinar seolah ada ide nakal. "Kamu mirip seseorang… tapi bukan dia…" bisiknya pelan.
Ia mendadak bersenandung acak, nada naik turun, lirik tak jelas.
"Ta-ra-ra… cinta itu… eh… apa ya… liriknya…" Ia terkikik kecil. "Pokoknya lagunya sedih… tapi nadanya bahagia… aneh ya… kayak hidup…"
Bryan berhenti. Kesabarannya mulai menipis. "Kita tidak akan sampai ke mobil kalau terus seperti ini."
"Aku sampai kok…" bantah Kirana, menepuk dada Bryan lemah. "Lihat? Aku sudah sampai… di… tembok hangat."
"Itu aku," sahut Bryan datar.
"Oh." Kirana berkedip, senyum geli muncul sebentar. "Pantes temboknya wangi…"
Bryan memejamkan mata sebentar, menahan diri. "Baik. Cukup."
Sebelum Kirana sempat bereaksi, tubuhnya tiba-tiba terangkat dari lantai.
"Hah—?!"
Ia membeku, sadar kini berada dalam gendongan ala putri kerajaan. Wajahnya memerah seketika, tapi matanya tetap ingin menatap Bryan, campur malu dan heran.
"T-tunggu… tunggu…" bisiknya panik, menunduk agar tak terlihat orang. "Turunin aku… aku bisa… sendiri…"
"Tidak. Kamu mabuk," ujar Bryan datar, tanpa melepas pelukan.
"Aku nggak mabuk…" bantah Kirana lirih, suara tercekat.
"Turunkan aku!" ucapnya pelan, tapi lengannya justru melingkar di leher Bryan agar tidak jatuh.
Kirana terdiam beberapa detik, wajah merah, mulai mengerti posisinya. "Aku… bisa sendiri… beneran…"
"Kamu punya keseimbangan nol persen saat ini," Bryan menegaskan, tetap berjalan mantap.
"Itu fitnah…" protes Kirana, tapi tangannya tetap tanpa sadar melingkar di lehernya.
Ia menatap wajah Bryan dari jarak dekat, bibirnya sedikit bergetar. "Kamu… dingin tapi hangat ya…"
"Itu tidak masuk akal," balas Bryan.
"Kamu juga tidak," gumam Kirana, menutup mata sejenak, lalu tersenyum kecil sambil menahan pipi merahnya. "Tapi… nggak apa-apa."
Bryan menahan napas, tapi tak menanggapi. Ia terus berjalan, seolah menggendong Kirana adalah rutinitas harian.
Begitu sampai parkiran bawah tanah, pintu penumpang depan mobil terbuka.
"Suitt—🎶"
Arion keluar dengan santai, senyum nakal di wajahnya. "Wah, adegan drama malam hari. Aku datang tepat di timing yang sangat tepat."
Kirana menunduk, pipi merah terbakar malu, matanya menatap Bryan dengan campuran cemas dan geli.
"Kenapa kamu tiba-tiba ada di sini?" Bryan mengerutkan kening, heran dengan kehadiran adiknya yang muncul begitu saja.
"Tadi aku sengaja pergi ke rumah Abang untuk mencari Abang, tapi ternyata kau dan Kael tidak ada di sana. Jadi aku pun menelepon Pak Arman dan memutuskan untuk datang mencari kalian berdua ke sini!" jawab Arion santai.
Arion mengamati kondisi pakaian Bryan dan Kirana yang tampak cukup berantakan. Wajahnya terlihat persis seperti tukang gosip profesional.
"Sebenarnya dari mana saja Abang menjemputnya tadi? Kenapa kalian lama sekali di dalam sana? Lihat Kael, anak ini hampir berubah jadi patung karena terlalu lama menunggu kalian berdua!"
Kael Santoso menempelkan tubuh kecilnya ke jendela kaca mobil begitu melihat Kirana sudah kembali.
Bryan mengabaikan ocehan adiknya, memberikan perintah tegas.
"Buka!" ujar Bryan singkat, untuk pintu penumpang belakang dibukakan.
Arion langsung membukakan pintu, dan Bryan membantu Kirana masuk ke dalam mobil.
Bryan awalnya merasa sedikit khawatir jika Kirana nantinya akan menjadi pemabuk yang sangat berisik di dalam mobil seperti sebelumnya. Namun siapa sangka, ketika Kael mendekat, Kirana sama sekali tidak menunjukkan reaksi berlebihan.
Ia hanya menatap Kael sejenak, lalu memangku sambil memeluk tubuh mungil anak itu dengan erat, seperti sedang memeluk bantal guling yang sangat nyaman.
Bryan bukan tipe orang yang suka menyebarkan atau mendengar gosip tak jelas. Ia pun perlahan mulai melepas dasi dan jasnya karena merasa gerah.
"Apa saja sebenarnya yang terjadi di acara tadi hari ini?" tanya Bryan dengan nada serius.
Mendengar pertanyaan itu, Arion langsung bersemangat menceritakan detailnya, mengingat keahliannya dalam investigasi dan pencarian informasi.
"Menurut sumber terpercaya yang aku dapatkan, semuanya berjalan lancar dan sukses besar," ujar Arion.
"Abang bahkan sengaja menggunakan pengaruh Arthur untuk membantunya, jadi Kirana berhasil memukau seluruh hadirin. Media pun memberikan respons sangat positif terhadap penampilannya!" lanjutnya dengan bangga.
"Lalu, siapa saja kira-kira orang yang sempat dia temui malam ini?" Bryan mengajukan pertanyaan lain, terdengar lebih mendesak.
Arion mencoba mengingat semua informasi yang telah dikumpulkannya. "Selain para pemain dan seluruh kru film, ada Hendrawan Yudhoyono yang datang, dan juga ada…"
Arion menatap sejenak wajah kakaknya, menelan ludah sebelum melanjutkan.
"Aditya Pratama… kurasa Kirana mabuk berat seperti ini karena tadi sempat melihat mantan pacarnya itu. Sekarang dia justru menjalin hubungan dengan musuh bebuyutannya sendiri, Aruna Yudhoyono. Jadi mungkin perasaan Kirana saat ini sangat kacau…"
Meskipun Arion berbicara hati-hati, wajah Bryan langsung memerah menahan amarah tersembunyi. Sosoknya terlihat sangat menakutkan bagi siapa pun yang melihat.
"Uhuk, memang sulit untuk tidak menyalahkannya dalam situasi seperti ini," ujar Arion.
"Saat Kirana masih di luar negeri, hampir semua hubungan yang pernah dimilikinya sifatnya singkat dan sementara," lanjutnya.
"Setelah hubungan itu berakhir, dia biasanya langsung pergi tanpa menoleh lagi," tambah Arion.
"Dia memang keren, tapi Aditya Pratama seharusnya jadi satu-satunya pria yang pernah dicintainya dengan tulus," jelas Arion hati-hati.
Ia segera menyadari sebaiknya berhenti bicara. Setelah penjelasannya, ekspresi Bryan justru semakin dingin dan menakutkan.
'Kalian saja belum resmi berpacaran, lalu apa hakmu untuk terlihat ingin menghabisi semua mantan pacarnya?' batin Arion.
Mereka masuk ke mobil. Bryan duduk di belakang bersama Kirana yang masih memangku Kael di captain seat, sementara Arion duduk di depan bersama supir pribadi Bryan, Pak Arman.
"Silahkan jalan, Pak Arman. Pulang," ujar Arion, merasa tak perlu berlama-lama.
Pak Arman langsung menjalankan perintah. Mobil sudah menyala, tinggal keluar parkiran hotel dan masuk ke jalan raya.
Perjalanan menyusuri jalanan Jakarta yang mulai sepi karena waktu sudah di atas jam sepuluh malam, hampir mendekati jam sebelas.
Awalnya, tak ada percakapan. Namun Arion yang melirik ke belakang melihat wajah Abangnya yang bad mood merasa perlu menghibur.
"Bang, meski aku tahu Abang berencana menunggu sampai dia jatuh cinta sendiri, tapi sebaiknya segera ajak dia bergabung ke Glory World — rasanya nggak nyaman melihat dia masih bekerja di bawah Starlight Entertainment! Hidupnya cukup sengsara di sana bersama Aruna," gerutu Arion.
Bryan melirik sejenak ke Kirana yang masih memeluk Kael erat.
"Sepertinya sekarang belum waktu yang tepat," jawab Bryan tenang.
Arion hanya bisa menghela napas. Ia benar-benar tak tahu apa rencana kakaknya. Ia juga sadar tak bisa memaksa Kirana pindah ke agensinya; Bryan pasti akan memberikan pelajaran keras yang menyiksa setahun penuh.
Bagi Arion dan banyak orang, Bryan adalah Bos Besar Iblis Agung yang sesungguhnya.
Setelah perjalanan yang tak terlalu lama, mereka sampai di kediaman mewah Bryan Santoso.
Namun masalah baru muncul begitu mereka keluar dari mobil.
Ketika mata Kirana yang setengah sadar melihat SUV mewah perak-putih itu, ia langsung menghentikan langkah, matanya berbinar penuh kekaguman.
Lalu tiba-tiba saja Kirana menerjang ke arah mobil itu, seolah lebih baik mati daripada dijauhkan darinya.
Ekspresi wajahnya tampak persis seperti gadis remaja yang baru saja menemukan pria impiannya.
"Oh! Si Gagah Putih Kecilku yang sangat tampan! Kekasihku tersayang!" seru Kirana sambil memeluk kap mesin mobil itu.
Ekspresi wajah Bryan berubah berkali-kali, seolah berbagai emosi kompleks berkelebat di wajahnya.
Ia merasa sudah bersusah payah masuk ke toilet wanita hanya demi menjemput Kirana, tapi wanita itu sama sekali tidak memperlakukannya dengan baik.
Dulu Kirana menanggapinya dengan takut saat Bryan mencoba melamar secara halus, tapi sekarang dia tampak bersemangat melamar… mobil?
"Hahaha… Bang Bryan, Abang nggak mungkin cemburu berat sama mobil kan?" tanya Arion di sampingnya, jelas menikmati penderitaan batin kakaknya.
Namun Arion baru menyadari, ada yang bahkan lebih cemburu daripada Bryan malam ini—Kael Santoso.
Melihat Kirana memanggil sayang ke benda mati, Kael langsung mengerucutkan bibir, matanya berkaca-kaca seolah hampir menangis.
Sementara itu, biang kerok drama ini, Kirana, masih mengelus-elus bodi Rolls-Royce dengan ekspresi tergila-gila.
"Sayangku, kamu benar-benar keren… desainmu elegan banget… aku ingin sekali menikah denganmu sekarang juga!" ujarnya penuh cinta.
Buku jari Bryan terdengar berderak saat mengepal. Ia ingin melampiaskan frustrasi ini dengan sedikit kekerasan.
"Pak Arman, tolong ambilkan palu atau apapun yang bisa hancurkan mobil ini!" perintah Bryan kesal.
Arion langsung berhenti tertawa.
"Jangan, Bang! Kumohon tenang dulu! Mobil ini harganya tiga puluh miliar! Kalau Abang sudah tidak menginginkannya, serahkan saja padaku," ujar Arion sambil mencoba menghalau kakaknya.
"Aku janji akan membawanya pergi jauh, dan Abang tidak akan pernah melihatnya lagi!" tambahnya.
Baru selesai bicara, Arion terkejut ketika Kirana, yang terlihat ringkih, tiba-tiba mengangkatnya ke pundak seperti karung beras.
"Siapa berani menyentuh Si Putih Kecilku ini?!" Wajah Kirana memancarkan aura membunuh, siap menantang langit dan bumi demi mobil itu.
Arion yang kaget memeluk pinggang Kirana erat-erat. "Prajurit perkasa, kumohon ampun! Aku cuma bercanda, suer!"
Kirana menjatuhkan Arion dengan kasar, langsung masuk ke mobil dan duduk di kursi pengemudi, mengusir Pak Arman dengan tatapan garang. Pak Arman pun mundur dengan takut.
Kirana duduk santai, memeluk lingkar kemudi dengan posesif.
"Putih Kecil, jangan takut… aku ada di sini bersamamu."
"Tuan Bryan, ini… bagaimana?" tanya Pak Arman linglung.
Bryan memijat pelipisnya yang berdenyut, lalu melambaikan tangan agar Pak Arman mundur.
Ia menoleh ke putranya. "Kael, sudah sangat malam. Masuklah dan tidurlah dulu."
Kael yang masih kecewa karena perhatian Kirana malam ini digeser, menggeleng keras seperti boneka pegas.
Bryan tetap tenang, nada datar namun berwibawa. "Kael, kau harus mulai mengerti. Seorang perempuan biasanya tidak suka jika yang paling mereka sayangi melihat sisi dirinya yang paling kacau dan berantakan."
'Hm… orang-orang yang paling mereka sayangi…'
Kael merenungkan kata-kata itu beberapa detik, lalu patuh berbalik dan masuk ke rumah.
Arion membelalakkan mata. "Bang, cara Abang itu berlebihan! Sampai tega berbohong pada anak kecil demi kepentingan pribadi!"
"Masih ada hal lain yang ingin kau katakan?" tanya Bryan mengancam.
"Tentu. Aku cuma ingin Abang sadar betapa silau dan tidak nyamannya perasaanku jadi obat nyamuk di antara kalian!" ujar Arion.
Sedetik kemudian, ia merasakan hawa dingin menusuk dari saudara laki-lakinya.
"Baiklah, aku pergi sekarang…" Arion melangkah, lalu menoleh ke belakang.
'Seorang pria tampan, seorang wanita mabuk, dan mobil mewah di tempat sepi. Jangan bilang kalau sesuatu yang "panas" mungkin terjadi di sini…' batin Arion nakal.
Bryan melangkah ke sisi mobil, membuka pintu penumpang depan. Kirana terkejut melihatnya tiba-tiba masuk dan duduk di kursi itu.
"Apa… apa sebenarnya yang kau inginkan di sini?" tanya Kirana, mencengkeram lingkar kemudi erat seolah melindungi miliknya sendiri.
Bryan menyandarkan punggungnya di kursi, tatapan matanya gelap dan intens.
Dia hanya mengenakan kemeja putih polos; kerahnya terasa sempit dan mencekik, sehingga dengan gerakan kasar Bryan melepaskan kancing pertama, kemudian kancing kedua, dan akhirnya kancing ketiga pun terbuka.
Kirana menatap setiap gerakan Bryan dengan sangat saksama. Alkoholnya sudah mulai memudar, pikirannya lebih jernih, dan ia bisa melihat dengan jelas apa yang dilakukan pria di sebelahnya.
'Astaga… bagaimana bisa seseorang terlihat begitu memukau hanya dengan melepas beberapa kancing… Rasanya tubuhku otomatis menahan napas,' batin Kirana.
Ia terpukau melihat sosok pria tampan di depannya, dadanya kekar dan maskulin terlihat jelas. Sejenak, Kirana melupakan Si Putih Kecil yang tadinya sangat ia cintai.
'Aku tidak bisa menahan detak jantungku sendiri. Setiap gerakannya… setiap otot yang terlihat… entah kenapa ingin menutup mata, tapi juga ingin terus menatap,' pikir Kirana.
Bryan tampak sama sekali tidak menyadari tatapan Kirana. Ia sedang berusaha menekan rasa cemburu yang konyol terhadap benda mati seperti mobil.
Ia mengambil sebatang rokok, menyalakannya, menghisap dalam-dalam, dan menghembuskan asap putih ke udara.
Kirana tak tahan menahan pandangan. Matanya menatap pria itu tanpa berkedip—pergerakan kecil pada jakunnya, batang rokok yang terselip di bibir tipisnya, dan kepulan asap yang keluar dari mulutnya.
'Astaga… kenapa batang itu terlihat begitu menggoda? Bibirnya… begitu tipis… cara menghela asap… rasanya aku ingin…' batin Kirana.
Bryan merasakan tatapan tajam dan lapar itu.
'Apa aku sedang ditatap seperti itu? Aduh, jangan-jangan dia… ingin aku…' pikir Bryan.
Ia menoleh, melihat ekspresi "lapar" di wajah Kirana.
'Dia memang ingin aku…’ batin Bryan.
Namun, Bryan segera sadar. Bukan dirinya yang diinginkan wanita itu—tapi batang rokoknya.
'Tunggu—oh, bukan aku… Astaga, itu rokokku!' batin Bryan.
Kirana benar-benar menginginkan batang rokok itu.
Arion memang pandai mengumpulkan informasi rahasia. Ia tahu bahwa Kirana sebenarnya sedang berusaha keras berhenti merokok.
Bryan pun langsung mengerti: Kirana sedang mengalami gejala kecanduan akibat stres.
Rasa frustrasi Bryan memuncak. Malam ini, mantan kekasihnya, mobil mewah, dan sekarang rokok—semua berhasil mengalahkannya.
Sejak pertama melihat Kirana, Bryan ingin wanita itu hanya untuk dirinya sendiri. Namun ia selalu mendekati dengan pelan, menjaga perasaan Kirana agar tidak tertekan.
Di sisi lain, Kirana selalu menetapkan batas jelas di antara mereka.
'Bahkan wanita ini lebih memilih memeluk kaki orang lain daripada menjadi istriku,' batin Bryan kesal.
Orang bilang, jika mantan tak bisa dilupakan, kekasih baru tak cukup baik.
'Apakah itu berarti aku tak cukup baik bagi Kirana? Dia mabuk berat hanya karena teringat mantan,' batin Bryan.
Bryan terus menghisap rokok, pikirannya melayang. Cahaya kemerahan ujung rokok memantul di matanya yang gelap.
Dengan suara rendah dan dalam, Bryan bertanya, "Apakah kau menginginkan rokok ini?"
Kirana mengangguk tanpa ragu; sulit diketahui apakah ia tertarik pada rokok atau pria di sampingnya.
Bryan menjentikkan abu, menghisap rokok lagi di bawah tatapan penuh damba Kirana.
Sebelum Kirana sempat menyadari, bibir Bryan—aroma tembakaunya kuat—menempel erat di bibir Kirana.
Mata Kirana terbelalak.
'Apa… apa yang baru saja terjadi?! Bibirnya… begitu dekat, begitu panas… Detik ini tubuhku tegang, tapi ada sensasi aneh yang sulit dijelaskan…' batin Kirana.
Asap rokok yang dihembus Bryan masuk ke mulutnya.
'Bibirnya… rasa rokoknya… kuat… tapi aku tak bisa menarik diri…' pikir Kirana.
Batang rokok Bryan tinggal setengah. Ia menghisap lagi, wajah muram namun intens.
Air mata mulai berlinang di sudut mata Kirana karena batuk, tapi bagi Bryan, wanita di sampingnya tampak lebih menggoda dari sebelumnya.
Bryan bertanya lagi, "Apakah kau masih menginginkan yang lainnya lagi?"
Bersambung…