"Kamu aman di sini, Aura. Dunia luar itu jahat, hanya saya yang tidak akan pernah menyakitimu."
Kalimat itu adalah mantra sekaligus kutukan bagi Aura. Di usia 21 tahun, Arfan seharusnya menjadi pelindung, tapi baginya, Arfan adalah bayangan yang menelan kebebasannya. Setiap langkah Aura diawasi, setiap napasnya harus berizin.
Aura terjebak di antara dua pilihan, mencintai pria yang rela mati demi menjaganya, atau membenci pria yang perlahan membunuh jiwanya dalam sangkar emas bernama kasih sayang.
Ketika rahasia di balik sikap posesif Arfan mulai terkuak, sanggupkah Aura melarikan diri? Atau justru ia akan selamanya terkunci dalam Penjara Cinta yang ia bangun sendiri?
"Sebab bagiku, kehilanganmu adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa kumaafkan." — Arfan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patriciaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 - Operasi Lancar
Malam semakin larut, membuat lorong rumah sakit terasa berkali-kali lipat lebih panjang dan sunyi. Cahaya lampu neon yang putih pucat memantul di atas lantai marmer yang dingin, memberikan kesan kaku sekaligus mencekam. Tidak ada lagi suara langkah kaki orang berlalu-lalang, yang tersisa hanyalah keheningan yang menyesakkan dada.
Dokter berpakaian bedah yang kini sedang berdiri di depan ruang operasi nampak sangat lelah. Maskernya ia turunkan ke bawah dagu, memperlihatkan guratan keletihan setelah berjam-jam bertaruh nyawa di dalam sana. Dokter itu menarik napas panjang setelah mendengar banyak pertanyaan dari Aura, ia sempat terdiam beberapa detik yang terasa seperti satu abad bagi Aura.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin—"
"Enggak kan, Dok? Enggak!" potong Aura cepat, ia menggeleng kuat-kuat karena takut mendengar kalimat selanjutnya adalah kata perpisahan. "Kak Arfan pasti selamat! Dokter jangan bohong!"
"Aura, tenang," ucap Bima. Suaranya sangat lembut, tangan besarnya memegang bahu Aura, berusaha menahan adiknya agar tidak makin histeris. Bima kemudian menatap Dokter dengan tatapan tegas namun penuh harap. "Lanjutkan, Dok."
Dokter itu menatap kedua remaja di depannya, lalu sebuah senyuman tipis muncul di wajah lelahnya.
"Alhamdulillah, operasinya berjalan lancar. Pasien sudah melewati masa kritisnya," ucap Dokter itu. "Namun, ia masih harus masuk ruang ICU untuk mendapatkan perawatan yang intensif karena luka-lukanya cukup parah."
"Alhamdulillah..." ucap Aura dan Bima hampir bersamaan.
Dokter ikut tersenyum bahagia melihat dua remaja tersebut. Tidak tau sudah berapa kalinya ia berhasil menyelamatkan nyawa tetapi ini semua atas izin Allah.
Aura langsung luruh ke lantai, bersujud syukur sambil terisak. Beban yang sedari tadi menghimpit paru-parunya seolah terangkat terbang. "Terima kasih banyak, Dok... terima kasih."
"Sama sama, sudah menjadi tugas saya," ucap Dokter lalu kembali masuk ke dalam ruang operasi.
Bima sendiri hanya bisa mematung. Ia membuang napas yang sejak tadi ia tahan, kepalanya mendongak ke langit-langit koridor. Ada rasa lega yang luar biasa, namun di sisi lain, batinnya kembali bergejolak.
Lo selamat, Fan. Lo selamat... tapi jangan harap semuanya bakal balik jadi baik-baik aja, batin Bima pahit.
Setelah Dokter itu pamit, koridor kembali sunyi. Namun kali ini, sunyinya tidak lagi mencekam. Bima menatap Aura yang masih menangis sesenggukan di lantai, lalu ia berjongkok di samping adiknya.
"Dah, jangan nangis terus. Jelek," ucap Bima ketus, tapi tangannya bergerak mengusap air mata di pipi Aura.
Pintu ruang kembali terbuka, memperlihatkan para suster membawa brankar Arfan menuju ruang ICU. Aura dan Bima ikut mengiringi perjalanan para suster dengan isak tangis Aura yang masih belum berhenti.
Saat memasuki ICU, Suster itu menahan mereka untuk masuk.
"Maaf sebaiknya kalian tunggu disini karena pasien harus banyak beristirahat dan kondisinya belum sepenuhnya pulih," perintah Suster.
"Tapi Sus, saya mohon.... saya ingin melihat bagaimana kondisi Kak Arfan sekarang. Walaupun dari jauh ga papa kok, saya janji saya tidak akan menganggu pasien," ucap Aura dengan penuh keyakinan membuat hati Suster tergerak untuk mengizinkannya.
"Baiklah, tetapi harus sesuai prosedur dan tidak boleh terlalu lama," pesan Suster lalu ia masuk ke dalam dan memberikan baju steril untuk Aura.
Aura menurut. Ia segera mengenakan baju steril berwarna hijau yang diberikan suster, lengkap dengan penutup kepala dan masker yang menutupi separuh wajahnya. Bima hanya bisa berdiri di luar, tangannya bersedekap, menatap punggung adiknya yang perlahan melangkah masuk ke ruangan dingin yang penuh dengan bunyi tit-tit mesin itu.
Langkah Aura mendadak berat saat ia berdiri di samping brankar Arfan.
Cowok itu... tidak seperti Arfan yang ia kenal. Wajahnya yang biasa penuh senyum kini tertutup masker oksigen. Kepalanya diperban, dan berbagai macam selang tampak menempel di tubuhnya yang nampak sangat ringkih.
Aura tidak berani menyentuh. Ia takut gerakan kecilnya akan menyakiti Arfan. Ia hanya bisa berdiri di sana, menatap dada Arfan yang naik-turun dengan bantuan mesin pernapasan.
"Kak Arfan..." bisik Aura pelan, suaranya teredam masker. "Terima kasih sudah bertahan. Cepat bangun ya, Kak. Aura tunggu..."
Di luar, Bima hanya bisa menatap pemandangan itu dari kaca kecil di pintu ICU. Rahangnya mengeras. Ia tidak tahu apa yang harus ia rasakan sekarang. Ia ingin sekali menyeret Aura keluar dari sana karena tidak tahan melihat adiknya sesedih itu, tapi di sisi lain, ia tahu ini adalah satu-satunya cara agar Aura bisa tenang.
Kenapa lo harus jadi pahlawan buat adik gue, Fan? batin Bima pahit. Kenapa lo harus bikin adik gue sesedih ini?.
Tangan Bima menggepal kuat, ia tidak suka keadaan seperti ini. Bima berharap Arfan segera sadar. Karena Bima tidak akan lagi mendengar tangisan Aura.
...****************...
Keesokan paginya, suasana di lapangan sekolah sudah sangat ramai. Teman-teman seangkatan mereka tampak sibuk merapikan seragam, ada yang sibuk memakai makeup, dan ada juga yang tertawa lebar tanpa beban. Sangat kontras dengan perasaan Mawar yang sedang kacau balau.
Mawar berkali-kali mengecek ponselnya, namun tidak ada satu pun pesan balasan dari Aura.
"War! Ayo baris! Kelas kita bentar lagi giliran difoto nih!" teriak salah satu teman sekelas mereka dari kejauhan.
Mawar hanya menoleh sekilas lalu kembali menatap gerbang. "Bentar lagi!" sahutnya parau.
Dalam hati, Mawar terus merutuk. Ia tahu apa yang menimpa Arfan pasti membuat Aura hancur, tapi melewatkan foto kenangan sekali seumur hidup ini juga akan menjadi penyesalan besar nantinya.
"Aura, please... jangan bikin aku foto cuman sama Zahra, tanpa kamu di samping aku," bisik Mawar lagi.
Tiba-tiba, sebuah motor sport berhenti di depan gerbang sekolah. Jantung Mawar berdegup kencang. Ia berharap itu Bima yang mengantar Aura, meskipun kemungkinannya sangat kecil.
Namun, yang turun dari motor itu bukanlah Aura, melainkan,
Zahra.
Kedatangan Zahra membuat Mawar merasa terkejut, "Zahra? Kok baru datang?" tanya Mawar dengan dahi berkerut. Ia mengembuskan napas lega sekaligus bingung. "Aku pikir kamu udah di dalam dari tadi. Kan kamu perwakilan pengurus year book, Zah."
Zahra tampak terengah-engah, wajahnya sedikit berkeringat namun senyumnya mengembang lebar melihat Mawar. "Maaf, Mawar! Tadi ada urusan mendadak banget yang nggak bisa aku tinggalin. Aku senang banget kamu masih nungguin aku di sini."
Zahra segera merangkul lengan Mawar, mengajak sahabatnya itu sedikit menjauh dari keramaian gerbang. Namun, sedetik kemudian Zahra menyadari sesuatu yang kurang. Ia celingukan mencari sosok satu lagi.
"Loh, Aura mana? Dia belum datang?" tanya Zahra.
Mawar seketika terdiam. Wajahnya yang tadi sempat lega kini kembali muram. Ia menatap Zahra dengan tatapan yang sulit diartikan, membuat senyum di wajah Zahra perlahan memudar.
"Zah... Aura kayaknya nggak bisa datang hari ini," lirih Mawar pelan.
Zahra membelalakkan matanya, "Hah? Nggak bisa datang? Ini kan foto kenangan angkatan kita, War! Sekali seumur hidup! Kok bisa?"
Mawar menarik napas panjang, ia bingung harus mulai menjelaskan dari mana. "Ada masalah besar, Zah. Kak Arfan... dia kecelakaan, dan Aura sekarang lagi nungguin dia di rumah sakit. Kondisinya kritis."
Mendengar nama Arfan, jantung Zahra seolah berhenti berdetak sesaat. Sebagai pengurus year book, ia tahu betapa pentingnya kehadiran setiap murid hari ini, tapi mendengar kabar tentang Arfan, ia tahu posisi Aura sekarang jauh lebih sulit daripada sekadar urusan foto sekolah.
Zahra tertegun, matanya menyipit menatap Mawar dengan penuh tanda tanya. "Tunggu... lo kok bisa tahu detail banget soal Kak Arfan sampai kritis segala, War?"
Bersambung......
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰