"Gue ga nyangka lo sanggup nyelesain 2 tantangan dari kita" Ardi menepuk pundak Daniel
"Gue penasaran gimana caranya si culun Rara bisa jatuh cinta sama lo?" Tanya David.
Daniel kemudian mendekati David dan berkata "lo harus pintar - pintar ngerayu bro.. bahkan gue ga nyangka kalo bisa dapat perawannya dia" dengan bangganya Daniel berkata demikian kepada para sahabatnya.
Eric yang duduk di atas meja langsung berdiri "gila! Yang bener lo bro! Lo ga bohongin kita kan?" David dan Ardi hanya melongo menatap Daniel tak percaya
"Emang selama ini gue pernah bohong apa" ucap Daniel menyakinkan mereka.
Ardi melemparkan kunci mobilnya ke meja David "karena lo menang taruhan, mulai sekarang mobil gue jadi hak milik lo. Surat-suratnya semua ada di dalam mobil" Ucap Ardi menambahkan.
Tanpa mereka sadari, Rara yang mendengarnya, tak kuasa menahan laju air matanya. Hatinya begitu sakit mengetahui bahwa dirinya hanya di jadikan taruhan. Kehamilannya di jadikan taruhan. Pandangan Rara mulai kabur, dan semakin lama semakin gelap. Hingga ia jatuh tak sadarkan diri
Baaaaaaappp
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LidyaMin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Masa Lalu
"Jadi apa maksud lo minta kita berdua datang?" Sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa Daniel menunggu jawaban dari Ardi.
"Dan kenapa lo ga nyuruh kita ngajak Eric?" David menimpali.
Ardi menatap kedua sahabatnya ini bergantian. Otaknya masih berpikir harus memulai dari mana untuk menceritakan semuanya agar mereka mempercayainya. Kedua tangannya saling bertautan. Sesekali tangannya dia sapukan ke celana bahannya karena berkeringat. Lalu kembali lagi bertautan.
Ardi menghela nafasnya kasar lalu mengetuk meja dengan jari jemarinya.
"Gue bingung mau mulai dari mana. Alasan gue minta kalian gak ngajak Eric karena ada kaitannya sama dia."
"Lo ada masalah sama Eric?" Daniel yang awalnya bersandar kemudian merubah posisi duduknya menjadi tegak. Dia penasaran ada masalah apa antara Ardi dan Eric yang tidak dia ketahui bersama David.
"Akan jadi masalah kalo Eric mengetahui ini." Ardi mendesah.
"Maksud lo apaan sih? Jangan muter-muter kaya komedi puter." David menjadi tidak sabar.
"Clara hamil." Ujar Ardi
"Gue di jebak." Sambungnya lagi.
"Buat apa lo pusing mikirin Clara hamil. Kan yang punya proyek Eric bukan elo. Jadi wajar aja Clara hamil an–." David menggantung kalimatnya sejenak dan kemudian menatap tajam Ardi.
Ardi memahami tatapan David yang seakan ingin membunuh dan kemudian mengangguk pasrah. Dia siap menerima apapun dari kedua sahabatnya ini. Bahkan dari Eric sekalipun.
"What the hell !!! Gila lo!!"
David memekik frustasi menaruh kedua tangannya di atas kepala. Kemudian berdiri dan menarik kerah baju Ardi. Tangannya sudah siap untuk memberikan bogem mentah ke wajah Ardi.
"Shit !"
Daniel sontak berdiri dan memeluk David dari belakang. Agar David tidak melayangkan pukulannya.
Ardi hanya pasrah. Dia diam di tempat duduknya. Dia siap kalau memang harus menerima pukulan David.
"David tenangin diri lo!" Daniel ikut panik karena suasana jadi memanas.
"Lepasin gue Dan. Gue gak nyangka dia nikam sahabat sendiri dengan cara menjijikkan seperti ini."
David terlihat begitu geram dan marah. Daniel berhasil melepaskan tangan David dari kerah baju Ardi dan mengajak David duduk kembali.
Setelah di rasa mulai tenang, Daniel meminta Ardi untuk kembali menceritakan kejadiannya.
"Gue minta lo jelasin semua!" Pinta Daniel
Ardi memperbaiki pakaiannya yang sempat kacau karena Daniel tadi. Dia mengusap wajahnya kasar.
"Gue dan Clara menghadiri sebuah event yang sama di sebuah hotel, yang di selenggarakan oleh salah satu perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan gue. Awalnya gue gak tau kalo Clara juga di undang. Gue tau setelah temen gue kasih tau kalo Clara jadi Brand Ambassador salah satu produk dari perusahaan temen gue. Singkat cerita gue ketemu Clara dan berbincang sebentar pas waktu ngambil minuman. Tanpa kita sadari ternyata minuman gue dan Clara sudah di kasih sesuatu. Gue sempat ingat setelah meminumnya badan gue gak enak. Kemudian ada seseorang yang ngajak gue buat istirahat di kamar. Besok paginya setelah gue bangun dan baru menyadari kalo gue gak sendirian di kamar itu. Lo bisa bayangin gimana terkejutnya gue saat tau sapa cewe yang sudah gue tidurin." Ardi memijit pelipisnya dan melihat ke arah David yang juga sedang menatapnya.
"Gue ga mungkin lakuin hal itu sama sahabat gue sendiri. Lo tau gimana bersalahnya gue sama Eric. Harusnya dia yang dapatin Clara secara utuh, tapi ini justru gue yang ngambil haknya dia. Gue tau gimana Eric sangat mencintai Clara." Tiba-tiba saja terdengar sedikit suara isakan dari Ardi.
Daniel menepuk pundak Ardi yang bergetar untuk menenangkannya. David tertunduk setelah mendengar kebenaran dari Ardi. Kepalanya seketika terasa pusing. Dia memikirkan bagaimana keadaan Eric dan juga nasib persahabatan mereka setelah Eric mengetahui ini semua.
"Apa yang bakal lo lakuin?" David mulai membuka suaranya
"Gue bakal nikahin Clara."
"Itu harus. Sekarang yang kita pikirin gimana memberitahu Eric tentang ini. Eric pasti kecewa sama lo. Tapi apapun konsekuensinya lo harus siap hadapin." Ujar Daniel.
"Lo udah tau siapa yang jebak lo berdua?"
David terdengar geram karena berani-beraninya orang itu merusak persahabatan mereka dengan cara kotor seperti ini.
"Sudah. Ternyata dia adalah rekan kerja Clara sesama model. Dia merasa tersaingi dengan Clara. Gue sudah mengurusnya. Dan gue pastiin karirnya di ambang kehancuran." Tandas Ardi.
"Bagus. Gue bisa tambahin biar hidupnya makin hancur." Geram David.
"Gue harap Eric bisa menerima ini dan gak benci sama gue." Desah Ardi sambil menatap langit-langit cafe. Daniel dan David pun hanya diam menanggapi apa yang di ucapkan oleh Ardi. Mereka mengaminkan apa yang barusan Ardi ucapkan.
Cukup lama mereka terdiam setelah menyelesaikan makan siang mereka. Sampai akhirnya David membicarakan hal lain.
"Ngomong-ngomong kalian bakalan datang acara reuni?" David membuka obrolan setelah cukup lama jeda di antara kalian.
"Gue ga tau. Tapi Rara bilang dia bakal datang. Karena Rosa yang memintanya untuk datang. Tapi gue gak akan biarin Rara pergi sendiri tanpa Gue."
"Sebenarnya gue malas banget ketemu Asti. Kemarin dia datang ke kantor gue dan masuk ruangan gue tanpa ijin. Bahkan sebelumnya dia pernah datang ngaku-ngaku gue kekasihnya sama sekretaris gue." Mengingat kejadian itu membuat Daniel menggelengkan kepalanya.
"Gila tu cewe. Ga bosan-bosannya ngejar lo."
"Reaksi Rara gimana?"
"Lo tau sendiri Rara gimana orangnya. Dia ga mau ngurus masalah yang begituan. Tapi gue tetap hati-hati takut dia ngapa-ngapain Rara."
"Lo harus jaga ekstra Rara dari cewe gila itu." David memperingatkan Daniel dan mendapat balasan anggukan.
"Hubungan lo gimana sama Rara? Kapan kalian menikah?" Ardi mulai memberanikan dirinya ikut dalam obrolan setelah lama terdiam.
Daniel mengangkat kedua bahunya dan meneguk minumannya.
"Gue sendiri gak tau kapan. Rara pasti marah kalo gue nyinggung masalah pernikahan. Padahal kapanpun dia mau gue selalu siap."
David memandang iba pada sahabatnya ini. Dia tau bagaimana perjuangan Daniel agar bisa memiliki hubungan seperti sekarang bersama Rara.
"Lo harus sabar. Gue yakin Rara punya alasan kuat kenapa belom pengen nikah. Lo harus hargai keputusan dia. Dan gue juga yakin lo berdua pasti berakhir dengan pernikahan."David memberikan keyakinan pada Daniel.
"Gue sendiri ga nyangka bakal mengalami nasib kaya gini. Gak lama lagi gue bakal jadi seorang ayah. Gue berharap pernikahan gue dengan Clara adalah memang takdir yang gak bisa gue hindari." Ucap Ardi dengan tatapan sendu.
Mereka bertiga kembali terdiam merenungi nasib hidup mereka dan tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
***
*Suasana sekolah yang ramai. Para siswa berkumpul di lapangan sekolah untuk menyaksikan tanding basket antar kelas. Kegiatan yang selalu di adakan setiap semesternya selepas ulangan semester usai.
Gadis berkepang 2 itu keluar dari perpustakaan. Ia lebih tertarik untuk menghabiskan waktu senggangnya di perpustakaan di banding ikut berteriak di lapangan dengan tidak jelas.
Saat ia melintasi koridor sekolah yang lumayan sepi, tiba - tiba saja ada seorang cowok yang menghampirinya. Tentu saja ia mengenal siapa cowok ini.
Dia adalah Daniel Mahendra. Tampan, putih, tubuhnya tinggi atletis, anak basket, most wanted di sekolah ini, anak tunggal dari salah satu pengusaha kaya raya di Jakarta. Banyak siswi-siswi yang ingin menjadi kekasihnya. Tapi sayangnya Rara sama sekali tidak tertarik.
Rara menatap Daniel kebingungan. Daniel semakin mendekatkan tubuhnya mencoba meraih Rara. Rara yang mulai merasa takut, memundurkan langkahnya. Saat Rara hendak berbalik, Daniel terlebih dulu menarik tangannya dan—
Cup
Rara seperti kena serangan jantung. Itu first kiss nya. Tanpa ijin darinya. Dan orang yang sudah mengambilnya ini adalah cowok brengsek di sekolahnya, Rara menggeram.
Daniel tersenyum dan kemudian berbalik hendak meninggalkan Rara. Tapi sebelum itu, Rara sudah lebih dulu menahan tangan Daniel dan—
Plak!!
Mata Daniel terbelalak kaget dan tidak percaya seorang cewek berani menamparnya di depan umum.
"Dasar cowok brengsek!!" Rara terlihat emosi sambil menangis dan berlari menuju kelasnya. Ia merasa sangat di lecehkan.
David, Ardi dan Eric yang melihat kejadian dari kejauhan hanya meringis
"ishhh kasian banget tu Daniel di tampar cewek cupu" ujar Ardi
" Pasti sakit banget itu" Eric menimpali memegang pipinya, seolah dia yang di tampar
" Lo juga kasih tantangan ga kira - kira bro" David menyenggol lengan Ardi
Dengan lesu Daniel mengampiri ketiga sahabatnya. Pipi kiri Daniel sangat merah. Sepertinya tenaga Rara sangat kuat.
"Puas lo semua! Untung yang liat cuma kalian. Pasti malu gue kalo semua anak - anak liat gue di tampar cewek itu" geram Daniel menatap satu - satu sahabatnya.
"Maaf deh bro. Kita juga ga nyangka dia berani kaya gitu" ujar Ardi. Yang lain hanya menggangguk mengiyakan
"Tapi lo masih punya 1 tantangan lagi bro" Daniel menolehkan kepalanya menatap Eric.
"Tantangan apa lagi? Jangan aneh-aneh ya" Daniel berkata sambil mengusap pipinya yang masih terasa perih
"Lo kan udah nyanggupin 2 tantangan tadi bro. Yang pertama misi selesai. Tinggal misi terakhir aja lagi" David mengedipkan matanya sambil tersenyum
" Tantangan yang kedua, gimana caranya lo bisa jadian sama tu cewek. Gue kasih waktu 1 bulan " Perkataan Ardi seketika membuat Daniel melototkan matanya
"Ardi lo gila apa?! Lo liat aja tadi gue sudah di tampar sama dia. Sekarang lo minta gue jadiin dia pacar?? Waaaahhh" Daniel mau gila rasanya sampai mengangkat tangannya ke atas
"Eeiitsss!! Ga ada penolakan! Misi komplit, mobil sport gue jadi milik lo. Deal?" Ardi mengulurkan tangannya dengan senyum liciknya
Daniel menghembuskan nafasnya kasar sambil mengusak rambutnya, dan pada akhirnya menerima uluran tangan Ardi "ok Deal."
"Nah gitu donk. Baru seru" ujar David. Eric dan Ardi tertawa. Sementara Daniel berpikir keras gimana caranya mendekati Rara dalam waktu sebulan.
Tit tit tit tit*
Bunyi alarm di atas meja seakan menyadarkan Daniel dari bayangan masa lalu yang tiba-tiba saja muncul di kepalanya.
Sepulang dari pertemuannya dengan Ardi dan David tadi, Daniel lebih banyak diam. Matanya terasa lelah hingga membuatnya tidur sesaat.
Dia melirik jam di tangannya. Sudah waktunya untuk pulang. Mengalihkan pandangannya pada Rara yang masih melakukan pekerjaannya membuat Daniel kembali merasa bersalah mengingat bayangan masa lalunya tadi.
Dia menghampiri Rara, mengelus lembut puncak kepalanya dan mengecupnya. Membuat Rara mendongakkan kepalanya.
"Sayang, waktunya pulang. Besok di lanjutkan."
"Baiklah." Rara mengangguk dan merapikan barang-barangnya bersiap untuk pulang.