Aku tak ingin seperti ibuku. Mencintai tanpa batas dan diluar logika bahkan rela mati demi cinta. Tapi nasib yang membawaku menjalani hidup bahkan lebih parah dari Ibuku.
~Tiara Purnama ~
Gadis sederhana yang kuliah sambil bekerja membantu Ibunya membesarkan dan menyekolahkan adik - adiknya dan hidup dengan Bapak Tiri yang pemalas, suka mabuk-mabukan dan suka memukuli ibunya.
Melihat Ibunya yang begitu tersiksa dibuat suaminya membuat Tiara bertekad tidak ingin sepertinya Ibunya.
Tapi alangkah malang nasibnya, disuatu acara kampus Tiara di jebak oleh temannya. Mereka mengajak Tiara ke sebuah club malam, memberi Tiara minuman beralkohol dan malam itu Tiara berakhir di sebuah kamar hotel dengan seorang pria.
Bagaimana kelanjutan kisah hidup Tiara??
Lanjutkan kisahnya...
Selamat membaca.. semoga kalian suka 😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon winda siregar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selamat Tinggal Jakarta
Tibalah hari minggu, hari dimana Tiara dan Tegar akan meninggalkan Jakarta. Dua hari yang lalu Tiara sudah menemui Dian dan memberikan jawabannya.
Dia bersedia menerima penawaran Dian untuk mengelola Cafe di Bandung milik sahabatnya Dian yang bernama Roy.
Pagi - pagi sekali Ridho sudah tiba di rumah kontrakan Tari dan Tiara. Tiara dan Tari sudah menunggu di meja makan.
Sebelum berangkat mereka terlebih dahulu sarapan pagi bersama untuk terakhir kalinya sebelum Tiara dan Tegar pindah ke Bandung.
"Papa Dho.. sarapan yuk" ajak Tegar.
"Oek sayang... sebentar ya Papa masukin tas Tegar dan Mama dulu ke bagasi" jawab Ridho lembut.
Tegar masih menunggu Ridho di depan pintu masuk. Setelah Ridho selesai baru dia masuk ke dalam rumah bersama Tegar.
"Nanti kalau Tegar di Bandung pasti kangen sama Papa dan Tante Ai" ucap Tegar.
"Tante juga akan kangen banget sama kamu sayang" balas Tari.
"Papa juga. Pasti rumah ini sepi, gak ada kamu" sambut Ridho.
"Tapi kan masih bisa ketemu Tar, Dho... Bandung Jakarta dekat cuma tiga jam. pulang hari juga bisa" jawab Tiara.
Mereka sarapan dengan cepat pagi ini karena harus segera berangkat sebelum hari beranjak siang.
"Sudah siap kan? Yuk berangkat.. " ajak Ridho.
Ridho dan Tari duduk di depan sedangkan Tegar dan Tiara duduk di belakang. Mereka berangkat dengan mengendarai mobil Ridho.
Jam sebelas siang mereka sudah sampai di rumah yang sudah diberikan Dian alamatnya. Rumah dinas untuk Tiara sebagai salah satu fasilitas tempat tinggal Tiara dan anaknya di Bandung.
Rumah yang berada di kompleks perumahan yang berbentuk minimalis. Mempunyai dua kamar tidur dan satu kamar mandi dapur dan taman kecil di belakang rumah.
"Rumahnya enak ya, adem" ucap Tari.
"Tegar suka gak tinggal di sini?" tanya Tiara.
"Suka Ma, Tegar suka sekali. Tegar bobok di kamar itu ya Ma. Mama di kamar depan" Tegar menunjuk kamar yang dia mau.
"Lho kamu mau tidur sendiri? Emangnya kamu berani? " tanya Ridho.
"Berani donk Papa, aku kan laki - laki. Kata Mama sekarang aku harus mandiri karena di rumah hanya tinggal aku dan Mama saja berdua. Tante Ai dan Papa Dho kan nanti balik ke Jakarta lagi" jawab Tegar bijak.
"Uh gemes deh liat kamu, jadi pengen glitikin" goda Tari.
"Jangan Tanteeee... geliiii" Tegar lari menjauhi Tari.
"Anak pintar, sekarang kamu ya yang harus jagain Mama kamu. Kamu kan laki-laki, harus kuat dan gak boleh cengeng" ucap Ridho.
"Iya Papa Dho" balas Tegar.
"Kapan kamu mulai bekerja Ra?" tanya Tari.
"Besok, kata Mbak Dian koki dan karyawan lainnya juga sudah lengkap. Besok semua pada ngumpul. Besok kami akan rapat, belanja dan mempersiapkan semuanya. Grand Opening hari Sabtu depan" ungkap Tiara.
"Wah asik tuh, kita bisa datang gak Dho?" tanya Tari.
"Bisa... bisa.. Sabtu depan kita datang lagi ke sini" jawab Ridho.
"Kalian nginap di sini ya, jangan langsung pulang" ucap Tiara.
"Asiiiiiik Tante Ai dan Papa Dho mau nginap di rumah Tegar sabtu depaaaan" teriak Tegar.
"Udah yuk kita bawain barang - barang kamu. Sini biar Papa bantuin" ajak Ridho.
Mereka berjalan masuk ke kamar Tegar dan menyusun semua barang - barang milik Tegar. Sedangkan Tari membantu Tiara di kamarnya.
"Tegar kapan mulai sekolah Ra?" tanya Tari.
"Selesai urusan Cafe baru aku cari - cari sekolah yang dekat dengan Cafe" jawab Tiara.
Setelah selesai menyusun pakaian dan barang - barang Tiara di kamar mereka keluar dan berkeliling rumah. Tari melihat ada sepeda motor matic di garasi rumah.
"Ra, motor siapa itu?" tanya Tari.
"Gak tau Tar" jawab Tiara.
"Fasilitas juga kali Ra, kalau tidak kan gak mungkin ada di situ" ucap Tari.
"Sebentar aku telepon Mbak Dian dulu" Tiara meraih ponselnya kemudian mencari nama Dian.
"Assalamu'alaikum Mbak" sapa Tiara.
"Wa'alaikumsalan Ra, gimana kalian sudah sampai?" tanya Dian.
"Sudah Mbak" jawab Tiara.
"Alhamdulillah, syukurlah" balas Dian.
"Mbak aku mau tanya, di garasi aku lihat ada sepeda motor. Punya siapa Mbak?" tanya Tiara.
"Oh itu juga fasilitas Ra. Kamu bisa kan naik motor?" tanya Dian.
"Bisa Mbak" jawab Tiara cepat.
"Baguslah kan jadi bermanfaat. Kamu juga gak perlu repot bulak balik rumah - Cafe dan juga ngantar jemput Tegar ke sekolah" ungkap Dian.
"Terimakasih ya Mbak" balas Tiara.
"Bukan padaku, tapi ucapkan pada Roy Nanti saya grand opening hari Sabtu aku dan Roy juga teman - teman yang lain akan datang" ucap Dian.
"Iya Mbak. Aku akan berusaha mempersiapkan semuanya dengan baik" jawab Tiara.
"Eh sampai lupa, kunci dan STNK sepeda motor nya ada di laci lemari ruang TV ya Ra" ungkap Dian.
"Iya Mbak, nanti aku cari. Udah dulu ya Mbak, aku mau berberes" pamit Tiara.
"Oke, assalamu'alaikum... " ucap Dian.
"Wa'alaikumsalam" balas Tiara.
"Gimana Ra? Mbak Dian bilang apa?" tanya Tari penasaran.
"Kata Mbak Dian motor itu juga fasilitas untukku" jawab Tiara.
"Alhamdulillah, syukur banget ya Ra fasilitasnya lengkap. Kamu jadi mudah kemana-mana naik motor itu" ucap Tari.
"Iya Tar, alhamdulillah banget. Jadi gampang antar jemput Tegar ke sekolah" sambut Tiara.
Selesai mereka menyusun barang - barang, Ridho mengajak mereka semua keluar untuk mencari makan siang sambil lewat ke alamat cafe yang di berikan Dian.
"Tuh Cafenya" tunjuk Ridho.
"Itu tempat Mama kerja ya Pa?" tanya Tegar ingin tau.
"Iya sayang" Ridho mengacak lembut rambut Tegar.
"Gak jauh ya jaraknya dari rumah kalian" ucap Tari.
"Syukurlah" ucap Tiara sambil tersenyum.
"Tapi kamu harus hati - hati Ra. Kamu kan sudah lama gak bawa motor. Setelah hamil dan lahir Tegar kamu tidak pernah lagi kan naik motor?" ucap Ridho mengingatkan.
"Iya Dho, aku akan hati - hati. Yukk balik ke rumah. Biar kalian bisa istirahat sejenak sebelum balik ke Jakarta" ajak Tiara.
"Oke, lets goooo" balas Ridho.
Ridho dan Tari istirahat sampai jam lima sore di rumah Tiara. Setelah itu mereka pamit pulang. Kini hanya tinggal Tiara dan Tegar berdua di rumah, terasa sangat sepi.
Tiara duduk di teras rumah sambil menatap jalanan komplek setelah kepergian Ridho dan Tari, sedangkan Tegar sudah masuk ke kamarnya untuk bermain.
Tiara menarik nafas panjang.
Semoga inilah jalan terbaik untukmu dan anakku. Bantu kami ya Allah, kuatkan kami untuk menjalani semua ini. Jauhkan dari kamu segala gangguan dan cobaan yang tidak sanggup kami untuk menghadapainya.
Selamat tinggal Jakarta, jumpa lagi Bandung. Semoga di tempat yang baru ini kami menemukan kehidupan baru yang lebih baik lagi. Aamiin....
Doa Tiara dalam hati. Tiara pun masuk kedalam rumah menyusul putranya Tegar.
.
.
BERSAMBUNG
🤣🤣
top bgt si roy
tunjukan siapa dirimu.