NovelToon NovelToon
PULANG UNTUK SESUATU YANG TAK PERNAH PERGI

PULANG UNTUK SESUATU YANG TAK PERNAH PERGI

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Berbaikan / Tamat
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

Raka pulang setelah delapan tahun menghilang di Singapura. Bukan karena rindu kampung halaman, tapi karena mimpi yang terus berulang mimpi tentang Maya, sepupunya yang dulu selalu jadi lawan debatnya, teman sekaligus musuh dalam satu tubuh.

Tapi yang dia temukan bukan Maya yang dia kenal. Maya yang dulu ceplas-ceplos kini diam seperti kuburan. Maya yang dulu penuh api kini hanya menyisakan abu. Ditinggal suami tanpa penjelasan, harus membesarkan dua anak sendirian, dan terjebak dalam kesendirian yang dia jaga ketat seperti benteng.

Raka datang dengan niat hanya sebentar. Cukup untuk memastikan sepupunya baik-baik saja. Cukup untuk menghilangkan rasa bersalah karena pergi tanpa pamit delapan tahun lalu. Tapi hidup punya rencana lain.

"Kadang, yang paling kita hindari adalah tempat kita seharusnya kembali. Dan orang yang paling kita lawan adalah cinta yang tak pernah benar-benar pergi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: TANDA TANYA DI ANTARA TANDA BACA

Pagi-pagi sekali, sebelum fajar menyentuh ufuk timur, Maya sudah membangunkanku dengan tangan dingin di pipi.

"Raka, ada yang tidak beres."

Masih setengah tidur, aku duduk. "Apa? Bayinya?"

Dia mengangguk, wajahnya pucat dalam cahaya lampu tidur yang redup. "Nyeri. Dan... ada sedikit flek."

Adrenalin langsung mengalir deras, menghapus semua rasa kantuk. "Sudah berapa lama?"

"Sejak tengah malam. Tapi tadi masih ringan. Sekarang..." dia menahan napas, menekan perutnya. "Sekarang lebih kuat."

"Kita ke rumah sakit."

"Tapi anak-anak"

"Aku telepon ibumu Bibi Sartika. Dia akan jaga mereka."

Dalam lima belas menit, kami sudah di mobil menuju rumah sakit. Maya memegang tanganku erat, jari-jarinya dingin dan berkeringat. Aku menyetir dengan satu tangan, tangan yang lain terus memegangnya, seolah-olah sentuhan itu bisa menghentikan rasa sakit.

"Janin masih kecil, Raka," bisiknya, suara gemetar. "Kalau terjadi sesuatu... kalau"

"Jangan," potongku cepat. "Jangan pikirkan yang buruk-buruk. Fokus pada pernapasan. Seperti yang dokter ajarkan."

Tapi hatiku sendiri berdebar kencang ketakutan. Bayi itu kehidupan yang baru sepuluh minggu terasa sangat rapuh. Terlalu rapuh untuk menghadapi dunia ini, bahkan dari dalam rahim.

 

Ruang gawat darurat kebidanan sepi di jam dini hari. Hanya ada satu perawat yang bertugas, mengangguk paham ketika kami menjelaskan gejala.

"Kami akan cek dulu, Bu," katanya sambil membantu Maya ke kursi roda. "Bapak tunggu di sini."

Aku tidak bisa duduk. Berjalan bolak-balik di koridor yang steril itu, setiap langkah bergema di keheningan yang menakutkan. Jam dinding menunjukkan pukul 4:32. Dunia di luar masih gelap, tapi di sini, di bawah lampu neon yang terang benderang, segalanya terasa terlalu terang, terlalu tajam.

Bayangkan jika... Tidak, jangan bayangkan.

Telepon bergetar. Dari ibu Maya Bibi Sartika. "Bagaimana Maya?"

"Masih diperiksa, Bibi."

"Anak-anak masih tidur. Aku di rumah kalian. Telepon jika ada kabar."

"Terima kasih, Bibi."

Setengah jam kemudian, dokter keluar. Perempuan muda dengan wajah lelah tapi ramah.

"Keluarga Maya?"

"Saya Raka, calon ayah."

Dia mengangguk. "Kondisi Maya stabil sekarang. Kami berikan obat untuk menghentikan kontraksi. Dan flek sudah berhenti."

Aku menarik napas lega. "Jadi... bayinya?"

"Masih ada. Detak jantung masih terdengar. Tapi..." dia berhenti, memilih kata-kata. "Ini ancaman keguguran. Ibu perlu istirahat total. Tidak boleh stres, tidak boleh lelah. Dan harus kontrol ketat."

"Berapa lama?"

"Sampai usia kehamilan minimal 24 minggu. Setelah itu, risiko berkurang."

Tiga setengah bulan lagi. Maya harus berbaring hampir sepanjang hari. Tidak boleh kerja. Tidak boleh mengurus rumah. Tidak boleh banyak bergerak.

"Boleh saya temui dia?"

"Boleh. Tapi jangan lama. Dia butuh istirahat."

 

Maya terbaring di ranjang, wajahnya lebih pucat dari sprei putih di sekelilingnya. Tapi dia tersenyum lemah ketika aku masuk.

"Dengar, dengar kamu masih punya peluang jadi ayah," bisiknya.

Aku mencium dahinya. "Kamu menakut-nakutiku."

"Diriku sendiri juga takut." Matanya berkaca-kaca. "Raka, kalau... kalau aku harus bedrest berbulan-bulan"

"Maka kita akan atur. Aku akan urus semuanya."

"Tapi kerja? Anak-anak? Rumah?"

"Aku akan atur." Aku memegang tangannya. "Pekerjaan bisa dicari lagi. Tapi kamu dan bayi... tidak."

Dia menutup mata, air mata mengalir pelan. "Aku lelah, Ra. Lelah berjuang. Lelah harus selalu kuat."

"Kali ini tidak usah kuat. Biar aku yang kuat untuk kita berdua."

 

Pulang dari rumah sakit siang itu, dengan Maya di kursi roda yang harus aku dorong, kami menemukan Bibi Sartika sedang menyiapkan makan siang. Bima dan Kinan duduk di meja makan, wajah penuh kekhawatiran.

"Mama sakit?" tanya Kinan, lari mendekat tapi berhenti ketika melihat kursi roda.

"Mama harus istirahat banyak, Sayang," jawab Maya. "Agar adik bayi di perut Mama sehat."

"Berapa lama?" tanya Bima, lebih pragmatis.

"Beberapa bulan, Nak."

Bima melihatku. "Berarti Om harus urus semuanya sendirian?"

"Aku akan bantu," sahut Bibi Sartika. "Aku bisa jaga Maya dan Kinan di siang hari. Kamu dan Om Raka bisa urus yang lain."

Rencana mulai terbentuk. Tapi ada satu masalah besar: uang. Maya tidak bisa kerja. Aku baru kerja, gaji pas-pasan. Biaya rumah sakit, obat-obatan, kebutuhan sehari-hari...

"Aku akan cari kerja sampingan," kataku malam itu, setelah Maya tertidur karena obat penenang.

"Jual apa? Waktumu sudah habis untuk kerja dan urus anak-anak," bantah Bibi Sartika dengan logis.

"Lalu bagaimana?"

Diam. Lalu: "Aku akan bicara dengan keluarga. Minta bantuan."

"Tidak," tolakku cepat. "Kami tidak mau jadi beban."

"Tapi kalian memang butuh bantuan! Ini darurat!"

"Bibi... setelah semua yang mereka katakan tentang kami? Setelah mereka menolak kami?"

Bibi Sartika memandangku lama. "Raka, keluarga itu seperti pohon. Kadang ada ranting yang patah, kadang ada daun yang layu. Tapi akarnya tetap sama. Dan ketika satu bagian sakit, bagian lain akan membantu."

"Tapi mereka menganggap kami bagian yang sakit."

"Karena mereka tidak mengerti. Tapi melihat Maya seperti ini... mereka akan mengerti."

Aku ragu. Tapi pilihan lain apa yang kami punya?

 

Besoknya, Bibi Sartika mengumpulkan beberapa anggota keluarga di rumah kami, dua bibi lain, dan sepupu-sepupu. Aku bersiap untuk cemoohan, kritikan, atau paling tidak, tatapan menghakimi.

Tapi yang terjadi di luar dugaan.

Bibi Sartika berdiri di tengah ruangan, dengan suara tegas yang jarang kudengar darinya. "Maya, anak kita, sedang berjuang untuk menyelamatkan bayinya. Dokter bilang dia harus bedrest tiga bulan. Raka harus kerja. Anak-anak butuh dijaga. Rumah butuh diurus."

Dia memandangi satu per satu. "Kita boleh tidak setuju dengan hubungan mereka. Tapi mereka keluarga. Dan keluarga tidak meninggalkan keluarga dalam kesulitan."

"Kita semua tidak tahu. Karena kita sibuk mengomentari daripada membantu."

Salah satu bibi yang paling keras menentang kami berdiri. "Aku bisa jaga Maya dua hari seminggu. Aku pensiunan, banyak waktu."

Sepupu yang lain: "Aku bisa antar-jemput Bima. Sekolahnya searah dengan kantorku."

Yang lain lagi: "Aku bisa masak untuk mereka. Sekalian untuk keluargaku."

Satu per satu, mereka menawarkan bantuan. Bukan karena setuju dengan kami. Tapi karena kemanusiaan. Karena Maya adalah bagian dari mereka, terlepas dari segala kesalahannya menurut pandangan mereka.

Aku merasa seperti menelan batu besar di tenggorokan. "Terima kasih," bisikku, suara serak. "Kami... kami tidak pantas."

"Jangan bicara begitu," kata bibi yang tadi menawarkan bantuan. "Kita memang berbeda pendapat. Tapi itu tidak berarti kita akan membiarkan kalian tenggelam."

Maya, yang mendengarkan dari kamar, menangis. Kali ini, tangisan kelegaan.

 

Dengan bantuan keluarga, jadwal terbentuk. Pagi, aku antar Bima ke sekolah sebelum kerja. Kinan dijemput neneknya Bibi Sartika untuk dibawa ke rumahnya atau dijaga di rumah kami. Seseorang selalu ada untuk Maya membantu ke kamar mandi, mengambilkan makan, menemani.

Aku kerja di bengkel sampai jam tiga, lalu pulang, mengurus rumah, mengajar Bima, memasak untuk besok. Malam, duduk di samping Maya, bercerita tentang hari kami, membacakan buku untuk bayi (meski masih kecil, kata dokter itu baik untuk stimulasi).

Hidup berjalan dalam ritme yang melelahkan tapi teratur. Tapi ada satu hal yang mengganjal: komunikasi dengan ayahku masih terputus. Dia tahu tentang kondisi Maya (kabarnya menyebar cepat di keluarga), tapi tidak menghubungi.

Sampai suatu sore, ketika aku sedang mencuci piring, telepon berdering.

"Raka." Suaranya datar.

"Ayah."

"Dengar-dengar Maya kondisi kritis."

"Ancaman keguguran. Tapi sekarang stabil dengan bedrest."

Diam. Lalu: "Butuh apa?"

Pertanyaan langsung. Khas ayah. Tidak tanya kabar, tidak basa-basi. Langsung ke inti.

"Kami... sudah dibantu keluarga ibu Maya."

"Tapi tetap butuh uang. Untuk obat, kontrol, biaya hidup."

Aku menghela napas. "Iya."

"Aku transfer besok. Jangan bilang siapa-siapa."

"Ayah"

"Dan jangan berpikir ini berarti aku setuju. Aku hanya tidak mau cucuku, cucu pertama dari anak laki-lakiku meninggal karena kebodohan orangtuanya."

Telepon ditutup. Beberapa menit kemudian, ada notifikasi transfer. Jumlah yang cukup untuk tiga bulan kebutuhan kami.

Aku berdiri lama di dapur, menatap ponsel. Ini cara ayah menunjukkan kasih sayang keras, tanpa kata-kata manis, tapi nyata. Dia mungkin tidak akan pernah mengakui hubungan kami, tapi dia mengakui bayi itu sebagai cucunya.

 

Minggu-minggu berlalu. Perut Maya mulai membulat perlahan. Di usia 16 minggu, USG menunjukkan bayi berkembang baik. Jenis kelamin belum bisa diketahui, tapi yang penting: sehat.

Bima menjadi "penjaga utama" ibunya. Dia yang mengingatkan jam minum obat, yang menemani Maya mengobrol ketika bosan, yang bahkan belajar membuat teh jahe hangat (dengan pengawasan, tentu).

Kinan menjadi "asisten dokter kecil". Dia punya stetoskop mainan yang selalu dibawa untuk "memeriksa" adik bayinya. "Adek denger jantungnya berdetak, Ma! Cepet sekali!"

Dan aku... aku belajar menjadi banyak hal. Menjadi perawat, menjadi ayah, menjadi tulang punggung, menjadi penopang. Capek? Sangat. Tapi setiap kali melihat Maya tersenyum, atau Bima dengan bangga melaporkan perkembangan ibunya, atau Kinan yang dengan serius "merawat" boneka bayinya... semua capek terbayar.

Suatu malam, ketika Maya sudah tertidur, Bima mendatangiku di teras.

"Om, boleh tanya sesuatu?"

"Tentu."

"Kalau nanti bayi lahir... dia akan jadi adik kandungku atau sepupu?"

Pertanyaan yang dalam. "Dia akan jadi adik kandungmu, Bima. Karena dia anak dari Mama dan Om. Dan kamu anak dari Mama dan Papa. Jadi kalian masih saudara seibu."

"Tapi beda ayah."

"Iya. Tapi saudara tidak hanya diukur dari darah. Lihat aku dan Mama kami sepupu, tapi tumbuh seperti saudara kandung. Dan kamu dan Kinan kalian saudara kandung meski beda ayah dengan bayi nanti."

Bima berpikir. "Jadi keluarga itu... seperti puzzle. Tidak harus semua potongan berasal dari kotak yang sama, asal pas menyatu?"

"Tepat sekali." Aku tersenyum. "Keluarga kita mungkin puzzle dari beberapa kotak berbeda. Tapi lihat—kita menyatu dengan baik, kan?"

Dia mengangguk, tersenyum kecil. "Aku mulai tidak takut lagi dengan perubahan. Karena perubahan itu... seperti musim. Datang dan pergi, tapi selalu membawa sesuatu yang baru."

"Kamu bijaksana sekali, Bima."

"Dari pengalaman, Om." Dia menatapku. "Dan dari melihat Om tidak pernah menyerah. Meski berat."

Kata-kata itu pengakuan dari anak delapan tahun lebih berarti dari segala pujian di dunia.

 

Di usia kehamilan 20 minggu, kami kembali ke dokter untuk USG detail. Kali ini, kami semua ikut aku, Maya, Bima, Kinan, bahkan Bibi Sartika.

"Semuanya berkembang dengan baik," kata dokter sambil menggerakkan probe di perut Maya. "Lihat, ini tangan kecilnya. Dan kaki."

Di layar, kami melihat bayi yang sudah berbentuk manusia sempurna. Bergerak-gerak, mengisap jempolnya sendiri.

"Dan untuk jenis kelamin..." dokter tersenyum, mengarahkan probe. "Sepertinya... perempuan."

Kinan melompat gembira. "YES! Adek perempuan! Namanya Aisyah!"

Maya menangis bahagia. Aku memegang tangannya erat, tidak bisa berkata-kata. Seorang putri. Anak perempuan kami.

"Detak jantung kuat. Berat badan normal. Dan yang paling penting leher rahim Ibu sudah stabil. Ancaman keguguran sudah lewat."

Itu kabar terbaik. Maya boleh mulai beraktivitas ringan. Tidak perlu bedrest total lagi.

Ketika kami keluar dari ruangan, keluarga yang menunggu di luar (beberapa bibi, sepupu) bersorak gembira. Bahkan yang paling keras menentang kami tersenyum melihat foto USG.

"Liat, hidungnya mirip Maya waktu kecil," komentar salah satu bibi.

"Tapi bibirnya mirip Raka," tambah yang lain.

Dalam kegembiraan itu, ada pengakuan diam-diam. Bayi ini Aisyahbtelah menjadi jembatan. Menyatukan keluarga yang terpecah. Membuktikan bahwa cinta, meski tidak konvensional, bisa menghasilkan kehidupan yang sempurna.

Pulang ke rumah, Maya memegang foto USG itu, tidak bisa berhenti memandanginya.

"Raka," bisiknya.

"Iya?"

"Terima kasih. Untuk tidak pernah menyerah. Untuk tetap di sini. Untuk... untuk memberiku keluarga yang selalu kudambakan."

"Aku yang harus berterima kasih," balasku, mencium dahinya. "Karena memberiku alasan untuk tetap tinggal."

Di ruangan sebelah, Bima dan Kinan sedang berdebat seru tentang siapa yang akan lebih sering mengganti popok Aisyah nanti.

Dan di tengah semua itu, aku menyadari: kehidupan memang penuh tanda tanya. Hubungan kami, reaksi keluarga, masa depan bayi ini semuanya pernah menjadi pertanyaan besar tanpa jawaban.

Tapi mungkin, tidak semua pertanyaan perlu dijawab segera. Kadang, kita hanya perlu terus berjalan, percaya bahwa di antara semua tanda tanya, ada cukup tanda seru kebahagiaan untuk membuat segalanya berarti.

Dan malam ini, dengan tangan Maya di tanganku, dengan tawa anak-anak di ruang sebelah, dengan gambar bayi perempuan kami di atas meja... aku tahu.

Semua perjuangan ini layak.

Karena cinta, pada akhirnya, bukan tentang menemukan jawaban yang sempurna.

Tapi tentang berani hidup di antara pertanyaan-pertanyaan, bersama orang yang tepat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!