NovelToon NovelToon
Suamiku Ternyata Mafia Psikopat

Suamiku Ternyata Mafia Psikopat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dark Romance / Mafia / Nikah Kontrak / Roman-Angst Mafia / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Pernikahan yang awalnya tampak sebagai jalan keluar, berubah menjadi jerat paling mematikan. Karena ia terpaksa menerima tawaran kontrak nikah dengan pria asing, demi menyelamatkan keluarganya.

Nadira Azzahra, perempuan sederhana dari Jakarta, menerima pernikahan dengan seorang pria asing bernama Leonardo Valerio demi menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan dan ancaman orang-orang berbahaya. Leonardo adalah pria tenang, tampan, dan nyaris sempurna. Ia tak pernah marah, tak pernah berteriak, selalu tersenyum tipis—namun justru ketenangan itulah yang perlahan membuat Nadira merasa diawasi setiap saat.

Tak ada yang menyangka, bahwa suaminya adalah pemimpin mafia internasional berdarah dingin—dan seorang psikopat fungsional.

Leonardo tidak mengenal rasa bersalah, ia membunuh dengan wajah datar. Bahkan ia menjadikan Nadira tawanan cintanya.

"Aku tidak mencintaimu seperti orang normal, Nadira. Aku mencintaimu seperti aku, memiliki sesuatu yang tak boleh hilang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Andrey Menyadap

Tiga hari.

Sudah tiga hari sejak pesan Arman.

Tiga hari aku berpura-pura. Tersenyum saat Leonardo minta aku tersenyum. Makan saat dia minta aku makan. Duduk manis saat dia bekerja di ruang kerjanya sambil aku di sofa membaca buku yang bahkan tidak masuk ke otakku.

Tiga hari aku jadi aktris terbaik dalam hidupku.

Dan Leonardo... dia terlihat senang. Sangat senang. Seperti dia pikir akhirnya aku benar-benar menyerah. Benar-benar menerima posisiku sebagai... apa? Istri? Tawanan? Boneka?

Pagi ini, seperti biasa, aku turun untuk sarapan.

Leonardo sudah di meja. Tapi yang aneh, Andrew juga ada di sana. Berdiri di sudut ruangan dengan tablet di tangannya. Wajahnya... ada sesuatu. Seperti dia tahu sesuatu.

Atau mungkin cuma perasaanku.

Aku duduk. Mengambil roti. Tanganku sedikit gemetar tapi aku sembunyikan dengan cepat.

"Pagi, sayang," sapa Leonardo sambil menyeruput kopinya. Tapi ada yang beda di matanya. Ada ketegangan yang tidak biasa.

"Pagi," balasku pelan.

Hening.

Andrey masih berdiri di sana. Menatapku dengan tatapan yang membuatku ingin lari.

"Ada yang mau kau ceritakan padaku, Nadira?" tanya Leonardo tiba-tiba.

Jantungku langsung berhenti.

"Apa... apa maksudmu?" aku mencoba terdengar bingung. Natural. Tapi suaraku gemetar.

Leonardo meletakkan cangkir kopinya pelan. Sangat pelan. Lalu dia tersenyum. Tapi senyum yang mengerikan. Senyum yang tidak sampai ke mata.

"Andrey," panggilnya tanpa mengalihkan pandangan dariku.

Andrew maju. Meletakkan tabletnya di meja. Memutar layarnya ke arahku.

Dan aku melihat sesuatu yang membuat darahku membeku.

Screenshot pesan.

Pesan dari Arman.

Setiap kata. Setiap kalimat. Semua ada di sana.

Tidak.

Tidak. Tidak. Tidak.

"Kau bilang kau sudah hapus," ucap Leonardo dengan nada yang sangat tenang. Terlalu tenang. "Tapi sayangnya, sayang, ponselmu tersambung ke sistem Andrey. Setiap pesan yang masuk, walau cuma satu detik, sudah tercatat. Sudah tersimpan. Bahkan kalau kau hapus seribu kali."

Aku tidak bisa bernapas.

Andrey tersenyum. Senyum yang misterius. Senyum yang kalau dia bisa bicara mungkin dia akan bilang "bocah tolol kau pikir aku bodoh sungguh tolol."

Leonardo berdiri. Perlahan. Berjalan mengelilingi meja. Mendekatiku.

"Bachstrasse 45, unit 12B, Zurich," ucapnya sambil membaca dari tablet. "Empat hari. Interpol. Bukti." Dia berhenti tepat di belakangku. Tangannya menyentuh bahuku. "Rencana yang bagus. Sungguh. Kalau saja kau tidak sedang berhadapan dengan orang yang punya mata dan telinga di mana-mana."

Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.

"Leonardo... aku... aku bisa jelaskan..."

"Jelaskan apa?" potongnya. Suaranya masih tenang tapi ada getaran marah di dalamnya. "Jelaskan bahwa kau masih kontak dengan pria lain? Jelaskan bahwa kau rencanakan kabur lagi? Jelaskan bahwa kau mau bawa polisi internasional ke rumahku?"

Tangannya menggenggam bahuku lebih keras. Sakit. Tapi aku tidak berani protes.

"Aku... aku cuma... aku cuma mau bebas..." isakku. "Kumohon... aku tidak tahan lagi di sini... aku..."

Leonardo menarikku berdiri dengan kasar. Memutarku sampai aku menghadap dia.

Matanya... oh Tuhan, matanya.

Kosong.

Tapi ada api di dalamnya. Api kemarahan yang selama ini dia sembunyikan.

"Bebas?" ulangnya. "Kau mau bebas? Setelah semua yang kulakukan? Setelah aku lindungi kau? Setelah aku kasih kau segalanya?"

"Kau tidak melindungiku!" teriakku tanpa sadar. "Kau mengurungku! Kau bunuh orang di depan mataku! Kau jadikan aku boneka! Ini bukan perlindungan! Ini penyiksaan!"

PRANG!

Leonardo melempar cangkir kopi di meja. Pecah berkeping-keping. Kopi tumpah kemana-mana.

Aku tersentak. Mundur. Tapi punggungku menabrak dinding.

"PENYIKSAAN?!" teriaknya. Pertama kalinya aku dengar dia berteriak. Pertama kalinya dia kehilangan kontrol. "KAU BILANG INI PENYIKSAAN?! KAU TIDAK TAHU APA ITU PENYIKSAAN, NADIRA!"

Dia mengangkat tangan. Aku pikir dia mau pukul aku. Aku memejamkan mata. Bersiap.

Tapi yang datang adalah bunyi keras.

BRAK!

Dia menghantamkan tangannya ke meja. Meja kayu solid itu retak. Benar-benar retak di tengahnya.

Piring dan gelas jatuh berhamburan. Pecah di lantai.

Andrew hanya berdiri di sana. Menatap dengan tatapan datar. Seperti ini hal biasa baginya.

"Aku kasih kau SEGALANYA!" Leonardo berteriak lagi. Wajahnya merah. Urat di lehernya menonjol. "Aku jaga kau dari dunia yang akan merobek kau! Aku buat kau aman! Dan ini yang aku dapat?! PENGKHIANATAN?!"

"Aku tidak mengkhianatimu!" aku menangis. "Kau bukan suamiku! Kau penjagaku! Kau monster yang..."

Aku tidak selesai bicara.

Leonardo sudah ada di depanku. Tangannya mencengkram rahangku. Memaksaku menatap matanya.

"Monster," bisiknya. Suaranya turun drastis. Dari teriakan jadi bisikan yang lebih menakutkan. "Ya. Aku monster. Dan kau... kau milik monster ini. Selamanya."

Dia melepaskanku dengan kasar. Aku hampir jatuh tapi berhasil bertahan.

Leonardo berbalik ke Andrew. "Lacak Arman Prasetya. Sekarang. Aku mau tahu dia di mana. Aku mau dia ditangkap hidup-hidup. Jangan bunuh. Belum."

Andrew mengangguk. Langsung mengetik di tabletnya dengan cepat.

"Marco!" teriak Leonardo.

Dari luar ruangan, Marco masuk dengan tergesa. "Ya, Don?"

"Siapkan tim. Lima orang terbaikmu. Kalian berangkat ke Jakarta dalam satu jam. Bawa Arman Prasetya ke sini. Aku tidak peduli caranya. Aku mau dia di depanku dalam dua hari."

Marco mengangguk. "Siap, Don." Lalu dia keluar dengan cepat.

Leonardo mengambil napas panjang. Mencoba menenangkan diri. Tapi tangannya masih mengepal erat. Buku-buku jarinya memutih.

"Leonardo, kumohon..." aku berbisik. "Jangan sakiti dia... dia cuma... dia cuma mau nolong aku..."

Dia menoleh ke arahku. Pelan. Tatapannya kosong lagi. Semua amarah tadi hilang. Digantikan kekosongan yang lebih mengerikan.

"Nolong kau?" ulangnya dengan nada datar. "Dia pikir dia bisa nolong kau dengan bawa polisi ke rumahku? Dia pikir dia pahlawan?" Leonardo berjalan mendekat lagi. Kali ini lebih pelan. Lebih terkontrol. "Dia bukan pahlawan, Nadira. Dia bodoh. Dan orang bodoh yang mengancam apa yang kumiliki... mereka belajar pelajaran yang sangat menyakitkan."

"Jangan... kumohon jangan bunuh dia..."

"Aku tidak bilang aku mau bunuh dia," ucap Leonardo sambil berdiri tepat di depanku. Tangannya menyentuh wajahku dengan lembut. Sangat lembut. Kontras dengan amarahnya tadi. "Setidaknya tidak langsung. Aku mau dia lihat sesuatu dulu sebelum dia mati."

"Lihat... lihat apa?"

Leonardo tersenyum tipis. "Dia mau jadi pahlawanmu, kan? Mau selamatkan kau dari monster? Jadi aku akan tunjukkan padanya apa yang terjadi sama pahlawan yang gagal."

Tangannya bergerak ke leherku. Mengusap dengan lembut. Tapi aku tahu itu bukan belaian sayang. Itu ancaman.

"Aku akan bawa dia ke sini," bisik Leonardo. "Aku akan buat dia duduk. Dan aku akan tunjukkan padanya bahwa kau... kau sudah jadi milikku sepenuhnya. Bahwa semua usahanya sia-sia. Bahwa kau tidak akan pernah bebas."

"Tidak..." aku menggeleng. "Kumohon tidak..."

"Lalu setelah dia paham itu," lanjut Leonardo tanpa peduli. "Setelah dia lihat kau di sisiku dengan mata kepalanya sendiri, setelah dia sadar bahwa dia gagal... baru aku bunuh dia. Perlahan. Sangat perlahan. Supaya dia merasakan setiap detik dari kegagalannya."

Aku jatuh berlutut. Tidak kuat lagi berdiri.

"Kumohon... kumohon jangan... aku akan... aku akan lakukan apapun... kumohon jangan sakiti Arman..."

Leonardo berjongkok di depanku. Mengangkat daguku dengan jari.

"Apapun?" tanyanya dengan nada yang aneh. "Kau akan lakukan apapun?"

Aku mengangguk sambil menangis.

"Baik," dia tersenyum. Tapi senyum yang mengerikan. "Kalau begitu, mulai sekarang, kau akan buktikan kesetiaanmu. Kau akan tunjukkan bahwa kau benar-benar menyesal. Dan kalau kau gagal walau sedikit saja..."

Dia mendekatkan wajahnya sampai bibirnya hampir menyentuh telingaku.

"Aku tidak cuma bunuh Arman," bisiknya. "Aku bunuh ayahmu. Ibumu. Semua orang yang pernah kau sayangi. Satu per satu. Dan aku akan pastikan kau nonton semuanya."

Tubuhku gemetar tidak terkendali.

Ini bukan lagi ancaman kosong.

Ini janji.

Janji dari monster yang sudah kehilangan kontrol terakhirnya.

Leonardo berdiri. Menatapku yang masih berlutut di lantai dengan tatapan kosong.

"Kau memilih jalan yang salah, sayang," ucapnya pelan. Sangat pelan. Tapi kata-katanya seperti pisau yang menusuk jantungku.

Lalu dia berbalik dan keluar dari ruangan.

Andrew ikut di belakangnya. Tapi sebelum keluar, dia menoleh sebentar ke arahku.

Dan dia tersenyum.

Senyum yang menyeramkan untuk orang yang tidak bisa bicara.

Senyum yang bilang "aku sudah bilang jangan main-main."

Lalu dia hilang.

Dan aku ditinggal sendirian di ruang makan yang hancur. Pecahan kaca dimana-mana. Meja retak. Kopi tumpah.

Seperti hidupku.

Hancur.

Retak.

Tumpah.

Aku memeluk lututku sambil menangis sejadi-jadinya.

Arman.

Arman akan ditangkap.

Karena aku.

Karena dia mau nolongku.

Karena dia peduli padaku.

Dan sekarang dia akan mati.

Dengan cara yang paling mengerikan.

Dan aku... aku tidak bisa lakukan apa-apa.

Tidak bisa selamatkan dia.

Tidak bisa selamatkan diriku sendiri.

Tidak bisa selamatkan siapa pun.

Aku cuma bisa duduk di sini. Menangis. Menunggu.

Menunggu Arman ditangkap.

Menunggu dia dibawa ke sini.

Menunggu Leonardo menunjukkan pada dunia bahwa aku memang miliknya.

Dan menunggu Arman mati di depan mataku.

Karena aku.

Semua karena aku.

Kenapa... kenapa aku pikir aku bisa kabur?

Kenapa aku pikir ada harapan?

Kenapa aku tidak menghancurkan ponsel itu sejak awal?

Kenapa aku tidak bilang pada Arman untuk berhenti?

Kenapa aku membiarkan dia mempertaruhkan nyawanya untuk sesuatu yang mustahil?

Sekarang dia akan mati.

Dan itu salahku.

Sepenuhnya salahku.

Aku menangis sampai tidak ada air mata lagi yang bisa keluar.

Menangis sampai tubuhku mati rasa.

Menangis sampai aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi.

Hanya hampa.

Hampa yang sangat dalam.

Hampa yang menelan segalanya.

Termasuk sisa harapan terakhir yang kupunya.

1
Abel Incess
tp sebenarnya ada baik"nya juga sih karna nadira tdk pernah di lecehkan
checangel_
Iya sih, taat pada suami harus, tapi jika aturan yang kau buat penuh tekanan untuk Nadira, apakah itu baik, Leon?🤧
checangel_
Luka bukan air mata 🤧
checangel_: Tapi lebih baik nggak dua²nya deh Kak /Facepalm/, karena terlalu riuh, kasian pikirannya 🤭
total 2 replies
checangel_
No! Penghulunya mana? Asal bilang sudah jadi milikmu 🤧
checangel_
Lima tahun itu berapa lama? 365×5= bersamanya yang penuh aturan dalam mengartikan cinta? 🤧/Facepalm/
checangel_
Seberat itu memang utang dalam realita 🤧, 50 Meter (Milyar) itu sebanyak apa /Sob/
checangel_
Meet with Rain again 🎶🤭
Leoruna: tetap mengalir🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!