“Dad, di mana Mommy?”
“Berhenti bertanya, bocah pembawa sial!”
Pertanyaan polos dari Elio, bocah berusia enam tahun itu, justru dibalas dengan dingin dan amarah yang meledak.
Bagi Jeremy, kematian istrinya setelah melahirkan adalah luka yang tak pernah sembuh. Dan Elio? Bocah itu adalah satu-satunya pengingat paling menyakitkan atas kehilangan tersebut.
Hingga suatu hari, Jeremy dipertemukan dengan Cahaya. Gadis desa dengan wajah, sikap, dan keras kepala yang terlalu mirip dengan mendiang istrinya. Kehadiran Cahaya tidak hanya mengguncang dunia Jeremy, tapi juga mengusik dinding es yang selama ini ia bangun.
Akankah Cahaya mampu meluluhkan hati seorang ayah yang lupa caranya mencintai? Ataukah Elio akan terus tumbuh dalam bayang-bayang luka yang diwariskan oleh sebuah kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3
"Kau tahu, Jer? Jonas dan Joana baru saja menghancurkan vas bunga antik kiriman dari Rusia kemarin sore. Hanya karena mereka berebut siapa yang paling hebat menembakkan pistol air ke arah pelayan."
Edgar tertawa renyah, tangannya dengan santai mengendalikan kemudi mobil menembus jalanan Milan.
Ya, mereka baru selesai meeting dan akan pergi untuk makan siang bersama. Edgar terpaksa menyetir sendiri, hanya untuk mengenang masa-masa bersama Jeremy dulu.
Sementara Jeremy, duduk dengan santai seolah dia adalah bosnya.
"Lahir hanya terpaut beberapa bulan lebih dulu dari Elio-mu, tapi mereka sudah bertingkah seperti bos mafia kecil. Jean bahkan berani menatapku dengan wajah datar saat aku mencoba menghukumnya. Benar-benar darah pemberontak."
Jeremy tetap diam. Pandangannya lurus ke luar jendela, seolah semua ocehan Edgar tentang anak kembarnya yang unik itu hanyalah angin lalu. Ia tidak menunjukkan ketertarikan, tidak pula tersenyum.
Baginya, pembicaraan tentang anak kecil adalah hal yang paling ingin ia hindari.
"Mereka mulai belajar memegang senjata mainan sekarang. Kau harus melihat bagaimana Jonas membidik sasaran. Sifat keras kepalaku menurun sempurna padanya," lanjut Edgar, masih berusaha mencairkan suasana.
"Hmm." Lagi-lagi, respon Jeremy hanya sebuah gumaman pendek yang dingin.
Edgar menghela napas lalu melirik sahabatnya itu dengan tatapan prihatin. Ia memutuskan untuk mengganti arah pembicaraan ke topik yang lebih personal, meski ia tahu itu berisiko memancing amarah Jeremy.
"Jer, hari ini ulang tahun Elio yang keenam, bukan?" tanya Edgar dengan nada serius. "Apa kau tidak berniat pulang lebih awal? Sekadar memberikan kado atau kue untuknya?"
Suasana di dalam mobil mendadak menjadi sangat aneh. Jeremy memutar kepalanya, menatap Edgar dengan sorot mata yang tajam dan menusuk.
"Aku tidak punya waktu untuk merayakan hari kesialan seperti itu," jawab Jeremy ketus.
Edgar mengerem mobilnya perlahan karena lampu merah, lalu ia menoleh sepenuhnya pada Jeremy.
"Kesialan? Jer, dia anakmu. Dia darah dagingmu sendiri."
"Dia alasan Stella pergi, Ed! Kau tahu itu! Ulang tahunnya adalah hari di mana aku kehilangan segalanya. Untuk apa aku merayakannya? Untuk merayakan kematian istriku?" bentak Jeremy, emosinya meledak seketika.
Edgar menggelengkan kepala, ia tidak setuju dengan cara berpikir sahabatnya yang sudah terlalu jauh menyimpang.
"Berhenti bersikap seperti monster pada anakmu sendiri, Jeremy. Elio tidak tahu apa-apa saat itu. Dia baru saja menghirup napas pertamanya saat Stella mengembuskan napas terakhir. Itu bukan salahnya!"
"Dia pembawa sial!"
"Bukan dia pelakunya!" Edgar membalas dengan nada yang tak kalah tinggi. "Stella meninggal karena peluru musuhmu, Jeremy! Sampai detik ini, kita bahkan belum menemukan siapa pengecut yang menembaknya hari itu. Stella memilih menyelamatkan bayinya karena dia tahu nyawanya sendiri tak bisa diselamatkan akibat pendarahan hebat. Dia mengorbankan diri demi Elio! Jika kau membenci Elio, artinya kau menghina pengorbanan Stella!"
Jeremy terdiam. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya terlihat jelas. Kata-kata Edgar barusan seperti ribuan jarum yang menusuk jantungnya.
Luka enam tahun lalu itu terbuka kembali, basah dan sangat perih. Ia teringat wajah pucat Stella yang tersenyum saat menyerahkan bayi merah itu ke pelukan perawat sebelum matanya terpejam untuk selamanya.
"Cukup, Ed," ucap Jeremy dengan suara yang bergetar karena emosi yang tertahan.
"Tidak, ini belum cukup! Kau menghukum bocah yang tidak berdosa atas dosa orang lain. Elio butuh ayahnya, bukan seorang tuan tanah yang dingin dan kejam," tegas Edgar.
Jeremy memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba meredam badai di dalam kepalanya.
"Maaf, Ed. Aku sedang tidak dalam mood untuk membahas Elio. Diamlah atau aku akan turun dari mobil ini."
Edgar mendengus kasar, ia kembali menginjak gas saat lampu berubah hijau.
"Kau benar-benar keras kepala, Jeremy. Aku hanya takut, suatu saat nanti ketika kau akhirnya sadar, Elio sudah terlalu jauh untuk kau jangkau. Luka yang kau goreskan pada anak itu mungkin tidak akan pernah bisa kau sembuhkan," ucap Edgar menasehati.
Jeremy kembali memalingkan wajahnya ke arah jendela. Ia tidak peduli. Baginya, mencintai Elio berarti mengkhianati rasa sakitnya atas kehilangan Stella. Ia memilih untuk tetap membenci, meski jauh di lubuk hatinya, ada rasa hampa yang perlahan mulai menggerogoti jiwanya.
*
*
"Permisi, selamat siang. Benarkah ini kediaman Tuan Sebastian?"
Martha yang sedang menyapu teras depan segera menoleh. Ia mendapati seorang gadis muda dengan napas terengah-engah dan ransel di punggungnya.
"Iya, benar. Saya Martha, pelayan di sini. Ada perlu apa ya, Nona?" jawab Martha dengan senyum sopan.
Cahaya menyeka keringat di dahinya, lalu tersenyum lebar. "Nama saya Cahaya, Bibi. Saya mahasiswi yang dikirim oleh agen tenaga kerja. Katanya, tuan Sebastian butuh babysitter tambahan untuk menjaga tuan muda Elio secara part-time."
Martha tertegun sejenak melihat wajah Cahaya. Ada sesuatu yang akrab dari raut gadis itu, tapi ia segera menepisnya.
"Oh, jadi anda orangnya? Mari masuk dulu, Nona Cahaya. Tuan muda sedang ada di kamarnya, dia—"
Ciittttt!
Suara decitan ban yang mengerem mendadak di halaman mansion memotong ucapan Martha. Sebuah mobil hitam mengkilap berhenti tepat di depan mereka.
Pintu terbuka, dan sosok tinggi dengan aura mengintimidasi keluar dari sana.
Cahaya refleks menoleh, dan saat matanya bertemu dengan pria yang baru saja keluar dari mobil, jantungnya nyaris melompat keluar. Begitu juga dengan Jeremy, yang seketika mematung di tempatnya.
"Kau?!" seru Jeremy dengan telunjuk terarah pada Cahaya.
Cahaya tidak mau kalah. Ia melotot dan balas menunjuk wajah Jeremy dengan berani.
"Lho, om sombong?!"
Martha yang berdiri di antara mereka hanya bisa melongo kaget.
"Tuan, anda sudah mengenal nona Cahaya?"
"Dia tikus pengganggu yang menabrakku tadi!" geram Jeremy dengan wajah mengeras menahan emosi.
"Enak saja! Om ini yang nggak punya etika!" balas Cahaya tanpa rasa takut sedikit pun.
Jeremy memijat pangkal hidungnya yang mulai berdenyut nyeri. "Martha, jangan bilang gadis kurang ajar ini yang kau terima untuk menjaga Elio?"
"Kalau saya tahu bosnya adalah om-om menyebalkan seperti anda, saya juga ogah melamar ke sini!" balas Cahaya sembari berkacak pinggang dan mendongak menatap sengit Jeremy.
tenang Dad saat ini nikmati saja sandiwara ini sampai jadi kebiasaan yang nyaman dan pastinya merindukan tak ingin jauh jauh🤣🤣
posesif mulai tumbuh
beeuugh apa lagi kalau bukan bucin 🤣🤣🤔
mulai posesif ingin Aya hanya dekat dan menjadi milik nya saja🤭
eitss tapi Aya kok aku gak yakin ya kalau kamu gak akan baper sama Jeremy 🤭
kamu bisa lho baper sama Jer yakin banget aku🤣
apa lagi nih si Jeremy mulai ada rasa sama kamu Aya jadi kesimpulan nya Jer akan berusaha membuat kamu punya perasaan sama Jer itu🤭