NovelToon NovelToon
Jangan Lihat Gemetarku

Jangan Lihat Gemetarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Game / Idola sekolah / Komedi
Popularitas:187
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

Semua orang mengenal Genta sebagai Presma (Presiden Mahasiswa) yang berwibawa. Tapi hanya Rara yang tahu kalau kakinya lemas setiap kali harus berpidato.

Berawal dari rahasia di balik panggung, Rara terjebak dalam kesepakatan rumit: Menjadi "support system" mental sang idola kampus secara offline, sambil menjaga rahasia bahwa sang pangeran es sebenarnya adalah Paladin manja yang ia kenal di dunia maya.

Satu hal yang Genta pelajari: Berakting cool itu mudah, tapi menyembunyikan detak jantung di depan Rara itu mustahil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pidato yang Hampir Gagal

Genta berdiri di tengah panggung, namun baginya, podium kayu di depannya terasa seperti pulau kecil yang sedang dikepung oleh lautan hiu. Di hadapannya, tiga ribu mahasiswa baru Universitas Nusantara duduk memenuhi Aula Besar. Ribuan pasang mata menatapnya dengan ekspektasi tinggi, menanti kata-kata mutiara dari sang Presiden Mahasiswa yang diagung-agungkan.

Lampu sorot (spotlight) yang menyilaukan terasa membakar kulit wajahnya. Genta mencoba menarik napas, namun udara di aula itu seolah-olah telah disedot habis.

Ia meletakkan tangannya di sisi podium. Buku jarinya memutih karena ia mencengkeram kayu itu begitu kuat, berusaha menyembunyikan tremor hebat yang kini merambat dari telapak tangan ke seluruh lengannya.

"Selamat pagi… rekan-rekan mahasiswa." Suara Genta keluar, namun terdengar asing di telinganya sendiri. Berat, kaku, dan tipis.

Ia melihat ke bawah, ke arah teks pidato yang sudah ia hafal di luar kepala selama berminggu-minggu. Namun, huruf-huruf di atas kertas itu mendadak menari, memburam, dan mencair. Mental block. Kata-kata yang seharusnya mengalir lancar kini tersangkut di tenggorokannya yang kering seperti padang pasir.

Keheningan mulai merayap di aula. Detik demi detik berlalu, dan kesunyian itu mulai terasa mencekik. Genta bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdegup liar, dug-dug, dug-dug, seperti genderang yang dipukul tepat di gendang telinganya.

Pandangannya mulai kabur di tepian. Gejala serangan panik yang sangat ia takuti kini datang dengan kekuatan penuh. Ia merasa seperti sedang tenggelam di dasar samudra, di mana suara bisik-bisik mahasiswa di barisan depan terdengar seperti dengungan lebah yang sangat jauh namun mengganggu.

Ayo, Genta. Bicara. Jangan sampai mempermalukan Ayah. Jangan jadi pengecut, batinnya berteriak, namun tubuhnya menolak untuk patuh.

Ia melihat Kania di barisan depan. Wakilnya itu tampak mulai gelisah, matanya melotot memberi kode agar Genta segera melanjutkan. Para dosen dan rektor di baris VIP mulai saling berbisik. Dunia seolah sedang menonton kehancurannya secara real-time.

Di sisi panggung, tersembunyi di balik bayangan tirai beludru merah, Rara berdiri mematung.

Ia baru saja mengalami syok luar biasa setelah menemukan gantungan kunci Slime Blue di ponsel Genta. Otaknya masih berusaha memproses kenyataan bahwa pria sombong di atas sana adalah Paladin_Z, sahabat virtualnya. Namun, melihat Genta yang kini mematung dengan wajah sepucat mayat, Rara tahu satu hal: Paladin-nya sedang dalam bahaya besar.

Rara bisa melihatnya dengan jelas. Dari sudut ini, ia melihat bagaimana bahu Genta gemetar. Ia melihat keringat dingin yang mengucur dari pelipis pria itu hingga membasahi kerah jas almamaternya. Genta tidak sedang berwibawa. Genta sedang sekarat karena ketakutan.

Dia butuh bantuan, pikir Rara. Kalau dia gagal di sini, topeng 'Pangeran Es'-nya bakal hancur dengan cara yang menyakitkan.

Rara ingin berteriak memberi semangat, tapi itu hanya akan merusak acara. Ia harus melakukan sesuatu yang hanya diketahui oleh mereka berdua. Sesuatu yang akan menembus kabut panik di kepala Genta.

Rara melangkah sedikit keluar dari bayangan tirai, memastikan hanya Genta yang bisa melihatnya dari posisi podium. Begitu mata Genta yang nampak linglung itu menyapu ke arahnya, Rara mulai bergerak.

Ia meletakkan kedua tangannya di pinggang, lalu menggoyangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri secara ritmis. Itu adalah gerakan yang konyol, kekanak-kanakan, dan sangat tidak pantas dilakukan di acara formal seperti ini.

Itu adalah Wiggle-Dance.

Gerakan khas karakter healer di Fantasy World setiap kali mereka memberikan buff keberuntungan kepada rekan setimnya. Sebuah tarian absurd yang selalu Rara lakukan di depan karakter Paladin_Z setiap kali mereka akan menghadapi Boss yang sulit.

Genta melihatnya.

Di tengah lautan manusia yang asing dan menakutkan, ia melihat sesosok gadis kecil di pinggir panggung yang sedang bergoyang-goyang konyol. Genta mengerjapkan mata, mengira ia sedang berhalusinasi karena kekurangan oksigen. Namun tidak, itu benar-benar Rara. Gadis logistik yang memasangkan mic-nya tadi. Gadis yang… mungkinkah adalah healer-nya?

Gerakan itu begitu kontras dengan suasana aula yang kaku dan tegang. Melihat Rara melakukan tarian Slime itu di kehidupan nyata, sebuah gelombang kehangatan yang aneh tiba-tiba menyapu rasa dingin di dada Genta.

Rasa takutnya tidak hilang sepenuhnya, namun monster di kepalanya mendadak terdiam. Ia teringat pesan chat semalam: “kalau kamu merasa mulai 'low HP' karena gugup, bayangin aja aku ada di sudut ruangan, siap nge-cast skill 'Motivation Buff' buat kamu.”

Ternyata, Rara benar-benar ada di sana.

Sebuah senyum kecil, sangat kecil hingga mungkin hanya Rara yang menyadarinya, muncul di sudut bibir Genta. Ia menarik napas dalam-dalam, kali ini paru-parunya terasa lapang. Genta melepaskan cengkeramannya pada podium, membiarkan tangannya jatuh secara alami di samping tubuh.

"Maafkan saya," ucap Genta, suaranya kini kembali jernih dan berwibawa melalui pengeras suara. "Saya hanya ingin memastikan kalian semua memberikan perhatian penuh sebelum saya menyampaikan poin yang paling penting dari pertemuan kita hari ini."

Mahasiswa baru yang tadi mulai gaduh kembali terdiam, terpaku oleh karisma Genta yang mendadak kembali meledak.

Genta mulai bicara. Dan kali ini, kata-katanya mengalir seperti air terjun yang tenang namun bertenaga. Ia tidak lagi membaca teks. Ia bicara dari hati, tentang bagaimana rasanya menjadi mahasiswa yang takut akan masa depan, tentang bagaimana universitas harus menjadi tempat bagi mereka yang ingin tumbuh meski penuh kekurangan.

Suaranya mengisi setiap sudut aula, membius siapa pun yang mendengarnya. Di sisi panggung, Rara berhenti menari. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding, napasnya ikut lega. Ia menatap Genta dengan pandangan baru.

Bagus, Paladin, batin Rara bangga. Gunakan skill 'Roar of Victory'-mu.

Tiga puluh menit kemudian, Genta menutup pidatonya dengan sebuah kutipan tentang keberanian. Begitu ia mengucapkan kalimat terakhir, suasana aula meledak.

Tepuk tangan yang membahana seperti guntur memenuhi ruangan. Beberapa mahasiswa bahkan berdiri memberikan standing ovation. Rektor Universitas Nusantara tampak mengangguk-angguk puas dengan senyum lebar. Pidato itu sukses besar, mungkin yang terbaik dalam sejarah orientasi kampus tersebut.

Genta membungkuk singkat, lalu segera berbalik menuju sisi panggung. Begitu kakinya menginjak area gelap di balik tirai, seluruh tubuhnya seolah merosot. Ia terengah-engah, wajahnya memerah karena adrenalin yang mulai turun.

Namun, fokusnya hanya satu. Ia tidak mencari Kania. Ia tidak mencari Rektor. Matanya menyisir kegelapan di samping panggung, mencari sosok gadis yang baru saja menyelamatkan nyawanya dengan tarian konyol.

"Rara!" panggil Genta, suaranya masih sedikit gemetar.

Ia melihat Rara sedang berdiri di dekat tumpukan kabel, sedang melipat tangannya di dada dengan senyum kemenangan yang sangat menyebalkan.

"Gimana, Tuan Presma?" goda Rara, suaranya pelan namun tajam. "Udah ngerasa lebih baik setelah dapet buff keberuntungan?"

Genta berhenti tepat di depan Rara. Jarak mereka dekat, cukup dekat hingga Genta bisa melihat pantulan dirinya yang hancur di mata Rara. Ia tidak lagi punya kekuatan untuk memasang wajah 'Pangeran Es'.

"Kamu..." Genta menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya. "Kenapa kamu melakukan itu?"

Rara mengangkat bahu dengan santai. "Karena Paladin yang mati di tengah panggung itu bakal bikin healer-nya malu. Lagian, aku nggak mau narasumber wawancara utamaku pingsan sebelum aku sempat dapet berita bagus."

Genta menatap Rara lama, sebuah tatapan yang penuh dengan rasa syukur, malu, dan kekaguman yang campur aduk. Di saat itulah, Genta sadar bahwa hidupnya yang 'sempurna' secara resmi telah berakhir, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih nyata dan jauh lebih berisiko: sebuah hubungan dengan gadis yang mengetahui semua rahasianya.

1
Hana Agustina
first
Hana Agustina
sweet bgt sih rara n genta
Leel K: Btw, udah baca dari awal belum? Soalnya aku udah revisi total dari bab 1 kemarin 😭
total 1 replies
Hana Agustina
first like thor.. sambil ngopi yaa.. aku krm biar semangat, aku sneng sm crita kamu
Leel K: Makasiiiii❤
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!