Nara adalah seorang gadis yang baru saja pindah ke apartemen baru setelah putus cinta. Sialnya, tetangga sebelah unitnya adalah Rian, cowok paling menyebalkan, sombong, dan perfectionist yang pernah Nara temui.
Mereka berdua terlibat dalam sebuah insiden konyol (seperti kunci tertinggal atau salah kirim paket) yang membuat mereka harus sering berinteraksi. Karena sering berisik dan saling komplain ke pengelola apartemen, mereka akhirnya membuat "Kontrak Damai". Salah satu aturannya adalah: Dilarang keras baper (jatuh cinta) satu sama lain.
Tapi, kita semua tahu, aturan dibuat untuk dilanggar, kan? 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Tengah Malam dan Skandal di Balik Pintu
Malam itu, koridor lantai empat apartemen Skyline Residence kelihatan tenang banget kayak biasanya. Tapi di dalam lift, suasana lagi panas-dingin karena Nara masih salting abis digendong Rian tadi di parkiran rumah Tante Shinta.
"Mas, turunin kek! Malu tau, ini udah di lift, nanti kalau CCTV-nya diliat satpam gimana?" Nara protes sambil nepuk-nepuk pundak Rian, tapi tangannya tetep melingkar erat di leher cowok itu.
Rian cuma senyum miring, tipe senyum yang bikin Nara pengen pingsan di tempat. "Biarin aja. Biar satpamnya tahu kalau penghuni unit 402 itu kuat banget angkut beban hidupnya."
"Dih! Saya dibilang beban hidup?!" Nara nyubit pipi Rian gemas.
Pintu lift terbuka dengan suara ting yang nyaring. Rian akhirnya nurunin Nara pas mereka sampai di depan unit 401. Begitu kaki Nara nyentuh lantai, dia baru sadar kalau ada yang aneh. Di depan pintu unit 402—unitnya Rian—ada beberapa koper besar bermerk dan satu kardus penuh barang-barang yang kelihatan mahal.
Rian ngerutin dahi. "Ini apa lagi? Saya nggak ngerasa pesen paket malam-malam begini."
Nara mendekat ke tumpukan barang itu. "Mas, ini kayaknya bukan paket dari toko oren deh. Liat deh, ini ada label namanya."
Nara nunduk buat liat label yang nempel di salah satu koper. Matanya langsung membelalak. Di sana tertulis: Property of Karin Adiwijaya.
"HAH?! Mas, ini... ini barang-barangnya si Karin?!" Nara langsung nengok ke Rian dengan muka panik.
Belum sempat Rian jawab, pintu unit 402 terbuka dari dalem. Dan yang bikin mereka berdua makin syok, Karin muncul dari dalem unit Rian cuma pakai kemeja putih kebesaran—yang Nara tahu banget itu kemeja kerja punya Rian—dan celana pendek yang hampir nggak kelihatan.
"Ian... kamu baru pulang?" ucap Karin dengan suara serak-serak basah yang dibuat seseksi mungkin.
Nara ngerasa kayak disamber petir di siang bolong. Kakinya mendadak lemes, dan jantungnya rasanya kayak mau berhenti detak. Dia liat kemeja Rian yang dipakai Karin, terus liat Rian yang mukanya udah pucat pasi.
"Karin?! Gimana bisa kamu masuk ke unit saya?! Dan kenapa kamu pakai baju saya?!" bentak Rian. Suaranya menggelegar di koridor sepi itu.
Karin jalan mendekat, dia mau pegang lengan Rian tapi Rian langsung mundur selangkah. "Ian, dengerin aku dulu. Tadi sore Papa aku bilang kalau rumah aku di segel karena masalah pajak, dan aku nggak tahu harus ke mana lagi selain ke sini. Aku masih punya kunci cadangan unit ini yang dulu kamu kasih, inget kan?"
Nara ngerasa dunianya runtuh. Kunci cadangan? Jadi selama ini Karin masih punya akses ke hidup Rian?
"Nara, ini nggak kayak yang kamu pikirin," kata Rian cepet, dia nengok ke arah Nara yang mukanya udah mulai basah sama air mata.
Nara nggak jawab. Dia ngerasa sesek banget. Dia ngerasa bego karena baru aja ngerasa spesial di rumah Tante Shinta, tapi ternyata masa lalu Rian masih bisa masuk ke kamar pribadi cowok itu sesuka hati.
"Mas... kunci cadangan? Mas nggak pernah bilang kalau dia masih punya kunci," bisik Nara, suaranya gemeteran parah.
"Aku lupa, Nara. Sumpah, aku pikir dia udah buang kuncinya pas kita putus tiga tahun lalu," jawab Rian panik. Dia langsung narik tangan Karin kasar. "Keluar sekarang! Pakai baju kamu sendiri dan keluar dari unit saya!"
Karin malah akting nangis. "Ian, tega kamu? Aku nggak punya tempat tinggal! Kamu mau aku tidur di jalanan?"
"Terserah kamu mau tidur di mana! Pergi!" Rian udah bener-bener emosi.
Nara nggak sanggup liat drama itu lagi. Dia langsung lari masuk ke unitnya sendiri, unit 401, dan banting pintu keras-keras. BRAKK!
Di dalem unit, Nara langsung ambruk di balik pintu. Dia nangis sesenggukan. Kenapa sih, setiap kali dia ngerasa bahagia, pasti ada aja yang ngerusakin? Dia ngerasa minder lagi. Dia cuma cewek biasa, sementara Karin itu punya sejarah panjang sama Rian.
Tok! Tok! Tok!
"Nara! Buka pintunya! Nara, dengerin penjelasan saya!" teriak Rian dari luar.
Nara diem aja. Dia nutup telinganya pakai tangan. Dia nggak mau denger apa-apa lagi. Hatinya udah terlalu sakit liat cewek lain pakai kemeja pacarnya di dalem unit yang harusnya jadi tempat paling aman buat mereka.
Gak lama, suara Rian ilang. Berganti sama suara teriakan Rian ke Karin di koridor. Kayaknya Rian lagi maksa Karin pergi. Nara cuma bisa denger suara koper yang ditarik kasar dan suara lift yang tertutup.
Satu jam berlalu. Nara masih duduk di lantai, meluk lututnya. Tiba-tiba ada suara ting dari HP-nya.
Pesan dari: Mas Rian ❤️ (Eh, Nara belum ganti namanya)
"Nara, saya udah panggil satpam buat ganti kunci unit saya malam ini juga. Karin udah saya usir dan saya udah pastiin dia nggak bakal bisa masuk ke gedung ini lagi. Saya sekarang ada di depan pintu kamu. Saya nggak bakal pergi sampai kamu mau denger penjelasan saya. Plis, Nara... jangan hukum saya atas kesalahan yang nggak saya lakuin sengaja."
Nara ngintip dari lubang pintu. Bener aja, Rian lagi duduk nyender di tembok koridor, tepat di depan pintu unit Nara. Dasinya udah lepas, rambutnya acak-adakan, dan wajahnya kelihatan sangat frustrasi.
Nara narik napas panjang. Dia nggak tega liat Rian kayak gitu, tapi hatinya masih perih. Akhirnya, dengan tangan gemeteran, dia buka pintunya sedikit.
Rian langsung berdiri tegak pas denger pintu terbuka. "Nara..."
"Kenapa kemeja itu, Mas?" tanya Nara pelan, matanya masih sembab.
Rian langsung pegang tangan Nara, dia nggak mau ngelepasin. "Dia sengaja, Nara. Dia tahu kita bakal pulang jam segitu. Dia sengaja pakai kemeja itu buat bikin kamu marah. Pas saya masuk tadi, saya liat dia lagi bongkar lemari saya. Saya beneran lupa kalau kunci itu masih ada sama dia."
"Mas masih cinta sama dia?"
Rian natap mata Nara dalem-dalem. "Nggak sama sekali. Sejak kamu numpahin kopi ke kemeja saya, dunia saya cuma isinya kamu, Nara. Karin itu cuma kesalahan masa lalu yang sekarang lagi saya hapus bersih. Percaya sama saya, Nara. Saya nggak bakal khianatin kontrak permanen kita."
Nara diem sebentar, dia liat ketulusan di mata Rian. Tapi dasar Nara, sisi jahilnya mendadak muncul buat nutupin rasa sedihnya.
"Oke, saya percaya. Tapi ada syaratnya!"
Rian langsung sumringah. "Apa? Apapun saya lakuin!"
"Pertama, Mas harus buang kemeja putih yang dipakai dia tadi. Saya nggak mau liat Mas pakai itu lagi. Kedua... Mas harus biarin saya pasang CCTV di depan unit Mas yang terhubung ke HP saya!"
Rian ketawa kecil, dia narik Nara ke dalem pelukannya. "Kemejanya udah saya buang ke tempat sampah di koridor tadi. Soal CCTV, jangankan di depan unit, di dalem unit pun saya kasih aksesnya buat kamu. Biar kamu tahu kalau setiap malam saya cuma kangen sama tetangga saya yang berisik ini."
Nara akhirnya bisa senyum lagi. Dia meluk pinggang Rian erat banget. "Mas, jangan bikin saya jantungan lagi ya. Saya belum siap jadi janda sebelum nikah."
"Hussh! Ngomongnya ngaco!" Rian nyium puncak kepala Nara. "Udah, sekarang tidur ya. Udah malem banget. Besok pagi jangan lupa tugas kamu."
"Bangunin Mas pakai kata 'sayang'?"
"Bukan. Besok pagi tugas kamu adalah nemenin saya beli kemeja baru buat gantiin yang dibuang tadi. Dan kamu yang harus pilihin warnanya," ucap Rian sambil nyubit hidung Nara.
Besok paginya, drama belum bener-bener berakhir. Pas Nara lagi mau jemput Rian buat belanja kemeja, dia liat ada karangan bunga duka cita di depan unit 402. Isinya:
"Turut Berduka Cita atas Hilangnya Hati Nurani Rian Ardiansyah. Dari: Seseorang yang Kamu Abaikan."
Nara langsung melongo. "Gila... ini si Karin beneran psikopat apa gimana sih?"
Rian keluar dari unitnya, liat karangan bunga itu, terus dia cuma geleng-geleng kepala. Dia ngambil kartu di karangan bunga itu, terus dia telepon seseorang.
"Halo, bagian legal? Tolong proses laporan atas tindakan pelecehan dan perbuatan tidak menyenangkan atas nama Karin Adiwijaya. Kirimkan somasi hari ini juga."
Nara ngeliatin Rian dengan kagum. "Mas... Mas beneran laporin dia?"
"Saya udah bilang kan, Nara? Saya bakal lakuin apapun buat lindungin ketenangan kita. Sekarang, ayo pergi. Saya mau kemeja warna sage green biar kembaran sama dress kamu yang kemarin," ajak Rian sambil ngerangkul Nara jalan ke lift.
Nara ketawa renyah. Ternyata, punya pacar robot yang kalau udah marah serem banget itu ada untungnya juga. Karin boleh punya sejuta rencana, tapi dia lupa kalau Rian itu ahli strategi yang nggak pernah kalah dalam permainan manapun—terutama kalau taruhannya adalah hati Nara.
Di dalam lift, Nara nyender di bahu Rian. "Mas, makasih ya udah jadi ksatria saya."
"Makasih juga udah jadi alasan saya buat nggak jadi robot lagi, Nara."
Dunia mungkin lagi penuh drama, tapi buat penghuni unit 401 dan 402, setiap tantangan justru bikin mereka makin sadar kalau mereka emang diciptain buat saling ngelengkapin. Dari tetangga rese, jadi rekan kontrak, sampai jadi belahan jiwa.