NovelToon NovelToon
Luka Dalam Hidupku

Luka Dalam Hidupku

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Lari Saat Hamil / Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: ewie_srt

alia, gadis malang. kehidupannya yang menyakitkan setelah ibu tiri menjualnya, hamil tanpa suami di sisinya, kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tujuh belas

"Apa yang kalian lakukan di sini?" Pertanyaan langit masih menggantung, menatap bara curiga, hati langit mendadak panas, melihat senyum malu bara tadi yang kelihatan salah tingkah.

Bola mata alia membesar kaget, ia tak menyadari sejak kapan pria itu berdiri di situ dengan mata mengamati mereka penuh rasa curiga.

Bara melengos malas dengan wajah tak suka,

"Kamu sendiri ngapain disini?" Tanyanya tanpa ekspresi.

"Kamu belum menjawab pertanyaanku" jawab langit sembari menghampiri meja tempat bara dan alia berada, dengan gayanya yang slenge'an dan urakan, ia duduk di kursi, tepat di sisi alia, yang dengan cepat menggeser tubuhnya menjauh.

"Apakah seorang manager pemasaran, boleh bolos dari kerja, dan kencan di jam kerja seperti ini?" Tanya langit dengan nada suara yang sangat menyebalkan, tangannya meraih gelas coffe alia yang mulai terlihat gelisah, dan menyesapnya santai tanpa reaksi apa-apa, datar.

"Kencan dengan bosnya pula, kira-kira apa pendapat karyawan lain, jika melihatnya?" Jari telunjuk langit mengetuk-ketuk dagunya, mengerucutkan bibir dan memutar matanya, seakan mengejek.

Bara sudah terlihat jengkel melihat tingkah langit, ia membuka mulutnya ingin menjawab, namun alia yang berdiri tiba-tiba, membuatnya urung bicara dan menatap wanita itu yang terlihat gelisah.

"Maaf pak, saya akan kembali ke kantor, karena jam makan siang saya juga hampir berakhir, bapak bisa hubungi saya atau kirimi saya pesan saja" ujar alia pamit, kepalanya mengangguk sopan dan berlalu tanpa mengatakan hal lainnya.

Bara juga hanya menjawab dengan anggukan dan senyum wibawanya. Matanya kemudian beralih menoleh ke arah langit tidak suka, ia melihat mata abu-abu milik langit itu masih menatap ke arah alia pergi, tanpa berkedip. Hati bara geram melihat tingkah langit yang sangat tidak sopan dan kekanak-kanakan.

"Ada apa denganmu langit?" Tanyanya dengan nada sedikit marah, bara tersinggung dengan apa yang barusan langit lakukan.

"Kenapa..hehhh" jawab langit dengan tawa smirknya.

"Apakah kencanmu terganggu?" Tanyanya lagi dengan suara sedikit mencemooh.

"Apa maksudmu kencan?" Sentak bara dengan nada sedikit kasar, tatapannya terlihat tajam menatap langit yang masih tersenyum dengan senyuman menyebalkannya itu.

"Dan aku rasa itu juga bukan urusanmu" sambung bara datar.

Wajah langit terlihat menegang, walau senyum smirk itu tak juga hilang dari wajah tampannya, namun gelegak di hatinya semakin panas, mengingat pertanyaan bara tadi ke alia tepat bersamaan saat ia tiba.

Binar mata bara ketika menatap alia tadi membuat ia benar-benar gelisah dan tidak suka. Cara bara tersenyum, cara bara menatap, sungguh langit tahu apa artinya.

"Kamu menyukai alia?" Tanya langit tiba-tiba dengan raut wajah berubah serius tanpa senyuman khasnya itu. Ia menunggu jawaban bara dengan hati yang semakin memanas, yah langit sudah tahu jawaban apa yang ada di hati bara, tanpa pria itu menjawabnya.

"Itu bukan urusanmu" jawab bara cepat, ia bangun berlalu dan meninggalkan langit yang menggemeretakkan giginya geram.

Rahang pria itu mengeras, ia sangat tak menyukai situasi ini, langit tidak suka melihat tatapan bara yang  begitu lembut ketika menatap alia, ada binar indah di mata bara tadi.

'Tidak ada yang boleh menyukai alia, dia itu milikku, tidak ada siapapun yang boleh mencoba-coba mendekati alia, termasuk kau bara' geram langit dalam hati, tangannya masih mengenggam gelas kopi alia tadi.

Urat tangannya terlihat menegang, dengan emosi yang meluap ia melemparkan gelas itu dengan sekuat tenaganya ke lantai. Pecahannya berserak, namun dengan langkah santai dan angkuhnya ia melangkah keluar, setelah terlebih dahulu melemparkan beberapa lembar uang berwarna merah ke atas meja untuk ganti gelas itu dengan sombongnya.

Alia bersiap-siap untuk pulang, ia merasa lega dan tenang, langit tidak mengusiknya sama sekali sejak makan siang tadi. Pria itu terlihat serius di ruangannya, mungkin. Sebab sejak kembali dari cafe tadi, langit tidak keluar dari ruangannya sama sekali.

Alia sudah berdiri menyandang tasnya, bergerak mengikuti teman-temannya yang mulai beranjak pulang. Bu wirda terlihat tergopoh keluar dari ruangannya, tak seperti biasa, langkahnya yang biasa tenang dan anggun, kali ini terlihat terburu-buru mengejar alia.

"Alia, jangan pulang dulu, bantu saya sebentar!" Pinta bu wirda, meraih lengan alia. Langkah alia terhenti, belum sempat ia menjawab tubuhnya sudah terseret oleh bu wirda yang berjalan tergopoh-gopoh. Alia hanya diam, ia mengikuti langkah direkturnya itu menuju ke ruangan.

"Saya harus menyelesaikan dokumen yang di minta pak langit hari ini alia, tapi sore ini, saya harus menghadiri pertemuan penting yang tidak bisa saya wakilkan, bisakah kamu melanjutkan dokumen ini?saya sudah mengerjakannya, hanya tinggal finishingnya saja" pinta bu wirda, menyodorkan laptopnya.

 Bu wirda sangat jarang minta tolong kepadanya, alia jadi segan menolaknya. Walau yah ada rasa berat di hatinya, sebab ia enggan bertemu dengan pria itu, namun mau tak mau alia menerima laptop itu dan tersenyum.

"Terima kasih alia, nanti saya akan ajukan jam tambahan ini sebagai jam lembur untukmu" ujar bu wirda dengan penuh terima kasih, sebelum melangkah keluar tangannya menepuk bahu alia pelan.

Alia membawa laptop itu keluar dari ruangan bu wirda, ia berencana mengerjakan di mejanya saja, namun di koridor menuju ke ruangan para karyawan, alia berpapasan dengan langit yang melihat ke arahnya dengan mata elangnya yang tajam.

Ingin rasanya alia berbalik, namun urung ia lakukan, alia takut nanti langit akan salah paham dan malah akan menimbulkan masalah baginya.

"Kenapa kamu belum pulang?" Tanya langit datar, mata elangnya mengamati alia yang terlihat terkejut. Alia menunjukkan laptop yang ada di tangannya,

"Ada pekerjaan yang harus saya selesaikan pak" jawab alia terdengar datar.

Alia hendak melangkah menuju mejanya, namun lagi-lagi suara langit menahannya.

"Apakah itu dokumen yang saya minta dari direkturmu?" Tanya pria itu penuh selidik, sekilas ia melirik jam tangannya, sudah lewat 30 menit sejak jam pulang kantor.

Alia mengangguk pelan,

"iya pak.."

Alia berlalu dari hadapan pria itu yang masih berdiri dengan tatapan yang terlihat sangat mencurigakan, senyum smirk langit yang memang sangat menyebalkan selalu mampu membuat alia merasa terintimidasi.

Alia menghela nafasnya lega, ia merasa seperti lepas dari bahaya, dengan langkah terburu, alia menuju meja kerjanya.

Tak butuh waktu lama, hanya 30 menit, alia selesai mengerjakan dan mengirimkan ke email langit. alia berjalan tenang menuju lift, setelah memastikan bahwa pekerjaannya selesai dengan baik.

 Suasana di kantor terlihat sunyi, alia celingukan memandang ke sekeliling, ternyata hanya tinggal dirinya yang berada di kantor itu.

"Duaarrrr"

Terdengar gelegar suara petir bersamaan dengan padamnya lampu,

"Ahhhhh...." alia menjerit terkejut dan ketakutan, ruangan menjadi gelap gulita.

 Jantung alia berasa berhenti berdetak, tangannya meraba-raba, mencari ponselnya dari dalam tas. Belum hilang rasa kaget dari dirinya, tiba-tiba pria itu, langit, berdiri di hadapan alia dengan cahaya senter dari ponsel menerangi wajahnya.

"Ahhhhhhhhh..." sekali lagi alia menjerit terkejut, ponsel yang barusan ia pegang, tanpa sadar terlempar ke arah pria itu.

Alia hampir jatuh terduduk, untungnya tubuh alia tertahan kubikel yang ada di belakangnya. Alia mengumpulkan kedua tangan di depan dadanya yang berdetak kencang, wajahnya masih pias dengan nafas yang terlihat naik turun.

"Aduh.." keluh langit memegang kepalanya yang mendapat lemparan ponsel alia, ponsel itu terjatuh tepat di kaki langit.

Ia menunduk ingin mengambil ponsel alia yang tergeletak dengan layar hidup menghadap ke atas, foto luka yang tersenyum terlihat. Mata langit tertegun menatapnya, hatinya menghangat melihat senyuman bocah laki-laki itu, tanpa ia sadari senyum manis  yang tulus terbit dari wajahnya.

Alia mengernyitkan matanya heran melihat senyum langit yang terlihat sangat berbeda, ada rasa curiga dan tidak tenang mengusik hatinya, dengan gerakan cepat tangan alia merampas ponselnya yang berada dalam genggaman langit.

Pria itu tersentak, sesaat tatapan matanya terlihat terkejut, melihat reaksi alia yang sedikit kasar.

"Klick"

Mata alia mengerjap pedih, silau oleh cahaya lampu yang kembali menyala, pria di hadapannya itu juga terlihat mengerjapkan mata. Alia berdiri dengan kokoh setelah tadi tubuhnya tersandar ke kubikel,

"Saya duluan pak langit" pamit alia sopan beranjak meninggalkan langit yang masih berdiri,

"Tunggu.." seru langit cepat,

"Aku akan antar kamu pulang,  di luar juga sedang hujan."

"Nggak perlu repot-repot pak" tolak alia cepat, melangkah berjalan menjauhi langit, namun pria itu dengan cepat menyambar tangan alia, dan mencekalnya kuat.

"Jangan menolak!, atau aku harus memaksa?" Tatap langit tajam, penuh perintah.

Alia hampir menolak, tapi mata elang langit terlihat memaksa, tidak memberi celah sedikitpun untuk alia bersuara.

Bersambung..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!