NovelToon NovelToon
Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romansa pedesaan / Perjodohan / Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:59.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.

Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.


Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Pemandangan itu tak luput dari mata Siti yang baru saja tiba di sawah dengan membawa rantang di tangannya. Wajahnya langsung mengeras. Dengan langkah cepat dan penuh kesal, ia meletakkan rantang itu di atas gubuk, lalu mendekati mereka.

Tanpa basa-basi, Siti menarik lengan Kiara agar menjauh dari Alvar.

“Ngapain berbuat mesum di sawah? Malu dilihat orang!” hardiknya.

Kiara langsung tersulut. “Apa-apaan kamu! Nggak ada yang mesum! Kita jatuh nggak sengaja!”

Siti mendengus sinis, menatap Kiara dari ujung kepala sampai kaki.

“Ke sawah tapi pakaiannya kayak gitu. Pantas aja disangka aneh-aneh.”

“Sudah,” potong Alvar tegas. “Jangan ribut.”

Siti lalu mengambil rantang dan menyerahkannya pada Alvar. “Aku bawain makanan, mas.”

Alvar menatap rantang itu sekilas, lalu menggeleng.

“Ibu sudah bawa nasi dan minum tadi waktu datang sama Kiara.”

Kiara tanpa sadar tersenyum tipis melihat penolakan itu. Senyum kecil yang justru membuat dada Siti semakin panas, penuh kekesalan, sebelum akhirnya ia membalikkan badan dan pergi meninggalkan mereka.

Setelah Siti pergi, Kiara mendengus pelan, lalu melirik Alvar dengan tatapan mengejek.

“Banyak juga ya yang suka sama kamu di desa ini. Terus kenapa sih masih mau dijodohkan? Padahal kamu bisa pilih sendiri. Banyak gadis desa yang mau sama kamu. Termasuk … Dokter Hesti.”

Begitu nama itu terucap, Alvar langsung menoleh tajam ke arah Kiara.

“Kalau nggak tahu apa-apa, nggak usah ikut campur,” katanya dingin.

“Kamu urus aja urusan kamu sendiri.”

Ucapan itu seperti tamparan. Kiara terdiam, dadanya terasa sesak, genggaman tangannya mengencang sebelum akhirnya ia bangkit dari duduknya.

“Dih, marah,” gumamnya kesal. “Aku pulang duluan."

Tanpa menunggu jawaban, Kiara melangkah pergi meninggalkan gubuk itu. Alvar hanya berdiri diam, menatap punggung Kiara yang semakin menjauh.

Entah kenapa, bayangan Hesti kembali muncul di benaknya. Mungkin karena perpisahan mereka tak pernah benar-benar selesai dengan luka atau mungkin karena sampai hari ini, Alvar belum menemukan siapa pun yang mampu menggantikan tempat Hesti di hatinya.

Saat Kiara berjalan menelusuri jalan persawahan, ponselnya tiba-tiba berdering di tangannya. Nama Delia tertera di layar. Seketika langkahnya melambat, wajahnya berubah cerah. Ada rindu yang akhirnya menemukan jalannya pulang.

“Halo, Del…” ucap Kiara pelan, suaranya terdengar jauh lebih lembut dibanding sebelumnya.

Percakapan mereka singkat. Tawa kecil sempat lolos dari bibir Kiara, hingga suara Delia berubah serius. Kalimat berikutnya seperti pisau tajam yang langsung menusuk dadanya.

[Yoga dan Lala akan menikah.]

Langkah Kiara terhenti, pandangannya mengabur menatap hamparan sawah yang hijau. Dada Kiara terasa panas, napasnya tercekat. Satu adalah mantan kekasih yang pernah ia cintai sepenuh hati, satu lagi adalah sahabat yang ia percaya tanpa sisa. Pengkhianatan ganda itu menghantamnya tanpa ampun.

Tanpa pamit, Kiara langsung mematikan panggilan itu. Tangannya gemetar, wajahnya memerah menahan aramah, dia melanjutkan langkah dengan langkah yang semakin tak terarah, menelusuri pematang sawah yang lengang. Angin siang berembus pelan, membawa aroma lumpur basah dan padi muda, seolah menertawakan perasaannya yang porak-poranda.

Kiara tak tahu hendak ke mana. Yang ia tahu hanya satu di sekitar tempat ini, pasti ada sudut yang sejuk, tempat ia bisa berhenti sejenak, menumpahkan semua sesak yang tak sanggup ia bawa pulang.

Sekitar pukul dua belas siang, Alvar tiba di rumah. Namun, yang menyambutnya hanyalah rumah kayu yang sunyi. Tak ada suara langkah, tak ada suara piring, bahkan aroma masakan pun tak tercium.

Alvar menaruh caping dan bajunya, melirik ke sekitar rumah.

“Kok sepi?” gumamnya.

Dari arah belakang terdengar langkah kaki tergesa. Bu Sulastri muncul dengan tas arisan di tangannya. Wajahnya terlihat lelah namun tetap tersenyum.

“Alvar, kamu baru pulang?” tanyanya.

“Iya, Bu,” jawab Alvar singkat.

Sulastri menoleh ke sekeliling rumah.

“Lah … Kiara mana?”

Pertanyaan itu membuat Alvar terdiam. Sejak tadi, ia memang tak melihat Kiara.

“Mungkin di kamar, Bu,” jawabnya ragu. “Aku mau bersih-bersih dulu.”

Sulastri mengangguk lalu melangkah cepat menuju kamar. Tak sampai satu menit, suara wanita itu terdengar meninggi.

“Alvar!"

Alvar yang baru membuka kancing baju langsung berhenti.

“Iya, Bu?” sahutnya dari ruang tengah.

“Alvar, Kiara nggak ada di kamar!” seru Sulastri panik.

“Coba cek kamar mandi, Bu,” jawab Alvar, kini mulai gelisah.

Beberapa detik berlalu.

“Nggak ada juga!”

Jantung Alvar berdegup lebih kencang. Ia melangkah mendekat.

“Jangan-jangan Kiara nyasar, Bu … Tadi dia pulang sendiri dari sawah,” ucap Alvar pelan, namun nadanya jelas menahan cemas.

Wajah Sulastri langsung berubah pucat.

“Alvar! Kamu gimana sih!” suara Sulastri meninggi.

“Kiara itu baru pertama kali ke desa ini, dia mana hafal jalan pulang! Kamu biarin dia pulang sendiri?”

Alvar terdiam, rasa bersalah tiba-tiba menghantamnya.

Di luar, cuaca yang semula cerah berubah drastis. Awan mendung menggantung rendah, dan perlahan kabut putih turun dari perbukitan, menyelimuti hamparan sawah dan jalan-jalan desa. Udara terasa dingin dan berat, seolah memberi firasat buruk.

Sulastri menggenggam lengannya gemetar.

“Kita cari sekarang, Var … sebelum kabut makin tebal.”

Alvar mengangguk cepat.

Sementara itu, Kiara duduk terpaku di atas perbatuan besar di tengah kali. Air sungai yang mengalir di bawah kakinya terasa sejuk dan jernih, kontras dengan dadanya yang sesak. Tangisnya pecah tanpa bisa ditahan lagi.

Di tangannya, layar ponsel menampilkan foto-foto lama, senyum bahagia bersama Yoga, tawa bertiga dengan Lala. Jari-jarinya gemetar saat menggulir satu per satu kenangan itu.

“Kenapa?” gumamnya lirih di antara isak.

“Apa salahku sampai kalian tega berkhianat?”

Air mata menetes, jatuh ke layar ponsel, mengaburkan wajah-wajah yang dulu ia percaya.

Suara guntur tiba-tiba menggelegar dari kejauhan, membuat Kiara tersentak. Ia mendongak, kabut putih perlahan turun dari sela pepohonan, menutup pandangan di sekeliling kali. Udara mendadak dingin, angin berembus membawa aroma tanah basah.

Kiara menelan ludah.

“Sebentar lagi hujan…” gumamnya.

Baru saat itu ia sadar, ia sudah berjalan terlalu jauh dari rumah Pak Kades. Jalan pulang terasa asing, tak lagi ia ingat dengan jelas.

“Mati?” Kiara menekan tombolnya berulang kali. “Astaga … aku lupa ngecas.”

Panik mulai merayap. Kiara menyimpan ponsel itu, lalu perlahan turun dari batu besar. Kakinya menyentuh tanah basah di tepi kali. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri, lalu melangkah mengikuti jalan setapak.

Namun, beberapa menit kemudian, ia tiba di sebuah persimpangan.

Kiara berhenti, menoleh ke kanan jalan kecil yang dipenuhi semak dan pepohonan. Ke kiri jalan tanah yang mulai tertutup kabut. Tak ada satu pun orang di sana.

Langit semakin gelap. Angin bertiup kencang, daun-daun berdesir resah. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul satu siang, namun suasana sudah seperti menjelang senja.

Kiara menelan ludah, dadanya berdegup kencang.

“Ke mana aku harus jalan?” bisiknya pelan.

Kabut makin tebal, hujan turun tiba-tiba, deras tanpa aba-aba. Langit seolah runtuh, menumpahkan air tanpa ampun. Kabut putih yang sejak tadi menggantung kini menebal, menelan pepohonan dan jalan setapak hingga jarak pandang tinggal beberapa meter saja, padahal hari masih siang.

“Ya Tuhan…” Kiara memeluk tubuhnya sendiri, panik.

Ia berjalan menyusuri tepi sungai, langkahnya tergesa dan tak lagi teratur. Tanah berubah licin, lumpur menempel di sandal dan betisnya. Hujan membuat bebatuan berkilau licin, suara air sungai semakin keras, menakutkan.

Kaki Kiara terpeleset, tubuhnya terhuyung lalu jatuh ke arah sungai. Air dingin menyambar, membuat napasnya tercekat. Beruntung ia tak terseret arus, tubuhnya hanya terhempas di bagian pinggiran sungai.

“Aah!” jeritnya tertahan.

Rasa nyeri menjalar tajam dari pergelangan kaki. Kiara mencoba berdiri, namun kakinya tak bisa digerakkan. Terasa perih, seperti ditusuk ribuan jarum.

“Terkilir…” bisiknya dengan napas bergetar.

Dengan sisa tenaga, Kiara menyeret tubuhnya menjauh dari arus. Tangannya mencengkeram tanah basah, kuku-kukunya kotor oleh lumpur. Ia akhirnya bersandar di batang pohon besar di tepi sungai, tubuhnya gemetar hebat.

Hujan terus mengguyur tanpa peduli.

Kiara menunduk, melihat lututnya yang berdarah. Kulitnya robek, bercampur lumpur dan air hujan. Rasa perihnya membuat air matanya kembali jatuh.

“Kenapa … hari ini sial banget sih…” gumamnya lirih, suaranya tenggelam oleh suara hujan dan gemuruh sungai.

Dia memeluk kakinya yang terluka, berusaha menahan dingin yang merambat hingga tulang. Kabut semakin menutup pandangan, membuat tempat itu terasa seperti dunia yang terasing.

Hujan belum sepenuhnya reda, hanya berubah menjadi rintik dingin yang menusuk kulit. Alvar menelusuri persawahan, langkahnya cepat, matanya menyapu setiap sudut yang tertutup kabut. Lumpur mengotori celana dan sepatunya, namun ia tak peduli.

“Kiara!” teriaknya lantang.

Suara itu tenggelam oleh angin dan gemericik air hujan.

Beberapa warga desa ikut membantu, membawa senter seadanya dan jas hujan lusuh. Mereka menyebar, memencar ke arah perkebunan cabai, pematang sawah, dan jalur sungai kecil.

“Cari ke arah kali!”

“Aku ke kebun bawang!”

“Jangan sendirian, teriak kalau nemu apa-apa!”

Alvar berlari kecil melewati pematang sempit, nyaris tergelincir. Napasnya memburu, dadanya terasa sesak, bukan karena lelah, tapi karena takut.

Kabut semakin turun, menutup jalan setapak. Alvar berhenti sejenak, mengepalkan tangan.

“Kiara…” gumamnya, suaranya serak.

Pencarian terus berlanjut, di tengah hujan, kabut, dan kecemasan yang kian menebal.

1
hasatsk
setelah di simak,, seru juga ceritanya
Ni'mah azzahrah Zahrah
Kiara yg enak, aku yg tegang thor
Lilis Yuanita
aduh keringetan😄😄
Gadis misterius
Ini nanti darius yg jd duri liht dech krn klu setiap hr bertmu bklan ada rs nyaman
Eva Karmita
orang yang kalem ternyata bisa agresif juga ya 😅😅
biby
POV alvar : siapa sih.. ganggu aja, g tau apa org lg berusaha baikan
outhor nih selalu aja g suka liat alvar seneng
Aisyah Alfatih: sabar ya kak 🤭 kasih bonus deh nanti bab selanjutnya 🤭
total 1 replies
Nar Sih
ungkapan cinta juga cemburu ahir nya keluar dri hti alvar yg berahir dgn ciuman yg mungkin awal dri kebahagiaan kalian ,
Ika Wahyuni
wah itu pasti mamanya Kiara yg datang disaat tidak tepat 🤭
iza
up lgi thor
Naufal Affiq
dengar kan omongan orang tua mu kiara,jangan dengar cakap orang belum tentu benar
Nar Sih
hamil di luar nikah kok bangga ,🤣
Naufal Affiq
kau tau lala,pembantu lebuh tinggi lagi di banding kan kau,yang gak ada harga diri,yang hamil di luar nikah,bangga banget kamu,gaya manusia gak berpendidikan kalau ngomong
Teh Euis Tea
yeyyy nganggu aj deh yg ketuk pintu🤭
Ariany Sudjana
betul kata ibumu Kyara, kalau kamu bercerai dengan dokter Alvar, dimana lagi kamu akan menemukan suami seperti dokter Alvar? sudahlah lupakan semua masa lalu kalian, mulai dengan lembaran baru, dan jangan kasih celah buat Darius masuk Kyara, juga Hesty jufa jangan pak dokter Alvar
Wiwi Sukaesih
ahh ganggu aj sgla ad iklan ngetok pintu🤭
Resa05
up kayak gini terus yah min
dyah EkaPratiwi
maaf ya pak dr diganggu sebentar
iqha_24
Ternyata Alvar agresif juga, kira orangnya pendiam malu2 🤭
Lilis Yuanita
mmh...🤭🤭
Cindy
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!