NovelToon NovelToon
Benih Titipan Sang Milyarder

Benih Titipan Sang Milyarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Slice of Life / Single Mom / One Night Stand / Crazy Rich/Konglomerat / Komedi
Popularitas:13.8k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Apa jadinya jika air ketuban pecah di malam kencan pertamamu?

Panik dan syok, itulah yang dirasakan Maggie saat menjalani kencan pertamanya dengan Kael, seorang miliarder tampan dan karismatik.

Kencan romantis itu mendadak berubah kacau ketika air ketubannya pecah di tengah acara makan malam.

Alih-alih ikut panik, Kael justru sigap mengangkat Maggie dan membawanya ke limusin mewahnya untuk segera menuju rumah sakit.

Namun, apa yang terjadi selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jadi, Siapa Ayahnya?

Kael mengetuk pintu suite Maggie sekitar setengah jam sebelum upacara dimulai.

Darwin membuka pintu. "Kael," katanya, dengan nada yang lebih kasar dari biasanya. Ada sesuatu yang berubah. Ia menyingkir untuk membiarkannya masuk ke ruang tamu.

Feronica duduk di sofa, menyimpan tisu ke dalam tas. "Aku selalu menangis di pernikahan," katanya. "Mamamu gimana?"

Kael membayangkan Mamanya di pernikahan terakhir yang mereka hadiri di Amerika. Ia pun menjawab, "Kadang-kadang."

"Oh, berarti aku yang paling parah." Feronica memasukkan satu tisu lagi ke dalam tas.

Darwin tetap berdiri. "Kuharap para gadis itu keluar sebentar lagi. Terakhir kali kulihat, mereka sudah hampir siap."

"Mereka masih harus memakai beberapa perhiasan," kata Feronica. Pandangannya berpindah dari Kael ke suaminya, lalu kembali lagi.

Naluri Kael cukup tajam untuk membaca suasana. Ia hampir bicara. Lebih baik meluruskan semuanya.

"Aku sangat menikmati waktu yang kuhabiskan bersama Maggie," katanya, sementara otaknya yang berkhianat, langsung terlempar ke momen di taman mawar tadi malam.

Darwin sedikit lebih tinggi. "Kelihatannya kamu udah lengket banget sama dia, sejak kelahiran itu dan semuanya."

"Waktunya memang enggak tepat, tapi—"

"Dia memberitahumu siapa Papanya?" teriak Darwin.

"Darwin!" kata Feronica sambil menggenggam tasnya.

"Enggak apa-apa," ujar Kael padanya. Ia lalu menatap Darwin.

Wajah pria itu memerah seperti banteng, terlihat mengintimidasi dalam setelan abu-abu arangnya. Kael menahan tatapannya. "Kisah hidup Maggie sebelum aku mengenalnya adalah urusannya. Aku cuma tertarik sama waktu yang bisa kami luangkan bersama, mengingat usaha toko barunya dan Biann."

Mata Darwin menyipit. "Jadi dia juga gak memberitahumu."

"Itu bukan urusanku."

"Kamu tahu aku mengkhawatirkannya."

Kael tetap menatapnya. "Dia udah dewasa."

"Dengan bayi yang baru lahir. Aku enggak akan membiarkan pria kaya sepertimu memanfaatkannya sesuka hati."

"Darwin!" Feronica bangkit dari sofa. "Jangan menakut-nakutinya."

Darwin mempertahankan tatapan mengancam ke arah Kael. "Kalau dia bisa takut, biarkan saja dia takut."

"Aku tidak akan takut," Kael meyakinkannya.

Salah satu pintu kamar terbuka dan Maggie keluar dengan langkah goyah sambil berusaha mengaitkan sepatunya. "Papa, Papa teriak ke siapa?" Lalu ia melihat Kael dan menurunkan kakinya, membiarkan ujung tali sepatu menjuntai. "Kael! Papa! Apa yang Papa bilang padanya?"

"Enggak apa-apa," kata Mamanya. "Papamu cuma khawatir sama kamu."

Kael tak pernah berani menyebut Maggie sebagai sosok yang rapuh, tapi ia tahu kapan harus menutup mulut.

"Ya Tuhan, Ma. Hargai aku sedikit."

Feronica memegang tasnya dengan kedua tangan. Ia menatap Darwin dengan pandangan bertanya-tanya.

Kael menyingkirkan mereka dari pikirannya dan memusatkan perhatian pada Maggie. Jika semalam ia sudah terlihat memukau, hari ini Kael benar-benar tumbang. Gaun hijau itu meluncur mengikuti lekuk tubuhnya, menonjolkan kaki jenjang dan sepatu mematikan itu. Kuku-kukunya serasi hari ini.

Dan rambutnya?

Semalam rambut itu bergelombang anggun, tapi hari ini tersusun dalam anyaman rumit kepang dan ikal yang jatuh berderai di satu bahu. Bunga-bunga putih kecil dengan daun hijau segar disematkan di dekat telinganya. Kalung perhiasan berkilau di garis gaun, dan antingnya bergoyang lembut di bahunya.

Ia mengeraskan rahangnya untuk mengendalikan reaksinya.

Maggie tampak enggan membungkuk untuk menyelesaikan pengait sepatunya, jadi Kael mendekat, meraih tangannya, lalu mengecup punggungnya. "Kamu luar biasa," katanya.

Maggie tersenyum. Kael berlutut, menggenggam pergelangan kakinya yang ramping untuk memasukkan gesper ke lubang tali dan menguncinya.

Maggie menopang diri dengan satu tangan di bahunya. Saat Kael berdiri, ia menggenggam tangannya. "Ma, Pa, kami pergi dulu. Sampai ketemu di resepsi."

Dari belakang mereka, Jennie berkata, "Sampai ketemu."

Maggie melambaikan tangan padanya. Kael menuntunnya ke lorong dan menuruni anak tangga.

"Apa tadi itu?" tanya Maggie saat mereka sudah cukup jauh dari pintu.

"Dia cuma khawatir."

Maggie berhenti. "Apa yang dia katakan?"

"Sepertinya dia mengira kamu mungkin kasih tahu aku soal siapa Papanya Biann."

Maggie kembali berjalan. "Maaf soal itu."

"Gak apa-apa."

"Jadi dia pikir kamu tahu?"

Kael meremas jari-jarinya. "Aku gak tahu."

Maggie menghela napas panjang. "Aku belum tahu harus berbuat apa soal itu. Sepertinya ini akan jadi masalah yang lebih besar."

Sepasang tamu lain yang mereka lihat di Keraton, juga berpakaian untuk pernikahan, masuk ke aula dari lorong lain. Mereka memperlambat langkah untuk memberi jalan.

"Kamu berniat merahasiakannya?" tanya Kael.

"Biann pada akhirnya akan bertanya."

"Kamu mengisi catatan di akta kelahiran?"

Maggie menggigit bibirnya. "Ya. Aku melakukan hal bodoh di sana."

"Oh?"

"Aku menulis Edward Cullen."

"Vampir yang berkilau itu?"

"Iya."

Pasangan lain mendekat dari belakang dan mereka berhenti di dekat rangkaian bunga untuk memberi jalan. "Itu akan rumit untuk menghapusnya," kata Kael.

"Bukan. Aku cuma menulis sesuatu di formulir itu supaya perawat menyebalkan itu berhenti menggangguku."

"Aku ingat dia."

Mereka tiba di pintu belakang taman.

"Jadi semuanya udah dimulai," katanya.

Mereka berjalan di jalur putih, mengikuti para tamu lain menuju lokasi pernikahan. Saat musik memudar di belakang mereka, band lain mulai terdengar. Kali ini trio alat tiup, memainkan lagu yang lebih ceria.

Alunan musik yang riang itu mengantar mereka ke pelataran besar di ujung jalur. Dari sana mereka melintasi hamparan hijau menuju deretan kursi putih yang tersusun rapi di depan panggung putih besar penuh mawar putih.

Di salah satu sisi, kelompok musisi yang lebih besar memainkan musik khas keraton yang mengalun lembut.

Seorang petugas berseragam abu-abu dan biru mengulurkan tangan ke arah Maggie. "Kedua mempelai menganggap semua tamu sebagai bagian dari lingkaran mereka, jadi Anda boleh memilih sisi mana pun," katanya.

"Yang kiri aja," kata Maggie.

Ia mengikuti mereka ke barisan di tengah. Maggie duduk di kursi paling ujung dan ia mengambil tempat di sebelahnya.

"Aku ingin jalan keluar yang mudah kalau pengasuh butuh aku," katanya.

"Keputusan yang bagus."

Mereka tiba sebelum kerumunan dan kursi-kursi di sekitar mereka cepat terisi. Ia melihat Jennie, Darwin, dan Feronica yang meluncur ke baris kedua di sisi seberang.

"Aku senang bisa duduk sama kamu," kata Maggie. "Kamu mau mencari Joann? Kita sebentar lagi bakal dikepung."

"Kita bisa ketemu mereka di resepsi."

"Aku belum memikirkan soal makan malam. Kupikir mereka akan menempatkanku bersama keluargaku, bukan sama kamu." Maggie mengerutkan bibirnya membentuk cemberut yang menggemaskan.

"Enggak ada tempat duduk khusus. Yang ada makanannya bisa dibawa ke meja mana pun."

Maggie tersenyum. "Aku suka sekali!"

Kael meremas tangan Maggie.

...𓂃✍︎...

...Ikhlas itu bohong....

...────୨ৎ────...

1
Adellia❤
tau gak sih nyengirr teruss q selama baca ini sumpah ini momen paling sempurna buat momy yg baru lahiran berada di kota yg sejuk makan di pinggir jalan bayi yg tidur aroma kopi yg wangii dan... cowok ganteng di sebelah enggak perlu mati dulu buat ke surga ya maggie... 😍😍😍
Adellia❤
jangan lupa main ke candi borobudur ya kael enggak harus naik ke candi karna pasti repot bawa bian kasian juga panas stay ajah di kampoeng seni borobudur ada kuliner pertunjukan seni dan mini konser dari artis" daerah termasuk dari jatim juga loh😍😍
Adellia❤
kael... ya ampuun kasian bangett km iih gemezzz sini q bantu😂😂
Adellia❤
kebayang paniknya kael 😂😂
Adellia❤
kayak mimpi ya maggie bahkan untuk bayanginya ajah maless pergi" dgn bayi baru lahirr rasanya enggak mungkin😂😂
Adellia❤
ya ampuun tuh pesawat dah kayak apartemen komplitt km gak akan kesusahan maggie😍
Adellia❤
ya ampuun ampe nangiss q 😭😭 seorang cowok single tampan kaya raya punya jett pribadi datengin emak" baru lahiran punya bayi kecil kira" segede apa cintanya kael ke maggie😭😭
Adellia❤
hidup sesuka hati manusia lenyap dalam sekejap😂😂
Adellia❤
seriuss 200 galon?? banjir bandang donk.. 😂😂 ah jadi ingett mas" yg nyumbang ratusan milyar di sumatra kemaren dan dy bener" memastikan sumbanganya utuh sampai ke masyarakat tanpa di potong ini itu😍😍
Adellia❤: iya loh sumpah salut banget dy tuh bener" manej sendiri sumbangan dari donatur bener" utuh jadi bener" sampe ke masyarakat yg membutuhkan😍😍
total 2 replies
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
sipuuttt
lagii saii😍
Cindy
lanjut
Dwi ratna
kirain kael bpknya bian, berarti judulnya benih titipan musisi nmanya bukan milyader
Cindy
lanjut
Dwi ratna
s bian anknya kael bukan si? 😤
Cindy
lanjut
Putri Salju
lanjuutt💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!