NovelToon NovelToon
A Penliba

A Penliba

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Persahabatan
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Kacang Kulit

"Lo tuh ngeselin!" bisik Giselle di telinga Libra.

"Udah tau." Selalu, jawaban Libra semakin membuat Giselle kesal. Gadis itu cemberut sepanjang pelajaran dimulai. Padahal hari masih pagi, tetapi dia sudah dibuat emosi oleh pemuda yang sayangnya adalah sahabatnya sendiri.

Libra tau Giselle sedang marah padanya. Namun, pemuda itu malah tersenyum geli sembari menopang dagunya menatap gadis yang sedang mengerucutkan bibirnya itu.

***

Sebuah kisah tentang dua remaja yang sedang berjuang untuk menemukan tujuan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang Kulit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 - Ujian

Giselle masuk ke ruang ujian dengan langkah pelan. Nomor ruang dan nomor kursi yang tertera di kartu peserta kini bukan sekadar angka—melainkan batas. Ia sudah tahu sejak awal, hari ini mereka tidak akan berada di ruangan yang sama. Tidak dengan Libra. Namun, ada beberapa teman sekelasnya yang berada di ruang yang sama. Mereka tidak terlalu akrab dengan Giselle. Hanya saling menyapa ketika mata mereka bertemu.

Ruang itu terasa asing. Meja-meja tersusun rapi, jaraknya lebih renggang dari biasanya. Wajah-wajah yang duduk di sana tidak hanya wajah yang ia lihat setiap hari. Ada siswa kelas XII. Ketika ujian berlangsung, siswa memang selalu ditempatkan secara acak. Tujuannya agar siswa mampu mengerjakan ujian dengan mandiri tanpa mencontek pada teman sebangkunya.

Ruangan ini hening. Tidak ada obrolan, tidak ada tawa kecil sebelum pelajaran dimulai.

Giselle menemukan nomor kursinya di barisan tengah. Ia duduk, meletakkan alat tulis di atas meja. Kursinya dingin. Mejanya penuh bekas coretan lama—nama yang terukir paksa, garis-garis tipis bekas tekanan emosi orang lain. Entah kenapa, itu membuat dadanya terasa makin sempit.

Di sebelahnya duduk seorang siswa kelas XII. Wajahnya datar, fokus ke depan. Tidak menoleh. Tidak menyapa. Giselle pun tidak berani membuka percakapan. Ia hanya duduk diam, menunggu.

"Nama lo Giselle?" tanya gadis yang duduk di sebelah Giselle.

Giselle menoleh cepat, ia sedikit terkejut, ia pikir kakak kelasnya ini tipe gadis dingin yang tidak peduli dengan sekitarnya.

"Eh, iya kak, gue Giselle. Kok tau nama gue?" tanya Giselle dengan penasaran. Mereka bahkan belum berkenalan.

"Kan di meja ada nama lo," jawab gadis itu masih dengan wajah yang datar.

Giselle tersenyum malu, memang benar di meja itu tertulis namanya. Persis seperti yang tertulis di kartu peserta ujiannya.

"Nama lo siapa kak?" tanya Giselle.

"Sekar."

"Oh, oke."

Giselle sedikit canggung. Kakak kelasnya itu terlalu dingin. Ia jadi bingung sendiri harus bersikap bagaimana.

Tidak lama kemudian, pengawas masuk. Suara sepatu menyentuh lantai terdengar jelas di ruangan yang terlalu tenang. Pintu pun ditutup. Jam dinding berdetak keras, seolah sengaja mengingatkan waktu yang akan terus berjalan, mau atau tidak.

Lembar soal dibagikan. Suara kertas bersentuhan terdengar serempak. Giselle menerima soal itu dengan tangan yang sedikit bergetar. Ia menarik napas sebelum membuka halaman pertama.

Sejarah.

"Baik, anak-anak, silakan mulai mengerjakan. Dua jam kemudian jawaban kalian bisa dikumpulkan di meja depan."

Setelah itu, hening. Semua sibuk dengan kertas ujian masing-masing.

Mata Giselle bergerak cepat membaca soal pertama, lalu kedua, dan ketiga. Alisnya mengernyit. Paragraf-paragraf panjang menyambutnya. Nama tokoh, tahun, dan peristiwa. Beberapa terasa familiar, tapi cara bertanyanya berbeda. Tidak seperti yang ia pelajari dari buku. Tidak seperti latihan yang biasa ia kerjakan bersama Libra.

Kepalanya mulai terasa berat.

Giselle menekan pelan ujung pulpen. Ia mencoba fokus. Membaca ulang. Tapi semakin ia membaca, semakin kata-kata itu berputar di kepalanya. Sejarah terasa seperti labirin—ia masuk, lalu tersesat.

Bagaimana kalau nilainya jelek? Pikiran itu muncul tanpa izin. Bagaimana kalau ibu kecewa lagi?

Dadanya mengencang. Napasnya memendek. Ia menunduk, memejamkan mata sebentar. Suara pengawas yang berjalan mondar-mandir terdengar samar. Waktu terus berjalan. Jarum jam bergerak tanpa peduli.

Giselle membuka mata lagi. Tangannya dingin. Ia melirik ke depan—tidak ada Libra. Tidak ada sosok yang biasanya menenangkannya dengan suara rendah dan tatapan tenang. Kali ini, ia benar-benar sendiri.

Atau setidaknya, begitu rasanya.

Entah kenapa, di tengah kepanikan itu, suara Libra muncul di kepalanya.

Kita jalanin pelan-pelan aja, Pen.

Giselle menelan ludah. Ia menarik napas dalam-dalam. Sekali. Dua kali. Ia tidak tiba-tiba mengerti semua soal. Kepalanya masih pusing, tetapi setidaknya, ia berhenti gemetar.

Ia mulai mengerjakan, satu demi satu ia jawab. Beberapa soal, ia tidak terlalu yakin dengan jawabannya. Ia hanya menjawab sebisanya. Benar kata Libra, setidaknya ia sudah berusaha.

Waktu hampir habis ketika ia mengisi jawaban terakhir. Pulpen ia letakkan perlahan. Kepalanya masih berat, tapi ia bertahan sampai akhir.

Saat bel berbunyi, Giselle menghela napas panjang. Seperti baru keluar dari air setelah menahan napas terlalu lama.

Ia keluar dari ruang ujian dengan langkah lelah. Tidak ada rasa lega. Tidak ada keyakinan. Yang ada hanya satu kesadaran kecil—hari ini, ia sudah berusaha. Dan untuk sekarang, itu saja yang ia punya.

...***...

20 Januari 2026

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!