NovelToon NovelToon
Istri Bawel Ustadz Galak

Istri Bawel Ustadz Galak

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Romansa / Tamat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Gadis Bar-bar×Ustadz galak+Benci jadi Cinta+Cinta Manis,Komedi Romantis】Karakter Utama Namira Salsabila (Mira) Gadis mungil berusia 18 tahun yang baru saja menanggalkan seragam SMA-nya ini adalah definisi nyata dari kata "unik". Mira dikenal karena sifatnya yang sangat cerewet dan "bawel", namun di balik rentetan bicaranya, ia memiliki hati yang luar biasa penyayang, terutama jika sudah berhadapan dengan anak kecil. Secara fisik, Mira memiliki pesona baby face yang menggemaskan: Wajah & Kulit: Kulitnya putih bersih dengan wajah yang cenderung baby blues (sangat imut dan awet muda). Mata & Alis: Bulu matanya lentik alami layaknya memakai maskara, dipadukan dengan alis tebal yang konon katanya melambangkan sifat boros dalam keuangan—sebuah mitos yang ternyata menjadi kenyataan dalam gaya hidupnya. Hidung & Bibir: Memiliki bentuk bibir yang khas ("bibir terbalik") dan hidung yang proporsional (tidak mancung namun tidak pesek), menambah kesan imut pada wajahnya. Postur Tubuh: Tubuhnya san.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11

Langkah kaki Ayyan dan Namira terhenti tepat di depan teras ndalem (rumah kediaman pengasuh pesantren). Nia, teman tetangganya tadi, mengekor di belakang dengan kepala menunduk dalam, tampak gemetaran karena takut ditegur Gus Ayyan yang terkenal sangat disiplin itu.

Namun, fokus Namira mendadak teralihkan total. Matanya berbinar saat melihat seorang wanita anggun mengenakan gamis berwarna cokelat susu sedang menimang bayi mungil yang pipinya sangat chubby.

"Wahhh! Lucunyaaa!" teriak Namira refleks, melupakan mode "Ibu Nyai" yang baru saja ia pelajari.

Tanpa mempedulikan Ayyan yang baru saja mau menghela napas, Namira langsung berlari kecil menuju wanita itu. Wanita itu adalah Mbak Sarah, istri dari kakak kandung Ayyan.

"Halo Mbak! Aduh, ini bayinya siapa? Lucu banget kayak bakpao!" seru Namira sambil mencoba mencolek gemas pipi bayi itu.

Mbak Sarah tersenyum ramah melihat keceriaan adik ipar barunya. "Eh, ini Namira ya? Kenalin, Mbak Sarah istrinya Mas-nya Ayyan. Ini namanya Zayyan, keponakan baru kamu."

"Zayyan? Namanya mirip-mirip Mas Ayyan ya, tapi yang ini jauh lebih imut, nggak kayak pamannya yang kulkas!" ceplos Namira sambil tertawa lebar.

Ayyan yang baru saja sampai di sebelah mereka hanya bisa berdehem keras. "Namira, jangan diajak bicara terus bayinya, nanti dia bangun dan menangis."

"Ih, Mas Ayyan mah sirik aja! Lihat nih, bayinya aja senyum pas aku colek. Tuh kan, dia tau kalau tantenya ini cantik dan asyik!" Namira malah asyik mengajak bicara bayi Zayyan. "Halo ganteng, nanti kalau sudah besar jangan galak-galak kayak paman kamu ya? Jadi anak gaul aja sama Tante Mira!"

Mbak Sarah tertawa kecil melihat interaksi itu. "Ternyata benar kata Ummi, Namira itu pembawa suasana ya. Ayyan jadi kelihatan lebih 'hidup' kalau di samping kamu."

Ayyan yang merasa dipojokkan langsung mengalihkan pembicaraan. Ia menoleh ke arah Nia yang masih berdiri mematung di dekat pilar teras dengan wajah pucat.

"Nia," panggil Ayyan tegas.

Nia langsung tegap. "N-nggih, Gus? Mohon maaf tadi saya khilaf teriak di depan umum..."

Namira yang sedang asyik mencium tangan bayi Zayyan langsung menoleh. "Eh, Mas! Jangan digalakkin dong Nia-nya! Dia kan temen aku dari zaman masih suka main petak umpet di komplek."

Namira berjalan mendekati Nia lalu merangkul pundaknya. "Santai aja, Ni! Mas Ayyan emang mukanya doang yang kayak mau ngajak perang, aslinya baik kok. Tadi aja dia beliin gue seblak di jalan!"

Seluruh orang di teras—termasuk Mbak Sarah dan para khadimah (pembantu pesantren) yang lewat—langsung melongo. Gus Ayyan beli seblak?!

"Sudah, sudah," ucap Ayyan sambil memijat keningnya, merasa harga dirinya sebagai Gus jatuh perlahan. "Nia, kembali ke asrama. Karena kamu teman Namira, saya maafkan kali ini. Tapi jangan ulangi lagi berteriak di lingkungan pesantren. Paham?"

"Paham, Gus! Terima kasih, Gus! Makasih ya Mir... eh, Ning!" Nia langsung kabur seribu bahasa sebelum Ayyan berubah pikiran.

Namira kembali ke samping Mbak Sarah. "Mbak, boleh gendong nggak? Sebentar aja!"

Ayyan langsung menarik ujung khimar Namira dengan pelan namun pasti. "Nanti gendongnya. Masuk dulu, salim sama Mas dan Abah di dalam. Dan jangan lupa, koper-kopermu harus segera dibereskan."

"Yahhh... padahal pengen main sama Zayyan dulu," keluh Namira manja.

Mendengar celetukan Umi Fatimah yang muncul tiba-tiba dari ambang pintu ndalem, Namira yang tadinya sedang asyik mencolek pipi bayi Zayyan langsung membeku. Wajahnya yang sudah mulai tenang setelah insiden seblak, kini kembali memanas, bahkan jauh lebih merah dari sebelumnya.

"Lho, Nduk... ternyata suka sekali ya sama anak kecil?" tanya Umi Fatimah sambil berjalan mendekat dengan senyum penuh arti.

"Suka banget, Mi! Lucu, baunya wangi minyak telon, pipinya minta digigit!" jawab Namira jujur, masih berusaha menutupi rasa gugupnya.

Umi Fatimah melirik Ayyan yang berdiri kaku di samping Namira, lalu kembali menatap menantunya itu sambil menyenggol pelan lengan Mbak Sarah.

"Kalau sudah suka begitu, kenapa nggak buat sendiri saja sama Ayyan? Biar Zayyan ada temen mainnya di sini."

Uhuk!

Namira tersedak udaranya sendiri. Ia langsung menunduk dalam, mencoba mencari perlindungan di balik punggung Ayyan. "Aduhh Umi... Mira kan... Mira kan masih mau sekolah, eh, maksudnya masih baru sampai, Mi!" jawab Namira terbata-bata.

Mbak Sarah ikut tertawa renyah melihat ekspresi adik iparnya. "Betul kata Umi, Mira. Biar ndalem ini makin rame. Lagipula, Gus Ayyan ini sudah cocok kok jadi Bapak-bapak, tinggal dikurangi sedikit saja kaku-kakunya."

Ayyan yang sedari tadi mencoba tetap tenang, akhirnya tidak tahan juga. Telinganya benar-benar memerah padam. Ia berdehem sangat keras untuk memecah suasana yang semakin menyudutkannya.

"Umi... Mbak Sarah... Namira baru saja sampai, dia masih lelah," ucap Ayyan dengan nada bicara yang berusaha tetap formal meski hatinya dag-dig-dug. "Urusan itu... biar menjadi urusan kami. Lebih baik sekarang Namira saya antar ke kamar untuk istirahat."

"Lho, kok Gus-nya yang panik?" goda Umi Fatimah lagi sambil tertawa kecil. "Ya sudah, sana antar istrimu. Jangan galak-galak di kamar, nanti istrinya malah takut."

"Ayo, Namira," ajak Ayyan cepat-cepat, hampir seperti menarik Namira untuk kabur dari sesi godaan maut itu.

Namira mengekor di belakang Ayyan dengan langkah seribu. Begitu mereka sudah agak jauh dari kerumunan Umi dan Mbak Sarah, Namira berbisik sambil mencubit pelan lengan baju Ayyan.

"Mas... Umi kalau bercanda kok extreme banget sih? Aku kan jadi malu!" bisik Namira dengan wajah yang masih panas.

Ayyan tidak menoleh, tapi langkahnya semakin cepat. "Makanya, jangan terlalu memancing suasana. Sudah, diam dan ikut saya."

1
Ayumarhumah
Hay ... aku sudah mampir tetap semangat ya 💪💪💪
Rina Casper: iya makasih ya kakk sudah mampir🤭 semoga suka dengan novelnya😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!