NovelToon NovelToon
Halte Takdir

Halte Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:844
Nilai: 5
Nama Author: Nameika

Hujan mempertemukan mereka yang putus asa dengan pilihan yang seharusnya tidak pernah ada.

Di satu sore terburuk dalam hidupnya, Viona menemukan sebuah halte tua yang tak pernah ada dan seorang pria misterius yang menawarkan cara untuk mengubah segalanya.

Di Halte Takdir, Viona harus memilih: payung untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan fatal, atau pena untuk menulis masa depan sempurna tanpa kegagalan. Namun setiap keajaiban menuntut harga yang kejam, kenangan paling bahagia, atau perasaan yang membuatnya tetap manusia.

Akankah Viona berani mengubah takdirnya? Atau justru memilih menolak keajaiban demi mempertahankan dirinya sendiri?

Penuh emosi, fantasi modern, dan dilema yang menusuk, ikuti kisah tentang pilihan hidup yang tidak semua orang sanggup menanggung akibatnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JANGKAR GERIMIS TERAKHIR

"Sumpah, Yah, masuk sekarang juga! Ini bukan hujan biasa!"

Viona—atau Nirmala—berteriak sekuat tenaga sambil menarik paksa lengan ayahnya. Nathan, yang tadinya tampak seperti pria paruh baya biasa yang hendak berangkat kerja, mendadak mematung di ambang pintu. Tatapannya kosong, persis seperti kaset yang tersangkut di bagian pita yang paling rusak. Suara tawanya yang hangat sedetik lalu kini berganti menjadi dengung statis yang merayap di sela-sela udara, menciptakan distorsi frekuensi yang menyakitkan telinga.

"Vio... kenapa... takut... air...?"

Setiap kata yang keluar dari mulut Nathan diiringi oleh percikan cahaya perak. Di luar rumah, rintik hujan yang jatuh bukan lagi air bening, melainkan tetesan logam cair yang memantulkan bayangan ribuan jam dinding yang berputar ke belakang dengan kecepatan gila. Langit Jakarta yang seharusnya biru cerah di jam delapan pagi, kini tertutup kabut ultraviolet yang menyesakkan, seolah-olah atmosfer sedang terbakar oleh api yang dingin.

Viona mencengkeram payung biru tua di tangannya. Rangkanya yang bengkok mendadak terasa panas membara, seolah-olah benda itu memiliki nyawa dan sedang berteriak memperingatkannya akan bahaya yang lebih besar. Ia menoleh ke arah halte di seberang jalan. Lukas sudah tidak ada di sana, namun gawai yang ia pegang tadi tertinggal di atas bangku kayu, memancarkan cahaya merah yang berdenyut kencang—sebuah kode darurat yang hanya dipahami oleh mereka yang pernah menyentuh sisi gelap waktu.

Dunia ini retak. Viona menyadarinya terlalu lambat. Menghapus sang Arsitek Abadi ternyata tidak secara otomatis menghapus hukum alam semesta tentang keseimbangan. Ia telah membunuh "masa depan" yang kejam, namun sebagai gantinya, ia mengundang "masa lalu" purba yang tidak pernah diizinkan untuk ada dalam lembaran sejarah manusia. Realitas yang ia tempati sekarang hanyalah gelembung sabun yang tipis, dan hujan perak ini adalah jarum-jarum kosmik yang siap meledakkannya.

"Nirmala, jangan cuma diam di sana seperti pajangan memori yang sudah kedaluwarsa."

Suara itu muncul tepat di belakang telinga Viona. Ia berbalik dengan gerakan defensif, mengayunkan payung birunya layaknya sebilah pedang. Di sana, Alfred berdiri dengan jas hitamnya yang kering sempurna, seolah-olah hujan perak itu tidak berani menyentuhnya. Ia tidak memegang payung gagak lagi, melainkan sebuah jam pasir besar yang isinya mengalir secara horizontal—sebuah tanda bahwa hukum sebab-akibat telah melintir.

"Kek! Apa lagi sekarang?! Ordo sudah hancur, kan? Gue sudah hapus monster itu dari garis waktu!" Viona berteriak frustrasi, air mata kemarahan mulai menggenang.

Alfred tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih mirip dengan belas kasihan daripada kemenangan. "Ordo hanyalah sebuah institusi, Nirmala. Tapi Waktu? Waktu adalah predator yang lapar. Kamu membunuh kepalanya, tapi tubuhnya sekarang mengamuk mencari bentuk baru. Hujan perak itu disebut The Primordial Wash. Dia akan menghapus semua sisa keberadaanmu di dunia 'palsu' ini agar sejarah bisa memulai kembali dari titik nol yang benar-benar hampa. Tanpa kamu. Tanpa orang tuamu."

"Maksud lo, Ibu sama Ayah bakal ilang lagi?! Gue udah berkorban segalanya buat liat mereka sehat!"

"Bukan cuma hilang, Vio. Mereka akan dianggap tidak pernah terlintas dalam pikiran pencipta manapun. Mereka akan menjadi ketiadaan yang murni." Alfred menunjuk ke arah Elena yang kini berdiri diam di tengah ruang tamu. Tangannya yang sedang memegang piring porselen perlahan-lahan mulai berubah menjadi butiran debu cahaya yang beterbangan tertiup angin gaib.

"ENGGAK! LUKAS! LUKAS, TOLONG!"

Nirmala berlari keluar rumah, mengabaikan teriakan statis ayahnya yang kini suaranya sudah tidak menyerupai manusia lagi. Ia menerjang hujan perak itu. Begitu tetesan logam cair itu menyentuh kulitnya, ia merasakan ribuan memori yang bukan miliknya masuk paksa ke dalam kepalanya. Ia melihat Jakarta di zaman kolonial, ia melihat reruntuhan Jakarta yang tenggelam di masa depan, semuanya tumpang tindih dalam satu detik yang menyakitkan.

"VIO! DI SINI! CEPETAN!"

Lukas muncul dari balik kabut tebal di dekat halte. Wajahnya babak belur, kacamatanya pecah sebelah. Ia memegang sebuah kabel besar yang terhubung langsung ke trafo listrik di pinggir jalan, memaksakan arus energi yang tidak stabil.

"Lo gila ya?! Mau bunuh diri?!" teriak Viona sambil melompat menghindari genangan perak.

"Gue lagi nyoba nge-grounding frekuensi hujan ini, Kak! Kalau kita nggak bikin 'zona aman' sekarang juga, kita semua bakal ter-reset jadi atom!" Lukas berteriak sambil menyatukan dua ujung kabel. Percikan api biru meledak hebat, menciptakan kubah energi kecil yang berpendar di sekitar halte bus.

Viona masuk ke dalam kubah itu, napasnya tersengal-sengal, dadanya sesak. "Ibu... Ayah... mereka mulai ilang, Kas. Tubuh mereka jadi debu cahaya."

Lukas menatap Viona dengan tatapan yang sangat dewasa, jauh dari sifat kekanak-kanakannya yang biasanya. "Kak, dengerin gue baik-baik karena waktu kita nggak banyak. Realitas ini emang nggak pernah ada. Ini cuma 'ruang tunggu' yang dibuat sama sisa energi Jantung Waktu lo sebelum dia bener-bener mati. Lo harus milih sekarang, dan pilihan ini nggak bisa lo ralat lagi."

Viona menatap payung birunya yang kini mulai retak di bagian gagangnya. "Pilih apa lagi? Gue sudah pilih buat jadi manusia! Gue cuma mau hidup biasa!"

"Kalau lo mau mereka tetep hidup di dunia yang stabil, lo nggak bisa jadi manusia biasa, Vio," Lukas menunjuk ke arah Alfred yang kini berjalan menembus hujan perak seolah rintik logam itu adalah salju ringan yang indah. "Lo harus jadi The New Anchor. Lo harus gantiin fungsi Ordo sebagai penjaga detak jantung kota ini secara permanen. Tapi harganya... lo nggak bakal pernah bisa masuk ke dalam rumah itu lagi. Lo bakal selamanya ada di antara celah dimensi. Di halte, di gang, di bawah hujan... ngeliatin mereka dari jauh tanpa bisa menyentuh."

Nirmala terdiam seribu bahasa. Ia melihat ke arah rumahnya. Nathan dan Elena kini hanya berupa siluet cahaya yang sedang duduk di meja makan, tampak sangat bahagia namun tidak lagi nyata. Jika ia membiarkan hujan perak ini selesai, mereka akan lenyap dari semesta selamanya. Jika ia menjadi Sang Jangkar, mereka akan hidup dalam kedamaian yang statis, tapi ia akan menjadi hantu yang menjaga mereka dari balik bayangan.

"Vio, waktu lo tinggal sepuluh detik sebelum kubah ini jebol!" Lukas memperingatkan, otot lengannya mulai bergetar hebat menahan beban arus listrik yang membakar.

Alfred berhenti tepat di depan kubah energi. Ia mengulurkan tangannya, dan di telapak tangannya muncul sebuah pena baru—pena yang terbuat dari kaca transparan yang berisi aliran air hujan yang terus bergerak.

"Tuliskan namamu sebagai Sang Penjaga, atau biarkan mereka menjadi debu sejarah, Nirmala," ucap Alfred tanpa emosi.

Nirmala menatap Lukas, lalu menatap rumah kecilnya untuk terakhir kalinya. Air matanya jatuh, bukan sebagai air mata kesedihan, melainkan sebagai sebuah sumpah pengabdian. Ia mengambil pena kaca itu dari tangan Alfred.

"Kas... jagain mereka buat gue, ya?" bisik Nirmala lembut.

Lukas membelalakkan mata, ia sadar apa yang akan terjadi. "Vio, jangan—"

Nirmala tidak menulis namanya di telapak tangan. Ia menusukkan pena kaca itu ke permukaan payung birunya dengan satu sentakan kuat. Seketika, payung itu meledak dalam pendar cahaya safir yang luar biasa besar, menelan seluruh Jakarta dalam gelombang energi murni, menghalau hujan perak kembali ke langit tinggi.

Ketika cahaya menyilaukan itu mereda, Jakarta kembali normal. Matahari pagi bersinar cerah. Burung-burung gereja berkicau riang. Nathan dan Elena sedang tertawa di dalam rumah, melanjutkan sarapan nasi goreng mereka seolah-olah statis dan debu cahaya tadi hanyalah imajinasi yang lewat. Mereka benar-benar sehat. Mereka benar-benar bahagia.

Lukas berdiri di pinggir jalan yang kering, memegang gawai yang sudah mati total. Ia melihat ke arah halte dengan pandangan nanar.

Nirmala sudah tidak ada di sana.

Namun, saat Lukas melihat ke bawah, ia menemukan sebuah payung biru tua yang baru, rangkanya sudah lurus sempurna dan kainnya berkilat seperti sutra, tergeletak di atas bangku halte. Di gagangnya yang kini halus, terukir sebuah kalimat baru yang bercahaya: Penjaga Gerimis Terakhir.

Lukas mendongak dan melihat seorang wanita berdiri di ujung gang yang gelap, mengenakan jaket denim dan memegang pena kaca. Wanita itu tersenyum tipis ke arahnya, sebuah senyuman penuh kedamaian, lalu perlahan-lahan memudar menjadi uap bening saat sinar matahari menyentuhnya.

"Selamat bertugas, Kak Vio," gumam Lukas lirih, menyeka air matanya.

Tiba-tiba, sebuah mobil taksi hitam berhenti tepat di depan Lukas. Kaca jendelanya turun secara otomatis, menyingkapkan sosok Julian yang tampak jauh lebih rapi, meski masih ada bekas luka perak yang melingkar di lehernya sebagai pengingat masa lalu.

"Naik, Lukas. Kita punya klien baru di Stasiun Kota. Dia bilang, dia baru saja kehilangan masa lalunya di dalam gerbong kereta yang tidak pernah berhenti."

Lukas menatap taksi itu, lalu menatap payung biru di tangannya. Ia menyadari bahwa meski Viona telah menjadi jangkar yang menjaga realitas ini, "utang" waktu di kota Jakarta justru baru saja dimulai dengan bunga yang jauh lebih besar dari sebelumnya.

"Julian," panggil Lukas sebelum masuk ke mobil. "Lo yakin Vio nggak bakal kesepian di 'sisi sana'?"

Julian menatap spion tengahnya, dimana bayangan Viona tampak duduk di kursi belakang taksi tersebut dengan payung birunya, namun sosok itu hanya terlihat di pantulan kaca.

"Kesepian adalah harga untuk sebuah keabadian, Lukas. Dan dia baru saja membayar uang mukanya."

1
Mila Febri
wah kayak nya seru..mau mampir akh🤭
Nameika: Selamat datang Kak.. Mari kita berpetualang bersama Viona 🤩
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!