NovelToon NovelToon
Luka Sang Pengganti

Luka Sang Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Pengganti / Dosen
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Zahra mencintai Akhsan, kakak kandungnya yang juga menjadi dosen di kampusnya. Menyadari perasaan tak wajar adiknya, Akhsan membangun benteng tinggi dan memilih untuk meminang Gea guna memutus harapan Zahra.
Namun, tragedi berdarah terjadi tepat malam hari saat mereka akan menikah. Kecelakaan hebat merenggut nyawa Gea dan mengungkap fakta mengejutkan—Akhsan ternyata bukan anak kandung Papa Hermawan. Demi menjaga nama baik keluarga dari undangan yang telah tersebar, Papa Hermawan mengambil keputusan ekstrem: Zahra harus menggantikan posisi Gea di pelaminan.
Pernikahan yang dahulu menjadi dambaannya kini berubah menjadi mimpi buruk bagi Zahra. Akhsan yang hancur karena kehilangan Gea berubah menjadi sosok yang dingin dan kejam. Ia menuduh Zahra sebagai dalang di balik kecelakaan maut tersebut, menjebak Zahra dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh dengan kebencian dan air mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Christian meluncur menuruni lereng curam dengan peralatan seadanya, mengabaikan luka gores di tangannya demi mencapai titik di mana ia melihat kain merah melambai.

Napasnya tercekat saat kakinya akhirnya menapak di dasar jurang yang lembap.

"Sayang!" teriak Christian saat melihat sosok Aruna yang terduduk lemas dengan gaun yang sudah compang-camping dan berlumuran darah.

Aruna langsung menghambur ke pelukan Christian, tangisnya pecah seketika. Namun, sebelum Christian sempat memeriksa keadaan istrinya, Aruna melepaskan pelukan itu dan menunjuk ke arah tubuh pria yang tergelatak tak berdaya di belakangnya.

"Cepat tolong Mas Akhsan, Christian! Dia terluka parah. Dia melindungiku!" teriak Aruna dengan suara parau.

Christian terdiam mematung. Kata "Mas" yang keluar dari mulut istrinya terasa lebih tajam daripada bebatuan di jurang itu.

Selama ini, Aruna hanya menyebut pria itu sebagai "Target" atau "Bajingan".

Mendengar sebutan itu, Christian sadar bahwa benteng kebencian Aruna telah retak oleh pengorbanan Akhsan.

Christian menatap Akhsan yang sekarat dengan dahan pohon masih tertancap di punggungnya.

Ada gejolak di hati Christian—perasaan ingin membiarkan pria itu habis di sana—namun melihat tatapan memohon dari Aruna, ia menghela napas panjang.

"Tim SAR sudah di belakangku, mereka membawa tandu!" teriak Christian sambil mulai menekan luka di punggung Akhsan untuk menahan pendarahan, meski hatinya terasa panas.

Tak lama kemudian, sorot lampu senter menyambar dasar jurang.

Tim SAR bergerak cepat melakukan evakuasi darurat. Mereka memasangkan penyangga leher pada Akhsan dan mengangkatnya dengan sangat hati-hati.

"Pasien kritis! Segera bawa ke ambulans udara!" perintah komandan tim.

Di balik sebuah batu besar yang tertutup lumut, sepasang mata merah terus mengintai.

Sisil mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri.

Ia melihat bagaimana Akhsan diselamatkan dan bagaimana Aruna menangisi pria itu.

"Belum selesai..." desis Sisil di balik perbannya yang kini makin kotor.

"Jika jurang ini tidak bisa membunuh kalian, maka tanganku sendiri yang akan melakukannya di rumah sakit."

Ia perlahan mundur, menghilang ke dalam kegelapan hutan di lereng jurang sebelum petugas menemukannya.

Ia akan menunggu saat yang tepat, saat semua orang lengah karena mengira drama ini telah berakhir.

Sesampainya di rumah sakit, mereka mengoperasi Akhsan.

Setelah beberapa jam mengoperasi Akhsan, perawat membawa ke ruang ICU.

Di dalam ruang ICU yang hanya dihiasi bunyi monoton mesin detak jantung, Akhsan terbaring kaku.

Napasnya dibantu oleh ventilator, namun jiwanya seolah terjebak dalam labirin masa lalu.

Bibirnya yang pucat bergerak pelan, membisikkan satu nama yang sama berulang kali dalam komanya.

"Zahra... Zahra..."

Christian, yang berdiri di balik kaca pembatas, mengepalkan tinjunya hingga buku jarinya memutih.

Setiap kali nama itu terdengar, dadanya terasa sesak oleh kecemburuan yang membakar.

Ia menoleh saat Aruna berjalan mendekat dengan wajah yang masih sangat pucat.

"Apakah kamu masih mencintainya?" tanya Christian tiba-tiba, suaranya rendah namun tajam seperti sembilu.

Aruna terhenti, menatap suaminya dengan mata yang lelah.

"Chris, percayalah aku mencintai kamu. Hanya kamu."

"Lalu kenapa kamu menangisinya seolah duniamu runtuh saat dia jatuh?" sergah Christian, ia berbalik dan mencengkeram bahu Aruna.

"Kamu memanggilnya 'Mas' lagi, Zahra!"

"Aku hanya kasihan, Chris! Dan asal kamu tahu, dari pengakuannya di mobil tadi, bukan Akhsan yang membakar rumah itu. Dia memang bersalah, tapi dia bukan pembunuh!" Aruna membela diri dengan suara bergetar.

"Sama saja, Aruna!" Christian membentak, kemarahannya meledak.

"Dia yang menyiksa kamu! Dia yang memperkosa kamu di gudang itu! Apakah satu aksi heroik di jurang itu bisa menghapus semua trauma yang kita lalui untuk membangun kembali identitasmu?"

Aruna menggelengkan kepalanya dengan cepat, air mata kembali mengalir.

"Bukan begitu, Chris. Aku hanya ingin kebenaran. Tolong percaya sama aku. A-aku..."

Kalimat Aruna terputus. Dunianya mendadak berputar hebat.

Tekanan mental yang luar biasa, luka fisik yang belum diobati, dan pertengkaran dengan Christian membuat tubuhnya mencapai batas maksimal.

"Aruna?!"

Pandangan Aruna menggelap. Tubuhnya limbung dan jatuh ke lantai sebelum Christian sempat menangkapnya dengan sempurna.

Ia pingsan mendadak karena kelelahan luar biasa yang menghantam syaraf-syarafnya.

Di dalam ruangan, mesin monitor Akhsan tiba-tiba berbunyi nyaring, seolah merespons kondisi wanita yang dicintainya di luar sana.

Christian segera menggendong tubuh Aruna yang tak sadarkan diri dengan raut wajah penuh penyesalan.

Ia membaringkan istrinya di ruang perawatan darurat, tepat di sebelah bangsal ICU tempat Akhsan berada.

Ketegangan yang tadinya meluap sebagai kemarahan kini berubah menjadi ketakutan yang mencekam.

Beberapa saat kemudian, dokter keluar setelah memeriksa kondisi Aruna secara singkat.

"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Christian dengan suara serak.

"Tenang, Tuan Christian. Nyonya Aruna hanya mengalami kelelahan yang ekstrem dan syok pascatrauma. Tubuhnya butuh istirahat total. Saya sudah memberikan vitamin melalui infus agar kondisinya segera stabil," jelas dokter tersebut sebelum pamit undur diri.

Christian terduduk di kursi samping ranjang Aruna, memegangi tangan istrinya yang dingin.

Di saat itulah, pintu ruang perawatan terbuka lebar.

Papa Adrian masuk dengan langkah terburu-buru, diikuti oleh Indri, adik perempuan Christian yang tampak sangat cemas.

"Christian! Bagaimana keadaan Aruna?" tanya Papa Adrian dengan nada otoriter namun penuh kekhawatiran.

Christian hanya menunjuk ke arah Aruna yang masih memejamkan mata.

Indri segera menghampiri kakak iparnya, mengusap dahi Aruna dengan lembut.

"Kak Aruna, kasihan sekali dia sampai seperti ini," bisik Indri sedih.

Christian bangkit, matanya kembali menyala saat melihat Papa Adrian.

"Pa, ini semua kacau. Akhsan sekarat di sebelah, dan Aruna, dia mulai meragukan dendamnya sendiri. Aku takut dia akan kembali pada bayang-bayang masa lalu itu!"

Papa Adrian meletakkan tangannya di bahu Christian, memberikan tekanan yang kuat untuk menyalurkan ketenangan.

Sebagai pria yang sudah makan asam garam kehidupan, ia tahu emosi Christian sedang berada di titik nadir.

"Christian, dengarkan Papa. Tenanglah," ucap Papa Adrian dengan suara berat dan tenang.

"Kemarahanmu tidak akan menyelesaikan apa pun sekarang. Aruna sedang rapuh, dan tugasmu adalah menjadi pelindungnya, bukan hakimnya. Jangan biarkan kecemburuan menghancurkan apa yang sudah kalian bangun."

Indri menoleh ke arah kakaknya. "Benar, Kak. Kak Aruna sangat mencintaimu. Jangan biarkan pria di sebelah sana memenangkan hati Kak Aruna hanya karena dia terluka. Kakak harus lebih kuat darinya."

Christian menghela napas panjang, mencoba meredam gejolak di dadanya. Namun, di luar ruangan, sebuah sosok misterius sedang mempersiapkan rencana terakhir untuk menghancurkan kedamaian keluarga itu.

Suasana di lorong rumah sakit mulai sunyi saat malam semakin larut.

Papa Adrian dan Christian sedang berada di kantin bawah untuk membicarakan langkah hukum selanjutnya, meninggalkan Indri yang sedang mengambil air minum.

Di saat itulah, sebuah sosok dengan pakaian perawat kebesaran dan masker yang menutupi hampir seluruh wajahnya menyelinap masuk ke kamar Aruna.

Mata di balik masker itu berkilat penuh kebencian.

Sisil melihat Aruna yang terbaring lemah dengan selang infus.

Tanpa peringatan, ia menyambar bantal dari kursi tunggu dan menerjang ke arah ranjang.

"MMMMPPHH!"

Aruna tersentak bangun, namun napasnya langsung terhenti.

Sisil menekan bantal itu dengan seluruh berat tubuhnya ke wajah Aruna. Aruna meronta, tangannya mencakar udara, namun tubuhnya terlalu lemas untuk melawan kekuatan gila Sisil.

"Mati kau! Mati!" desis Sisil tepat di telinga Aruna yang tertutup bantal.

"Menyusul lah bersama Zahra yang aku bunuh dulu! Kau ingin tahu rahasianya? Akulah yang membakar rumah itu! Aku yang menyulut apinya setelah Akhsan mengunci pintu!"

Mata Aruna terbelalak di balik kegelapan bantal. Jantungnya serasa berhenti bukan karena sesak napas, tapi karena kebenaran yang baru saja ia dengar.

Jadi benar, bukan Akhsan pelakunya, melainkan wanita iblis yang sedang mencoba membunuhnya sekarang.

"Aku membakarnya agar dia mati dan Akhsan menjadi milikku sepenuhnya! Dan sekarang, kamu juga harus lenyap!" Sisil tertawa tertahan, suaranya terdengar mengerikan di ruangan yang sunyi itu.

Tepat saat kesadaran Aruna mulai hilang, seorang perawat asli masuk untuk mengecek infus. Ia membelalak melihat rekan sejawatnya sedang mencoba membunuh pasien.

"HEI! APA YANG KAMU LAKUKAN?!" teriak perawat itu histeris.

Sisil tersentak dan melepaskan bantalnya. Aruna langsung menghirup oksigen dengan rakus, terbatuk-batuk hebat sambil memegangi lehernya.

"POLISI! TOLONG! ADA PEMBUNUHAN DI KAMAR 402!" terawat itu berteriak sambil berlari ke arah koridor dan menekan tombol darurat.

Sisil panik. Ia melihat ke arah jendela, lalu kembali menatap Aruna dengan penuh dendam.

Sebelum ia sempat menyerang lagi, suara langkah kaki sepatu lars polisi yang berjaga di depan ICU mulai mendekat dengan cepat.

Sisil mencoba melarikan diri melalui pintu darurat, namun suaranya yang melengking masih terdengar memenuhi ruangan.

"Kamu akan mati, Aruna! Kamu akan mati!"

1
Fatma
jangan bilang nanti aruna malah balikan sama akhsan, suaminya gmn?
Masha 235
lha terus christian kepiye aruna ...mau diapain ..
my name is pho: sabar kak 🤭
total 1 replies
Piyah
,masa begitu, arunany
Dwi Winarni Wina
balas dendam siap dimulai tunggu kehancuranmu akhsan...
Dwi Winarni Wina
siulet bulu sisil kayak cacing kepanasan🤣🤭
Dwi Winarni Wina
Akhsan merindukan zahra pret tega sekali menyiksa zahra, siap2 aruna cristian akan balas dendam🤣
Dwi Winarni Wina
Zahra akan ganti identitas dengan barunya, siap2 balas dendam...
Dwi Winarni Wina
Zahra adiknya cristian akan membalas dendam sm keluarga hermawan dan akhsan akan melakukan operasi plastik
Dwi Winarni Wina
Zahra balas dendam telah orang2 yg menyakitinya...
Dwi Winarni Wina
bagus cristian selamatkan zahra dari para iblis itu...
Dwi Winarni Wina
zahra bertahan balas org2 telah menyakitimu, jadi zara yg kuat tanggung jangan jadi zahra yg lemah yg mudah ditindas....
Dwi Winarni Wina
Zahra pergi yg jauh akhsan dan orgtua sendiri aja gak peduli sm kamu, ngapain juga bertahan yg ada dapat siksaan aja
Dwi Winarni Wina
cristian bawa zahra pergi jauh daripada disakiti sm akhsan terus...
Dwi Winarni Wina
muncul ulet bulu kegatelan ini🤣🤭
Dwi Winarni Wina
akhsan gak punya hati apa, menyiksa zahra...
Dwi Winarni Wina
sebaiknya pergi yg jauh aja zahra, daripada diperlakukan kayak tahanan...
Dwi Winarni Wina
kejam sekali akhsan sm zahra, zahra istri kamu perlakukan dengan baik..zahra juga tidak bersalah bukan penyebab kematian gea...
𝑸𝒖𝒊𝒏𝒂
klo akhsan disusui mama'y zahra itu sma aja akhsan & zahra saudara sepersusuan & itu hukum'y haram jika mereka brdua menikah
my name is pho: Zahra bukan anak dari mama Hermawan
total 1 replies
Dwi Winarni Wina
Lagian bukan zahra juga penyebab kematian gea kali, seharusnya sadar akhsan menyalahkan zahra teru...
Dwi Winarni Wina
akhsan kejam bingit menuduh zahra penyebab kematian gea, kecelakaan yg menimpa gea karena takdir...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!