Ceni yang tak lama ini baru kehilangan sang sahabat untuk selamanya, kini ia harus menelan pahit nya kehidupan karena harus kehilangan untuk yg ke sekian kali nya yaitu sang kakek tercinta.
Sebelum kematiannya, sang kakek sempat memberikan sebuah giok dan cincin dengan ukiran rumit dan kuno, yg kata nya warisan turun temurun.
Bagaimana kah kisah kelanjutan nya.?
Nantikan kisah Ceni di cerita ini.😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon astiana Cantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengikuti Rombongan
Ceni pun mengenyahkan perasaan nya lalu tetap fokus pada langkah kaki kuda yang membawa nya entah kemana nanti.
Sepanjang perjalanan yang di lalui Ceni dan Zeno di dunia antah berantah ini tak menemui rintangan sama sekali, tapi perasaan sedari keluar dari istana seperti ada yang mengikuti, ketika ia menoleh ke arah belakang tidak ada satu pun orang yang mengikuti.
"Aneh, kenapa seperti ada yang mengikuti, apa perasaan ku saja,? Tapi insting ku tidak mungkin meleset." Gumam Ceni heran dengan alis menukik.
"Ah biar kan saja deh, kalau nanti mereka berbuat ulah, akan aku cincang tubuh nya." Gumam nya lagi.
Hari pun berganti Minggu dan Minggu pun berganti bulan, sudah selama itu Ceni bersama Zeno mengembara yang tak tau arah tujuan hendak kemana.
Laju kuda mereka pun berhenti di sebuah desa, yang mana desa ini letak nya sudah masuk wilayah kekaisaran naga emas.
"Nona, apakah kita akan istirahat dulu.?" Tanya Zeno.
"Ya kita akan istirahat sebelum menuju paviliun persik, kata orang-orang ini sudah memasuki wilayah kekaisaran naga emas, sukur lah kita tidak salah jalur, mungkin beberapa hari lagi kita akan sampai." Ucap Ceni langsung turun dari kuda menuju dimana sebuah pohon yang tampak sepi berada lalu mengikat kuda nya di bawah pohon rindang itu, Zeno pun melakukan hal yang sama.
Kedua nya lalu menuju kedai teh yang mana di sana juga di sediakan beberapa macam kudapan untuk di santap para pengunjung.
"Selamat datang nona muda, tuan muda, silahkan duduk." Ucap pemilik kedai dengan ramah.
Ceni pun mengangguk lalu memilih duduk di pojokan agar bisa bersandar pada dinding bambu kedai tersebut.
"Mau pesan apa nona, tuan.?" Ucap pemilik kedai.
"Menu yang ada di kedai ini." Ucap Ceni singkat.
Pemilik kedai pun mengangguk sambil berlalu menuju dimana ia membuat teh.
"Begini ya rasa nya menjadi pengembara." Ucap Zeno.
"Seperti ini lah pengembara, kita sudah layak nya gelandangan tanpa tujuan." Ucap Ceni menimpali.
"Iya gelandangan kaya haha." Gurau Zeno sambil tertawa.
"Tadi aku sempat mendengar akan ada kompetisi di sebuah perguruan tak jauh dari desa ini, apakah kita akan ikut menonton nona.?" Tanya Zeno.
"Ya mau bagaimana lagi, kalau tidak nonton, rugi dong, tujuan kita mengembara kan keliling dunia ini, aku akan menghabiskan sisa waktu hidup di dunia ini, walaupun aku ingin sekali pulang tapi pulang pun tak ada sanak keluarga, lebih baik di sini, toh di sana dengan di sini gak ada beda, sama-sama kaya." Ucap Ceni.
"iya deh nona kaya." Ucap Zeno dengan wajah tengil nya.
Ceni pun hanya mendengus kesal melihat tampang Zeno, seakan mengingatkan nya pada pangeran mahkota.
"Hih , apa yang ku pikirkan, kenapa juga selalu mengingat wajah pangeran gila itu." Batin Ceni menggeleng kan kepala nya.
"Kamu kenapa nona.?" Tanya Zeno ketika melihat Ceni menggeleng kan kepala.
"Tidak ada apa-apa." Jawab Ceni asal.
Zeno pun hanya ber oh ria saja.
Tak lama pesanan mereka pun tiba, karena lidah mereka agak sudah terbiasa dengan makanan di era ini jadi tidak terlalu buruk di mulut mereka.
.
Setelah menghabiskan teh dan kudapan, Ceni dan Zeno pun ingin melanjutkan kembali perjalanan mereka, kali ini perjalanan Nya agak santai sebab mereka ingin menonton kompetisi di perguruan awan yang di adakan terbuka tepat nya di bawah kaki gunung, butuh waktu satu hari untuk sampai di sana, Ceni pun dapat melihat beberapa rombongan yang sedikit terpisah seperti nya menuju ke arah sana, Ceni dan Zeno pun mengekor di belakang mereka agar terasa lebih ramai ketika melanjutkan perjalanan.
Dapat Ceni lihat bahwa rombongan itu ada yang berasal dari rakyat maupun kalangan bangsawan, terbukti dari sebuah iringan kereta kuda dan juga orang-orang yang berjalan kaki, tua,muda, anak kecil semua nya ada di dalam rombongan itu.
"Kasihan sekali ibu-ibu yang membawa bayi serta balita itu, kenapa mesti di paksakan sih pergi ke sana sambil membawa anak kecil.?" Ucap Zeno yang dapat di dengar Ceni.
"Pola pikir orang zaman kuno ini berbeda dari zaman kita Zen, kalau itu di zaman modern, mungkin para orang tua akan lebih mementingkan keselamatan anak-anak, tapi saat ini di karenakan mereka pergi nya berombongan maka dari itu mereka sedikit pun tidak khawatir akan apapun yang terjadi di perjalanan, sebab mereka pikir mereka ramai dan tidak mungkin akan ada apapun di perjalanan." Ucap Ceni.
"Masuk akal juga sih, tapi kan tetap saja itu melelahkan." Ucap Zeno kala pandangan mata nya melirik seorang ibu-ibu yang menggendong bayi sambil berjalan kaki.
"Sudahlah, biarkan saja, kalau mereka lelah mereka pasti istirahat kok." Ucap Ceni.
Zeno pun akhirnya mengangguk tanpa banyak tanya.
Ceni dan Zeno berkuda dengan laju yang sangat lambat mengikuti rombongan dari paling belakang, berjarak sekitar 10 meter dari orang - orang yang berjalan kaki.
Setelah sekian lama menempuh perjalanan di Karenakan langit sudah hampir gelap, para rombongan pun memilih istirahat Duduk lesehan di alam terbuka.
Ceni dan Zeno pun memilih berhenti dan beristirahat sedikit jauh dari rombongan.
"Nona, aku lapar sekali, kita mau makan apa.?" Ucap Zeno.
"Makan Indomie saja, kebetulan stok Indomie sangat melimpah, kita gak mungkin masak sebab ada banyak orang di sekitar sini, demi menjaga kenyamanan." Ujar Ceni.
"Itu lebih baik, sayuran dan daging kering banyak di cincin penyimpanan ku, itu bisa bikin toping tambahan." Ucap Zeno.
"Baiklah, ayo kita masak." Ucap Ceni.
Ceni pun memasak air di api unggun yang tadi di nyalakan Zeno, sebab cuaca agak sedikit dingin.
Setelah menyeduh mie instan, kedua nya pun makan dengan tenang sambil menikmati angin di alam terbuka.
Sesekali kedua nya berbicara tentang dunia ini orang bisa menggunakan teleportasi.
"Andai saja kita punya ilmu teleportasi, sudah dari lama kita sampai kemana pun tujuan kita." Ucap Zeno berandai-andai.
"Tidak ada yang tidak mungkin Zen, siapa tau suatu hari nanti kita dapat menemukan seorang guru yang bisa mengajarkan kita menguasai ilmu teleportasi." Ucap Ceni.
"Ah semoga saja." Ucap Zeno lalu menghabiskan mie nya dengan cepat.
Dari kejauhan beberapa rombongan mulai menyadari aroma makanan yang sangat enak menusuk hidung mereka.
"Hei apa ada yang mencium aroma makanan.?"
Yang lain nya pun mengendus udara, dan. Benar saja, mereka semua juga dapat mencium nya.
"Tapi tidak ada yang masak sama sekali, lihat lah sekeliling kita, hanya ada api unggun."
"Aku jadi lapar."
"Iya sama, aku juga, makanan milik kita tinggal sedikit, uang pun hanya cukup untuk membeli bekal tambahan untuk pulang nanti setelah acara di perguruan awan selesai."
Bersambung.
lanjut up yg bnyak thor💪💪💪💪
3 hari aja kering tak berbekas... tapi gak pake garem
lanjut up lagi thor💪💪💪💪💪