NovelToon NovelToon
Dari Ribut Jadi Jodoh

Dari Ribut Jadi Jodoh

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta setelah menikah / Kisah cinta masa kecil / Romansa / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

Cerita ini adalah season dua dari karya "Cinta Masa Kecil Ustadz Athar"
***

"Abid... Kamu gak perlu merasa bertanggung jawab karna kemarin kita udah dalam posisi yang tak pantas, kita gak perlu menikah. Kita bisa menolak dan mengatakan itu pada kakek kamu dan semua orang. Kita gak harr-"
"Harus." Athar memotong ucapan Azzura cepat. "Kamu harus tanggung jawab."
"Loh kok aku? Dimana-mana yang dimintai pertanggungjawaban itu laki-laki, masa perempuan!" Azzura makin sewot.
"Ya udah ayo kita nikah kalau gitu. Aku mau tanggung jawab kok, meski kamu yang kemarin cium aku duluan."
"Ya itu karna gak sengaja, Abid. Kamu yang narik aku."
"Maka dari itu aku tanggung jawab."

Itu semua berawal dari Azzura yang berniat untuk mengagetkan Ayza tapi ia tidak tau bahwa itu Abidzar terjadilah mereka jatuh bersamaan dengan posisi tak pantas.

***

"aku kaya orang udah gak waras mau setuju aja nikah sama kamu!"
***
"Jadi kamu sudah tau apa tugas istri yang sesungguhnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan Gus Aufar

Sudah lebih dari seminggu Azzura resmi menyandang status sebagai istri dari teman ributnya itu. Namun hingga kini, ia masih belum sepenuhnya terbiasa dengan kehadiran laki-laki yang kini tidur di sampingnya setiap malam.

Selama dua puluh tahun, Azzura terbiasa tidur sendiri. Maka tak heran, beberapa kali ia terbangun dengan jantung berdebar karena mendapati tubuhnya berada dalam dekapan Abidzar. Refleks-refleks lamanya sering muncul tanpa bisa ia kendalikan.

Bukan sekali dua kali Abidzar harus menerima sikutan, bahkan tendangan, saat Azzura terlelap. Anehnya, laki-laki itu tak pernah benar-benar mempermasalahkannya.

Kecuali pagi ini.

Abidzar masih duduk di tepi ranjang, satu tangannya memegang perutnya yang tadi terkena sikutan cukup keras. Azzura menatapnya dengan raut bersalah, meski gengsinya tetap membuat ia tak sepenuhnya mengakui kesalahan.

“Aku minta maaf deh, Abid,” ucap Azzura, lalu buru-buru menambahkan pembelaan, “tapi tangan kamu juga salah. Siapa suruh ke mana-mana.”

Semua itu memang terjadi karena Abidzar yang tanpa peringatan mengagetkannya. Tangannya sempat menyelinap ke balik kaus Azzura, mengelus punggung dan perutnya dengan santai. Refleks saja, Azzura langsung menyerang demi melindungi diri.

“Zuya,” Abidzar menghela napas, “kalau minta maaf tuh yang tulus. Gak usah cari pembenaran. Ini udah kesekian kalinya.”

“Maaf,” sahut Azzura lebih pelan. “Aku kan belum terbiasa.”

“Ya makanya dibiasain.”

“Ya maklumin dong. Namanya juga gak sengaja,” Azzura berdecak. “Kamu juga jangan asal sentuh-sentuh. Kamu tau sendiri aku sensitif.”

Abidzar menghembuskan napas pasrah. Dalam hati, ia menyadari satu hal: love language-nya adalah physical touch, sementara istrinya cenderung physical attack. Kombinasi yang… menantang.

“Yaudah sini,” kata Azzura tiba-tiba. “Aku obatin.”

Ia berusaha terdengar santai, bahkan sempat nyengir. “Lemah banget sih kamu. Harusnya kamu juga biasain nerima sikutan aku.”

Tak ingin memperpanjang perdebatan, Abidzar mengangkat kausnya sedikit, memperlihatkan bagian perut yang sudah mulai membiru.

Azzura membelalak. “Abid… ini lebam.”

Dengan hati-hati, ia menyentuh bagian itu. Jemarinya bergerak pelan, seolah takut menambah rasa sakit. Azzura meringis melihat bekas yang ia buat sendiri.

“Gapapa,” ujar Abidzar ringan. “Gak sakit kok. Cuma lebam dikit.”

“Maaf,” suara Azzura kini lebih lirih. “Aku gak nyangka separah ini.”

“Kalau mau sembuh,” Abidzar menyeringai nakal, “sebenarnya cuma satu obatnya, Zuy.”

“Apa?” tanya Azzura polos.

“Tiap hari kamu—”

Tatapan Azzura langsung menajam.

Sebelum kemarahan itu benar-benar muncul, Abidzar buru-buru mengangkat tangan. “Bercanda. Bercanda. Kamu serius amat sih.”

“Bercanda kamu gak lucu,” dengus Azzura.

“Eh, tapi ingat,” Abidzar nyengir lagi, “kalau aku serius—”

“Aku udah tau arah pembicaraan kamu,” potong Azzura cepat.

Abidzar tertawa kecil, pasrah.

“Aku ke bawah dulu,” ujar Azzura sambil berdiri. “Cari obat buat kamu.”

“Gak usah, Zuya,” sahut Abidzar. “Gak usah ragu-ragu maksudnya."

“Udah tau sakit masih aja nyebelin,” balas Azzura sambil melangkah keluar, meski langkahnya lebih cepat dari biasanya.

Di balik sikap galaknya, ada rasa bersalah yang tak ia ucapkan.

Dan di balik senyum Abidzar, ada sabar yang perlahan tumbuh—belajar mencintai dengan ritme yang berbeda.

Setelah membereskan beberapa barang, Azzura turun ke bawah dan menghampiri Umi Hafiza untuk meminta kotak P3K. Namun setelah dibuka, salep untuk lebam yang ia cari ternyata tidak ada.

“Salepnya habis, Zura,” ujar Umi Hafiza. “Coba kamu ke Ruang Kesehatan Pesantren saja. Di sana obatnya lebih lengkap.”

Azzura mengangguk dan segera beranjak.

Saat tiba di depan Ruang Kesehatan, ternyata tempat itu belum buka. Ia berdiri ragu, hingga seorang santri putri yang kebetulan lewat menyadari keberadaannya.

“Eh, Kak Zura? Mau ke UKP ya?” tanya santri itu.

“Iya, tapi kayaknya belum buka.”

“Oh tunggu sebentar, Kak. Aku panggilkan penjaganya.”

Tak lama kemudian, ruang itu dibuka. Azzura langsung meminta oparin gel, lalu berterima kasih dan kembali ke ndalem.

Namun langkahnya melambat ketika tiba di halaman.

Sebuah mobil putih terparkir rapi di sana.

Padahal saat ia pergi tadi, mobil itu belum ada.

Azzura sempat heran, tapi memilih tidak terlalu memikirkannya. Ia melangkah masuk ke dalam rumah. Dari teras, suara percakapan terdengar jelas dari ruang tamu.

“Assalamu’alaikum.”

Azzura menunduk sopan. Semua yang ada di ruangan itu menoleh dan menjawab salamnya serempak.

Seluruh penghuni ndalem berkumpul di sana—kecuali Ayza yang tampaknya sedang bersiap berangkat sekolah.

Belum sempat Azzura melangkah lebih jauh, Abidzar sudah menghampirinya dengan wajah gusar.

“Kamu dari mana aja sih?” bisiknya cepat.

Tanpa menunggu jawaban, Abidzar menggenggam tangan Azzura dan menariknya ke belakang tubuhnya, seolah menyembunyikan Azzura dari pandangan seseorang—terutama satu sosok pria yang kini melangkah mendekat.

“Tidak usah terlalu posesif, Zar,” ucap pria itu tenang. “Aku bukan orang yang akan mengambil paksa sesuatu yang bukan milik aku.”

Azzura mengernyit bingung.

Nada itu… jelas sebuah sindiran.

Dan ia tau betul siapa laki-laki di hadapan mereka.

Gus Aufar

Putra Ustadz Luthfi dan Ning Fara.

Dulu, Azzura pernah—ya, pernah—mengaguminya.

Terakhir kali mereka bertemu empat tahun lalu, Gus Aufar masih tampak jauh lebih muda. Kini, sosoknya berubah: lebih dewasa, lebih tenang, dan karismanya terasa semakin kuat.

“Hai, Zura,” sapa Gus Aufar lembut.

“I-iya, Gus,” jawab Azzura gugup.

“Masih ingat saya?”

“Ingat,” Azzura mengangguk kecil. “Gus Aufar, anak Ustadz Luthfi dan Ning Fara. Sepupunya Kak Ayesha.”

Gus Aufar tersenyum tipis. “Alhamdulillah. Maaf ya, saya tidak sempat hadir di pernikahan kalian. Beritanya mendadak sekali. Saya baru bisa datang sekarang.”

Tatapan Gus Aufar sempat beralih ke Abidzar—tajam namun tenang.

Sebaliknya, Abidzar justru semakin mengeratkan genggaman tangannya di tangan Azzura.

Azzura makin yakin.

Ada sesuatu yang tidak beres di antara mereka.

Padahal dulu, ia ingat betul Abidzar dan Gus Aufar terlihat akrab.

“Ayo, Aufar,” suara Kiai Abdul Hamid memecah suasana. “Sarapan dulu. Kakek sudah minta abdi ndalem masak seafood kesukaan kamu.”

Kiai Abdul Hamid merangkul bahu Gus Aufar dari belakang.

Meski bukan cucu kandung, Gus Aufar memang masih keluarga—cucu dari Kiai Anshor, abang almarhumah Umi Inayah.

Gus Alif dan Umi Hafiza ikut melangkah ke arah ruang makan.

Sementara itu, Abidzar masih menggenggam tangan Azzura erat—terlalu erat.

“Abid, kamu kenapa sih?” bisik Azzura pelan. “Kenapa kamu sembunyiin aku kayak gitu? Gus Aufar kan cuma nanya baik-baik.”

“Dulu kalian keliatan akrab,” lanjutnya lirih. “Tapi sekarang… kok rasanya kayak musuhan? Harusnya kalian ngobrol, saling sapa, atau minimal kelihatan normal. Ini malah kayak mau saling menerkam.”

“Zuya,” Abidzar menatapnya serius. “Tolong berhenti ngomongin Aufar, bisa?”

Nada itu bukan marah—melainkan memohon.

Dan Azzura bisa melihatnya jelas:ada kekhawatiran di mata suaminya. Tapi khawatir kenapa?

“Oke,” Azzura menghela napas. “Aku gak akan ngomong apa-apa lagi. Sekarang ayo sarapan. Yang lain pasti sudah nunggu.”

Dengan langkah berat, Abidzar menggandeng Azzura menuju ruang makan—tempat Gus Aufar berada.

Padahal yang paling ingin ia lakukan saat ini hanyalah satu yaitu membawa istrinya pergi sejauh mungkin dari jangkauan Gus Aufar.

Karena Abidzar tau betul—Gus Aufar bukan sekadar sepupu.

Ia adalah laki-laki yang pernah dikagumi Azzura.

Dan lebih dari itu—laki-laki yang pernah menaruh hati pada istrinya.

Dan Abidzar takut, rasa itu… akan tumbuh kembali.

Saat mereka duduk di meja makan, Azzura baru menyadari satu hal yang membuat dadanya sedikit mengencang.

Hampir seluruh hidangan yang tersaji adalah seafood. Udang, cumi, kepiting, dan beberapa masakan laut lain tersusun rapi di atas meja panjang itu.

Azzura menelan ludah.

Ia alergi seafood.

Abidzar yang duduk di sampingnya langsung menyadarinya. Tatapannya sekilas menyapu meja, lalu berhenti pada wajah istrinya yang tampak ragu. Tanpa berkata apa pun, tangannya menyentuh punggung tangan Azzura, seolah memberi isyarat bahwa ia paham.

Namun sebelum Abidzar sempat membuka suara, seseorang lebih dulu berbicara.

“Zura, kamu makan yang lain saja. Jangan seafood.” Suara Gus Aufar terdengar tenang namun tegas. “Aku tau kamu alergi seafood.”

Seketika suasana meja makan berubah.

Abidzar menoleh tajam ke arah Aufar. Rahangnya mengeras, sementara jemarinya tanpa sadar mengeratkan genggaman pada tangan Azzura.

Azzura sendiri tampak terkejut. Ia menoleh ke arah Aufar dengan mata membulat.

“Eh… kok tau, Gus?”

Aufar tersenyum tipis. “Yaa… tau saja.”

Jawaban itu tentu saja terdengar terlalu sederhana. Tapi Azzura tidak mendesaknya.

Tak ada yang tau—kecuali Aufar sendiri—bahwa dulu, saat ada acara di yayasan milik Abi Azzura, keluarga Ar-Rahman pernah diundang. Di sana tersaji berbagai macam hidangan, termasuk seafood. Aufar ingat betul bagaimana Azzura sama sekali tidak menyentuh satu pun masakan laut, bahkan hanya tersenyum kecil setiap kali ditawari.

Kenangan itu masih melekat jelas di ingatannya.

“Ya Allah…” Umi Hafiza mendadak menepuk dahinya pelan. “Maafin umi ya, Zura. Umi benar-benar lupa kalau kamu alergi seafood. Nanti umi masakin yang lain ya.”

Azzura buru-buru menggeleng. “Gak usah, Umi. Aku gak mau ngerepotin.”

“Iya, Umi,” sambung Abidzar cepat, suaranya terdengar menahan sesuatu.

“Biar aku saja yang ajak Azzura makan di luar. Gak apa-apa, kan?”

Kakek Yai Abdul Hamid tersenyum bijak. “Gak apa-apa, Bid. Ajaklah istrimu.”

Abidzar mengangguk singkat. “Makasih, Kek.”

Tanpa menunggu lama, Abidzar berdiri dan membantu Azzura bangkit. Tangannya tetap menggenggam erat jemari istrinya, seolah tak ingin memberi celah sedikit pun.

Sementara itu, Gus Aufar hanya memandangi punggung mereka yang menjauh dengan sorot mata yang sulit ditebak—antara lega, getir, dan sesuatu yang sudah seharusnya ia lepaskan sejak lama.

Dan Abidzar… semakin yakin bahwa kekhawatirannya bukan tanpa alasan.

Abidzar baru saja memastikan Azzura masuk ke dalam mobil dan duduk dengan aman. Sabuk pengaman terpasang, pintu ditutup pelan.

“Aku tunggu di sini ya, Zuya,” ucapnya singkat.

Azzura mengernyit. “Kamu mau ke mana?”

“Sebentar. Jangan keluar dari mobil.”

Nada Abidzar tidak keras, tapi cukup tegas untuk membuat Azzura memilih diam. Ia hanya mengangguk kecil, meski hatinya diliputi tanda tanya.

Abidzar melangkah kembali ke ndalem.

Di teras samping, Gus Aufar berdiri sendirian. Tangannya bersedekap, menatap kolam kecil yang airnya tenang—sangat kontras dengan suasana di antara mereka berdua.

“Kamu sengaja ngomong soal alergi itu, Gus?”

Suara Abidzar terdengar datar, tapi sarat tekanan.

Aufar menoleh perlahan. “Enggak.”

“Kamu bohong.”

Aufar tersenyum miring. “Atau kamu yang terlalu sensitif?”

Abidzar mendekat satu langkah. “Jangan pura-pura gak ngerti. Kamu tau apa arti ucapan kamu di depan keluarga.”

“Yang aku tau,” balas Aufar tenang, “aku cuma mengingatkan. Itu soal kesehatan. Bukan soal kepemilikan.”

Kata terakhir itu sukses membuat dada Abidzar mengeras.

“Sekarang dengar baik-baik,” ucap Abidzar, suaranya turun satu oktaf. “Zura itu istriku. Apa pun tentang dia—hal kecil sekalipun—itu tanggung jawab aku.”

Aufar menatapnya lurus. Tak ada senyum kali ini. “Dan kamu pikir aku lupa fakta itu?”

“Keliatan enggak,” jawab Abidzar cepat.

“Udah lama kamu gak muncul. Sekalinya datang, kamu nunjukin ke semua orang kalau kamu masih hafal detail tentang istri aku.”

Hening.

Angin sore berembus pelan. Daun-daun di halaman bergerak perlahan.

“Aku gak berniat merebut apa pun, Zar,” kata Aufar akhirnya. “Tapi kamu juga gak bisa maksa aku buat tiba-tiba lupa.”

Abidzar mengepalkan tangan. “Perasaan itu pilihan.”

“Enggak,” sahut Aufar pelan. “Yang pilihan itu tindakan. Dan aku masih tau batas.”

“Kalau begitu,” Abidzar menatapnya tajam,

“jangan ulangi hal kayak tadi. Jangan lagi bicara seolah-olah kamu orang yang paling mengenal dia.”

Aufar terdiam cukup lama. Lalu ia mengangguk kecil. “Baik. Aku hormati kamu sebagai suaminya.”

Ia melangkah mendekat, jaraknya kini hanya satu lengan. “Tapi satu hal yang perlu kamu tau, Zar.”

Abidzar tidak mundur.

“Zura bahagia sama kamu. Dan itu alasan aku datang, memastikan sendiri.”

Tatapan Aufar mengeras. “Kalau suatu hari kamu menyakitinya—aku gak akan diam.”

Kalimat itu seperti pisau tipis yang diselipkan pelan, tapi dalam.

Abidzar tersenyum tipis—dingin. “Ancaman dari sepupu sendiri? Ironis.”

“Bukan ancaman,” jawab Aufar tenang. “Itu janji.”

Abidzar membalas tatapan itu tanpa gentar. “Kamu gak perlu jaga dia. Sekarang tugas itu ada di aku.”

Hening kembali.

Aufar menghela napas, lalu melangkah menjauh. “Jaga dia baik-baik, Zar. Jangan sampai kamu kalah sama bayangan masa lalu.”

Abidzar berdiri mematung, rahangnya mengeras.

Saat Aufar menghilang di balik pintu, Abidzar menutup mata sejenak.

Lalu berbalik menuju mobil—menuju satu-satunya hal yang benar-benar ia takut kehilangan.

Azzura.

1
Nifatul Masruro Hikari Masaru
nah gitu dong baikan
syora
lah ank umma mau kamu ajak debat abidz
ckckck mau cari gr"🤭
Alana kalista
lanjutkan
Nifatul Masruro Hikari Masaru
makanya bid pamit kalo pulang telat
Siti Java
up ge dong kk... gw seru ni🥰🥰
syora
wahhh ujian ya abidz,,,,kdng org tipe ceria klau dah marah DIEM itu yg bth ksbran nghadapinya
apa lgi nggak ksh kabar,,,,
maaf kmungkinan coklat kamu nggak mempan ya abidz
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh yang mulai cemburu
darsih
adyh bikin azura salah paham abidzar
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh pasangan ini bikin iri aja
Anak manis
cie cie😍
syora
nggak la zuya
awas kamu abidz bilang telat🤭
Nifatul Masruro Hikari Masaru
enggak telat kok malah seneng
Nifatul Masruro Hikari Masaru
ea yang sudah mulai membuka diri
Fegajon: zuya luluh juga🤭
total 1 replies
syora
berasa berdampingan dg athar versi abidzar❤❤❤❤❤
mereka yg cerita,aku yang masyallah dag dig dug
Fegajon: iya ya🤭 seperti mengulang kisah mereka
total 1 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
abid jangan bikin jantung zuya copot
Siti Java
up ge dong kk🥰🥰🥰
Fegajon: nanti malam ya😁
total 1 replies
syora
alhamdulillah nggak harus tergesa cukup komitnen,doa dqn keikhlasan
❤❤❤❤❤❤❤ samawa ya zuya abid dunya till jannah
Siti Java
lanjut kk🥰🥰
cutegirl
semangat terus thor 💪🏻
Anak manis
ceritany gak kalah seru dri orangtuanya😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!