NovelToon NovelToon
Terbangun Menjadi Istri Sang Raja

Terbangun Menjadi Istri Sang Raja

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fantasi / Time Travel / Reinkarnasi / Harem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Indah

"Duduk di sini." ujarnya sembari menepuk paha kanannya.

Gadis itu tak salah dengar. Pria itu menepuk suatu tempat yakni pahanya sendiri. Dengan ekspresi datar seolah itu tak mengagetkan dan sudah menjadi kebiasaan di sana. Orang-orang di sekelilingnya pun tampak sama. Tak bereaksi, seolah itu hanya salah satu hal biasa dari serangkaian acara. Namun, tidak bagi gadis itu. Bisa-bisanya pria itu bertindak tidak tahu malu seperti ini di hadapan semua orang? Ia benar-benar tak habis pikir!

"Tidak mau."

Reaksi semua orang yang ada di sana sangat terkejut. Semua berbisik, tetapi tidak ada yang berbicara langsung seolah segan dengan sosok yang duduk di kursi paling mewah seperti seorang raja itu.

Pedang mulai mengarah ke leher gadis itu. Bukan dari pria itu, tetapi dari orang-orang yang seperti prajurit ini.

"Beraninya kau." ujar pria itu penuh amarah seolah ini adalah penghinaan terbesar terhadapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengadilan Mei Yuxin

Malam itu, Paviliun Pengadilan Dalam dipenuhi keheningan yang menyesakkan.

Lentera-lentera menggantung tinggi, cahayanya redup, membuat bayangan manusia di lantai giok tampak panjang dan terdistorsi. Bau dupa tipis mengambang di udara, namun tak mampu menenangkan siapa pun yang berada di dalam ruangan itu.

Mei Yuxin berlutut di barisan paling depan.

Di belakangnya, enam selir lain ikut berlutut, kepala tertunduk, tangan saling menggenggam di balik lengan baju mereka yang lebar. Tidak ada bisikan. Tidak ada tangisan keras. Hanya napas tertahan dan jantung yang berdegup terlalu cepat.

Di hadapan mereka, sosok penguasa duduk diam.

Tak perlu teriakan. Tak perlu amarah yang meledak-ledak. Diamnya saja sudah cukup untuk membuat lutut terasa lemas.

“Ulangi,” suara itu akhirnya terdengar. Rendah. Tenang. “Dari awal.”

Mei Yuxin menarik napas perlahan, seolah menenangkan dirinya sendiri. Ia mengangkat kepala sedikit, cukup untuk memperlihatkan wajahnya yang pucat dan mata yang memerah.

“Hamba dan para selir lain berada di Taman Teratai untuk menikmati udara sore,” ucapnya lembut. “Selir Xue datang menghampiri kami. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada perselisihan.”

“Lalu?” tanya suara itu lagi.

“Salah satu selir terpeleset,” lanjut Mei Yuxin. “Dan Selir Xue… berada terlalu dekat dengan tepi sungai.”

Kata-katanya dipilih dengan sangat hati-hati.

“Jadi ia jatuh.” simpul suara itu.

“Benar, Yang Mulia.” jawab Mei Yuxin cepat. “Itu kecelakaan.”

Sunyi.

Terasa lama. Terlalu lama.

“Kecelakaan.” suara itu mengulang.

Lalu terdengar langkah kaki mendekat, perlahan, mantap. Bayangan jatuh tepat di depan Mei Yuxin. Tanpa perlu mengangkat kepala, ia tahu tatapan itu sedang menelanjanginya.

“Kau tahu,” suara itu berkata pelan, “apa yang paling mencurigakan dari sebuah kecelakaan?”

Mei Yuxin menelan ludah. “Hamba… tidak tahu.”

“Semua orang punya cerita yang sama.”

Tatapan itu bergeser ke barisan selir lain.

“Kau,” suara itu menunjuk salah satu dari mereka. “Apa yang kau lihat?”

Selir itu tersentak. Bahunya bergetar hebat. “H-hamba melihat Selir Xue kehilangan keseimbangan…”

“Kenapa kau tidak melompat ke sungai?” potong suara itu dingin. “Atau setidaknya berteriak minta tolong?”

Selir itu membeku. Bibirnya bergetar. “Hamba… panik…”

“Menarik,” jawab suara itu. “Kalian semua panik… tapi tidak satu pun berteriak.”

Mei Yuxin buru-buru menyela, suaranya sedikit lebih keras. “Yang Mulia, saat itu wilayah taman sangat dekat dengan paviliun Permaisuri. Hamba berpikir—”

“Permaisuri?” suara itu langsung memotong.

Satu kata itu membuat seluruh ruangan menegang.

Mei Yuxin menunduk lebih dalam. “Ya, Yang Mulia. Bukankah Permaisuri pernah berpesan agar kami tidak membuat keributan di wilayah beliau?”

Kalimat itu meluncur mulus.

Terlalu mulus.

Beberapa selir lain langsung menangkap arah pembicaraan itu.

“Benar, Yang Mulia.” sahut salah satu selir lain dengan cepat, seolah menemukan pegangan hidup. “Permaisuri pernah mengatakan bahwa segala urusan kecil sebaiknya diselesaikan tanpa mengganggu beliau.”

“Iya,” timpal yang lain, suaranya bergetar namun penuh usaha. “Permaisuri tidak menyukai kegaduhan. Kami takut jika memanggil pelayan… justru akan dianggap melanggar titah beliau.”

Nama itu kini menggantung di udara.

Bukan sebagai penghormatan.

Melainkan perisai.

Keheningan kembali turun.

Namun kali ini, keheningan itu terasa berbeda—lebih berat, lebih berbahaya.

“Jadi,” suara itu berkata pelan, “kalian membiarkan seorang selir hampir mati… karena takut mengganggu Permaisuri?”

Tak ada yang berani menjawab langsung.

Mei Yuxin mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca. “Bukan begitu maksud hamba. Hamba hanya… mengikuti apa yang selama ini kami pahami sebagai kehendak Permaisuri.”

“Kehendak.” suara itu mengulang.

Langkah kaki kembali terdengar. Kali ini lebih dekat. Terlalu dekat.

“Kehendak Permaisuri,” lanjut suara itu datar, “adalah menjaga ketertiban. Bukan menutup mata saat nyawa hampir hilang.”

Salah satu selir terisak pelan.

“Tapi… tapi Permaisuri pernah berkata…” ucapnya tanpa sadar.

“Permaisuri berkata apa?” suara itu langsung menajam.

Selir itu tersentak, menyadari kesalahannya. “Hamba… hamba hanya mendengar… katanya Permaisuri tidak menyukai Selir Xue…”

Kalimat itu jatuh seperti batu ke air tenang.

Mei Yuxin membelalak. Wajahnya berubah.

“Omong kosong!” serunya cepat. “Jangan memfitnah Permaisuri!”

Namun sudah terlambat.

Suara itu terdengar lebih dingin dari sebelumnya. “Jadi sekarang… kalian tidak hanya membawa nama Permaisuri, tapi juga perasaannya?”

Tidak ada yang berani bernapas.

“Apakah Permaisuri memerintahkan kalian menjauh dari sungai?”

“Tidak…”

“Apakah Permaisuri menyuruh kalian membiarkan seseorang tenggelam?”

“T-tidak…”

“Lalu kenapa,” suara itu menekan setiap kata, “nama nya terus kalian sebut?”

Mei Yuxin menunduk, keringat dingin mengalir di pelipisnya. “Hamba hanya ingin menjelaskan bahwa kami tidak berniat jahat. Kami takut melanggar aturan istana.”

“Aturan,” suara itu berkata pelan. “Atau kepentingan?”

Tak ada jawaban.

Beberapa selir mulai menangis terbuka. Yang lain gemetar hebat.

“Kalian semua akan ditahan sementara,” suara itu akhirnya memutuskan. “Sampai Selir Xue sadar.”

Mei Yuxin tersentak. “Yang Mulia—!”

“Jika ini benar-benar kecelakaan,” lanjut suara itu tanpa emosi, “maka kebenaran tidak akan menyakiti siapa pun.”

Ia berhenti sejenak.

“Tapi jika nama Permaisuri digunakan untuk menutupi niat kotor…”

Suara itu merendah.

“Akibatnya tidak akan ringan.”

Mei Yuxin merasakan tenggorokannya mengering.

Karena ia tahu—menarik nama Permaisuri ke dalam permainan ini adalah pedang bermata dua.

Jika Bai Ruoxue sadar dan berkata satu kalimat saja… jika ia mengingat satu sentuhan, satu tawa—

Maka bukan hanya dirinya yang akan diseret jatuh.

Seluruh istana akan berguncang.

Dan di paviliun pengobatan, Bai Ruoxue terbaring diam, bulu matanya bergetar lemah.

Tak ada yang tahu—apakah saat ia membuka mata nanti, ia akan menyelamatkan seseorang… atau menghancurkan semuanya.

Keputusan itu menggantung di udara, berat dan tak terbantahkan.

Para pengawal bergerak serempak, langkah mereka tegas namun sunyi. Satu per satu, para selir diperintahkan berdiri. Tidak ada bentakan, tidak ada sentuhan kasar—justru itulah yang membuat situasinya semakin menakutkan. Perlakuan yang terlalu tenang sering kali berarti hukuman yang jauh lebih panjang.

Mei Yuxin bangkit dengan kaki yang sedikit goyah.

Untuk sesaat, ia merasa pandangannya berkunang-kunang. Selama ini, ia selalu percaya diri. Selalu yakin bahwa ia memahami aturan istana lebih baik daripada siapa pun. Bahwa ia tahu kapan harus menyerang dan kapan harus berlindung di balik nama orang lain.

Namun malam ini, untuk pertama kalinya, ia tidak yakin apakah perisai itu masih utuh.

Saat mereka digiring keluar paviliun, salah satu selir di belakangnya berbisik lirih, hampir tak terdengar.

“Kalau… kalau Selir Xue benar-benar bangun… bagaimana?”

Bisikan itu seperti jarum kecil yang menusuk telinga Mei Yuxin.

Ia tidak menjawab.

Karena di benaknya, pertanyaan itu telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Bagaimana jika ia mengingat?

Bukan seluruh kejadian. Tidak perlu seluruhnya. Cukup satu potongan kecil—tangan yang menarik, tawa yang terlalu dekat, wajah yang berdiri paling depan di tepi sungai.

Mei Yuxin mengepalkan tangannya di balik lengan baju.

Di koridor panjang istana, bayangan mereka bergerak mengikuti cahaya lentera. Setiap langkah terasa semakin berat. Para selir yang tadi berani membawa-bawa nama Permaisuri kini diam seribu bahasa. Tidak ada lagi yang berani berkata, “Tapi Permaisuri bilang…”

Karena mereka semua mulai menyadari satu hal yang terlambat—

Nama Permaisuri bukan tameng.

Nama itu adalah api.

Dan api, jika disentuh terlalu dekat, tidak memilih siapa yang akan terbakar.

1
aleena
apa kau yakin ingin menyingkirkan bay rouxue,,
sedangkan sang raja menaruh hati,yg tak bisa dia ungkapkan karna rasa gengsi
Enah Siti
Gak bisa bladrikah klau lmah bisa bisa selir jhat akan mnang thor ksih bldri yg kuat 💪💪💪💪🙏🙏🙏🙏🙏
Azia_da: Iya juga nih, ya🥹
Nantikan terus kelanjutannya, ya! 🥰
Terima kasih sudah membaca✨
total 1 replies
Putri Amalia
kak author apakah cerita ini bakalan smpe end? truama bgt dpt crta bgs entar hiatusss
Azia_da: Pasti end dan Author jamin, Kak✨
Terima kasih dukungannya dan nantikan terus, ya! 🥰
total 1 replies
Anonymous
Iya dia itu suamimu jadi kamu harus patuh ya🤭
aleena: patuh yg seperti apa😔
total 2 replies
Anonymous
Karya baru nih thor😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!