Bagi Arkanza Malik, sentuhan wanita adalah racun yang mematikan. CEO dingin ini mengidap penyakit aneh yang membuatnya sesak napas dan kulitnya terbakar setiap kali kulitnya bersentuhan dengan lawan jenis. Namun, sebuah insiden di lorong hotel mengubah segalanya.
Aira, gadis miskin yang kabur dari kejaran rentenir setelah menghantam kepala pria yang ingin melecehkannya, tanpa sengaja jatuh ke pelukan Arkanza. Bibir mereka bertemu dalam kegelapan. Arkanza yang seharusnya mati karena alergi, justru merasakan napasnya kembali. Gadis kumal ini adalah satu-satunya penawar racunnya!
"Aku sudah melunasi hutang ayahmu. Sebagai gantinya, kau harus menjadi istriku dan biarkan aku menyentuhmu kapan pun aku membutuhkannya."
Aira terjebak. Menjadi "obat hidup" bagi CEO kejam yang tidak punya hati. Di antara kontrak miliaran rupiah dan intrik perebutan harta, mampukah Aira bertahan tanpa harus menyerahkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Debu di Atas Mahkota
Angin kencang di landasan pacu Bandara Heathrow seolah mencambuk wajah Arkanza, namun rasa panas yang menjalar di dadanya jauh lebih menyakitkan. Matanya terpaku pada layar tablet yang dipegang Reno. Mansion kebanggaannya—tempat ia menyimpan segala rahasia dan perlindungan untuk ibunya—kini hanyalah puing yang membara.
"Bajingan!" Arkanza menggeram, suaranya parau tertelan deru mesin jet pribadi di belakang mereka. ia merampas tablet itu dan membantingnya ke aspal hingga hancur berkeping-keping.
Aira berdiri mematung di sampingnya. Wajahnya pucat, namun matanya tidak menunjukkan ketakutan. Ada kemarahan dingin yang mulai mengkristal di sana. Ia menoleh ke arah Marco yang berdiri sepuluh meter di belakang mereka dengan tangan terlipat di depan dada.
"Marco! Ke sini!" teriak Aira. Suaranya tidak lagi lembut; itu adalah perintah seorang ratu yang sedang murka.
Marco berjalan mendekat dengan langkah tenang. "Ya, Mademoiselle?"
"Apa ini pekerjaanmu?" Aira menunjuk ke arah puing-puing yang baru saja ia lihat di berita. "Apa Vancort yang membakar rumahku di Jakarta?!"
Marco membungkuk sedikit, namun matanya melirik tajam ke arah Arkanza. "Bukan kami, Mademoiselle. Lorenzo Vancort selalu mengajarkan untuk menyerang musuh di depan mata, bukan membakar rumah dari belakang. Namun, ada faksi lain dalam keluarga Vancort di Italia yang tidak setuju Anda memimpin. Mereka menganggap hubungan Anda dengan Tuan Malik adalah kelemahan."
Arkanza menerjang, mencengkeram kerah baju Marco dan menekannya ke dinding mobil pengawal yang terparkir. "Kelemahan?! Kalian menyentuh Ibuku dan menyebutnya pesan politik?! Aku akan menghancurkan setiap jengkal organisasi kalian jika sehelai rambut Ibuku terluka!"
"Lepaskan dia, Arkanza!" bentak Aira.
Arkanza menoleh dengan tatapan tidak percaya. "Kau membelanya?! Mereka membakar rumah kita, Aira! Ibu hilang!"
"Aku tidak membelanya, aku sedang mencari jawaban!" Aira melangkah maju, berdiri di antara Arkanza dan Marco. Ia menarik tangan Arkanza yang dipenuhi bintik merah pekat agar melepaskan Marco. "Marco, katakan padaku. Siapa yang melakukan ini? Siapa pemimpin faksi Italia itu?"
"Paman Anda, Luciano Vancort," jawab Marco tenang sambil merapikan setelannya. "Dia yang mengirim pesan itu. Dia ingin Anda kembali ke Italia, bukan ke Indonesia. Dia menyandera Nyonya Santi untuk memastikan Anda tidak punya tempat untuk pulang selain ke pelukan keluarga Vancort."
Di Dalam Jet Pribadi – 30 Menit Setelah Lepas Landas
Suasana di dalam kabin jet pribadi itu terasa sangat mencekam. Arkanza duduk di kursi kulitnya, menenggak wiski tanpa es dengan cepat. Penyakit bintik merahnya meledak hingga ke wajah, membuat penampilannya terlihat mengerikan. Stres berat karena kehilangan ibunya dan pengkhianatan dunia bawah ini menghancurkan pertahanan mentalnya.
Aira duduk di seberangnya, memandangi cincin singa yang kembali ia kenakan di jari manisnya.
"Lepaskan cincin itu, Aira," suara Arkanza rendah, penuh ancaman.
Aira tidak menoleh. "Cincin ini adalah satu-satunya alasan Luciano tidak langsung membunuh Ibu di lokasi kebakaran itu, Arkan. Selama aku memegang simbol ini, aku punya posisi tawar."
"KAU PIKIR AKU TIDAK BISA MENYELAMATKAN IBUKU SENDIRI?!" Arkanza membanting gelas wiskinya ke lantai pesawat. Ia berdiri dan berjalan mendekati Aira, mengunci tubuh istrinya di kursi. "Aku adalah Arkanza Malik! Aku tidak butuh bantuan mafia Italia untuk melindungi keluargaku!"
Aira mendongak, menatap mata Arkanza yang memerah. "Kau sakit, Arkan! Lihat tanganmu! Kau bahkan tidak bisa memegang kemudi tanpaku! Bagaimana kau mau melawan orang-orang yang bisa melintasi benua hanya untuk membakar rumahmu dalam satu malam?!"
"Aku akan membeli mereka! Aku akan menyewa tentara bayaran paling kejam di dunia!"
"Uang tidak berlaku untuk orang seperti Luciano!" Aira berdiri, membuat wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. "Dia ingin darah, Arkan. Dia ingin aku menjadi bonekanya di Eropa. Dan jika aku harus pura-pura menjadi iblis untuk menyelamatkan Ibu Santi, maka aku akan melakukannya!"
Arkanza mencengkeram pinggang Aira dengan sangat posesif, jemarinya menekan kuat seolah takut Aira akan terbang keluar dari pesawat itu. "Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke Italia. Kita tetap ke Jakarta. Kita cari Ibu di sana."
"Ibu tidak ada di Jakarta, Arkan! Marco bilang mereka sudah membawanya ke sebuah pulau di lepas pantai Sisilia!" Aira terisak, namun suaranya tetap tegas. "Mereka memancingku. Jika aku tidak datang, mereka akan mengirimkan potongan jari Ibu setiap jam ke kantormu. Apa kau mau itu terjadi?!"
Arkanza terdiam. Tubuhnya bergetar hebat. Rasa gagal sebagai seorang putra dan seorang suami menghantamnya sekaligus. Ia membenamkan wajahnya di leher Aira, menghirup aroma tubuh istrinya yang menjadi satu-satunya obat penenang baginya.
"Maafkan aku..." gumam Arkanza parau. "Aku sangat takut, Aira. Aku takut jika kau menjadi bagian dari mereka, kau tidak akan pernah kembali menjadi milikku lagi. Aku takut kau akan melihatku sebagai pria lemah yang selalu butuh 'obat'."
Aira memeluk kepala Arkanza, mengusap punggung suaminya dengan lembut. Bintik-bintik merah di leher Arkanza perlahan memudar seiring dengan sentuhan tulus Aira.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Arkanza Malik. Tapi sekarang, biarkan aku menjadi pedangmu. Kau sudah cukup lama menjadi perisaiku," bisik Aira.
Arkanza mendongak, menatap mata Aira dengan tatapan obsesif yang dalam. "Kalau begitu, kita tidak ke Jakarta. Kita ubah rute ke Sisilia. Tapi ingat satu hal, Aira... jika kita sampai di sana, jangan pernah lepaskan tanganku. Aku tidak peduli dengan pamanmu atau klan Vancort. Jika mereka mencoba memisahkan kita, aku akan meledakkan seluruh pulau itu bersamaku."
Aira tersenyum getir, mencium bibir Arkanza dengan rasa haus akan kekuatan. "Kita akan membakar Sisilia bersama-sama, Arkan."
Kokpit Pesawat
Reno masuk dengan wajah tegang. "Tuan, pilot baru saja menerima pesan dari menara pengawas. Ada dua jet tempur tanpa identitas yang membayangi kita di wilayah udara internasional. Mereka meminta kita untuk mendarat di pangkalan militer swasta milik Vancort di Italia."
Arkanza menyeringai, ia meraih pistol dari laci rahasia di bawah kursinya. "Sepertinya 'Paman' sudah tidak sabar menyambut kita."
Aira meraih tangan Arkanza, jarinya yang memakai cincin singa mengunci jemari Arkanza. "Beri tahu pilot untuk menuruti mereka, Reno. Mari kita temui monster yang sebenarnya."
...****************...
Saat pintu pesawat terbuka di sebuah landasan pacu terpencil di Sisilia, puluhan pria berpakaian serba hitam sudah berbaris. Di tengah-tengah mereka, berdiri seorang pria paruh baya yang sangat mirip dengan foto Lorenzo Vancort. Ia memegang sebuah tablet yang menyiarkan rekaman langsung Nyonya Santi yang sedang duduk di sebuah kursi besi, dikelilingi oleh pria-pria bertopeng.
"Selamat datang di rumah, Aira," ucap Luciano dengan suara bariton yang berat. "Dan untukmu, Arkanza... selamat datang di tempat di mana uangmu tidak lebih berharga daripada peluru yang ada di kepalamu."