Ikuti saya di:
FB Lina Zascia Amandia
IG deyulia2022
Setelah hatinya lega dan move on dari mantan kekasih yang bahagia dinikahi abang kandungnya sendiri. Letnan Satu Erlaga Patikelana kembali menyimpan rasa pada seorang gadis berhijab sederhana yang ia temui di sebuah pujasera.
Ramah dan cantik, itu kesan pertama yang Erlaga rasakan saat pertama kali bertemu dengan gadis itu. Namun, ketika hatinya mulai menyimpan rasa, tiba-tiba sang mama membawa kabar kalau Erlaga akan dikenalkan pada seorang gadis anak dari leting sang papa. Sayangnya, Erlaga menolak. Dia hanya ingin mendapatkan jodoh hasil pencariannya.
Apakah Erlaga pada akhirnya menerima perjodohan itu, atau malah justru berjodoh dengan gadis yang ia temui di pujasera?
Yuk, kepoin kisahnya di "Jodoh Sang Letnan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Bendera Merah Malam Pertama
Suasana di dalam Bridal Suite itu sudah sangat sempurna. Harum bunga mawar yang segar beradu dengan aroma kayu manis dari lilin aromaterapi yang berpijar redup.
Di atas ranjang luas itu, Syafina duduk dengan jantung yang berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. Ia baru saja selesai membersihkan diri, mengenakan lingerie sutra putih tertutup yang merupakan kado dari Mamanya, yang katanya bisa membuat suami "lupa daratan".
Pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan Erlaga Patikelana pria rupawan yang keluar hanya dengan mengenakan celana kain santai dan kaos dalam putih yang ketat, menonjolkan otot bisepnya yang keras.
Rambutnya masih basah, memberikan kesan maskulin yang sangat kuat.
Erlaga menatap istrinya, Syafina Putri Andallas dengan tatapan yang seolah ingin menelan gadis itu hidup-hidup.
Dua belas bulan ia menahan diri sejak masa satgas, dan malam ini adalah puncaknya.
"Fina...Sayang." Suara Erlaga terdengar serak, penuh kabut gairah yang seolah sudah tidak terbendung.
Erlaga melangkah mendekat, duduk di sisi ranjang yang ambles karena beban tubuhnya. Ia meraih jemari Syafina yang dingin. "Kenapa gemetar begini, hmm? Kakak bukan mau mengajakmu latihan menembak."
Syafina hanya bisa menunduk, wajahnya sudah semerah kepiting rebus. "Fina... Fina hanya takut, Kak. Ini pertama kalinya buat Fina. Bisakah ditunda?"
Erlaga mengerutkan keningnya dalam, lalu ia menggeleng. Sebab hasratnya sudah berada di ubun-ubun.
"Tidak bisa, Sayang."
Erlaga tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Ia menarik Syafina lembut ke dalam dekapannya, tidak peduli Syafina meringis atau menahan dadanya dengan kedua telapak tangannya. Erlaga mencium aroma stroberi dari leher istrinya yang membuat akal sehatnya nyaris terbang.
Dengan perlahan, ia merebahkan Syafina di atas tumpukan kelopak mawar.
Erlaga mulai mendaratkan ciuman-ciuman menuntut di kening, pipi, hingga akhirnya mengunci bibir Syafina dengan lumatan yang dalam. Meskipun Syafina belum lihai membalas ciuman itu.
Tangannya mulai bergerak nakal, meraba punggung Syafina dan mencari ritsleting atau kancing yang bisa ia buka. Hasrat sang perwira sudah di ujung tanduk, ia merasa seperti singa yang baru saja dilepaskan dari kandang.
Namun, di tengah kemelut gairah itu, ia merasakan tubuh Syafina semakin menegang. Isakan kecil mulai terdengar.
"Kak... tunggu... hiks... Kak Laga...."
Erlaga menghentikan aksinya, napasnya memburu di depan wajah Syafina. "Ada apa, Sayang? Kakak akan pelan-pelan, Kakak janji."
Syafina justru semakin terisak, ia menutupi wajahnya dengan bantal. "Bukan itu, Kak... hiks... Kakak jangan marah ya...."
Erlaga mengernyit bingung. Ia mencoba menenangkan diri, meskipun seluruh sel di tubuhnya berteriak untuk lanjut. "Kenapa? Apa yang sakit? Bilang sama Kakak."
Syafina bangkit sedikit, lalu membisikkan sesuatu yang membuat dunia Erlaga seolah runtuh seketika. "Kak... sepertinya... 'tamu' Fina datang. Tadi di kamar mandi belum ada, tapi barusan... ada rasa yang nggak enak... dan pas Fina cek pakai tisu... ada warna merah, Kak."
Erlaga mematung. Matanya mengerjap-ngerjap tidak percaya. Ia merasa seperti baru saja disiram air es di tengah gurun pasir yang panas.
"Haid? Sekarang kamu sedang haid? Di malam ini?" tanya Erlaga dengan nada tidak percaya, suaranya sedikit meninggi karena shock.
Syafina mengangguk lemas, air matanya makin deras karena merasa bersalah. "Maafin Fina, Kak. Fina nggak tahu kalau akan datang bulan secepat ini. Sekali lagi Fina minta maaf. Kak Laga pasti kecewa banget, ya?"
Erlaga langsung menjatuhkan tubuhnya ke samping Syafina, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Tangannya meremas sprei dengan gemas. Gregetan? Jangan ditanya. Rasanya ia ingin pergi ke lapangan sekarang juga untuk lari keliling stadion sepuluh kali demi membuang energi yang sudah terlanjur meluap.
"Astagfirullah... ujian apa lagi ini?" gumam Erlaga sambil mengusap wajahnya kasar.
Melihat istrinya masih menangis sesenggukan, Erlaga akhirnya tersadar. Ia tidak boleh egois. Meskipun ia merasa sangat "tersiksa" karena gairahnya tertahan di puncak, ia tahu Syafina lebih merasa tertekan secara batin.
Erlaga menghela napas panjang, mencoba mengatur detak jantung dan emosinya. Ia kemudian membalikkan badan, memeluk Syafina yang masih meringkuk ketakutan.
"Sudah, sudah... jangan menangis lagi. Nanti matamu bengkak, besok kita masih ada acara syukuran keluarga," ujar Erlaga lembut, meski suaranya masih terdengar sedikit berat karena menahan hasrat yang terpaksa gagal.
"Kak Laga nggak marah?" tanya Syafina dengan suara serak.
Erlaga terkekeh kecut. "Marah sih tidak, Sayang. Cuma... ya, kecewa sedikit itu manusiawi. Kakak ini laki-laki normal yang sudah menunggu berbulan-bulan. Tapi ya mau bagaimana lagi? Masa Kakak mau melawan takdir Tuhan?"
Erlaga mencium kening Syafina lama. "Berarti Kakak harus puasa lagi selama satu minggu ke depan, ya?"
Syafina hanya bisa mengangguk malu di pelukan suaminya. "Maafin Fina ya, Kak...."
"Iya, dimaafkan. Tapi ingat ya, minggu depan, Kakak tidak akan kasih ampun. Kakak akan tagih semua 'hutang' malam ini dengan bunga-bunganya," goda Erlaga sambil mengerling nakal, mencoba mencairkan suasana.
Syafina menyembunyikan wajahnya di dada Erlaga. Malam yang seharusnya menjadi malam paling membara, justru berakhir dengan mereka yang saling berpelukan di bawah selimut, mendengarkan detak jantung masing-masing.
Bagi Erlaga, satu minggu ke depan mungkin akan terasa lebih lama daripada satu tahun masa tugas di Sudan. Ia harus benar-benar melatih kesabarannya sebagai seorang perwira untuk menghadapi godaan "makmum" cantiknya yang kini sudah sah miliknya, namun belum bisa ia sentuh sepenuhnya.
Haduhhhh gagal nih. Wkwkkwkk kasian Erlaga.