Hellowwww
Ini adalah novel pertama sayaa.
Semoga sukaa ya 😍🙏
Sinopsis:
Bercerita tentang dua pasangan yang bucin banget di sekolah. Namun, karena suatu hal menyebabkan hubungan mereka menjadi renggang hingga ada di pinggir jurang, bahkan setelah jatuh pun mereka masih dihadapkan pada ribuan masalah.
Masalah apa ya kira-kira?
Yuk dibaca langsung ajaa!
Donasi ke aku:
Saweria: parleti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jaaparr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Capek
Setelah pertengkaran hebat di kelas itu, pada akhirnya yang membersihkan kelas adalah Sarah dan beberapa orang yang piket.
Asha juga melewatkan makan siang kala itu, membiarkan perutnya kelaparan dan tetap mengikuti jam pelajaran hingga pulang.
Dia bersikap seperti tidak terjadi apa-apa, wajahnya biasa, meskipun orang-orang di kelas mulai berbisik-bisik membicarakan kejadian barusan.
Ada yang membela Sarah, ada pula yang membenarkan Asha. Tapi Asha sama sekali tidak peduli.
Hatinya masih sakit, ia sama sekali tidak berniat menimbang apakah yang ia lakukan benar atau salah.
Dia pun tak berharap Arsa meminta maaf, Asha hanya ingin diam kali ini. Menikmati kesendirian yang perlahan menyembuhkannya.
🌷🌷🌷🌷🌷
Kringg....
Bel pulang telah berbunyi tiga kali, Asha memasukkan seluruh buku ke dalam tasnya.
Dengan wajah yang murung, ia berdiri dari kursi, mengikuti segerombolan teman kelasnya yang seluruhnya akan pulang.
Di sisi lain, Arsa telah berdiri dari tadi semenjak Asha masih bersiap-siap. Arsa ingin pulang bareng Asha, sekaligus meminta maaf.
Asha melihat Arsa yang menunggunya, tetapi mata itu sama sekali tak menunjukkan rasa senang, tetapi sebuah kesinisan.
Ia berjalan ke arah Arsa, seolah-olah sama sekali tidak marah. Arsa yang melihat Asha datang ke arahnya, tersenyum masam.
"Sha, pulang bareng—" ajak Arsa namun ia tiba-tiba terdiam dengan mata yang membulat.
Asha melewatinya begitu saja dengan wajah datar. Tak menggubris apa yang ingin Arsa katakan, seolah-olah laki-laki itu tak ada di sana.
Tangan Arsa bergetar dan jantungnya berdegup kencang. Ia menundukkan kepalanya penuh penyesalan.
Tiba-tiba Cinta datang dari depan Arsa dan berdiri di sampingnya dengan wajah yang bersimpati.
Cinta memegang pundak Arsa dan tersenyum agak dipaksakan. "Tenang aja, gw bakalan bantu lu" ucap Cinta dengan pelan, lalu pergi berlari mengejar Asha.
"Shaaa! Ashaa!" panggil Cinta dengan suara yang nyaring sembari berlari di koridor.
Asha saat itu tak menanggapi panggilan Cinta dan terus berjalan, namun pada akhirnya Cinta berhasil berdiri di samping kirinya.
"Ashaa, gw manggil lo dari tadi" kata Cinta dengan nafas ngos-ngosan, Asha hanya diam.
Cinta menarik nafas panjang dan berusaha mengatur nafasnya. Langkahnya pada akhirnya mengikuti ritme langkah Asha.
"Lo kelahi lagi dengan Arsa?" tanya Cinta dengan nada kepo.
Mata Asha berkeliling 360 derajat, menunjukkan ekspresi seperti orang yang muak. Meskipun begitu, ia masih diam.
"Ashaa, lo kelahi lagi dengan Arsa?" tanya Cinta sekali lagi dengan penuh penekanan.
Asha mendecap, lalu melihat Cinta dengan tatapan mata yang tajam.
"MENURUT LO?" tanya Asha balik dengan nada yang tinggi, sedikit membentak.
"Ya kan gw memastikan dulu kale" jawab Cinta dengan nada yang bercanda.
Namun, candaan itu sama sekali tak membuat Asha mengubah mimik badmood-nya. Asha justru kembali melihat ke arah depan, menambah kecepatan berjalan.
"Asha, gw paham kok, mesti sakit banget kalo cowok yang lu suka malah ngebela cewe lain."
"Terus?" tanya Asha dengan nada yang sinis.
"Nahh, lu tau sendiri kan, Arsa tuh ya orangnya kek gitu: friendly banget" jelas Cinta berusaha agar Asha memahami posisi Arsa.
"Ya terus kalo dia friendly kenapa? Gw ini kan ceweknya!" bantah Asha.
"Bener juga sii..." gumam Cinta yang masih mencari ide bagaimana caranya agar Asha mengerti posisi Arsa.
"Aneh lu Ta. Lagian gausah lo belain lagi tuh cowok, najis tau ga!" perintah Asha dengan penuh rasa amarah. Akhirnya cinta pun hanya dapat menghela nafas pelan.
Namun tiba-tiba...
Asha berhenti berjalan, ia sontak terkejut karena merasakan tangannya seperti dipegang oleh seseorang.
Asha langsung membalik badan dan matanya menangkap sesosok pria yang seharian ini membuatnya diliputi rasa sakit hati, Arsa.
"Aku najis Sha bagi mu?" tanya Arsa dengan suara yang pelan dan halus.
Arsa menatap mata Asha dengan begitu dalam dan Asha juga tak bisa mengalihkan pandangannya dalam sesaat. Mata pemuda itu begitu tulus melihatnya.
Akan tetapi, sekelebat bayangan penyebab sakit hatinya lewat di depan matanya. Membuat Asha membuang pandangan.
"Iya," kata Asha dengan pelan. "LO NA—JIS!" lanjut Asha sembari menghempaskan tangan Arsa yang memegang tangannya.
Cinta yang berada di antara mereka berdua langsung kebingungan dan panik.
"Udah wehh, jangan kelahi di sini, malu" bujuk Cinta dengan senyum canggung karena hanya ia sendiri yang menyadari pandangan semua orang.
Namun, tak satupun dari Asha maupun Arsa yang menggubrisnya.
Arsa meneguk salivanya, lalu berjalan perlahan ke arah Asha yang hanya berdiam diri.
"Aku minta maaf, Sha" pinta Arsa singkat.
Hampir semua orang tau bahwa tatapan yang ada pada mata Arsa bukanlah sebuah tatapan biasa. Tetapi tatapan yang benar-benar pupus harapan.
"Aku gamau, gamau kehila—"
"Stop Arsa!" potong Asha sembari menunjuk ke arah Arsa. Tatapan dan wajahnya sama sekali tanpa simpati.
"Gw udah cape denger ke-bullshitan lo itu" lanjutnya dingin, membuat mata Arsa langsung berkaca-kaca.
Diam lalu merajai mereka saat itu juga. Arsa nafasnya sama sekali tidak beraturan, seperti menahan sesuatu yang selama ini dia pendam.
"Gw juga udah cape Sha..."
"Karena lo selalu aja egois kek gini..."
Untuk kesekian kalinya, ucapan sederhana dari Arsa membuat Asha semakin sakit hati lagi.
Asha shok melihat Arsa yang tak pernah menggunakan bahasa gaul kepadanya, kini menggunakannya. Apalagi Arsa berkata dia juga capek.
Tangan Asha menggenggam dalam sekejap, lalu melemas hingga terjatuh diikuti kepalanya yang menunduk.
"Cinta..." lirih Asha memanggil sahabatnya itu, namun suaranya terlalu kecil.
"CINTA!" panggil Asha sekali lagi dengan suara yang nyaring hingga mengejutkan Cinta yang juga terpaku.
"Bawa cowo sialan ini pergi sebelum gw yang cekek dia" pinta Asha dengan mata yang tertutup, gigi menggeretak, dan nafas yang tidak karuan.
Cinta hanya dapat mengikuti permintaan temannya itu, menatap wajah Arsa lebih dulu yang terlihat sangat sedih.
"Gw belum selesai ngomong Sha" ucap Arsa yang sama sekali tak menyadari betapa marahnya Asha sekarang.
Asha menggeleng keheranan dengan keegoisan yang masih mengisi seluruh hati Arsa. Padahal, Asha tak tahu bahwa laki-laki itu bukan ingin membela diri, tetapi mengatakan isi hati.
Keduanya sebenarnya sama saja, sama-sama ingin dimengerti namun tak ada yang mau mengerti.
Asha akhirnya pergi begitu saja dengan pandangan yang menunduk, berusaha menahan agar tangisnya tidak pecah saat itu juga.
Arsa melangkahkan kakinya untuk menahan Asha, namun ia dihalangi oleh Cinta dengan begitu sigap dan cepat.
Arsa melihat cinta dengan tatapan memohon, namun Cinta menggeleng pelan.
"Lo udah keterlaluan Sa."
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Asha pada akhirnya sampai di rumahnya dengan selamat meskipun saat di jalan ia bermotor sangat ngebut.
Telinganya saat ini terasa tuli hingga membuatnya tidak mengindahkan panggilan ibunya. Ia hanya berlari menaiki tangga, memasuki kamarnya.
Asha duduk di sudut kamar, memeluk kedua lututnya dengan kepala yang menunduk. Lalu pecahlah tangis itu begitu saja.
Asha membatin, 'Arsaa, kenapa lo tega banget sih ngomong kalo lo itu cape? Yang gw harapkan dari lo bukan ini.
Gw bilang gw cape sama lo itu bukan artinya gw nyerah, tapi gw berharap kalo lo seenggaknya tau kalau gw itu bener-bener kesiksa sama sikap friendly lo.
Tapi, lo malah bilang cape, seolah-olah lo itu korban dari kejahatan lo sendiri. Gw gak tau lagi, gw gak paham sama pikiran lo.
Jadi lo bilang cape itu bagi gw sama aja lu udah nyerah sama hubungan ini. Padahal selama ini setiap lo salah juga bukannya gw yang selalu ngalah?
Gw cuma mau lu ngalah kali ini aja, biarin gw tenang dulu, tapi lo malah ngomong kek gitu ke gw, sakit tau ga?'
Begitulah pemikiran Asha selama menangisi kejadian yang menimpa dirinya hari ini.
Asha sedikit kekanak-kanakan dalam mengendalikan dirinya. Dia selalu saja spontan dalam berbicara tanpa tau apakah itu benar-benar perasaannya atau bukan.
Sebenarnya, Asha sama sekali tidak capek dengan hubungan yang dijalaninya. Asha sama sekali tidak menganggap Arsa najis.
Asha hanya ingin menjaga jarak untuk perlahan-lahan memulihkan dirinya sendiri. Lalu pada akhirnya kembali seperti biasa.
Tetapi, Arsa juga tak bisa bertindak dewasa. Arsa termakan oleh egonya sendiri yang ingin dimaafkan oleh Asha tanpa menimbang kapan waktu yang tepat.
Pada akhirnya dia malah bersikap tergesa-gesa, memaksa, dan terlalu menekan Asha. Dan bukannya membuat Asha lebih baik, dia malah membuat semuanya menjadi semakin buruk.
Begitulah sebenarnya realita hubungan yang dimiliki oleh pasangan paling bucin di sekolah ini.
Masalah kecil pun dapat menghancurkan hubungan mereka.
Dan...
Tiga hari berlalu semenjak kejadian itu. Asha dan Arsa baik di sekolah maupun WhatsApp sama sekali tidak melakukan pembicaraan apapun.
Mereka benar-benar bersikap seperti orang asing satu sama lain. Fokus pada diri sendiri masing-masing.
Perlahan-lahan rasa sakit yang kemaren bersarang di hati Asha sudah mulai reda.
Dia mulai menurunkan egonya dan memahami bahwa dia juga ternyata membuat kesalahan kemarin.
Akan tetapi, tidak ada yang mengetahui pikiran Arsa. Hampir selama tiga hari itu, Arsa sama sekali tidak mendekati Asha untuk minta maaf.
Hingga pada suatu malam yang mendung dan gelap, Arsa memberanikan diri untuk mengechat Asha.
————————
Arsa
Asha, aku mau kita ketemu
di taman cafe biasanya.
Asha
Buat apa?
Arsa
Buat ngomong sesuatu.
———
Asha melempar hpnya ke atas kasur, ia lalu duduk bersandar melemaskan seluruh badannya. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Arsa benar-benar capek.
"Jadi, lo pengen putus ya, Arsa?"
TO BE CONTINUED
🌷🌷🌷🌷
Yah author nulis ceritanya ini malam malam banget weh, buru buru juga karena besok udahh sekolaahhh wehhh, hari senin, sang hari mematikan 😭😭.
Semoga besok hujan plis.
Follow ig author ya!
@Jaaparr.
tapi bikin Asha sungguh movie on Thor kalau bersama arsa itu menyakitkan jangan sia siakan airmataku ,..bahagiakan asha bersama orang lain juga supaya arsa merasakan kesakitan dan air mataku