Setelah diselamatkan dari penculikan maut oleh Pratama, seorang penjual soto sederhana, Luna justru terjebak fitnah warga yang memaksa mereka menikah. Situasi kian pelik karena Pratama masih terikat pernikahan dengan Juwita, istri materialistis yang tanpa ragu "menjual" suaminya seharga Rp50 juta sebagai syarat cerai.
Demi menolong pria yang telah menyelamatkan nyawanya, Luna membayar mahar tersebut dan memilih menyembunyikan identitas aslinya sebagai putri tunggal seorang CEO kaya raya. Ia rela hidup dalam kesederhanaan dan mengaku hanya sebagai guru TK biasa. Di tengah rasa bersalah Pratama yang berjanji akan bekerja keras membalas kebaikannya, ia tidak menyadari bahwa istri barunya memiliki kuasa untuk membalikkan nasib mereka dalam sekejap mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Mobil melaju melesat membelah sunyinya jalanan malam menuju rumah sakit.
Di kursi belakang, Pratama mendekap erat tubuh Luna, tangannya menekan luka di bawah dada istrinya untuk menahan pendarahan yang kian hebat.
"M-mas..." suara Luna terdengar sangat tipis, nyaris hilang tertelan suara mesin mobil.
"Terima kasih, sudah mau menjadi suamiku, Mas. Terima kasih sudah menjagaku selama ini..."
Air mata Pratama jatuh tak terbendung, menetes tepat di kening Luna.
Ia menggelengkan kepalanya dengan kuat, hatinya hancur mendengar ucapan yang terdengar seperti salam perpisahan itu.
"Jangan bicara seperti itu, Dik! Simpan tenagamu. Mas tidak mau dengar itu sekarang," bisik Pratama dengan suara parau.
"Kamu harus kua, Dik. Kita belum sempat merayakan kesembuhanmu, Dan kita belum sempat membuat rencana masa depan kita. Bertahanlah, Sayang. Mas mohon."
Luna hanya bisa tersenyum sangat tipis, matanya mulai sayu dan perlahan mulai tertutup.
"Bertahan, Luna! Jangan tutup matamu!" teriak Pratama saat mobil akhirnya berhenti tepat di depan pintu IGD rumah sakit.
Petugas medis dengan sigap membawa brankar.
Pratama meletakkan tubuh Luna di sana dengan tangan yang masih bersimbah darah.
Ia berlari mendampingi brankar itu hingga ke depan pintu ruang operasi.
"Mohon tunggu di luar, Pak!" perintah seorang perawat dengan tegas.
Lampu merah di atas pintu ruang operasi menyala.
Pratama jatuh terduduk di lantai rumah sakit yang dingin.
Ia menatap telapak tangannya yang penuh dengan darah istri tercintanya.
Tak lama kemudian, Papa Jati dan Arini datang dengan terengah-engah.
Wajah Papa Jati tampak hancur melihat kondisi menantunya.
Di dalam sana, Dokter Hendra dan tim bedah sedang berjuang melawan waktu.
"Tekanan darah menurun! Siapkan defibrillator!" sayup-sayup suara dari dalam ruang operasi menambah mencekamnya suasana di lorong rumah sakit.
Pratama berjalan gontai menjauhi pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat.
Langkahnya terasa berat, seolah beban seluruh dunia menimpa pundaknya.
Ia menemukan sebuah musholla kecil di sudut lorong rumah sakit.
Di sana, dalam kesunyian yang hanya dipecah oleh suara mesin pendingin ruangan, Pratama jatuh tersungkur.
Ia bersujud dengan sangat lama. Tubuhnya yang biasanya tegap kini bergetar hebat.
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah membasahi sajadah lusuh di bawahnya.
"Ya Allah. Hamba pasrahkan segalanya pada-Mu," rintihnya dalam isak tangis yang tertahan.
"Jangan ambil dia, ya Allah. Jangan sekarang..."
Dada Pratama sesak, bayangan senyum Luna dan pengorbanannya tadi kembali terngiang.
Ia merasa gagal sebagai suami karena membiarkan istrinya terkena peluru yang seharusnya untuk dirinya.
"Hamba hanya pria biasa, seorang tukang soto yang Engkau beri anugerah istri malaikat seperti dia. Jika harus ada nyawa yang diambil sebagai ganti, ambillah nyawa hamba, Ya Allah, tapi biarkan dia hidup. Dia masih punya banyak mimpi, dia masih punya Papa yang membutuhkannya."
Dalam sujudnya yang dalam, Pratama terus melantunkan doa dan dzikir.
Di tempat suci itu, ia melepaskan seluruh egonya, memohon keajaiban dari Sang Pemilik Nyawa.
Tiba-tiba, ia merasakan sebuah tangan hangat menyentuh bahunya.
Pratama mengangkat kepalanya dengan mata sembab.
Ternyata itu Papa Jati. Sang mertua tidak mengatakan apa-apa, ia hanya ikut duduk bersimpuh di samping Pratama dan merangkulnya erat.
Dua pria itu terdiam dalam duka yang sama, saling menguatkan dalam doa.
"Dia kuat, Pratama. Luna anak yang kuat," bisik Papa Jati dengan suara parau.
Lampu merah di atas pintu ruang operasi yang selama berjam-jam seolah menghimpit dada Pratama akhirnya padam.
Pintu terbuka perlahan, menampakkan Dokter Hendra yang keluar dengan wajah lelah namun guratan lega terlihat di balik maskernya.
Pratama dan Papa Jati langsung berdiri tegak, jantung mereka berdegup kencang menanti kalimat pertama yang akan keluar dari mulut sang dokter.
"Alhamdulillah," Dokter Hendra membuka masker bedahnya.
"Kami sudah berhasil mengambil pelurunya. Beruntung, peluru itu tidak mengenai jantung, meskipun sempat terjadi pendarahan hebat. Saat ini, Nyonya Luna sudah melewati masa kritisnya."
Mendengar kata-kata itu, kekuatan di kaki Pratama seolah menghilang.
Tanpa memedulikan orang-orang di sekitarnya, ia langsung berlutut dan melakukan sujud syukur tepat di lantai rumah sakit.
Ia menangis sejadi-jadinya dan bersyukur kepada Sang Pencipta.
"Terima kasih, ya Allah. Terima kasih," bisiknya berulang kali.
Papa Jati pun memeluk Arini dengan rasa lega yang tak terlukiskan.
Setelah kondisi Luna dipastikan stabil, beberapa perawat mulai memindahkan brankar nya menuju ruang perawatan VVIP yang paling tenang dan nyaman.
Pratama berjalan di samping brankar itu, menggenggam erat tangan Luna yang masih terbalut perban namun kini sudah terasa sedikit lebih hangat.
Di ruang VVIP yang luas, Pratama duduk di kursi samping tempat tidur, tidak sedetik pun ia melepaskan pandangannya dari wajah istrinya yang masih terlelap karena pengaruh bius.
"Kamu hebat, Dik. Terima kasih sudah bertahan untuk Mas," bisik Pratama sambil mengecup punggung tangan Luna.
Di dalam ruang VVIP yang tenang, hanya terdengar suara rendah Pratama yang sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
Suaranya yang merdu dan penuh getaran kasih sayang mengisi setiap sudut ruangan, seolah menjadi obat spiritual bagi Luna yang masih terbaring lemah.
Tangan kanannya menggenggam jemari Luna dengan sangat lembut, seakan tak ingin membiarkan istrinya merasa sendirian di alam bawah sadarnya.
Sementara itu, di lorong rumah sakit yang tidak jauh dari kamar Luna, suasana haru juga menyelimuti Papa Jati dan Arini.
"Mas..." sapa Arini pelan.
Ia memberanikan diri menggenggam tangan Papa Jati, mencoba memberikan kekuatan tambahan bagi pria yang baru saja hampir kehilangan putri tunggalnya itu.
Papa Jati menoleh, tatapannya yang lelah kini bertemu dengan mata Arini yang berkaca-kaca namun menunjukkan ketegasan.
"Ada kabar dari kantor polisi, Mas," lanjut Arini dengan suara tertahan.
"Para penegak hukum sudah menyiapkan tuntutan maksimal. Atas percobaan pembunuhan berencana, penyerangan, dan semua kejahatan yang mereka lakukan. Noah dan Dirga akan dihukum seumur hidup. Mereka tidak akan pernah bisa menyentuh keluarga kita lagi."
Papa Jati mengembuskan napas panjang yang terasa sangat berat, seolah baru saja membuang beban raksasa dari pundaknya. Ia mengeratkan genggaman tangannya pada Arini.
"Keadilan akhirnya datang, Arini. Tapi yang paling penting sekarang adalah kesembuhan Luna," ujar Papa Jati lirih.
"Terima kasih sudah selalu ada di sampingku, bahkan di saat yang paling gelap seperti ini."
Arini tersenyum tipis, sebuah janji setia terpancar dari wajahnya.
Ia tahu, setelah badai besar ini berlalu, mereka semua layak mendapatkan kehidupan yang lebih damai.
Sementara itu di dalam kamar, kelopak mata Luna tampak bergerak sedikit.
Jari-jemarinya yang berada dalam genggaman Pratama memberikan respon kecil, sebuah gerakan halus yang menandakan bahwa ia mulai mendengar lantunan ayat suci dan doa yang dipanjatkan suaminya.
👍👍👍👍