NovelToon NovelToon
Dinikahi Duda Mandul!!

Dinikahi Duda Mandul!!

Status: tamat
Genre:Janda / Duda / Cinta setelah menikah / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Hanela cantik

Kirana menatap kedua anaknya dengan sedih. Arka, yang baru berusia delapan tahun, dan Tiara, yang berusia lima tahun. Setelah kematian suaminya, Arya, tiga tahun yang lalu, Kirana memilih untuk tidak menikah lagi. Ia bertekad, apa pun yang terjadi, ia akan menjadi pelindung tunggal bagi dua harta yang ditinggalkan suaminya.

Meskipun hidup mereka pas-pasan, di mana Kirana bekerja sebagai karyawan di sebuah toko sembako dengan gaji yang hanya cukup untuk menyambung makan harian, ia berusaha menutupi kepahitan hidupnya dengan senyum.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

Yuda memacu motornya sedikit lebih cepat dari biasanya. Matahari sore mulai condong, menggoreskan warna jingga di antara atap rumah-rumah pinggiran kota. Di kepalanya hanya satu hal:

“Jangan sampai terlambat jemput ibu dipasar.”

Begitu tadi pesan ibunya.

Dug… dug… dug…

Brughh—mati total.

Yuda menatap langit seolah minta pengertian. “Seriusan? Habis bensin?”

Ia menunduk melihat indikator bensin—jarumnya sudah masuk area merah sejak pagi. Ia memang lupa mengisi.

“Ya Allah… bisa pas banget kayak gini,” keluhnya.

Ia melihat jam di ponselnya. Sudah hampir jam lima lewat. Ibunya pasti akan marah karena terlalu lama menunggu di pasar.

Ia merogoh kantong celana belakang. Hatinya langsung turun.

Dompetnya tidak ada handphone juga tidak ada untuk meminta bantuan seseorang.

“Ya Allah… jangan bilang ketinggalan,” gumamnya panik.

Ia buru-buru menepi, membuka tas kecil di depan motor  kosong. Dompetnya benar-benar tertinggal di ruang tamu, saat tadi ia buru-buru keluar.

DIa melihat sekeliling. Jalan itu tidak begitu ramai. Beberapa orang lewat, tapi wajah mereka tampak terburu-buru. Tukang bensin eceran memang ada tidak jauh dari tempat dia berhenti sekarang, tapi masalahnya dompet dan hp nya ketinggalan di rumah.

Yuda mengusap wajah frustasi.

“Ya Allah… siapa pun yang bisa bantu, tolonglah…”

Lima menit berlalu. Tak ada orang yang tampak ingin berhenti.

Hingga akhirnya, ia melihat seorang perempuan berjalan sendirian — wajahnya lelah, bajunya sederhana, tasnya kecil. Ia tampak seperti seseorang yang baru pulang dari kerja.

Yuda menelan ludah. Ia tidak suka meminta tolong uang pada perempuan, apalagi orang asing. Tapi ini darurat. Sangat darurat.

Ia mencoba memberanikan diri.

“Mbak… mbak, bisa bantu saya nggak?” tanyanya dengan ragu.

Perempuan itu berhenti dan menoleh. Matanya lembut, tapi penuh kehati-hatian.

“Ada apa, Mas?”

“Saya… kehabisan bensin.” Yuda menghela napas dalam. “Dompet saya ketinggalan di rumah. Saya harus jemput ibu saya. Saya cuma butuh dua puluh ribu buat beli minyak. Nanti saya balikin, sumpah.”

Perempuan itu menatap motornya, lalu menatapnya lagi. Yuda bisa melihat keraguan di wajahnya. Dan jujur saja, dia maklum — zaman sekarang banyak penipu.

“Tapi saya beneran butuh, Mbak,” tambah Yuda dengan suara lebih pelan. “Bukan buat apa-apa. Cuma buat bensin. Saya… nggak mau  ibu saya nunggu lama.”

Perempuan itu akhirnya membuka tasnya. Ia mengeluarkan selembar uang dua puluh ribu dan memberikannya.

“Ini, Mas. Dipakai dulu.”

“Serius, Mbak? Ya Allah, terima kasih banyak…” Ia menerima uang itu dengan kedua tangan. “Mbak tinggal dimana? Biar nanti saya balikin.”

"Ngga usah mas saya ikhlas"

Yuda nampak terdiam sejenak " kalo gitu nama mbak siapa"

“Kirana.”

Nama itu tertanam cepat di kepala Yuda.

“Saya Yuda, Mbak. Semoga rezekinya lancar. Saya… bener-bener berterima kasih.”

Kirana hanya tersenyum kecil dan berlalu.

Yuda memandangi punggung perempuan itu beberapa detik  seseorang yang tidak mengenalnya, tapi menolongnya tanpa syarat.

Begitu motor Yuda akhirnya menyala setelah diisi bensin eceran, ia langsung memacu kendaraan itu menuju pasar.

Motor berhenti tepat di depan pasar. Dari kejauhan ia melihat sosok ibunya, duduk di bangku kecil dekat kios sayur, plastik belanjaan bertumpuk di samping kaki. Wajahnya tidak main-main masamnya.

Yuda menelan ludah. “Bismillah… mati aku.”

Begitu ia mendekat, ibunya langsung berdiri. Dengan cepat.

“YUDHAAA!!”

Yuda otomatis merunduk. “I-iya Bu…”

“Sudah jam SETENGAH ENAM! Kamu pikir ibu ini patung apa nunggu dari tadi?! Kaki ibu sampe kesemutan, tahu?!”

“Maaf Bu… tadi motor habis bensin.”

“Habis bensin?!”

Ibunya menyilangkan tangan di dada.

“Terus kamu ngapain aja dari pagi sampai sore sampe lupa isi bensin?!”

Yuda menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal. “Lupa, Bu… terus dompet juga ketinggalan…”

Ibunya langsung melotot lebih besar. “Astagfirullah… dompet ketinggalan? Bensin habis? Kamu itu umur berapa, Yudaaa? Masih kayak anak bujang umur tujuh belas tahun!”

Yuda mencoba tersenyum meminta ampun. “Iya Bu, maafin. Tadi untung ada orang baik—”

Ibunya langsung memotong dengan cepat, nada tinggi tapi khawatir terselubung.

“Kamu jangan-jangan pinjem uang sama orang asing? Ya Allah Yuda! Kamu itu lelaki, kaya lagi masa iya minjem uang buat bensin?!”

“Darurat Bu… kalau nggak gitu ibu nunggu lebih lama.”

Ibunya menghentak kaki. “Ya tetap aja! Nama juga laki-laki, masa minjem sama orang lewat?!”

Yuda menghela napas. “Nggak ada pilihan Bu.”

Ibunya akhirnya mendecak panjang sambil mengambil plastik belanjaannya.

“Ya udah, ayo pulang. Dingin-dingin gini ibu nunggu, bisa masuk angin. Kalau ibu jatuh sakit, kamu siapin duit buat obat nanti!”

Yuda mengangguk cepat. “Siap Bu, siap.”

Saat ibunya naik ke boncengan, perempuan itu masih terus mengomel sepanjang jalan, tapi nada suaranya perlahan berubah—lebih lembut, lebih seperti seorang ibu yang ketakutan kehilangan anak satu-satunya.

Sementara Yuda, yang sedang memacu motor di bawah sinar senja, hanya bisa memikirkan satu nama.

Kirana.

Wanita yang tanpa banyak bicara memberinya pertolongan ketika semua orang memilih lewat begitu saja.

Ia bertekad dalam hati:

Uang itu harus kembali. Bahkan kalau perlu dengan permintaan maaf yang layak.

Dan tanpa sadar, bibir Yuda terbentuk senyum kecil. Tapi dia langsung menepis pikiran nya itu.

Untuk pertama kalinya sejak bercerai dan divonis mandul, hari itu hidupnya terasa sedikit… berbeda.

Tapi yang membuat dia sangat sakit hati adalah belum sah mereka bercerai istrinya ralat mantan istrinya itu sudah selingkuh dengan pria yang lebih kaya dibandingkan dengannya. Kata mantan istrinya dia sudah tidak bisa memberikan keturunan, tidak bisa juga mencukupi kebutuhannya. Padahal Yuda adalah pemilik pabrik besar yang ada di daerah tersebut

Entah lah Yuda merasa hidupnya kehilangan separuh dirinya. Untuk menikah dia sudah tidak mau memikirkannya lagi. Dia sudah ikhlas dengan keadaannya ini. Siapa juga yang mau menikah dengan pria mandul sepertinya.

Ibunya juga tidak memaksa dia, seolah mengetahui kondisi putra semata wayangnya itu.

1
Ani Kurniati
bagus
Vivo Vivo
bagaimana kelanjutan crta nya
Marina Tarigan
bahaya memang mengancam karena sdh melahirkan 5 anak dan dirumah tak pernaj istiraha karena banyal anak dan pekekerjaan rmh lagi pula zArt cuma 1 orang juda kaya art 1 orang penjaga rmh tdk afa intinya Kirana kecapekan ngurus anak dan rmh semoha cepat tertolong dan baik kembali dan stop melahirkan
Bundo yenti
kenapa nggak bisa tegas ya sama org yg selalu mengganggu rumah tangganya.
Marina Tarigan
bu sarah sebenarnya sdh hila perlu perawatan sm pdistet marahnya selalu anak orang wong anaknya kemana
Marina Tarigan
dr apa itu kok jlnnya sm opa2 apa benar titel dr nys atau dokter2an sm pria berduit ya
Marina Tarigan
anakmu monola dan ivan itu ngapain tdk membantu orang tuanya apa haknya marah2 sm orang
Marina Tarigan
onu Ssrah ini perlu perlu ficuci otaknya pake mesin vuvi dulu supaya adem otaknya
Marina Tarigan
lanjut sesukanya orang miskin Kirana tdl tahu ucap terima kadih dan satu lagi keluarga benalu Monika sm ibunya sarah
Marina Tarigan
kerja kamu dr. Abal2 kali tak ada dr pengangguran senang kali kamu sm ibumu benalu bagi orang lain
Marina Tarigan
setiap perbuatan ada dampak ya laura tergantung perbuatan apa yg kau lakukan satu nyawa hilang gara2 kamu
Marina Tarigan
kamu laura akan dijafikan pelacur sungguhan yg akam disekap dan disiksa dgn safis
Marina Tarigan
lanjut hancurkan Laura sampai tuntas jgn diam ssja iblis itu sfh menyakiti keluargamu Juda
Marina Tarigan
jgn diam saja Kuda laura itu kehancuranmu kamu jgn bodoh
Marina Tarigan
baguds keinginan Laura tercapai terima ksh
Marina Tarigan
lanjut ceritanya
Marina Tarigan
lanjut thour gimana endingnya
Marina Tarigan
planjut semoga berhasil Laura kamu pintar sekali semoga nyawamu msh bisa berdiri
Bundo yenti
othornya nggak konsisten di awal panggilan yang ibu sekarang bunda. suami rita awalnya asman sekarang ganti jadi jefri gimana nih
Marina Tarigan
tian benar Laura kamu benalu baginya memang benar kamu jalanh yg perlu iang tian kasih selesai ikatan kalian tdk ada apa2 hanya jual belo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!