NovelToon NovelToon
Dikira Musibah, Nyatanya Berkah.

Dikira Musibah, Nyatanya Berkah.

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / One Night Stand / Cinta setelah menikah
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: cucu@suliani

Mutiara mengira kalau dikhianati oleh kekasihnya adalah hal yang terburuk di dalam hidupnya, musibah yang akan membuat di hidupnya terpuruk. Namun, ternyata hal itu merupakan berkah di dalam hidupnya.

"Kenapa kamu tega, Fajar? Kenapa aku hanya dijadikan lelucon saja di dalam hubungan kita ini?"

Bagaimana kehidupan Mutiara selanjutnya?

Kuy baca, jangan lupa kasih komen yang baik jika suka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DMNB 25

Jarum jam di dinding kamar seolah berdetak lebih keras di telinga Arkan. Sepuluh menit. Mutiara pamit hanya untuk minum segelas air, tapi sepuluh menit berlalu dan sisi tempat tidur di sampingnya masih kosong.

"Ke mana dia? Kok gak balik-balik? Apa dia jatuh?"

Arkan bangkit dari duduknya, kegelisahan merayap di hatinya seperti serangga kecil yang mengganggu.

"Lebih baik aku susul saja," ujar Arkan.

Lantai marmer yang dingin seolah ikut membeku saat Arkan melangkah menuruni tangga. Keheningan rumah besar ini biasanya menenangkan, tapi malam ini, kesunyian itu terasa mencekik.

​Ia menuruni tangga tanpa suara. Saat dia tiba di dapur, dapur itu kosong. Hanya ada satu gelas berisi air setengah penuh yang ditinggalkan begitu saja di atas konter. Arkan menyipitkan mata.

"Ya Tuhan, apa yang terjadi? Sebenarnya dia ke mana?"

Arkan semakin gelisah, dia memutuskan untuk mencari istrinya dengan menyusuri setiap ruangan yang ada di rumah itu.

"Duh! Kok gak ada sih? Semoga saja dia baik-baik saja," ujar Arkan sambil mengedarkan pandangannya.

Instingnya menuntun langkahnya menuju lorong belakang yang remang-remang, ke arah gudang yang jarang tersentuh lampu.

​Di sana, di balik bayang-bayang pilar, ia mematung. Dia mendengar suara laki-laki dan perempuan, kedua suara itu sangat dia kenal.

"Apa mungkin itu mereka? Apa mungkin mereka sedang mengobrol dan membahas masa lalu?"

Tanpa terduga oleh Mutiara dan juga Fajar, Arkan tentunya menyelidiki masa lalu wanita itu. Dia sudah tahu masa lalu antara Mutiara dan juga Fajar, dia sudah tahu bagaimana kejamnya Fajar terhadap Mutiara.

Arkan mengintip dari balik celah balik dinding. Di sana Mutiara berdiri menyandar ke dinding, sementara Fajar, dia berdiri terlalu dekat dengan Mutiara.

Terlalu intimidasi. Fajar memajukan tubuhnya, mengurung Mutiara dalam ruang sempit antara tubuhnya dan tembok. Namun, Mutiara seperti tak nyaman.

Tangan Fajar terangkat, hampir menyentuh helaian rambut Mutiara dengan gerakan yang jauh dari kata sopan untuk seorang anak tiri.

​Rahang Arkan mengeras. Ada api yang membara di dadanya, tetapi tidak lama kemudian dia mampu mengubah ekspresinya menjadi datar.

Ia menarik napas panjang, lalu mundur beberapa langkah dengan senyum sebagai tanda untuk menenangkan hatinya sendiri. Lalu, dia mulai memanggil nama istrinya dengan nada lembut.

​"Sayang, kamu di mana?"

​Suara itu memecah ketegangan di ujung lorong. Dari balik tembok, Arkan bisa melihat Mutiara dan juga Fajar saling pandang. Lalu, dia mendorong bahu Fajar dengan kasar.

"Aku di sini, Sayang!" ujar Mutiara setengah berteriak.

Lalu, dia berlari kecil menuju sumber suara. ​Mutiara muncul dengan napas yang sedikit memburu. Walaupun dia tidak selingkuh di belakang Arkan, tetapi tetap saja dia merasa khawatir.

Arkan berdiri di sana, melipat kedua tangan di dada, menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca.

​"Lama sekali? Airnya harus diambil dari Arab?" tanya Arkan, nadanya tajam meski suaranya pelan.

​Mutiara mencoba mengatur raut wajahnya, meski binar matanya masih menyiratkan ketakutan dan kegelisahan.

Lalu, tanpa Arkan duga, Mutiara langsung memeluk pria itu seolah takut kehilangan. Arkan tersenyum, lalu dia membalas pelukan Mutiara.

"Maaf, Sayang. Tadi tadi aku tidak sengaja bertemu Fajar di dekat gudang."

​Arkan menaikkan satu alisnya. "Fajar? Di jam segini?"

​"Iya," Mutiara mengangguk cepat, jemarinya meremas baju tidur yang dipakai Arkan. "Dia bilang dia mau menginap di sini malam ini. Kami cuma mengobrol sebentar."

​Arkan terdiam sejenak. Ia melirik ke arah lorong gelap di belakang istrinya, ia tahu betul bahwa putranya masih berdiri di sana, mendengarkan obrolan mereka. Herannya Fajar malah terkesan sedang bersembunyi.

Arkan melangkah mendekat, dia mengusap pipi Mutiara dengan ibu jarinya. Sebuah gerakan yang terlihat penuh kasih, tetapi terasa seperti peringatan.

​"Mengobrol, ya?" bisik Arkan, matanya mengunci mata Mutiara. "Lain kali, kalau mau mengobrol lakukan di depanku. Aku tidak suka istriku tertahan terlalu lama di kegelapan."

"Iya, Sayang."

"Ingatlah, Sayang. Walaupun dia anakku, tetapi dia pria dewasa."

"Maaf," ujar Mutiara dengan perasaan lega karena Arkan tak langsung menuduhnya macam-macam.

"Kalau begitu kamu masuk ke kamar, sudah malam."

​"Ya," jawab Mutiara yang langsung naik ke lantai dua.

​​Setelah memastikan Mutiara masuk ke dalam kamar, Arkan tidak langsung menyusul. Ia berdiri sambil menatap ke arah Fajar berdiri.

"Aku ingin tahu, apakah dia akan tetap bersembunyi," ujar Arkan lirih.

Beberapa menit kemudian bayangan Fajar muncul. Putranya itu berjalan dengan santai, seolah tidak melakukan sesuatu yang lancang.

​"Fajar," panggil Arkan. Suaranya rendah, nyaris seperti geraman macan yang sedang mengintai.

​Fajar menghentikan langkahnya. Ia menolehkan wajahnya ke arah sang ayah, lalu dia menatap ayahnya dengan senyum tipis yang begitu canggung.

"Belum tidur, Yah?" tanya Fajar basa-basi.

​Arkan mendekat ke arah Fajar. Matanya menatap tajam, seolah sedang menguliti setiap gerak-gerik Fajar.

"Jangan pernah berpikir aku tidak tahu apa yang sedang kamu lakukan."

​Fajar terkekeh hambar. "Cuma ngobrol, Yah. Kenapa? Ayah takut aku ambil Mutiara dari Ayah?"

​Langkah Arkan kini hanya terpaut beberapa senti dari Fajar. Atmosfer di koridor itu mendadak berat. Arkan mencengkeram bahu putranya, bukan cengkeraman kasih sayang, melainkan peringatan fisik yang menyakitkan.

​"Aku sudah tahu semuanya, Fajar," bisik Arkan tepat di telinga putranya. "Aku tahu Mutiara itu siapa bagimu dulu. Mantan kekasih yang belum sempat kamu lupakan, wanita cerdas yang kamu manfaatkan untuk kepentingan perusahaan."

​Senyum di wajah Fajar perlahan luntur. Tubuhnya menegang, Arkan lalu menepuk kedua pundak putranya itu.

​"Tapi dengar ini baik-baik," lanjut Arkan, suaranya kini setajam silet. "Masa lalunya mungkin bersama kamu, tapi masa depannya itu dengan aku. Sekarang dia adalah ibumu, kalau aku melihatmu berdiri terlalu dekat dengannya lagi---"

​Arkan menjeda kalimatnya, dia kembali mencengkeram pundak pria itu. Kali ini lebih kencang, sampai Fajar meringis kecil.

​"Ingat, Fajar. Walaupun kamu putraku, aku tidak akan segan-segan."

​Arkan melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar, lalu berbalik pergi tanpa menunggu jawaban dari putranya. Dia menyusul istrinya di kamar, karena terlalu lama di sana takutnya akan semakin emosi.

Fajar berdiri terpaku di kegelapan, tangannya mengepal kuat hingga buku jarinya memutih, dia merasa kalau ayahnya baru saja mengibarkan bendera perang.

"Kita lihat saja, Ayah. Siapa yang nantinya bisa bersama Mutiara," ujar Fajar tak terima.

Pria itu segera masuk ke dalam kamarnya, lalu memukul dinding kamar sampai tangannya berdarah.

"Ternyata sangat sakit melihat kamu bermesraan dengan ayah," ujar Fajar dengan air mata yang mulai turun di pipinya.

1
stela aza
itu pas lagi ngmng di rekam g tue ,,, bisa jadi bukti akurat kalau di rekam
isnaini naini
nah kan ...fjr yg mnghrp kmatian arkan...
stela aza
kenapa g ngawasin si anak pungut udh tau curiga aturan harus bisa lebih hati2 lagi sama si pungut itu ,,, gemes bgt deh ,,, gunakan uangmu biar tau pelaku sebenarnya,,, kurang keren si Arkan ,,,, g kaya CEO2 lain yg tokcer ,, ceritanya trus pinter ya g ketulungan
stela aza
bodoh bgt sie Arkan masa g inget abis di kasih makan sama anak pungut langsung begitu keadaannya masa g g curiga sie ,,, bodohnya g ketulungan,,,🤦
stela aza
kayanya anak pungut yg hilang kendali
isnaini naini
siapa dlng nya thor...fajar ta...emang dsr anak pungut tk tau diri
stela aza
emang di rumah s Arkan g ada cctv lama2 s fajar nggilani ,,, aturan mutiara ngmng sama Arkan kalau dia mau di lecehin sama anak pungutnya biar fajar di kasih pelajaran syukuy2 kasih tau kalau dia cuma anak pungut biar stok terapi 🤦
Wiwi Sukaesih
tenang Arkan it bapak mertua kamu 😁
stela aza
akhirnya bentar lagi ketemu keluarganya
stela aza
dasar bodoh
isnaini naini
nah itu tau...baru nyadar pak..yg km pilih batu kali...
isnaini naini
ksihn amat alice..preman aj gak doyan ...
isnaini naini
jngn2 alice main sm porter kereta...krna gk thn...
Anita Rahayu
Buat alice di penjara da di siksa di sel yg penghuninya korban pelakor thor pasti kena mental👍👍👍👍
isnaini naini
telat pak nyeselnya....
evi solina
pernikahan kok di buat mainan dosa loh
evi solina
move on itu harus elegan bikin goyang perusahaan nya, bukan dgn cara mabok
evi solina
mundu mut harga diri injak kok mau aja, laki pengecut begitu
evi solina
laki pecundang jgn di percaya
sakura
....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!