Rajendra Baskara, putra sulung keluarga konglomerat, dikhianati oleh adik angkatnya dan istrinya sendiri demi warisan keluarga. Setelah dibunuh, ia terbangun kembali di usia 20 tahun—sebelum pernikahan dan sebelum kehancuran hidupnya. Dengan ingatan masa depan, kecerdasan, dan pengalaman pahit, Rajendra memilih memutus hubungan keluarga dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, sambil menyiapkan balas dendam yang perlahan, menyakitkan, dan tak terhindarkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon asep sigma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RETAK SEMAKIN DALAM
Juli datang dengan panas yang menyengat.
Kantor LokalMart tidak punya AC yang cukup—cuma dua unit lama yang bunyinya berisik tapi dinginnya setengah mati. Arief dan Rian kerja sambil pakai kipas angin kecil yang mereka beli dari toko sebelah. Dina duduk dekat jendela supaya dapat angin, meski debu jalanan ikut masuk.
Rajendra tidak peduli panas. Ia sudah terbiasa.
Yang membuatnya tidak nyaman bukan suhu ruangan—tapi email yang baru masuk dari Hartono pagi ini.
Subjek: Saksi Ahli Pihak Penggugat - Prof. Dr. Soewandi
Rajendra membuka email itu sambil menyeruput kopi dingin dari gelas plastik yang sudah dua jam tidak disentuh.
Rajendra,
Saya dapat informasi dari teman di pengadilan. Pihak penggugat akan hadirkan saksi ahli—Prof. Dr. Soewandi, psikiater senior dari RSCM. Dia punya rekam jejak yang bagus, sering jadi expert witness di kasus-kasus serupa.
Masalahnya, Daniel kemungkinan besar sudah bayar dia untuk buat laporan yang mendukung klaim mereka. Ini praktik kotor tapi sering terjadi. Kita harus siap counter dengan saksi ahli kita sendiri.
Saya sudah kontak Dr. Anwar—dokter keluarga almarhum Pak Dimas. Beliau bersedia jadi saksi. Tapi tetap
saja, battle of experts itu rumit. Hakim biasanya lebih percaya yang punya kredensial lebih tinggi.
Kita perlu strategi lain. Saya akan coba cari celah di testimoni Prof. Soewandi nanti.
Salam,
Hartono
Rajendra menutup laptop—menatap langit-langit.
Battle of experts.
Di kehidupan pertamanya, ia tidak pernah terlibat langsung dalam proses hukum seperti ini. Semua urusan legal ditangani ayahnya atau tim lawyer perusahaan. Ia cuma tanda tangan dokumen, duduk manis, percaya semua orang kerja untuk kepentingannya.
Sekarang beda.
Sekarang ia tahu—tidak ada yang benar-benar bekerja untuk kepentingannya kecuali dirinya sendiri.
"Bro."
Rajendra mendongak. Arief berdiri di depannya dengan laptop terbuka.
"Gue udah selesai bikin dashboard seller. Lu mau lihat?"
Rajendra bangkit—berjalan ke meja Arief.
Layar laptop menampilkan interface sederhana tapi fungsional—halaman dashboard dengan menu di kiri, grafik penjualan di tengah, daftar produk di kanan.
"Seller bisa upload produk sendiri dari sini," Arief menjelaskan sambil klik-klik. "Masukkin foto, deskripsi, harga, stok. Nanti produk otomatis muncul di catalog utama setelah kita approve."
"Approval manual?" tanya Rajendra.
"Iya. Biar kita bisa kontrol kualitas produk. Gak semua orang bisa sembarangan jual barang."
Rajendra mengangguk—sistem yang sama dengan yang ia ingat dari kehidupan pertamanya. Tokopedia dan Bukalapak juga pakai sistem approval manual di tahun-tahun awal.
"Bagus. Kapan bisa launch beta?"
"Minggu depan. Tinggal testing dan bug fixing."
"Oke. Dina, gimana recruitment seller?"
Dina memutar kursinya—menatap Rajendra sambil merentangkan tangan.
"Gue udah kontak sepuluh seller potensial. Tujuh respond positif. Tiga udah confirm mau join. Mereka produksi batik dari Solo, tas kulit dari Bandung, sama kopi dari Toraja—persis kayak yang lu bilang."
Rajendra diam sebentar—mencoba ingat apakah ia pernah kasih tahu Dina nama-nama seller itu.
Sepertinya iya. Waktu meeting awal.
"Bagus. Kapan mereka bisa mulai upload produk?"
"Begitu platform jadi. Gue udah jelasin ke mereka sistemnya gimana. Mereka nunggu dashboard seller ready."
"Perfect."
Rajendra kembali ke mejanya—duduk di kursi lipat yang mulai longgar bautnya—lalu membuka spreadsheet proyeksi keuangan.
Bulan Juli sudah jalan dua minggu. Budget tinggal 35 juta dari sisa 50 juta setelah operasional bulan Juni. Kalau launch beta minggu depan sesuai jadwal, mereka butuh dana marketing minimal 10 juta untuk bulan pertama.
Ketat.
Tapi masih bisa.
Ponselnya berdering—panggilan dari Anton Wijaya.
Rajendra mengangkat.
"Halo, Pak Anton."
"Rajendra. Kabar baik. Aku dapat calon investor baru. Temenku yang punya venture capital kecil. Dia tertarik dengan LokalMart setelah aku cerita konsepnya."
Rajendra duduk tegak—pikiran langsung fokus.
"Serius?"
"Serius. Namanya Richard Tanuwijaya. Dia punya dana sekitar 500 juta untuk invest ke startup tahap awal. Dia mau ketemu kamu minggu depan—pitch langsung. Kamu bisa?"
"Bisa. Kapan?"
"Kamis depan, jam tiga sore. Di kantor aku. Aku yang arrange meeting-nya."
"Oke. Thanks, Pak."
"Sama-sama. Oh ya, satu lagi. Richard itu orangnya detail. Dia akan tanya banyak soal financial projection, user acquisition cost, unit economics, semua metrik-metrik yang technical. Jadi prepare presentation yang proper ya. Jangan asal-asalan."
"Siap."
Sambungan terputup.
Rajendra menatap ponselnya—lalu tersenyum kecil.
Lima ratus juta.
Kalau dapat investor sebesar itu, LokalMart bisa scale lebih cepat. Bisa hire engineer lebih banyak. Bisa expand ke kota-kota lain.
Tapi juga berarti lebih banyak equity yang harus dia lepas.
Dilema lagi.
"Ada kabar bagus?" tanya Dina dari seberang ruangan.
"Ada investor potensial. Lima ratus juta."
Arief bersiul pelan. Rian mendongak dari layar komputernya.
"Serius? Gede banget."
"Tapi belum pasti. Gue harus pitch dulu minggu depan."
"Lu butuh bantuan bikin deck?" tanya Dina.
Rajendra berpikir sebentar—lalu mengangguk.
"Butuh. Lu bisa bantuin design slide? Gue handle konten sama data, lu handle visual."
"Deal."
Dina membuka laptop baru yang baru dibeli minggu lalu—lebih bagus dari laptop lama yang sering hang—lalu mulai buka PowerPoint.
"Gue bikin template dulu. Nanti lu isi kontennya. Kita revisi bareng."
Rajendra mengangguk—lalu membuka laptop sendiri, mulai ngetik outline presentation.
Di luar jendela, Jakarta terik. Jalanan padat. Suara klakson mobil dan motor tidak pernah berhenti.
Tapi di dalam ruangan kecil ini, ada energi yang berbeda.
Energi orang-orang yang percaya mereka sedang membangun sesuatu.
Sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri.
Jam dinding menunjuk pukul dua siang.
Rajendra baru sadar dia belum makan sejak pagi. Perutnya bunyi pelan—tapi ia abaikan.
Nanti saja.
Sekarang kerja dulu.
Ponselnya bergetar lagi—kali ini pesan, bukan panggilan.
Dari Dera.
"Mas Rajendra. Aku mohon. Please bales pesan aku. Kita harus ngobrol. Ini penting banget. Bukan soal keluarga. Soal lu."
Rajendra menatap pesan itu.
Jari-jarinya melayang di atas keyboard—mau ketik balasan—tapi berhenti.
Dera tidak pernah berhenti mencoba.
Di kehidupan pertamanya, Dera selalu seperti ini. Persistent. Tidak pernah menyerah. Selalu cari cara untuk masuk lagi, untuk mendapat kepercayaan lagi.
Dan Rajendra selalu jatuh ke perangkap yang sama.
Tidak kali ini.
Ia hapus pesan itu tanpa balas—lalu blokir nomornya.
Lagi.
Sudah berapa kali ia blokir nomor Dera? Lima? Enam? Tapi Dera selalu dapat nomor baru, selalu coba lagi.
Rajendra menaruh ponselnya terbalik di meja—layar menghadap ke bawah—lalu kembali fokus ke laptop.
Outline presentation sudah setengah jadi. Tinggal tambahin data proyeksi revenue, breakdown budget, roadmap product development enam bulan ke depan.
Ia mengetik cepat—jari-jarinya bergerak hampir otomatis.
Semua data ini ia ingat dari kehidupan pertamanya—bagaimana e-commerce tumbuh tahun 2010-2015, kesalahan apa yang dilakukan kompetitor, strategi apa yang berhasil.
Kadang ia lupa bahwa tidak ada yang tahu dari mana ia dapat semua informasi ini.
Arief pernah tanya—"Lu kok kayaknya udah tahu semua ya? Padahal lu gak pernah kerja di e-commerce sebelumnya."
Rajendra cuma jawab—"Gue banyak baca. Research."
Arief percaya. Atau pura-pura percaya. Rajendra tidak tahu mana.
Jam lima sore, Dina berdiri dari kursinya—merentangkan tangan ke atas sambil menguap.
"Gue udah selesai template slide. Lu mau lihat?"
Rajendra pindah ke meja Dina—melihat layar laptopnya.
Slide pertama: judul besar—LokalMart: Membawa UMKM Indonesia ke Era Digital—dengan background foto pengrajin batik sedang bekerja.
Simple. Clean. Professional.
"Bagus," komentar Rajendra. "Gak terlalu rame. Gue suka."
"Emang. Investor tuh suka yang clean. Kalau terlalu banyak warna mereka malah pusing."
Rajendra tersenyum tipis—Dina selalu tahu apa yang dia lakukan.
"Lu udah bikin berapa deck investor sebelumnya?"
"Belasan. Waktu kerja di agensi, gue sering bantuin klien yang startup bikin pitch deck. Kebanyakan gagal sih. Tapi ada beberapa yang berhasil dapat funding."
"Kenapa gagal?"
Dina berpikir sebentar—lalu menjawab dengan nada serius.
"Karena mereka gak percaya sama produk mereka sendiri. Investor itu bisa feeling—kalau lu sendiri gak yakin, mereka juga gak akan yakin. Makanya yang penting bukan slide-nya sebagus apa, tapi lu as founder-nya se-convinced apa."
Rajendra mengangguk pelan.
Convinced.
Apakah dia convinced dengan LokalMart?
Ya.
Karena dia tahu ini akan berhasil. Dia sudah lihat masa depannya.
Tapi apakah dia bisa convince orang lain tanpa kasih tahu dia tahu masa depan?
Itu yang harus dia buktikan.
Malam itu, Rajendra pulang ke kamar kos lebih larut dari biasa—hampir jam sepuluh malam.
Kamar kosnya gelap. Dingin. Sepi.
Ia tidak nyalakan lampu—cuma duduk di tepi kasur dalam gelap, menatap jendela yang menampilkan pantulan lampu jalanan dari luar.
Pikirannya lelah.
Bukan karena kerja.
Tapi karena beban yang tidak pernah hilang—sidang pengadilan yang masih berjalan, keluarga yang tidak berhenti mencoba kontak, tekanan untuk succeed supaya semua orang yang meragukan dia terbukti salah.
Ponselnya bergetar—pesan lagi.
Kali ini dari nomor yang berbeda. Tapi isi pesannya familiar.
"Rajendra, ini Mama. Tolong hubungi Mama. Papa semakin stress gara-gara kamu. Mama takut Papa kenapa-kenapa. Please, nak. Kita masih keluarga."
Rajendra menatap pesan itu lama.
Mama.
Ririn Baskara.
Wanita yang melahirkannya. Yang merawatnya waktu kecil. Yang selalu bilang dia anak kesayangannya.
Tapi juga wanita yang diam saja waktu Julian memaksa dia menikah dengan Jessica. Diam saja waktu Dera mulai mengambil alih perusahaan. Diam saja waktu semuanya mulai salah.
Karena Ririn memang selalu diam.
Tidak pernah melawan. Tidak pernah membela.
Hanya mengikuti Julian—apapun yang Julian putuskan.
Rajendra mengetik balasan—untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu.
"Mama. Aku gak akan balik. Dan Papa stress bukan gara-gara aku—tapi gara-gara dia gak bisa kontrol aku lagi. Itu beda. Tolong jangan hubungi aku lagi."
Pesan terkirim.
Ia tidak tunggu balasan—langsung blokir nomornya.
Lalu ia berbaring di kasur—masih pakai baju lengkap, sepatu masih di kaki—terlalu lelah untuk ganti baju.
Menutup mata.
Tapi tidur tidak datang.
Yang datang cuma bayangan—wajah ayahnya di pengadilan, tatapan kecewa, tatapan yang bilang—"Kamu bukan anakku lagi."
Dan entah kenapa, meski Rajendra tahu dia tidak menyesal dengan keputusannya, ada bagian kecil di dalam dadanya yang terasa sakit.
Bagian yang masih ingat—dulu, sebelum semuanya rusak, Julian pernah jadi ayah yang baik.
Pernah mengajarinya main catur. Pernah ajak dia naik sepeda di taman. Pernah bilang—"Suatu hari nanti, kamu akan jadi orang hebat, Rajendra. Papa percaya."
Tapi itu dulu.
Sekarang Julian cuma orang asing yang kebetulan punya darah yang sama.
Rajendra membuka mata lagi—menatap langit-langit gelap.
Besok masih panjang.
Harus bangun pagi.
Harus kerja.
Harus buktikan semuanya.
Satu hari dalam satu waktu.
Seperti biasa.
[ END OF BAB 10 ]