NovelToon NovelToon
Greta Hildegard

Greta Hildegard

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Bullying dan Balas Dendam / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: spill.gils

Greta Hildegard adalah bayangan yang memudar di sudut kelas. Gadis pendiam dengan nama puitis yang menjadi sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Baginya, SMA bukan masa muda yang indah, melainkan medan tempur di mana ia selalu kalah. Luka-luka itu tidak pernah sembuh, mereka hanya bersembunyi di balik waktu.
namun mereka tidak siap dengan apa yang sebenarnya terjadi oleh Greta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon spill.gils, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konflik Rumit

Udara di dalam ruangan itu mendadak terasa membeku. Eleanor berdiri dari kursinya, bayangannya memanjang di dinding akibat cahaya lampu meja yang temaram. Tanpa ekspresi, ia mengambil sebuah map tipis berwarna abu-abu gelap dan melemparkannya ke arah Greta.

​Sret!

​Map itu mendarat tepat di depan Greta, meluncur di atas meja kayu yang licin. "Mungkin ini bisa memberimu petunjuk...?" desis Eleanor. Suaranya terdengar seperti bisikan ular yang tajam di tengah keheningan yang mencekam.

​Greta perlahan menutup berkas perusahaan kimia yang tadi ia pegang. Dengan tangan yang semakin dingin dan gemetar, ia membuka file baru tersebut. Di lembar pertama, terpampang foto hitam putih sebuah bangunan laboratorium raksasa yang sudah hangus terbakar, kerangkanya mencuat seperti tulang belulang raksasa yang mengerikan.

​Di sana tertulis sebuah tanggal dengan cetakan tebal: 14 MEI 2021.

​Itu adalah laporan mengenai sebuah insiden kebakaran hebat di laboratorium pusat Aethelgard Chemical Corp lima tahun yang lalu. Sebuah tragedi yang menewaskan 214 jiwa dalam satu malam. Greta membalik halaman berikutnya yang berisi daftar panjang nama-nama korban yang tewas dalam insiden tersebut.

​Lalu, jari Eleanor yang dihiasi cincin berlian menunjuk ke arah bagian tengah daftar yang sudah ditandai dengan warna merah menyala.

​"Lihat ini," perintah Eleanor dingin.

​Di sana, di antara ratusan nama lainnya, tertulis dua nama yang membuat jantung Greta seolah berhenti berdetak.

​"Lihat baik-baik," desis Eleanor.

​Greta menatap nama itu dengan penglihatan yang mulai mengabur karena air mata yang menggenang. Di sana, tertulis dengan jelas:

​Jung Daehyun

​Park Jisoo

​"Dae... hyun," gumam Greta lirih. Nama ayahnya. Nama yang selama ini hanya ia dengar dalam mimpi-mimpi samar, kini tertulis di sebuah berkas kematian akibat insiden laboratorium yang mengerikan.

​"Tragedi ini disiarkan di publik," lanjut Eleanor sambil berdiri dan berjalan perlahan mengitari meja mewahnya. "Seluruh dunia tahu tentang kebakaran itu. Namun, utusanku menemukan hal lain. Meskipun sampai saat ini ia masih mencoba untuk menggali informasi di sana, ada sesuatu yang sengaja ditutupi oleh otoritas."

​Dengan gerakan cepat, Eleanor menarik kembali semua file di depan Greta, Foto Namsan Orphanage Foundation, Logo perusahaan kimia itu, hingga daftar korban dan menumpuknya menjadi satu. Suara kertas yang beradu terdengar tajam di ruangan yang mencekam itu.

​Eleanor kemudian membuka sebuah file lain yang sejak tadi berada di tangannya. Ia menatap deretan teks di sana sebelum membacakannya dengan nada tanpa emosi.

Eleanor mengembuskan asap cerutunya perlahan, membiarkan keheningan menyiksa Greta selama beberapa saat sebelum melanjutkan.

​"Direktur Choi," ucap Eleanor dengan suara rendah yang berwibawa. "Ia adalah satu-satunya nama yang berhasil didapatkan oleh utusanku. Dengan segala otoritas yang dimiliki suamiku, aku juga mendapatkan informasi bahwa pendanaanmu dikirim langsung oleh perusahaan kimia itu, Tanpa lewat jalur birokrasi yang normal. Semuanya bergerak di bawah radar, sangat bersih."

​Greta, yang kini merasa seluruh dunianya mulai tidak masuk akal, bertanya dengan suara bergetar, "Lalu... Apa hubungannya denganku? Aku hanya seorang siswi, aku tidak tahu apa-apa tentang mereka."

​Eleanor kembali duduk di kursi kulitnya yang besar. Ia mengambil korek api perak, membakar cerutunya dengan gerakan tenang, lalu menatap Greta dari balik kabut asap yang tipis.

​"Apakah kamu tahu suamiku adalah yang paling berkuasa di sini? Semua informasi bisa kami dapatkan jika kami mau," ucap Eleanor. "Namun, Aethelgard Chemical Corp secara terang-terangan menolak kerja sama dengan perusahaan suamiku. Mereka menutup pintu tanpa kompromi."

​Ia mengetuk abu cerutunya ke asbak kristal dengan denting yang tajam, suasana ruangan semakin mencekam.

​"Lalu terjadi pertikaian rumit yang tak terelakkan. Konflik itu menyebabkan beberapa perusahaan besar milikku redup dan hancur karena serangan dari mereka.

​"Jadi..." Greta menelan ludah, "Nyonya ingin membalas dendam padaku atas apa yang perusahaan itu lakukan?"

​Eleanor tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang Greta dengan tatapan yang sulit diartikan, seolah-olah sedang menghitung nilai dari gadis yang ada di depannya.

Eleanor hanya tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang tampak elegan namun menyimpan kedinginan yang mematikan. Ia menyesap cerutunya sejenak sebelum berkata dengan nada lembut yang dipaksakan, "Tidak seperti itu sayang... Aku hanya membutuhkan bantuanmu untuk mengenal lebih dekat seperti apa yayasanmu itu."

​Greta hanya terdiam, tubuhnya kaku di atas kursi kulit yang mewah. Ia merasa seperti mangsa yang sedang dipojokkan oleh pemangsa yang sangat sabar.

​"Aku mendapatkan beberapa anomali di yayasanmu," lanjut Eleanor. Tiba-tiba, ia menyondongkan badannya ke arah Greta, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma cerutu dan parfum mahalnya menusuk indra penciuman Greta.

​"Dan jika ini terkuak ke publik..." Eleanor berbisik dengan kilatan mata yang tajam, "Namsan Orphanage Foundation akan rata dengan tanah jika terbukti mengolah pencucian uang pemerintah Korea yang dananya dikucurkan melalui Aethelgard Chemical Corp."

​Eleanor mengakhiri kalimatnya dengan sebuah senyuman—jenis senyuman yang biasa diberikan pemenang dalam sebuah negosiasi yang kejam.

​Greta yang mendengar hal itu langsung dilanda kepanikan luar biasa. Bayangan tentang gedung tua Namsan di Seoul, tawa teman-temannya yang masih kecil, dan para pengasuh yang telah merawatnya sejak kematian Jung Daehyun dan Park Jisoo, kini berkelebat di kepalanya. Jika Eleanor benar-benar melakukannya, tempat satu-satunya yang ia anggap sebagai rumah akan hancur, dan nasib teman-temannya akan berakhir di jalanan atau lebih buruk lagi.

​"Nyonya, tolong... mereka tidak tahu apa-apa," suara Greta bergetar hebat. "Namsan hanya tempat untuk anak-anak seperti aku. Mereka tidak mungkin terlibat dalam pencucian uang!"

​Eleanor kembali bersandar ke kursinya, tampak sangat menikmati ketakutan yang terpancar dari mata Greta. "Anak-anak itu memang tidak tahu apa-apa, Greta. Tapi Direktur Choi tahu. Dan sekarang, kau juga tahu. Pertanyaannya adalah... apakah kau akan diam saja melihat rumahmu dihancurkan, atau kau akan membantuku mendapatkan apa yang aku mau dari Aethelgard?"

Greta menelan ludah, berusaha mencari suaranya yang sempat hilang. "Apa... apa sebenarnya yang Nyonya inginkan dariku?" tanya Greta dengan nada putus asa.

​"Belum saatnya," ucap Eleanor tenang sambil mengembuskan sisa asap cerutunya. "Aku harus mengumpulkan lebih banyak bukti terlebih dahulu agar posisiku tidak goyah saat menyerang mereka. Namun... jika waktunya sudah datang, akan aku beritahu."

​Greta hanya bisa memasang raut pasrah. Ia menyadari bahwa dirinya kini hanyalah bidak yang disimpan Eleanor untuk langkah skakmat di masa depan.

​Eleanor kemudian membuka laci meja mewahnya, mengambil sebuah bungkusan kotak ramping yang masih tersegel rapi, dan menyodorkannya ke arah Greta. "Kudengar dari Norah kau tidak punya ponsel? Ini aku berikan. Di zaman sekarang, sulit bagi seorang gadis sepertimu bergerak tanpa alat komunikasi."

​Greta menatap bungkusan ponsel mahal itu dengan ragu, lalu perlahan menggeleng. "Ma... maaf, Nyonya. Tapi aku diberikan pesan oleh pengasuhku untuk tidak boleh mempunyai ponsel di sini."

​Eleanor seketika menghentikan gerakannya. Matanya membelalak, menunjukkan keterkejutan yang nyata. "Apa? Tidak boleh mempunyai ponsel? Apa alasannya?" tanyanya dengan nada penasaran yang tajam.

​"Aku... aku tidak tahu. Tapi itu adalah salah satu larangan yang diberikan padaku sebelum aku berangkat ke Kanada," jawab Greta jujur.

​Eleanor meletakkan kembali bungkusan itu ke meja, namun pandangannya kini jauh lebih intens. Informasi ini adalah sebuah anomali baru baginya. Mengapa sebuah yayasan yatim piatu melarang anak asuhannya memiliki ponsel di luar negeri? Itu bukan sekadar aturan panti, itu terdengar seperti upaya isolasi informasi.

​"Salah satu larangan...?" Eleanor memajukan tubuhnya lagi, suaranya kini terdengar menuntut. "Katakan... larangan apa saja yang mereka perintahkan padamu, Greta? Jangan ada yang kau tutup-tutupi."

​Greta mencoba mengingat-ingat hari terakhirnya di Namsan Orphanage.

​"Aku juga tidak boleh mempunyai dan menunjukkan fotoku di sosial media," lanjut Greta dengan suara yang semakin kecil. "Lalu tidak boleh bepergian ke luar kota tanpa seizin mereka. Serta tidak boleh kerja sampingan... dan memberikan data pribadi apa pun ke pihak lain..."

​Eleanor meletakkan cerutunya ke asbak kristal dengan gerakan yang sangat pelan. Ia bangkit dari kursi kulitnya, berjalan perlahan mengitari meja dan berhenti tepat di hadapan Greta yang tampak sangat rapuh.

​Ia membungkuk sedikit, menatap tajam ke dalam mata Greta. "Tidak boleh ada foto di internet, tidak boleh bekerja, tidak boleh memberikan data pribadi. Greta, sayangku... itu bukan peraturan panti asuhan. Itu adalah cara mereka memastikan bahwa kau tetap menjadi hantu. Jika kau tidak punya jejak digital, tidak punya catatan pekerjaan, dan tidak ada yang tahu lokasimu... maka kau secara administratif tidak ada."

​Eleanor tersenyum dingin, sebuah senyum yang membuat bulu kuduk Greta meremang.

​"Namsan dan Aethelgard... mereka bukan sedang mengasuhmu. Mereka sedang menyembunyikanmu. Mereka takut jika ada pihak luar yang memegang data pribadimu".

Eleanor terdiam cukup lama, membiarkan kabut asap cerutu menyelimuti keheningan di antara mereka. Matanya yang tajam seolah sedang membedah setiap larangan yang disebutkan Greta.

​"Ini semakin menarik..." ucap Eleanor dengan nada suara yang berubah menjadi lebih lembut, namun tetap menyimpan aura yang mengintimidasi.

​Ia meraih kembali bungkusan ponsel itu dari meja, lalu perlahan menaruhnya tepat di pangkuan Greta. Tangannya yang dingin kemudian terangkat, mengelus kepala Greta dengan gerakan yang terlihat keibuan, meski Greta bisa merasakan ketegangan di baliknya.

​"Jangan khawatir, Greta. Kamu aman di sini," ucap Eleanor menenangkan, seolah-olah semua ancaman tentang meratakan yayasan tadi hanyalah ilusi. "Baiklah kalau begitu... kamu bisa pulang sekarang."

​Greta pun berdiri dengan kaki yang masih terasa lemas. Ia menatap bungkusan ponsel di tangannya dengan perasaan campur aduk—takut untuk menerimanya, namun jauh lebih takut untuk menolaknya. Saat Greta hendak melangkah pergi, Eleanor tiba-tiba menarik tubuhnya mendekat.

​Eleanor menyondongkan wajahnya tepat di samping telinga Greta, embusan napasnya yang dingin terasa di leher Greta.

​"Tunggu instruksi dariku..." bisik Eleanor dengan nada yang membuat bulu kuduk berdiri, "...Jung Eunha."

​Greta tersentak hebat, tubuhnya membeku seketika. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya di telinga sendiri. Ia tidak berani menoleh, namun di dalam hatinya ia berteriak dengan penuh kepanikan.

​(Bagaimana dia bisa tahu nama asliku...?) batin Greta ketakutan.

​Selama ini, nama itu adalah rahasia yang terkunci rapat di dalam dokumen lama di Namsan Orphanage Foundation. Bahkan di sekolah elit Jarvis sekalipun, semua orang hanya mengenalnya sebagai Greta.

​Tanpa kata lagi, Greta bergegas keluar dari ruangan itu dengan langkah seribu, sementara Eleanor kembali duduk di kursinya, memperhatikan kepergian gadis itu sambil tersenyum puas di balik kepulan asap cerutunya.

Greta pun memutar kenop pintu dengan tangan yang masih gemetar hebat. Begitu pintu terbuka—Brak!—ia hampir saja terjungkal ke belakang karena sosok Norah yang tadinya menempelkan telinga di daun pintu langsung kehilangan keseimbangan.

​Norah jatuh terjerembap di depan kaki Greta dengan posisi yang sangat tidak elegan. Tangannya masih memegang sebuah gelas kosong yang tadi ia gunakan untuk membantu pendengarannya menembus pintu kayu jati yang tebal itu.

​"Aduh!" Norah meringis. "Eh, Greta! Wah, pintunya... kualitasnya bagus ya? Aku tadi cuma mau memastikan... emm... apakah gagang pintunya sudah dipoles dengan benar!"

​Norah bangkit dengan gerakan kikuk, mencoba menyembunyikan gelas kosongnya di balik punggung sambil memberikan senyum paling canggung yang pernah Greta lihat. Eleanor yang masih duduk di dalam ruangan hanya berdeham pelan tanpa menoleh, yang langsung membuat Norah berdiri tegak seperti prajurit yang tertangkap basah.

​"Anu... Luca sudah di depan! Dia benar-benar seperti banteng yang mau menyeruduk gerbang!" bisik Norah cepat-cepat sambil menarik lengan Greta menjauh dari ruangan ibunya sebelum suasana semakin canggung.

1
watno antonio
ayo lanjut thor
spill.gils: terimakasih atas dukungannya, mohon di tunggu 🙏
total 1 replies
claire
ayo Leon ungkapkan identitasmu yang sebenarnya
claire
hahaha situasi yang bisa dibayangkan
claire
sejauh ini Ravelyn masih memegang karakter paling menyebalkan no 1
claire: atur se-ngeselin mungkin thor
total 2 replies
Mbu'y Fahmi
apa itu suruhannya ibu norah, tapi gak mungkin sih.. aah penasaran banget..
Mbu'y Fahmi
apa itu obat yang selalu diminum greta... ah masih banyak teka teki... lanjut thor
spill.gils: terimakasih sudah meluangkan membaca, saya harap Kamu suka dengan ceritanya.
total 1 replies
claire
bab yang sangat baguss
claire
hoooo akhirnya
claire
Ceritanya bagus, membuat penasaran dengan kelanjutan kisahnya. Setiap bagian disajikan dengan sangat baik, dan tentu saja tata bahasanya sangat nyaman untuk dibaca.
spill.gils: terimakasih 🙏
total 1 replies
claire
oh my weak heart
claire
kompor banget kocag
Mbu'y Fahmi
greta ... masih menjadi misteri..
oke lanjut thor.. seru ceita nya
spill.gils: terimakasih🙏 semoga suka ya
total 1 replies
ninoy
wahh gaya penulisannya apik, seperti baca novel luar.. keren thor, semangat sampai selesai yaa. Saya baru mampir, sudah mau kebut aja bacanya.
spill.gils: terimakasih sudah mau coba Baca, kebetulan memang bikin nya di luar,.. rumah. hehe
total 1 replies
claire
hey Luca, teman mana yang seperti itu
claire
wkwk sesingkat itu
claire
sependapat dengan Eleanor, semakin menarik
claire
inilah saatnya
claire
yaelah keduluan leon😌
claire
wkwkwk kannn batu sih
claire
alamak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!