"Menikah tentulah merupakan hal yang sangat didambakan seseorang. Apalagi menikah dengan orang yang kita inginkan dan kita cintai."
" Namun, bagaimana jika kamu menikah atas dasar keterpaksaan? Disisi lain, kamu ingin melihat orang tua mu bahagia, tapi disisi lain kamu masih terjebak dimasa lalu. Seolah cintamu sudah habis dimasa itu."
"Menjalani semuanya tanpa perasaan cinta. Akankah berakhir bahagia? Atau justru malah menambah masalah baru untuk aku... dan juga dia..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan
Langkah kaki perlahan mendekati seorang wanita yang sedang duduk sendirian di kursi taman pinggir danau. Senyum wanita itu mengembang sempurna saat seorang pria berdiri tepat di hadapannya.
"Sarah..." Lirih pria itu.
"Akhirnya kamu datang, Dim." Ucap Sarah yang merasa ada kepuasan tersendiri dihatinya saat tau Dimas datang menemuinya.
Dimas duduk di sebelah Sarah. Keduanya hening, seolah teringat kembali akan tempat ini yang memang penuh dengan kenangan.
Walau suasana sekarang sudah berbeda, tapi rasanya masih sama. Walau sudah bertahun-tahun berlalu, kenangan itu seolah tersimpan rapi.
***
"Aku kira kamu gak bakalan datang, Dim."
Dimas membalas ucapan Sarah dengan senyuman kecil.
"Aku sangat senang kamu datang ke sini. Seperti angin segar yang datang menerpa diriku." Sambung Sarah.
"Kenapa kamu ngajakin aku ketemu?" Tanya Dimas.
"Kangen." Jawab Sarah santai.
"Kamu masih sama kaya dulu. Tengil."
"Emang kenapa? Gak boleh?"
"Emang iya, kangen?"
"Terus ngapain aku bela-belain nungguin kamu lama-lama di sini Dimas Aksara. Masih juga nanya!"
Dimas diam. Ia hanya bisa membalas ucapan Sarah dengan senyum kecil terukir di sudut bibirnya.
"Emang kamu gak kangen aku?" Pertanyaan Sarah membuat jantung Dimas seketika berdetak kencang.
"Keliatannya gimana?"
"Ih! Malah nanya balik."
"Berapa tahun berlalu sejak saat itu. Aku seperi pohon yang mati perlahan karena menunggu hujan turun."
Kali ini justru Sarah yang diam. Ucapan Dimas sangat menyentuh hatinya yang paling dalam sekaligus ada perasaan bersalah di sana.
"Gimana kalau sekarang hujan itu sudah datang, apakah bisa menghidupkan pohon itu kembali?" Tanya Sarah. Ia menatap Dimas lekat.
Dimas tertawa, ia menyandarkan punggungnya pada kursi taman.
"Pohonnya udah lapukan." Canda Dimas membuat Sarah jengkel.
"Nyebelin!"
"Yaudah, ayo kita bicara serius."
"Hm..." Sarah masih manyun. Wajah cantiknya justru terlihat sangat menggemaskan di mata Dimas.
"Kamu masih cantik sama kaya dulu, Sar. Gak ada yang berubah. Dari dulu wajah ngambek kamu tetap menjadi kesukaanku."
"Iya. Kamu emang suka bikin aku ngambek."
Dimas dan Sarah saling tatap. Mereka lagi-lagi seperti kembali ke masa lalu. Kenangan indah mereka terlalu banyak, hingga setiap gerak atau ucapan selalu memicu untuk mengenang hal itu. Terlalu indah hingga sulit untuk dilupakan.
"Aku ingin tau banyak tentang kamu Dim selama aku di luar negeri."
"Banyak hal yang terjadi. Tapi hatiku tetap sama. Kehilangan kamu aku seperti kehilangan hidupku."
"Bukannya kamu udah nikah? Gimana bisa seperti itu?"
"Ceritanya panjang, Sar. Satu hal yang perlu kamu tau. Aku menikah karena terpaksa. Karena jujur. Aku masih sangat mengharapkan kamu."
Sarah tertunduk.
"Andai saja waktu bisa diulang. Aku akan menetap di sini, gak ikut ortu ku ke luar negeri. Mungkin nasibku gak akan seburuk ini."
Dimas menyimak dengan seksama. Ia memperhatikan Sarah yang mulai menyeka air mata yang jatuh di pipinya.
"Mungkin ini karma ku kali, ninggalin orang tulus kaya kamu, Dim."
"Semua yang terjadi sudah takdir. Gak usah nyalahin diri sendiri."
"Tapi hidupku benar-benar menderita setelah menikah dengannya. Gak ada kebahagiaan sama sekali. Aku terlalu terburu-buru tanpa mengenalnya dengan baik. Setelah punya anak aku kira dia bakal berubah. Ternyata gak sama sekali." Ucap Sarah dengan isak tangisnya.
Dimas merasa terenyuh mendengar cerita Sarah. Hatinya teriris, apalagi melihat Sarah yang menangis saat ini. Ia lantas menarik tubuh Sarah, dan memeluknya erat.
"Curahkan semua kesedihan mu, aku akan mendengarnya." Ucap Dimas.
Dalam pelukan Dimas, tangisan Sarah semakin pecah. Ia seolah menemukan tempatnya yang membuatnya merasa aman dan nyaman. Cinta dan kehangatan yang sempat hilang seperti kembali ia rasakan saat itu.
*****
"Mahrez! Sayang, jangan lari-lari." Panggil Naina sembari mengejar Mahrez yang sangat kegirangan berada di taman kota. Semantara Sofia sedang membeli cemilan untuk mereka nikmati di sana.
"Ayo, Ita kecana Ibi!" Teriak Mahrez menunjuk danau yang kebetulan di sana ada angsa yang sedang berenang.
"Ayo, Sayang."
Naina menggandeng tangan Mahrez menuju danau. Seketika Naina teringat pada Dimas.
"Kita kan pernah ke sini." Batin Naina. "Lalu sepulang dari sini, sikap Mas Dimas jadi dingin padaku."
"Angca! Angca!" Teriak Mahrez sangat senang.
"Iya. Lucu sekali angsanya. Ada berapa ya?" Balas Naina. Ia merangkul Mahrez agar si kecil itu tidak terlalu dekat ke danau.
"Catu, ua, empat!" Hitung Mahrez yang membuat Naina tertawa lucu. "Satu... dua... tiga..."
Mata Naina tertuju pada kursi Taman yang tidak jauh dari tempat mereka duduk. Sempat ragu dengan apa yang ia lihat, hingga ia harus memastikannya beberapa kali.
"Ma-mas Dimas?" Lirih Naina. Tubuhnya seketika menjadi kaku. Pemandangan yang ia lihat sangat jelas.
"Mas Dimas dengan siapa?"
Tubuh Naina bergetar hebat. Nafasnya tersenggal. Matanya mulai terasa panas. sesak. Apalagi saat ini posisi Dimas yang sedang berpelukan dengan wanita lain.
Naina lantas bergegas menggendong Mahrez menjauh dari sana dan kembali menemui Sofia. Sofia yang baru selesai membeli jajanan keheranan melihat Naina yang seperti sedang menangis.
"Ada apa, Nai?" Tanya Sofia.
Naina menyeka air matanya, "Tidak apa-apa, Mbak. Ayo kita pulang saja."
Sofia yang tidak mengerti akan situasi ini hanya menuruti. Mereka kemudian berjalan menuju parkiran tempat mobil Sofia berada. Setiap langkah Sofia masih menyimpan tanya. Ia berkali-kali melirik tempat itu berharap menemukan jawaban. "Apa ada yang salah? Atau Naina melihat sesuatu? Atau apa?" Tanya Sofia pada diri sendiri.
Di dalam mobil Naina hanya diam. Pandangannya kosong. Sofia yang melihat hal itu tidak bisa menyembunyikan rasa ingin taunya dan sekaligus khawatir.
"Kamu kenapa, Nai?" Tanya Sofia lagi, ia ingin memastikan kalau Naina baik-baik saja.
Naina menggeleng dengan senyuman kecil. "Tidak apa-apa, Mbak." Lagi-lagi Sofia mendapatkan jawaban yang sama.
"Apa ada yang sakit? Cerita ke Mbak. Nanti kita beli obat."
Naina menggeleng. "Kita pulang saja, Mbak."
"Baiklah."
*