Di khianati tunangan sampah, eh malah dapat pamannya yang tampan perkasa!
Cerita berawal dari Mayra andini kusumo yang mengetahui jika calon suaminya Arman, berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri.
Di hari pernikahannya mayra mengajak Dev-- paman dari Arman untuk menikah dengan nya, yang kebetulan menjadi tamu di pernikahan keponakannya. Dan mayra juga membongkar perselingkuhan arman dan Zakia yang di lakukan di belakangnya selama ini.
Cerita tidak sampai di situ, setelah menikah dengan Dev, Mayra jadi tahu sisi lain dari pria dingin itu.
Dapatkan mayra meluluhkan hati Dev yang sekeras batu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan balas dendam
Makan siang dengan Arman terasa seperti pertunjukan teater yang melelahkan. Mayra harus tersenyum saat dia ingin berteriak, harus tertawa saat dia ingin menangis, harus memegang tangan pria itu saat sebenarnya dia ingin menamparnya.
"Sayang, kamu baik-baik saja? Kok kayak melamun terus?" tanya Arman sambil menyuapkan sepotong steak ke mulut Mayra, gesture romantis yang dulu membuatnya meleleh, sekarang hanya membuatnya mual.
Mayra tersenyum manis. "Aku baik-baik saja, sayang. Cuma deg-degan aja mikirin pernikahan kita. Tinggal enam hari lagi."
"Aku juga deg-degan," Arman menggenggam tangan Mayra di atas meja. "Tapi aku nggak sabar jadi suamimu, May. Nggak sabar memulai hidup baru sama kamu."
Hidup baru. Dengan wanita yang dia khianati sambil tetap berhubungan dengan kakak tirinya.
Mayra ingin tertawa sinis, tapi dia tahan.
"Aku juga nggak sabar, sayang," jawabnya sambil memainkan jari-jarinya di tangan Arman--acting sempurna untuk calon pengantin yang jatuh cinta.
Setelah makan siang yang terasa seperti siksaan itu selesai, Arman mengantarkan Mayra kembali. Di depan rumahnya, dia mencium bibir Mayra sekilas--ciuman yang terasa dingin dan asing.
"Love you, sayang. Nanti malam aku sibuk meeting lagi ya, jadi nggak bisa telpon," kata Arman.
Meeting. Atau bertemu Zakia lagi?
"Oke, sayang. Good luck dengan meetingnya. Love you too," balas Mayra sambil melambaikan tangan.
Saat mobil BMW putih itu menghilang di tikungan, senyum Mayra langsung pudar. Wajahnya berubah dingin, tatapannya tajam. Dia melihat jam tangan--pukul 13.30. Tiga puluh menit lagi dia harus bertemu Dev.
Mayra masuk ke rumah, langsung naik ke kamar, dan mengganti outfit. Dress putih innocent diganti dengan blazer hitam dan celana bahan krem, agar terlihat lebih profesional, lebih serius. Dia merapikan makeup, menyemprotkan parfum sekali lagi, lalu meraih tas kerja kulit coklat.
"Mayra! Kamu mau kemana? Katanya sore kita fitting!" teriak Siska dari bawah.
"Aku ada meeting mendadak dengan klien, Ma! Nanti aku usahakan balik sebelum fitting!" jawab Mayra sambil turun tangga dengan tergesa.
"Mayra--"
Tapi Mayra sudah berlari keluar sebelum ibu tirinya itu bisa protes lebih lanjut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
The Goods Diner di Senopati adalah kafe minimalis dengan interior industrial, beton exposed, tanaman hijau di sudut-sudut ruangan, dan jendela besar yang membiarkan cahaya matahari masuk. Suasananya tenang, tidak terlalu ramai tapi tempat yang pas untuk meeting penting.
Mayra sampai lima menit lebih awal. Jam 13.55. Dia duduk di meja pojok yang agak tersembunyi, memesan americano untuk menenangkan sarafnya yang tegang.
Tangannya gemetar saat mengangkat cangkir kopi. Ini dia. Ini kesempatannya. Tiga puluh menit untuk meyakinkan Dev Armando--pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik--untuk menikah dengannya.
Kedengarannya gila. Sangat gila.
Tapi Mayra sudah terlalu jauh untuk mundur.
Pukul 14.00 tepat, pintu kafe terbuka.
Dev Armando masuk.
Mayra merasakan napasnya tertahan.
Pria itu... menakjubkan. Tinggi, mungkin sekitar 185 cm, dengan proporsi tubuh atletis yang terlihat jelas meski dia mengenakan jas hitam formal. Wajahnya tajam dengan rahang tegas, hidung mancung, dan mata gelap yang memancarkan aura intimidasi. Rambut hitam tersisir rapi ke belakang. Jam tangan Patek Philippe di pergelangan tangannya berkilau tertimpa cahaya.
Dia memancarkan aura kekuasaan yang membuat orang-orang di kafe itu menoleh--bahkan tanpa tahu siapa diaj.
Dev melihat Mayra, lalu berjalan menghampiri dengan langkah panjang dan percaya diri. Mayra berdiri, berusaha terlihat tenang meski jantungnya berdebar seperti drum.
"Selamat siang, Pak Dev. Terima kasih sudah meluangkan waktu," sapa Mayra sambil mengulurkan tangan.
Dev menjabat tangannya dengan singkat--jabatan yang kuat dan profesional. "Selamat siang, Nona Kusumo."
Suaranya dalam, tenang, tapi ada nada dingin di sana. Pria ini jelas bukan tipe yang suka basa-basi.
Mereka duduk berhadapan. Dev tidak memesan apa-apa, hanya menatap Mayra dengan tatapan yang menusuk, seolah sedang membaca setiap detail tentang dirinya.
"Anda bilang ingin membicarakan sesuatu yang penting sebelum pernikahan," kata Dev langsung to the point. "Silakan."
Tidak ada senyum, tidak ada small talk dan langsung ke intinya.
Mayra menarik napas dalam. Ini dia.
"Pak Dev, sebelum saya jelaskan, saya ingin Bapak tahu bahwa apa yang akan saya katakan mungkin terdengar... tidak biasa. Tapi saya mohon Bapak mendengarkan sampai selesai," Mayra menatap mata Dev dengan serius.
Dev menaikkan alis sedikit--satu-satunya tanda bahwa dia tertarik. "Saya mendengarkan."
Mayra mengeluarkan ponselnya, membuka galeri, dan menyodorkan ke Dev. "Ini foto yang saya ambil kemarin malam di The Ritz-Carlton."
Dev meraih ponsel itu dan menatap layarnya. Ekspresinya tidak berubah--tetap datar, tapi Mayra bisa melihat matanya menyipit sedikit saat melihat foto Arman dan Zakia.
Dia scroll ke foto berikutnya. Dan berikutnya. Dan berikutnya.
Arman memeluk Zakia dan Zakia mencium pipi Arman. Mereka tertawa bersama dengan sangat intim.
Dev menatap foto-foto itu selama beberapa detik, lalu meletakkan ponsel di meja dan menatap Mayra dengan ekspresi yang tidak terbaca.
"Dan wanita ini adalah...?"
"Zakia Kusumo. Kakak tiri saya," jawab Mayra dengan suara tenang meski dadanya sesak. "Mereka sudah berselingkuh di belakang saya, entah sudah berapa lama."
Hening.
Dev tidak berkata apa-apa. Wajahnya tetap dingin, tidak menunjukkan reaksi apapun. Tapi Mayra bisa merasakan ada sesuatu yang berubah di atmosfer--seperti badai yang diam-diam mengumpulkan kekuatan.
"Anda sudah menghadapkan Arman dengan bukti ini?" tanya Dev akhirnya.
"Belum," jawab Mayra. "Karena saya punya rencana lain."
"Rencana apa?"
Mayra menatap mata Dev--mata gelap yang tajam dan dingin seperti es. Ini dia. Moment of truth.
"Saya ingin Bapak menikah dengan saya. Di hari pernikahan saya dengan Arman. Di depan semua tamu," kata Mayra dengan suara tegas tanpa ragu.
Hening sekali lagi menyelimuti mereka.
Dev menatapnya tanpa berkedip. Ekspresinya masih tidak berubah, tapi Mayra bisa melihat ada kilatan sesuatu di matanya, terkejut? aneh? Atau berpikir dia gila?
Satu detik.
Lima detik.
Sepuluh detik.
"Anda serius?" tanya Dev akhirnya dengan nada yang masih sangat tenang.
"Sangat serius," jawab Mayra sambil menatap balik tanpa mengedip. "Saya tahu ini terdengar gila. Tapi dengarkan dulu alasan saya."
Dev bersandar di kursinya, menyilangkan tangan di dada, dengan postur yang mengatakan "impress me".
Mayra mengambil napas dalam. "Kalau saya hanya membatalkan pernikahan dan membongkar skandal mereka, saya akan terlihat sebagai korban. Semua orang akan mengasihani saya. Dan saya benci dikasihani."
Dev mengangguk sedikit, tanda dia mendengarkan.
"Tapi kalau saya datang ke pernikahan itu dan menikah dengan Bapak--paman dari Arman, pengusaha sukses yang jauh lebih berkuasa dari keluarga Prasetyo--lalu membongkar skandal mereka di depan semua orang... saya tidak akan terlihat sebagai korban," Mayra melanjutkan dengan mata berbinar. "Saya akan terlihat sebagai pemenang. Mereka yang akan malu. Mereka yang akan dihakimi."
Dev terdiam, jari-jarinya mengetuk-ketuk lengan kursi dengan perlahan, tanda dia sedang berpikir.
"Dan apa yang saya dapat dari ini?" tanya Dev dengan nada bisnis yang sangat profesional.
Mayra sudah memprediksi pertanyaan ini. "Kepuasan melihat keponakan Bapak yang arogan itu dipermalukan di depan keluarganya sendiri. Saya tahu Bapak tidak dekat dengan keluarga Prasetyo. Saya sudah riset."
Sudut bibir Dev terangkat sedikit, hampir seperti senyum, tapi tidak cukup.
"Anda sudah melakukan riset tentang saya?"
"Tentu saja. Saya tidak akan mengajukan proposal bisnis tanpa riset yang matang," jawab Mayra dengan percaya diri yang dia paksakan.
"Proposal bisnis?" Dev tampak sedikit terhibur sekarang.
"Iya. Karena ini adalah transaksi bisnis, bukan romantis," Mayra mengeluarkan selembar kertas dari tasnya, sebuah draft kontrak yang dia buat semalam. "Ini draft kontrak pernikahan. Durasi satu tahun, bisa diperpanjang atau diakhiri lebih cepat dengan kesepakatan kedua belah pihak. Tidak ada kewajiban percintaan fisik. Tidak ada ikut campur urusan masing-masing. Murni pernikahan di atas kertas untuk kepentingan kedua belah pihak."
Dev meraih kertas itu dan membacanya dengan seksama. Mayra menahan napas.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti jam, Dev meletakkan kertas itu di meja dan menatap Mayra dengan tatapan yang tidak bisa dia baca.
"Anda punya mental yang kuat untuk wanita yang baru saja dikhianati tunangannya," komentar Dev.
"Atau saya hanya tidak mau terlihat lemah di depan orang yang sudah menyakiti saya," balas Mayra.
Dev terdiam lagi. Jari-jarinya kembali mengetuk-ketuk dengan ritme yang menenangkan tapi juga menegangkan.
"Mengapa tidak memilih pria lain? Mengapa harus saya?" tanya Dev.
"Karena Bapak adalah paman Arman. Balas dendam tidak akan sempurna kalau bukan dengan orang yang ada hubungan darah dengannya," jawab Mayra jujur. "Dan karena Bapak adalah pria paling sukses, paling berkuasa, paling... intimidating yang saya kenal. Bapak adalah upgrade sempurna dari Arman."
"Upgrade," Dev mengulang kata itu dengan nada yang sulit ditafsirkan.
Mayra mengangguk. "Menikah dengan Bapak akan menunjukkan pada semua orang bahwa saya tidak kehilangan apa-apa. Malah saya dapat yang lebih baik."
Dev menatapnya lama. Sangat lama. Mayra hampir tidak tahan dengan intensitas tatapan itu, seolah pria ini bisa melihat sampai ke dalam jiwanya.
"Anda tahu ini gila kan?" kata Dev akhirnya.
"Saya tahu."
"Dan Anda tahu saya bisa saja menolak dan melaporkan rencana gila Anda ini ke keluarga?"
"Bapak bisa. Tapi Bapak tidak akan," jawab Mayra dengan yakin yang dia tidak tahu dari mana asalnya.
Dev menaikkan alis. "Yakin?"
"Karena kalau Bapak mau melaporkan, Bapak sudah melakukannya sejak tadi. Tapi Bapak masih di sini, masih mendengarkan. Berarti ada bagian dari Bapak yang... tertarik dengan ide ini," Mayra menatap Dev dengan berani.
Keheningan lagi.
Lalu, untuk pertama kalinya, Dev tersenyum.
Senyum kecil yang hampir tidak terlihat, tapi cukup untuk membuat Mayra tahu dia tidak sepenuhnya menolak ide ini.
"Anda berani. Saya suka itu," kata Dev sambil berdiri.
Mayra ikut berdiri dengan jantung berdebar. "Jadi... Bapak mau?"
Dev meraih jas yang tergantung di sandaran kursi, memakainya dengan gerakan yang sangat elegant. Lalu dia menatap Mayra dengan tatapan yang membuat bulu kuduk Mayra berdiri.
"Saya akan pikirkan. Tiga hari. Saya akan beri jawaban tiga hari sebelum pernikahan Anda," kata Dev.
"Tapi--"
"Ini keputusan besar, Nona Kusumo. Saya tidak membuat keputusan besar tanpa pertimbangan matang," Dev memotong. "Tiga hari. Take it or leave it."
Mayra menggigit bibir. Tiga hari sebelum pernikahan berarti tiga hari lagi dari sekarang. Dia hanya punya waktu tiga hari untuk berharap Dev bilang iya.
Tapi ini lebih baik daripada penolakan langsung.
"Baiklah. Saya tunggu kabar dari Bapak," kata Mayra sambil mengulurkan tangan.
Dev menjabat tangannya lagi, kali ini sedikit lebih lama dari sebelumnya. Jabatan yang kuat, hangat, dan entah kenapa... menenangkan.
"Satu lagi, Nona Kusumo," kata Dev sebelum pergi.
"Ya, Pak?"
"Kalau saya setuju, jangan harap saya akan mempermudah hidup Anda. Saya bukan pria yang mudah untuk diatur atau dipahami."
Mayra tersenyum. Senyum pertamanya yang tulus sejak dia menemukan pengkhianatan Arman. "Saya tidak butuh pria yang mudah, Pak Dev. Saya butuh pria yang kuat."
Dev menatapnya dengan tatapan yang aneh, seperti menghargai, tertarik, dan tertantang di waktu bersamaan.
"Tiga hari," ulangnya, lalu berjalan keluar dari kafe dengan langkah panjang yang penuh wibawa.
Mayra merosot ke kursinya saat Dev menghilang. Napasnya tercekat, tangannya gemetar. Dia baru saja melakukan hal paling gila dalam hidupnya.
Tapi entah kenapa, dia merasa... hidup.
Untuk pertama kalinya sejak menemukan pengkhianatan itu, Mayra merasa punya kontrol atas hidupnya sendiri.
Sekarang dia hanya perlu menunggu.
Dan berharap Dev Armando bilang iya.
...----------------...
Mayra sampai di rumah jam empat sore,tepat waktu untuk fitting gaun bridesmaid bersama Zakia dan dua bridesmaid lainnya.
Zakia sudah ada di sana dengan gaun pink pastel yang sempurna di tubuhnya, tersenyum lebar saat melihat Mayra.
"Adikku tersayang! Akhirnya datang juga! Lihat deh, gaunku cantik banget kan?" Zakia berputar dengan gaunnya, terlihat sangat excited.
Mayra menatap kakak tirinya itu, wanita yang berselingkuh dengan tunangannya, yang akan berdiri di altar sebagai bridesmaid-nya, yang tersenyum seolah tidak ada dosa di hatinya.
Dan Mayra tersenyum balik.
Senyum yang sangat manis.
Senyum yang menyembunyikan badai.
"Cantik banget, Kak. Kamu akan terlihat sempurna di hari pernikahanku nanti," kata Mayra dengan nada yang sangat tulus.
Zakia tidak tahu bahwa dalam tiga hari, dunianya akan hancur.
Dan Mayra tidak sabar untuk melihatnya.
****
Bersambung....
menunggu mu update lagi