Hazel Bellvania Cavanaugh adalah definisi kesetiaan yang naif. Ia mencintai James Patrick, seorang atlet sekolah yang karismatik namun manipulatif.
Hubungan mereka aneh—tanpa ciuman, tanpa sentuhan intim, karena James berjanji ingin "menjaga" Hazel hingga pernikahan. Namun, di balik topeng itu, James adalah predator yang memanfaatkan jari-jarinya untuk memuaskan hampir seluruh siswi di SMA mereka.
Kebohongan James terkubur rapat di bawah bayang-bayang geng paling berkuasa di sekolah yang dipimpin oleh Kenneth Karl Graciano. Kenneth yang dingin dan tak tersentuh mengetahui rahasia busuk James, namun ia diam. Bukan karena setia kawan, melainkan karena ia sedang menunggu saat yang tepat untuk meruntuhkan segalanya dan mengambil apa yang menurutnya pantas ia miliki, Hazel Bellvania Cavanaugh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebelas
Kenneth tidak membawa Hazel ke tempat tidur. Ia justru menuntunnya menuju sebuah pintu baja berat di sudut ruang kerjanya yang selama ini selalu terkunci.
Dengan sekali tekan pada pemindai sidik jari, pintu itu terbuka, menampakkan sebuah ruangan kedap suara dengan pencahayaan remang kemerahan yang dramatis.
Hazel melangkah masuk, dan seketika napasnya tercekat.
Seluruh dinding ruangan itu tidak menyisakan ruang kosong. Di sana, ratusan foto dirinya terpampang dengan rapi. Namun, itu bukan foto biasa. Itu bukan foto yang diambil dengan izinnya.
Ada foto Hazel saat ia sedang membaca di bawah pohon Oak—foto yang diambil dari jarak jauh dengan lensa tele. Ada foto Hazel saat ia sedang tertawa bersama teman-temannya di kantin, bahkan ada foto Hazel saat ia sedang melamun di jendela kamarnya di malam hari.
Kenneth telah mengawasinya jauh sebelum mereka pertama kali bersentuhan.
"Ken... apa ini?" bisik Hazel, jemarinya menyentuh salah satu foto di mana ia tampak sedang mengikat tali sepatunya di pinggir lapangan.
Kenneth berjalan di belakangnya, melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Hazel dan menumpukan dagunya di bahu gadis itu. "Ini adalah penyimpangan yang dimaksud Zacky, Hazel. Obsesi. Aku tidak hanya menginginkan tubuhmu untuk semalam.
Aku telah memilikimu di dalam kepalaku selama berbulan-bulan."
Hazel berbalik, matanya bergetar menatap Kenneth. "Kau... kau membuntuti ku?"
"Aku menjagamu dari bayang-bayang saat pria brengsek itu sibuk mengkhianatimu," sahut Kenneth dingin. Ia menarik Hazel menuju sebuah kursi besar di tengah ruangan yang dikelilingi oleh foto-fotonya sendiri.
"Setiap kali James menyentuh tanganmu, aku berada di sana, berencana bagaimana cara menghapus jejaknya dari kulitmu."
Kenneth mengambil sebuah borgol berlapis bulu halus dari atas meja kayu di sudut ruangan, sebuah alat yang menunjukkan bahwa dominasinya malam ini akan melampaui batas kewajaran.
"Zacky benar, Hazel. Aku haus akan kendali. Aku ingin kau melihat foto-foto ini saat aku memilikimu malam ini, agar kau sadar bahwa tidak ada satu inci pun dari hidupmu yang tidak berada di bawah pengawasanku."
Kenneth mengunci salah satu tangan Hazel ke pegangan kursi, menatapnya dengan pandangan yang begitu posesif hingga membuat Hazel merasa sesak namun bergairah di saat yang sama.
"Kau takut, Hazel Bellvania?" tanya Kenneth, suaranya parau.
Hazel menatap deretan fotonya sendiri, lalu kembali menatap Kenneth. Alih-alih merasa takut, ia justru merasakan lonjakan adrenalin yang gila. Ia menyadari bahwa ia tidak hanya dicintai; ia sedang dipuja oleh seorang monster.
"Tidak," jawab Hazel mantap, menyunggingkan senyum manisnya yang kini terlihat sangat gelap. "Aku justru merasa... akhirnya aku menemukan seseorang yang lebih gila dariku. Lakukan sesukamu, Ken. Tunjukkan padaku seberapa jauh obsesimu ini pergi."
Kenneth menyeringai, sebuah ekspresi murni dari predator yang baru saja mendapatkan restu dari mangsanya.
Kenneth menyeringai, sebuah kilatan predator yang murni terpancar dari matanya. Ia melangkah menuju sebuah lemari kayu gelap dan mengeluarkan sebuah kamera profesional.
Bunyi klik kecil saat lensa terbuka terdengar begitu nyaring di ruangan yang sunyi dan kedap suara itu.
"Jika foto-foto di dinding ini adalah masa lalumu yang kuambil secara sembunyi-sembunyi," bisik Kenneth sambil mengatur fokus lensa tepat ke arah wajah Hazel yang terengah, "maka foto malam ini adalah bukti bahwa kau telah menyerah sepenuhnya padaku."
Kenneth mulai bergerak mengelilingi Hazel yang masih terikat di kursi besar itu. Ia tidak langsung menyentuhnya. Ia membiarkan lensa kamera itu menjelajahi lekuk tubuh Hazel yang terekspos di bawah cahaya kemerahan.
Klik. Satu foto diambil saat Hazel mendongak, memperlihatkan tanda merah di lehernya yang merupakan karya Kenneth.
Klik. Foto berikutnya menangkap jemari Hazel yang mencengkeram erat pegangan kursi, menunjukkan betapa ia berjuang menahan gejolak gairah dan rasa malu yang bercampur menjadi satu.
"Tatap lensanya, Hazel," perintah Kenneth dengan nada otoriter. "Tunjukkan pada dunia—setidaknya pada duniaku bagaimana rupa seorang gadis suci saat dia sedang berada di puncak kehancurannya."
Hazel, yang sudah terasapi oleh kegilaan Kenneth, justru memberikan apa yang pria itu mau. Ia menggigit bibir bawahnya, menatap tajam ke arah kamera dengan mata yang sayu namun penuh tantangan. Ia tidak lagi peduli pada moralitas, ia menikmati peran sebagai objek obsesi Kenneth.
Kenneth meletakkan kameranya sejenak di atas meja, namun ia membiarkan shutter otomatisnya bekerja secara berkala. Ia kembali mendekati Hazel, melepaskan kancing kemejanya sendiri satu per satu sambil terus menatap Hazel.
"Foto-foto ini tidak akan pernah keluar dari ruangan ini, Hazel," ujar Kenneth sambil membelai wajah Hazel dengan kasar namun posesif. "Ini adalah koleksi pribadiku. Setiap kali kau berada di luar sana bersama James, aku akan datang ke sini, menatap foto-fotomu yang sedang terikat ini, dan tertawa memikirkan betapa bodohnya pria itu karena mengira kau masih miliknya."
Kenneth kemudian membungkuk, membisikkan sesuatu yang membuat seluruh tubuh Hazel meremang. "Sekarang, aku akan mengambil foto terbaik malam ini... saat kau benar-benar memohon padaku untuk tidak berhenti."
Malam itu, di dalam ruangan penuh obsesi tersebut, Kenneth tidak hanya mengambil gambar fisik Hazel, tapi ia benar-benar merekam setiap inci kerentanan gadis itu kedalam jiwanya.
🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 🥰😍🥰
terimakasih
ceritanya bagus