NovelToon NovelToon
Lahir Kembali Dari Dendam

Lahir Kembali Dari Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Bullying dan Balas Dendam / Balas dendam pengganti / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tamyst G

Elara mengira pernikahannya adalah akhir dari semua penderitaan.
Namun malam itu, ia justru menemui akhir hidupnya—dikhianati, dijebak, lalu dibunuh oleh suaminya sendiri dan wanita yang ia percayai sebagai sahabat.
Saat membuka mata, Elara kembali hidup.
Ia terlahir kembali ke masa sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Rambut putihnya menjadi saksi kelahirannya yang kedua.
Mata pink-nya menyimpan dendam yang tak lagi bisa dipadamkan.
Kali ini, Elara bukan wanita polos yang mudah diinjak.
Ia mengingat setiap pengkhianatan, setiap rencana keji, dan setiap kebohongan yang pernah merenggut nyawanya.
Bukan untuk memohon keadilan.
Bukan untuk meminta belas kasihan.
Elara kembali…
untuk membalas semuanya, satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 25: Mesin Perang di Ujung Timur

Angin laut yang membawa armada Elara ke arah Timur terasa lebih kering dan berdebu. Bukan lagi aroma garam yang mendominasi, melainkan bau belerang dan minyak mesin. Di cakrawala, langit tidak lagi biru bersih; asap hitam dari ribuan cerobong pabrik membubung tinggi, menandakan mereka telah mendekati Kekaisaran Valtaria, yang dikenal sebagai Kerajaan Logam dan Api.

Elara berdiri di geladak kapal, bukan dengan gaun sutra Empress yang megah, melainkan dengan setelan taktis dari kulit naga yang diperkuat dengan plat baja ringan. Di sampingnya, Alaric mengamati deretan meriam raksasa yang berjajar di sepanjang tebing pantai Valtaria.

"Mereka tidak ramah terhadap tamu, terutama penguasa baru dari Barat," Alaric memperingatkan, tangannya tetap berada di gagang Duskbringer. "Valtaria mengandalkan teknologi mesin uap dan artileri. Mereka tidak percaya pada sihir murni yang kita miliki."

"Justru karena itu kita di sini," jawab Elara tenang. "Sihir kita mungkin kuat, tapi melawan armada dari Zandaria, kita butuh daya hancur yang bisa diproduksi secara massal. Kita butuh baja mereka."

Diplomasi di Balik Uap

Saat mereka mendarat di ibu kota Valtaria, Ironclad City, mereka disambut bukan oleh ksatria berkuda, melainkan oleh barisan prajurit mekanis—Automaton—yang digerakkan oleh kristal energi dan uap panas. Suara deru mesin dan dentuman palu godam dari bengkel-bengkel besar menciptakan simfoni industri yang memekakkan telinga.

Mereka dibawa ke hadapan Raja Magnus, seorang pria bertubuh raksasa dengan satu mata mekanis yang berkilat merah. Magnus tidak duduk di takhta emas, melainkan di kursi kendali sebuah mesin raksasa di tengah bengkel pribadinya.

"Empress Elara," suara Magnus berat seperti benturan logam. "Aku mendengar kau menghancurkan kaisarmu sendiri dan memanggil ksatria dari dasar laut. Di Valtaria, kami tidak menyukai dongeng sihir. Kami percaya pada hal-hal yang bisa diukur dengan tekanan uap dan berat peluru."

Elara melangkah maju, sama sekali tidak gentar. Ia mengeluarkan potongan kayu hitam dari Zandaria yang ia bawa. "Aku tidak ke sini untuk bercerita, Raja Magnus. Aku ke sini untuk menunjukkan apa yang akan menghancurkan kerajinan bajamu jika kau tetap keras kepala."

Elara melemparkan kayu itu ke lantai. Seketika, energi korosif dari kayu tersebut mulai merusak lantai logam bengkel Magnus, mengeluarkan asap hijau yang beracun. Para prajurit automaton di sekitar mereka mendadak mengalami malfungsi, sirkuit mereka meledak dalam percikan api.

Perjanjian Darah dan Baja

Wajah Magnus berubah serius. Ia turun dari kursinya dan memeriksa kerusakan pada lantainya. "Energi ini... ia memakan materi seolah-olah materi itu tidak pernah ada."

"Itu adalah Zandaria," Elara menjelaskan. "Mereka akan datang dalam enam bulan. Mereka tidak hanya akan membunuh rakyatmu, mereka akan menghapus peradabanmu dari sejarah. Aku memiliki sihir untuk menahan energi mereka, tapi aku tidak memiliki cukup meriam untuk menenggelamkan ribuan kapal mereka. Kita saling membutuhkan."

Magnus terdiam lama, lalu ia menatap Alaric, kemudian kembali ke Elara. "Kau punya keberanian, Empress. Baiklah. Aku akan memberikan rahasia Meriam Ignis—senjata yang bisa meluncurkan peluru dengan inti api matahari. Tapi, sebagai gantinya, aku ingin akses ke kristal mana murni dari Pelabuhan Utara untuk menggerakkan pabrik-pabrikku selamanya."

"Kesepakatan tercapai," jawab Elara tanpa ragu.

Pengkhianatan di Kota Besi

Namun, malam itu, saat mereka sedang beristirahat di kedutaan, sebuah ledakan hebat mengguncang distrik pabrik utama. Kael masuk ke kamar Elara dengan luka bakar di lengannya.

"Nona! Faksi pemberontak Valtaria yang beraliansi dengan sisa-sisa Solis Invicta telah menyerang gudang prototipe!" teriak Kael. "Mereka mencoba mencuri cetak biru Meriam Ignis untuk diserahkan kepada armada Zandaria!"

Alaric langsung bereaksi. "Mereka ingin kita gagal membentuk aliansi ini. Elara, tetaplah di sini dengan pengawal!"

"Tidak!" Elara mengambil busur pendeknya yang telah dimodifikasi dengan energi perak. "Jika cetak biru itu hilang, keberadaanku di sini sia-sia. Kita akan menunjukkan pada para pengkhianat ini bahwa sihir dan teknologi adalah perpaduan yang mematikan."

Mereka berlari menembus labirin kota yang dipenuhi asap hitam. Di depan gudang pusat, mereka melihat sosok misterius berjubah hitam yang memimpin serangan. Sosok itu menggunakan kekuatan yang sangat mirip dengan yang Elara lihat di Menara Matahari—kekuatan yang seharusnya sudah musnah.

"Ternyata kau masih memiliki pion di sini, Valerius..." bisik Elara dengan amarah yang mendidih.

Pertempuran di tengah pabrik baja dimulai. Alaric bertarung melawan lusinan automaton yang telah diretas, sementara Elara melesat di antara mesin-mesin raksasa, melepaskan anak panah cahaya yang meledakkan tangki uap musuh.

Di ujung pertempuran, Elara berhasil menyudutkan pemimpin penyerang. Saat ia membuka topengnya, Elara terperangah. Pria itu adalah Adipati Sterling, salah satu bangsawan yang ia ampuni di pengadilan ibu kota sebulan lalu.

"Kau memberikan kami pengampunan, tapi Zandaria memberikan kami keabadian!" teriak Sterling sebelum ia meledakkan dirinya sendiri dengan bom alkimia, menghancurkan sebagian gudang.

Fajar Baru yang Membara

Meskipun Sterling tewas, sebagian kecil dari cetak biru itu berhasil dibawa lari oleh penyusup lainnya. Elara berdiri di tengah reruntuhan, menatap api yang melahap gudang tersebut.

Raja Magnus datang dengan wajah murka, namun saat ia melihat Elara tetap bertahan untuk melindungi sisa-sisa teknologinya, kemarahannya berubah menjadi rasa hormat yang tulus.

"Mereka sudah mencuri sebagian," Magnus berkata pelan. "Tapi mereka tidak tahu bahwa bagian terpenting ada di dalam ingatanku. Elara Lane, mulai hari ini, palu Valtaria akan berdentum untuk Aurora. Kita akan membangun armada yang tidak akan pernah bisa ditenggelamkan oleh bayangan mana pun."

Elara menatap langit Timur yang mulai memerah. Ia telah mendapatkan aliansi pertamanya, tapi ia juga menyadari bahwa mata-mata Zandaria sudah ada di mana-mana, bahkan di antara orang-orang yang ia ampuni.

"Waktunya pulang, Alaric," ucap Elara. "Kita harus mempersiapkan garis pertahanan terakhir. Badai yang sebenarnya baru saja dimulai."

1
Tamyst G
Semangattt
Kustri
pemuda cantik?
qu membayangkan opa"😂
Kustri
alaric jg terlahir kembali
Kustri
tulisan'a rapi, enak dibaca
lanjuuut
Tamyst G: Terimakasih atas supportnya kak
total 1 replies
Kustri
awal yg menarik
ini 2024 tp msh ada kereta kuda yaa🤔
Tamyst G: ini konsep alternate timeline, jadi 2024 versi dunia yang berbeda🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!