NovelToon NovelToon
Di Balik Darah Yang Kucinta

Di Balik Darah Yang Kucinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Sci-Fi
Popularitas:922
Nilai: 5
Nama Author: Phida Lee

Axel Bahng adalah dokter jenius yang percaya bahwa semua racun memiliki penawar — hingga satu kesalahan kecil mengubah cinta dalam hidupnya menjadi mimpi buruk yang tak bisa disembuhkan.

Tunangan yang paling ia cintai, Lusy Kim, tanpa sengaja meminum racikan eksperimen ilegal buatannya. Sejak hari itu, tubuh Lusy tak lagi mengenali rasa lapar seperti manusia. Saat kelaparan menyerang, kesadarannya hilang, digantikan naluri brutal yang hanya bisa diredakan oleh darah.

Demi melindungi Lusy dari dunia — dan dunia dari Lusy — Axel menyekapnya dalam ruang rahasia di bawah rumahnya, mempertaruhkan karier, moral, dan kewarasannya sendiri. Ia mencuri darah dari rumah sakit, membohongi keluarga, dan melawan hukum, yakin bahwa cinta dan sains akan menemukan jalan keluar.

Namun seiring waktu, kebohongan runtuh satu per satu. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, tak ada lagi yang bisa diselamatkan — bukan reputasi, bukan keluarga, bukan bahkan cinta itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Lampu neon yang biasanya menerangi ruang isolasi dengan cahaya putih menyilaukan telah diredupkan hingga hanya menyisakan nyala hangat lembut, menciptakan suasana yang jauh lebih manusiawi bagi penghuninya yang terkurung di dalam dinding kaca dan baja itu. Udara kini sedikit lebih hangat, seolah-olah ruangan itu benar-benar sebuah kamar tidur dan bukan tempat untuk menahan sesuatu yang dianggap berbahaya.

Cairan merah pekat dari kantong yang Axel curi dengan risiko besar tadi malam telah meresap sepenuhnya ke dalam sistem metabolisme Lusy melalui saluran infus yang terhubung ke lengannya—zat yang misterius itu bekerja dengan cara yang tidak bisa dijelaskan, menenangkan badai mutasi yang biasanya mengamuk tanpa ampun di balik kulit porselennya yang halus.

Lusy tidak lagi tergeletak tanpa daya di atas brankar seperti biasanya. Ia duduk dengan tubuh bersandar pada tumpukan bantal putih yang empuk, pundaknya sedikit membungkuk namun sudah jauh lebih tegap dari hari-hari sebelumnya. Wajahnya kini mulai kembali memiliki rona merah muda yang sangat tipis. Rambut panjangnya kini terurai dengan lembut dan menyebar di bahu dan pundaknya, sebagian masih sedikit kusut namun sudah bisa diatur dengan mudah.

"Ana," suaranya terdengar dari arah brankar, lirih dan lembut. Ia menggerakkan bibirnya dengan susah payah, setiap gerakan seolah menghabiskan banyak tenaga, namun matanya yang kini sudah kembali berwarna coklat gelap biasa memancarkan sebuah tekad yang jelas. "Bisa bantu aku? Di laci paling bawah meja rias di luar ruangan itu... Axel menyimpan kotak kosmetikku yang biru muda itu."

Ana, yang baru saja selesai mengganti kantong infus yang sudah kosong, langsung menoleh ke arahnya dengan kening yang sedikit berkerut. Tangan kanannya yang masih mengenakan sarung tangan medis putih sedikit terhenti di udara sebelum ia meletakkan alat-alat yang belum digunakan ke atas meja kecil di samping pintu isolasi.

"Nona ingin berdandan?" tanya Ana dengan nada lembut. Ia berjalan sedikit mendekat ke kaca isolasi, mata tetap menatap wajah Lusy dengan perhatian penuh. "Tapi Dokter Axel bilang Nona harus banyak istirahat setelah proses penyerapan zat tadi malam. Ia khawatir jika Nona terlalu banyak bergerak akan membuat kondisi tubuhnya kembali tidak stabil."

Lusy mengangkat bibirnya sedikit, memaksakan sebuah senyum kecil yang sangat tulus hingga membuat sudut matanya sedikit terkunci. Senyum itu begitu lembut dan penuh kehangatan, membuat Ana teringat pada foto-foto Lusy yang pernah ia lihat di atas meja Axel di ruang tamu—foto di mana wanita ini tertawa lepas dengan wajah penuh dengan semangat, mengenakan gaun muda dan berdiri di tengah kebun bunga sakura yang sedang mekar.

"Aku tahu dia bilang itu. Tapi Axel akan datang sebentar lagi untuk pemeriksaan rutinnya. Aku... aku sudah lelah dengan wajah yang selalu ia lihat setiap kali dia datang kesini. Aku tidak ingin dia selalu mengingatku sebagai mayat yang menakutkan, sebagai sesuatu yang harus dia beri makan setiap malam seperti hewan peliharaan yang ganas."

Ia menghentikan pembicaraannya sejenak, menutup mata sebentar seolah-olah sedang menghindari gambar buruk yang muncul di benaknya. Kemudian ia membukanya kembali, dan di dalam mata coklatnya itu ada keinginan yang dalam yang membuat hati Ana terasa seperti sedang ditekan oleh batu berat.

"Aku hanya ingin terlihat cantik sekali lagi. Meski hanya untuk sepuluh menit saja sebelum rasa lapar itu datang kembali dan mengubahku menjadi makhluk yang tidak aku kenal lagi."

Ana tertegun di tempatnya. Ia merasakan desakan yang kuat di dadanya. Jantungnya berdegup perlahan, dan ia bisa merasakan bagaimana setiap kata yang keluar dari mulut Lusy menusuk langsung ke dalam jiwanya. Ia melihat binar yang ada di mata wanita itu—binar seorang wanita yang masih sangat mencintai pasangannya, yang ingin menjaga sedikit keanggunan dan martabatnya di depan pria yang telah ia puja dan cintai sejak lama. Tanpa berkata apa-apa lagi, Ana hanya menganggukkan kepalanya dengan lembut, kemudian berbalik untuk keluar dari ruang isolasi melalui pintu yang sudah dibuka.

Langkah kakinya terasa lebih lambat dari biasanya saat ia berjalan menuju ruang kecil yang digunakan sebagai kamar ganti dan tempat menyimpan barang-barang pribadi Lusy. Ruangan itu terletak tidak jauh dari pintu masuk laboratorium. Ia membuka laci paling bawah seperti yang diperintahkan Lusy, dan di dalamnya ditemukan sebuah kotak kosmetik dari kayu berkualitas tinggi dengan warna biru muda. Di sebelahnya ada sebuah sisir kayu dengan gigi lebar, dengan beberapa helai rambut Lusy yang masih menempel di antara giginya.

Ana mengambil kedua barang itu dengan hati-hati. Saat ia kembali masuk ke ruang isolasi dan menutup pintunya dengan lembut, Lusy masih duduk di posisi yang sama, matanya menatapnya dengan harapan yang jelas. Ana berjalan pelan ke arah brankar, kemudian duduk di pinggirnya dengan hati-hati.

Ia mulai menyisir rambut Lusy dengan gerakan yang sangat hati-hati, seperti sedang menyisir rambut bayi yang baru lahir. Setiap helai rambut yang terlepas dan menempel di sisir kayu itu terasa seperti sebuah pengingat yang menyakitkan bagi Ana—pengingat bahwa waktu Lusy sedang terbakar habis dengan cepat, bahwa setiap hari yang mereka lalui bisa jadi adalah hari terakhir bagi wanita ini.

"Saat aku menyisirnya, tolong gunakan lipstik yang warna merah muda muda ya," bisik Lusy dengan lembut saat Ana mulai menyisir bagian belakang kepalanya yang sulit dijangkau. Ia menutup mata sebentar, menikmati sentuhan lembut sisir kayu pada kulit kepalanya yang mungkin sudah lama tidak merasakan sentuhan seperti itu. "Itu warna favorit Axel. Dia bilang warna itu membuatku terlihat seperti bunga sakura yang baru saja mekar di musim semi."

Ana mengangguk patuh tanpa menjawab, karena ia takut jika membuka mulutnya akan mengeluarkan suara yang tidak stabil. Jemarinya kini mendadak menjadi sangat luwes dan lembut. Ia meletakkan sisir kayu di sisi brankar, kemudian membuka kotak kosmetik dengan hati-hati.

Pertama-tama, ia mengambil bedak padat dengan warna yang cocok dengan kulit Lusy dan mulai memoleskannya secara perlahan ke seluruh wajah wanita itu, menutupi pucatnya yang terlihat mengerikan dan memberikan sedikit kilau pada kulitnya yang halus. Setelah itu, ia mengambil perona pipi dengan warna peach muda dan menerapkannya dengan lembut pada pipi Lusy yang rata, membuatnya terlihat lebih hidup.

Saat ia mengangkat tangannya untuk mengambil lipstik yang dimaksud Lusy, ia melihat tangan wanita itu yang masih sedikit gemetar mencoba dengan susah payah untuk membetulkan kerah baju pasien putih yang sedikit bergeser dari tempatnya, berusaha membuatnya terlihat lebih rapi dan sopan.

"Nona sangat mencintainya, ya?" tanya Ana tanpa sadar. Ia membuka tutup lipstik, kemudian mulai mengoleskannya dengan hati-hati pada bibir Lusy yang tipis dan sedikit pecah-pecah.

Lusy menatap bayangannya yang terpantul di cermin kecil yang dipegang oleh Ana, matanya mulai berkaca-kaca. Ia mengangkat satu jari untuk menyentuh bibirnya yang baru saja diolesi lipstik, merasakan teksturnya yang lembut di kulitnya.

"Dia adalah duniaku. Dia adalah satu-satunya alasanku masih bisa bertahan hidup dalam kondisi seperti ini. Dan aku tahu, aku tahu dengan sangat jelas—aku adalah nerakanya sekarang. Setiap malam dia harus melihatku berubah menjadi sesuatu yang mengerikan, setiap hari dia harus bersembunyi dari dunia luar untuk menyembunyikanku. Aku hanya ingin memberinya satu memori indah hari ini. Sesuatu yang bisa dia ingat nanti selain... monster yang dia beri makan setiap malam dengan darah dan zat kimia."

Ana terdiam sepenuhnya. Kata-kata Lusy itu seperti kilatan petir yang menyambar langsung ke dalam dirinya, membuatnya merasa sesak di dadanya dan sulit untuk bernapas dengan normal. Saat ia mulai mengepang rambut Lusy dengan hati-hati, menyusunnya menjadi gaya yang sederhana namun cantik di bagian belakang kepalanya, ia tidak bisa lagi menahan emosi yang sudah mulai meluap.

Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, membuat pandangannya menjadi sedikit kabur. Ia cepat-cepat memalingkan wajahnya ke arah dinding, kemudian menyeka air mata yang mulai mengalir ke pipinya dengan punggung tangan secara sembunyi-sembunyi, takut jika Lusy melihatnya akan merasa bersalah.

Namun, isakannya yang tertahan membuat bahunya sedikit bergetar, dan gerakan tangannya yang sedang mengepang rambut menjadi sedikit tidak stabil. Ia berusaha untuk tetap tenang, untuk fokus pada apa yang sedang ia lakukan, namun hati yang sudah mulai terlanjur tersentuh tidak bisa lagi dikendalikan dengan mudah.

Pada saat itu juga, Ana menyadari sebuah kebenaran yang menyakitkan, di balik urat-urat biru yang membengkak dan berdenyut liar di bawah kulitnya, di balik mata yang bisa dengan cepat berubah menjadi merah darah yang mengerikan, dan di balik rasa lapar yang primitif yang terkadang membuatnya menjadi seperti hewan buas, ada seorang jiwa yang masih sangat manusiawi. Seorang jiwa yang masih mendambakan hal-hal sederhana yang diinginkan oleh setiap wanita di dunia ini—untuk terlihat cantik, untuk dicintai, dan untuk bisa memberikan kebahagiaan pada orang yang mereka cintai.

"Kenapa Ana menangis?" tanya Lusy dengan lembut, kemudian ia mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh bagian belakang tangan Ana yang sedang bekerja. Sentuhannya yang lembut membuat Ana bergerak sedikit, terkejut dengan sentuhan yang tidak diharapkan.

"Tidak, Nona... tidak ada apa-apa," bohong Ana dengan cepat. Ia segera kembali menyisir bagian akhir rambut Lusy yang belum teratur, memaksakan diri untuk membuat gerakan tangannya tetap stabil. "Hanya ada debu yang masuk ke mata saja. Nona sudah sangat cantik sekarang. Dokter Axel pasti akan sangat bahagia ketika melihatnya nanti."

Lusy menganggukkan kepalanya dengan lembut, kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah pintu isolasi dengan tatapan yang penuh dengan harapan. Matanya yang sudah dihiasi riasan ringan itu tampak lebih hidup dari biasanya, dan bibirnya yang berwarna merah muda seperti bunga sakura itu sedikit mengangkat ke atas membentuk senyum yang penuh dengan harapan.

Ia menanti langkah kaki pria yang telah menjadi alasan utamanya untuk tetap bertahan hidup dalam kondisi yang menyakitkan ini, sementara Ana berdiri di belakangnya dengan tubuh yang sedikit membungkuk, menunduk dalam diam sambil terus menyeka air mata yang tak mau berhenti mengalir ke pipinya.

Bagi Ana pada saat itu, uang satu miliar won yang dulunya menjadi alasan utama ia menerima pekerjaan ini kini terasa sangat tidak berarti dibandingkan dengan beratnya penderitaan manusia yang sedang ia saksikan secara langsung. Uang itu tidak bisa membeli kembali kecantikan yang hilang, tidak bisa menghentikan rasa sakit yang menyiksa, dan tidak bisa menggantikan kebahagiaan yang telah sirna akibat tragedi yang tak terduga itu.

Semua yang ada dalam pikirannya saat itu adalah keinginan untuk membantu wanita di depannya ini—untuk membuatnya merasa bahagia sekecil apa pun, sekadar untuk beberapa menit saja sebelum kenyataan yang kejam kembali datang menghampiri mereka berdua.

.

.

.

.

.

.

.

ㅡ Bersambung ㅡ

1
Phida Lee
Ajukan kontrak dan jangan lupa rajin promosi juga bang..
massie-masbro
mantap bang🔥 btw tutor novel bisa rame gimana bng aku masih pemula, ajukan kontrak kah?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!