Karena pertumbuhan anak laki-laki terkadang memang sedikit lambat dari anak perempuan. Dan tinggi 182 sentimeter setelah 20 tahun berlalu, sudah lebih dari cukup untuk tidak membuat malu pemilik tinggi 160 sentimeter dengan kecentilannya…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyeon Gee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
“Jadi, Pak Jong Hwa operasi orang itu?” tanya Fara sambil mengunyah snack-nya.
“Iya. Jadi, Garra rencana mau nambah dokter bedah lagi satu,” sahut Min Seok sambil meletakkan segelas cokelat hangat dan duduk di samping Fara.
“Tapi, orangnya betulan gak apa-apa?”
“Gaak. Syukurnya gak apa-apa.”
“Memang gak apa-apa Dokter Obgyn ngelakuin tindakan bedah yang kaya gitu?”
“Aku dan Jong Hwa dituntut untuk punya banyak sertifikasi. Aku sebagai dokter bedah toraks pun masih bisa bantu lahiran kalo mau.”
Mendengar celoteh santainya, Fara pun hampir menyemburkan minumannya.
“Bisa-bisanya gitu?” ujar Fara.
“Bisaaa. Itu kenapa Min Woo milih kami berdua. Kami mau diapain aja. Sama kaya Min Gyu.”
“Tapii…kok kaya kejam banget,” ujar Fara.
“Hahaha…iya kedengerannya kejam banget, ya.”
“Balas budi, kah?” tanya Fara tak nyaman.
“Gak,” sahut Min Seok sembari menggeleng singkat, “lebih keee…setia kawan gak, sih? Waktu kuliah mereka, Min Woo sama mending Chang Ho, sering bantu kita, dalam kerjaan juga waktu kuliah. Kaya mereka, tuh, bisa semua hal. Kaya sempurna banget padahal masih ada cacatnya kalo kita kenal mereka.”
“Balas budi ituuu…” sahut Fara hampir menangis.
“Hahahaha, gak. Kalo balas budi, tuh, gimanapun caranya harus di balas. Kalo mereka, nih. Kita gak bisa balas. Soalnya…”
“Apa?” tanya Fara penasaran.
“Kaya apa, ya. Kita kemaren awal masuk beasiswa itu sempet satu asrama. Aku, Jong Hwa, Min Woo, Min Gyu, Chang Ho, Hong Seok, Hansol, AJ, Dong Ho. Kita punya jurusan sama divisi masing-masing pas di tempat kerja. Tapi, balik ke asrama, kita tetep bareng. Ke mana aja kita bareng selama diluar kerjaan. Pokoknya seneng, susah sama-sama.”
“Eh, tapi, Juh Yeon sama yang lain-lain itu gimana? Bisa deket? Terus?”
“Oooh, ya, kaya kalian di klinik. Ada yang angkatan di bawah setahun atau dua tahun gitu.”
“Oooh. Terus-terus lanjut yang tadi.”
“Jadi..awal kenal itu kita masih seneng-senengnya, ya. Explore ke tempat-tempat bagus sekitar tahun 2011. Pokoknya awal banget. Jadi, rencana tahun baru kita mau ke Gwangju, nginep di rumah pedesaan gitu…”
“Kamu gak pernah bawa aku ke sana?” tanya Fara dengan kening berkerut memutus cerita Min Seok.
“Haha…ntar kita honeymoon ke sana.”
“Iyaaa…terus?”
“Kita berangkat itu sore tanggal 30 Desember dan rencana pulang tanggal Satu Januari sore. Nyewa mobil, kan. Awalnya baik-baik aja, cuaca bagus, bagus banget. Cerah walaupun mau masuk musim dingin. Makin jalan ke sini, ternyata ujan, yah, tetep baik-baik aja. Hampir jam enam sore masuk malem, tiba-tiba bekabut tebel. Awalnya mau gantian nyetir tapi, karena pas banget hari itu aku abis lembur bareng tujuh yang lain dan yang free, seger itu bener-bener Min Gyu sama Min Woo aja. Jadilah, mereka gantian.”
“Jaraknya berapa jam dari Seoul ke Gwangju?” sela Fara.
“Sekitar 3.5 sampai 4.5 jam tergantung lalu lintas sama yah, cuaca kaya tadi. Kalo bagus aja, ya, lancar.”
“Oooh. Terus?”
“Kejadiannya cepet banget, kaya mimpi. Dengan pandangan terbatas, dari depan ada mobil lawan arah masuk wilayah satu jalur yang lagi kami pake. Min Gyu usaha ngehindar. Jadi, nabrak pagar pembatas dan masih bersyukur, jurangnya gak dalem. Kami gak jadi liburan. Yang ada hampir ngucapin belasungkawa, karena Min Woo sempat dinyatakan koma.”
“Eh? Iya?” jerit Fara tak percaya dan langsung dibalas anggukan santai Min Seok, “tapi, sehat, tuh, orangnya.”
“Iya. Bahkan waktu kecelakaan, satu-satunya orang yang sadar, tuh, dia. Dia yang ngehubungin rumah sakit, kantor polisi. Bahkan pihak rumah sakit nyatain kalo pas kedatangan kami, dia yang ngurus registrasi segala macamnya, habis itu pamit mau rebahan. Tapi, malah rebahan sampai dua bulan. Hahaha…”
“Kok ketawa? Kan, kasian,” keluh Fara.
“Iya. Mau dianggap lucu tapi, kasian dan sampai sekarang kami jadi ngerasa harus bertanggung jawab sama dia. Karena bukan ide dia buat liburan ke Gwangju. Dia awalnya gak mau ikut tapi, karena adik sepupunya, mendiang Chang Ho ikut. Jadi, dia mau gak mau ikut.”
“Jadi, ngerasa bersalah makanya kalian selalu nyanggupin apa yang dia mau?” tanya Fara iba.
“Kesalahan terbesar dari semuanya, karena kecelakaan itu ada bagian organnya sedikit terganggu jadi bikin dia gak bisa ngehasilkan, maaf, sperma dengan baik. Jadi, bikin dia susah punya anak.”
Diam, Fara pun senyap dan kini, Min Seok menatapnya bingung.
“Jadi, karena ‘itu’-nya gak bisa berdiri lagi. Kalian merasa bersalah?”
“AHAHAHAHA…”
Sontak Min Seok tertawa dan kali ini, untuk kesekian kali, Fara bingung.
“Apa yang lucu?” ujarnya dengan kening berkerut.
“Gaaak..kan, tadi udah aku bilang. Spermanya yang kurang baik. Bukan “itu”-nya. Kalo “itu”-nya gak bisa berdiri, Echa mungkin gak mau diajak nikah.”
“Oooh. Eh, berarti, Kak Echa tau dong?”
“Tau. Makanya kamu diem aja. Ini cuma cerita kita aja.”
“Siaaap.”
“Jadi, kita kapan nikah?” tanya Min Seok.
“Haa…bahas yang lain. Aku bukan Siska yang ngebet dinikahin Juh Yeon, ya. Untung sudah dinikahin tapi.”
“Hahahaha…”
Karena perjuangan dan ujian masing-masing makhluk Tuhan itu berbeda. Tergantung kesanggupan makhluknya. Jadi, jika masih sanggup berjuang dan berdiri, jalani saja…