NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Paksa Sang Dewa Kegelapan

Reinkarnasi Paksa Sang Dewa Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Kultivasi Modern
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Upaya bunuh diri Onad Nevalion berakhir dengan kegagalan. Alih-alih menemukan kematian, ia justru dibangkitkan oleh Dewa Kegelapan dan dikirim ke Solmara, sebuah dunia asing yang hancur oleh konflik antar entitas ilahi.

Onad terpilih sebagai wakil sang dewa untuk menghadapi Dewa Iblis di dunia Solmara. Dewa Kegelapan tidak dapat turun langsung karena campur tangannya akan melanggar hukum keseimbangan antar dunia.

Satu-satunya hal yang diinginkan Onad hanyalah menghilang dari kesialan hidupnya di dunia. Namun, mengapa kesialan itu justru mengejarnya hingga ke dunia lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Api Unggun

Membayangkan saja, apa yang akan terjadi kalau Noah harus melawan serigala yang sekarang berdiri di depannya ini membuat bulu kuduknya merinding. Dia benar-benar beruntung karena makhluk itu justru menjadi bawahannya.

Noah mendekati Serigala Purba raksasa itu, meletakkan telapak tangannya di atas kepalanya, lalu berkata, “Karena gue udah membunuh Serigala Alpha itu, dan gue juga enggak sebodoh itu buat manggil lo Kuro, Wolfy, atau Feru cuma karena lo hitam dan lo serigala, mulai sekarang nama lo Sierra.”

DINGGGG

...────୨ৎ────...

...Selamat kepada Inang karena telah memberi nama pada Subordinate pertamanya. Loyalitas subordinate terhadap Inang meningkat 50%....

...────୨ৎ────...

“Peningkatan loyalitas apaan? Bukannya mereka udah setia sama gue?” tanya Noah.

...────୨ৎ────...

...Itu adalah syarat khusus untuk membuka skill spesial antara Inang dan para subordinate....

...────୨ৎ────...

“Bagus. Kalau ngasih nama bisa ningkatin loyalitas, berarti gue harus mikir kreatif dan enggak asal,” kata Noah sambil menepuk kepala Sierra, seperti mengelus anjing peliharaan.

Sierra duduk di hadapan Noah dan menundukkan kepalanya tanpa menatap mata Noah.

Gesturnya terasa seperti penyerahan diri, pengakuan bahwa Noah adalah tuannya.

Sesaat kemudian, Noah merasakan adanya koneksi dengan Sierra, seakan serigala itu adalah perpanjangan dari tubuh dan kesadarannya sendiri.

“Lo ngerti apa yang gue omongin?” tanya Noah, ingin memastikan dugaannya benar.

Sierra mengangguk dan kembali berdiri.

“Bagus. Sekarang lo cari buruan buat gue makan. Jangan terlalu gede, dan dagingnya jangan keras,” perintah Noah.

Dalam kondisi melemah akibat penggunaan Mode Dewa Mengamuk, dia bahkan hampir tidak punya tenaga lagi untuk berjalan, apalagi berburu sendiri.

Dia butuh makan secepatnya. Tubuhnya benar-benar kehabisan energi, dan daging adalah sumber terbaik untuk memulihkannya.

Setelah Sierra berlari menuju semak-semak dan lenyap dari pandangan, Noah kembali memanggil sistem.

“Sistem, lo bisa bantu gue bikin api nggak?” tanyanya, setengah penasaran.

...────୨ৎ────...

...Memangnya gue nyokap lo? Kerjain sendiri, Bego!...

...────୨ৎ────...

Jawab sistem dengan nada menyindir.

“Tunggu. Ulangin!”

...────୨ৎ────...

...Inang disarankan untuk mengandalkan diri sendiri. Sistem tidak dapat membantu Inang dalam tugas semacam itu....

...────୨ৎ────...

Suara mekanis itu kembali terdengar, membuat Noah ragu apakah sistem ini sebenarnya makhluk hidup juga.

Tapi dia tidak memikirkannya lebih jauh. Dia berjalan ke pohon terdekat dan mematahkan beberapa ranting.

Dia menemukan satu batang yang tipis tapi kuat, cukup untuk digesekkan ke batang yang lebih tebal.

Kurang lebih seperti Bear Grylls di Man vs Wild.

Setelah gagal hampir satu jam dan hanya berhasil menghasilkan panas yang cukup untuk memunculkan asap, lalu menggunakan daun kering untuk meniupnya sampai menyala, akhirnya Noah berhasil membuat api unggun kecil.

Saat itu, hari sudah hampir malam.

Malam pun mulai turun. Dari posisi matahari, Noah memperkirakan waktu sudah sekitar pukul enam sore. Setidaknya sekarang dia punya cara untuk menghangatkan diri dan melindungi dirinya sepanjang malam.

Setengah jam kemudian, Sierra akhirnya kembali, menggigit empat makhluk mirip kelinci di mulutnya.

Makhluk-makhluk itu tampak seperti perpaduan antara kelinci dan musang, dengan garis-garis merah dan hijau di tubuh mereka. Itu adalah makhluk asing pertama yang Noah lihat di Solmara.

Noah bisa melihat bahwa tubuh kecil itu menyimpan cukup banyak daging, lebih dari cukup untuk makan malam. Dia mengaktifkan Cakar Serigala dan mulai membedah hasil buruan itu. Kalau mau makan, tangannya memang harus kotor.

Setelah memisahkan daging dan membuang jeroannya, dia berjalan ke sungai kecil di dekat sana untuk membersihkannya. Sierra berjaga di sekitar, waspada terhadap lingkungan.

Setelah kembali, Noah menusukkan daging ke ranting-ranting tipis dan memanggangnya di atas api unggun.

Aroma daging panggang segera menyebar. Bahkan Sierra mulai mengeluarkan air liur dan menatap Noah dengan mata memelas, seperti anak anjing.

Noah tercengang. Itu seekor serigala, predator puncak. Tapi sekarang tingkahnya persis anjing, sangat lucu begitu ada daging panggang.

Bukannya ini makhluk yang dia ciptakan sendiri?

Apa dia memang masih perlu makan?

Noah menghela napas dan melanjutkan memanggang.

Saat semuanya matang, dia mengambil daging dari dua makhluk mirip kelinci untuk dirinya sendiri dan menyerahkan sisa dua lainnya pada Sierra. Mereka berdua butuh makanan supaya punya cukup tenaga untuk esok hari.

Setelah perutnya benar-benar terisi, Noah kembali ke sungai dan minum langsung dari alirannya. Dia hanya bisa berharap daging yang dia makan aman dan tidak malah membuatnya keracunan.

Noah kembali ke perkemahan kecil mereka dan menyandarkan punggungnya ke batang pohon. Rasa lelah akhirnya menyelimuti tubuhnya, membuatnya hampir tertidur.

Sierra berbaring tak jauh darinya, telinganya tegak, siap bereaksi kalau ada sesuatu mendekat di malam hari.

Noah menatap langit malam, memandang bintang-bintang yang terang dan jelas.

Ini adalah hari pertamanya di Solmara. Dia sudah nyaris mati, mendapatkan seorang sekutu, dan kini menikmati pemandangan malam yang hampir tak pernah dia rasakan di kehidupan sebelumnya. Seluruh hutan di bawah cahaya bulan tampak begitu tenang.

Sambil memejamkan mata, Noah berkata pada dirinya sendiri, “Kita lihat aja, apa yang hari esok udah siapin buat gue.”

1
Amir Machmud
thor..ayo dilanjut..aku tambah penasaran...tak tunggu..
Amir Machmud
lanjut bab...beli coin atau lihat seponsor...
Amir Machmud
gimana kelanjutannya...
azizan zizan
sudah lah buang aja lah dari rak baca.... cerita tah apa2 tah ini...
azizan zizan
Thor kau bercerita apa kau menjelas...??????🤔🤔
DityaR: Oh, maksudnya Pacing cepat,
aku sengaja ga pakai itu. Feel-nya kurang dapet, lagian itu monolog dari persepsi Noah kok, biar konflik batin dia dapet. kan dia udah ga pingin hidup itu, sekalian jelasin latar belakang dia sama motif dia. itu di bab awal broo, kalau aku kasih sat set, gak dapat latar belakangnya si Noah itu karakternya gimana, soalnya ga cukup kalau cuma di tulis 1 paragraf buat jelasin Noah itu kek gimana, jadinya kek formulir pendaftaran ekskul wkwkwk.
jadi aku sampirin di monolog, di narasinya.

Iya paham novel online pembacanya suka yang sat set alias Pacing cepat kan?

Coba kita buat vibe yang beda ....

Jadi kalau lagi buru-buru, gpp skip aja.
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!