Di usianya yang ke-33, Raditya Mahardika harus menerima perjodohan konyol dengan Bianca Adyatama, gadis 20 tahun yang masih kuliah dan merupakan putri rekan bisnis keluarganya. Ragu dan curiga, Raditya punya rencana gila: menyamar menjadi supir di rumah keluarga Adyatama.
Sebagai 'Rio', supir barunya, Radit menyaksikan realitas yang mengejutkan. Bianca bukan hanya manja, tapi juga arogan dan suka merendahkan orang.
Namun, di tengah kekecewaannya, mata Radit justru tertuju pada sosok lain: Kirana Adyatama. Kakak Bianca yang berusia 27 tahun. Di mata keluarganya, Kirana hanyalah barista kafe, bahkan sering diperlakukan seperti pelayan. Tapi, di balik seragam kafe dan senyum hangatnya, Kirana menyimpan rahasia besar.
Mana yang akan dipilih Radit? Calon istri yang dijodohkan, atau kakak yang menyimpan mutiara tersembunyi? Bagaimana jika rahasia penyamarannya terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Pagi di kediaman Adyatama dimulai dengan kontras yang mencolok. Di lantai atas, sinar matahari memantul dari lampu kristal di kamar Bianca Adyatama, yang bahkan dalam tidurnya tampak seperti sampul majalah. Kamar seluas apartemen studio itu didominasi warna peach dan putih gading, hasil desainnya sendiri yang mahal dan glamor. Di sana, Bianca tidur tanpa beban, dikelilingi barang-barang branded yang ia dapat dengan mudah.
Sebaliknya, di kamar sederhana di lantai bawah, Kirana Adyatama (27) sudah sepenuhnya terjaga. Kamarnya jauh lebih kecil dan bernuansa kayu gelap, tempat tidur tunggal yang nyaman, dan rak buku penuh jurnal ilmiah. Kamar ini adalah bentengnya; tempat ia bisa bernapas bebas dari penilaian keluarga.
Kirana sudah selesai bersiap. Ia mengenakan celana jeans biru tua yang pas di tubuh, dipadukan dengan kemeja katun putih lengan tiga perempat. Rambut panjangnya yang berombak diikat menjadi ponytail yang rapi. Tidak ada riasan mahal, hanya lip balm sederhana. Penampilannya memancarkan energi praktis dan kecerdasan, jauh dari citra sosialita.
Ia keluar dari kamarnya dan langsung menuju dapur, menghindari ruang makan formal yang terasa dingin. Dapur adalah zona terhangat di rumah itu, terutama karena ada Bi Tuti, juru masak setia yang sudah puluhan tahun mengabdi di keluarga Adyatama.
"Pagi, Bi!" sapa Kirana dengan senyum ramah dan tulus, suaranya lembut dan renyah seperti biji kopi yang baru digiling.
Bi Tuti yang sedang menyiapkan sarapan, balas tersenyum hangat. Senyum itu tidak pernah gagal ia berikan untuk Kirana, gadis yang ia anggap seperti anak sendiri. Di mata Bi Tuti, Kirana adalah satu-satunya Adyatama yang memperlakukannya dengan manusiawi.
"Pagi, Non Kirana. Sudah Bi Tuti siapkan bekal makan siang Non. Nasi goreng teri kesukaan Non. Biar kuat mengurus kafe," ujar Bi Tuti sambil menyerahkan kotak bekal stainless steel yang dibungkus kain kecil.
"Ya ampun, Bi. Tidak perlu repot-repot, aku kan bisa masak sendiri di kafe. Tapi terima kasih banyak, Bi. Masakan Bi Tuti yang paling enak," balas Kirana tulus, matanya mengerling penuh terima kasih.
"Tidak repot, Non. Lagipula, siapa lagi yang mau Bi Tuti masakkan?" gumam Bi Tuti pelan, pandangannya melirik ke arah tangga mewah—isyarat halus tentang Bianca dan Mama Reva yang tidak pernah menghargai masakannya.
Kirana mengerti. Ia menepuk lembut lengan Bi Tuti. "Aku berangkat, ya, Bi. Hati-hati di rumah."
Ia pun bergegas keluar, melewati ruang tamu yang sepi. Di garasi, ia menghidupkan mesin mobil tuanya yang setia, sebuah Honda Jazz lama yang sudah menemaninya sejak awal kuliah. Mobil itu, meskipun sudah dimakan usia, selalu terawat bersih. Inilah aset pribadinya yang tidak pernah dicampuri oleh uang keluarganya.
Kirana mengemudi keluar dari gerbang rumah megah itu, menuju hiruk pikuk jalanan Surabaya, siap berganti peran dari putri yang diremehkan menjadi seorang barista yang dikagumi di Kafe Teras Senja.
Tak lama setelah Kirana pergi, Ayah Haris dan Mama Reva turun dari lantai dua. Keduanya tampak rapi, siap menghadapi hari, tetapi dengan aura kemalasan khas orang kaya yang tidak perlu bekerja keras.
Mereka duduk di meja makan yang kini dihiasi hidangan lengkap: scrambled egg, sosis, dan aneka roti.
"Bi Tuti, apa Kirana sudah berangkat?" tanya Ayah Haris pada Bi Tuti yang baru saja selesai menuangkan teh ke cangkir porselen Mama Reva.
"Sudah, Tuan Haris. Baru saja lima menit yang lalu."
Mama Reva mendengus. "Gadis itu. Tidak pernah berubah. Sudah bertahun-tahun hidup di rumah ini, pergi tapi tidak pernah pamit. Sama sekali tidak punya sopan santun. Kalau diajak makan malam pun, lebih sibuk dengan piringnya sendiri."
Ayah Haris menghela napas, nadanya terdengar sedikit lelah. "Sudahlah, Ma. Tidak usah dipermasalahkan. Kita sudah hidup bersama bertahun-tahun. Sekarang lebih baik kita sarapan saja. Dan di mana Bianca?"
"Masih tidur, Yah. Semalam dia sibuk merencanakan gaun apa yang akan dia pakai untuk pertemuan dengan Keluarga Mahardika nanti malam. Biar dia istirahat saja," jawab Mama Reva sambil mengoleskan selai pada rotinya.
Ayah Haris meletakkan pisau dengan sedikit frustrasi. "Reva, ini bukan waktunya memanjakan. Kita diundang makan malam keluarga Raditya Mahardika. Kita harus terlihat sempurna dan tepat waktu. Bianca harus dibangunkan dan mulai bersiap dari sekarang."
"Bi Tuti," panggil Ayah Haris tegas, "Tolong bangunkan Non Bianca. Bilang padanya, Ayah yang suruh."
Bi Tuti mengangguk patuh. "Baik, Tuan Haris."
Bi Tuti pun melangkah cepat menuju tangga, hatinya merasa miris. Non Kirana yang selalu mandiri pergi sendiri tanpa sarapan, sedangkan Non Bianca yang sudah dewasa masih harus dibangunkan.
Saat Bi Tuti tiba di lantai dua, Bianca ternyata sudah bangun. Dia sedang duduk di depan meja riasnya, berkonsultasi dengan ponselnya, membandingkan koleksi tas branded-nya.
"Non Bianca?"
"Oh, Bi Tuti. Ada apa? Ayah atau Mama sudah bangun?" tanya Bianca tanpa menoleh, matanya terpaku pada layar.
"Iya, Non. Tuan Haris minta Non segera turun sarapan dan mulai bersiap untuk acara nanti malam di kediaman Mahardika."
"Ah, iya. Bilang pada mereka aku sebentar lagi. Aku harus memastikan wajahku sempurna untuk pewaris MG," jawab Bianca dengan nada self-centered yang khas, kembali fokus memilih anting.
Bi Tuti hanya bisa menghela napas dalam hati, lalu kembali turun untuk menyampaikan pesan itu.
**
Setelah Bi Tuti memberitahu bahwa Bianca sudah bangun, tidak butuh waktu lama bagi Bianca untuk bergabung dengan keluarganya. Namun, penampilannya bukan untuk sarapan santai. Ia mengenakan dress sutra ringan bermerek yang ia klaim sebagai "pakaian rumahan", rambutnya sudah ditata gelombang longgar, dan wajahnya dihiasi riasan nude sempurna. Ia sudah bersiap untuk acara besar malam ini.
Ia berjalan ke meja makan, lalu duduk dengan anggun—sebuah upaya keras untuk terlihat matang dan berkelas di hadapan calon mertuanya.
"Pagi, Ayah, Mama," sapanya, nadanya lebih manja dari biasanya.
"Pagi, Sayang. Ayo, sarapan," jawab Mama Reva lembut, langsung mengisi piring Bianca dengan hidangan terbaik.
Bianca mulai menyantap sarapannya, tetapi tak lama kemudian, ia meletakkan garpu dengan suara klak yang terkesan dibuat-buat.
"Ayah, Mama, aku jadi ingat sesuatu," rengeknya, memasang wajah cemberut.
"Apa, Sayang? Soal gaun untuk nanti malam?" tanya Mama Reva.
"Bukan! Soal supir! Ayah, kapan supir baru itu datang? Aku sudah sangat lelah harus menyetir Mercedes-Benz S-Class sendiri. Capek tahu! Aku harus menjaga kuku dan kulitku. Aku butuh supir hari ini juga!" tuntut Bianca, menekan setiap kata.
Ayah Haris meletakkan korannya, tampak sedikit terganggu dengan nada rengekan putrinya.
"Astaga, Bian. Kita baru membicarakannya semalam. Ayah sudah menghubungi agency sewa supir profesional. Mereka sudah mengirimkan beberapa CV. Ayah akan meminta mereka datang hari ini, kamu bisa memilih sendiri."
"Memilih? Tidak bisakah Ayah saja yang pilih? Pokoknya aku mau yang tidak bau rokok, tidak berisik, dan tahu diri! Yang jelas, aku tidak mau supir tua. Pasti mereka banyak pikun, jalannya lambat, dan suka mengeluh!" sembur Bianca. Ia melirik tajam ke arah Bi Tuti yang berdiri di sudut ruangan, seolah ucapan itu ditujukan juga untuknya.
Mama Reva tertawa kecil. "Memang, yang muda itu lebih enak dipandang, Sayang."
"Tentu saja! Ayah, pastikan mereka muda dan gagah. Agar tidak memalukan jika menjemputku di kampus," desak Bianca lagi.
Ayah Haris mengangguk lelah. "Baiklah, baiklah. Setelah ini, temui Ayah di ruang kerja. Ayah sudah menyiapkan beberapa berkas kandidat. Kamu yang akan menyaringnya."
Ekspresi Bianca langsung berubah puas. "Baik, Ayah. Aku akan pastikan aku mendapatkan supir terbaik hari ini juga."
Setelah sarapan usai, Bianca mengikuti Ayah Haris menuju ruang kerja pribadinya yang luas di lantai satu. Ruangan itu dipenuhi rak buku tebal dan dihiasi plakat-plakat penghargaan bisnis.
"Ini tiga kandidat terbaik dari agensi, Bian. Semuanya berpengalaman. Kamu baca baik-baik, jangan hanya lihat foto," ujar Ayah Haris sambil menyodorkan tiga map CV.
Bianca duduk di kursi kulit mahal di hadapan ayahnya, langsung mengambil berkas-berkas itu dengan jemari yang terawat sempurna.
Bianca melihat foto kandidat pertama, wajahnya sudah berumur, dan di bagian Riwayat Pekerjaan tertulis pengalaman 20 tahun.
"Ugh, tua. Budi Santoso lima puluh lima tahun? Tidak, terima kasih. Pasti jalannya pelambat, dan sebentar-sebentar minta izin untuk buang air. Langsung singkirkan!" Bianca melempar berkas itu ke sudut meja dengan jijik.
"Empat puluh delapan tahun. Lumayan, tapi tetap tua. Wajahnya juga tidak bersahabat. Aku butuh seseorang yang ceria. Dia terlihat seperti supir yang suka mengomentari outfit-ku. Next!" Berkas kedua bernasib sama.
Bianca mengambil berkas ketiga. Mata hitamnya langsung terpaku pada foto pria di sana. Foto itu menunjukkan pria dengan tatapan yang tenang, sedikit misterius, dan postur yang jelas atletis. Meskipun memakai kacamata baca dan pakaian sederhana, auranya sangat berbeda dari supir pada umumnya.
"Hmm... Rio. Tiga puluh tiga tahun. Usia yang pas. Tidak terlalu tua, tapi juga tidak terlalu muda dan bodoh," gumam Bianca. Ia membaca sekilas riwayat pekerjaan: Pengemudi profesional dengan sertifikasi keamanan tingkat tinggi.
"Dia terlihat... lumayan. Tidak memalukan untuk dibawa keluar," Bianca tersenyum miring. Ia mengabaikan bahwa riwayat pekerjaannya terasa terlalu canggih untuk sekadar mengantar mahasiswi. Yang penting, Rio muda, gagah, dan rapi.
"Aku pilih yang ini, Yah. Rio. Hubungi dia. Aku mau dia datang nanti sore untuk wawancara dan langsung mulai kerja besok," putus Bianca, menggeser berkas Rio ke tengah meja.
Ayah Haris mengambil berkas itu dan memeriksanya lagi. "Rio? Baiklah. Pilihanmu bagus. Dia memiliki rekam jejak yang bersih dan direkomendasikan. Ayah akan segera menghubungi agensi dan meminta dia datang sore ini."
"Sip. Aku harus melatih diriku untuk bersikap dingin dan berwibawa di depannya. Aku harus memastikan dia tahu posisinya sebagai bawahanku," kata Bianca dengan nada kemenangan.
Setelah urusan pemilihan supir selesai, Bianca berdiri. "Kalau begitu, aku permisi, Ayah. Aku ada janji dengan make up artist terbaik di Surabaya. Wajahku harus maksimal untuk pewaris Mahardika nanti malam."
"Tentu, Sayang. Berhati-hatilah."
Bianca pun pergi meninggalkan ruangan itu dengan langkah ringan, dipenuhi ambisi untuk memenangkan hati Raditya Mahardika dan kegembiraan karena akan mendapatkan supir pribadi yang "lumayan".
**
Di sisi lain kota, di sebuah kafe sederhana—bukan Kafe Teras Senja, melainkan kafe lain yang ramai—Raditya sedang menerima panggilan telepon dari ponsel murahnya.
"Ya, Pak Rudi. Saya Rio," jawab Raditya dengan suara husky yang ia latih untuk peran Rio.
"Selamat, Rio. Anda diterima. Nona Bianca Adyatama secara pribadi memilih CV Anda. Anda diminta datang sore ini pukul empat untuk wawancara formal dan pengarahan singkat. Anda akan mulai bekerja besok pagi."
"Terima kasih, Pak Rudi. Saya akan datang tepat waktu." Raditya tersenyum miring. Ia mematikan panggilan dan menyandarkan punggungnya ke kursi. Misi tahap pertama sukses.
***